Produk Terbaru Pilihan Anda

Tentang ajaran sesat Albigenses


[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah kutipan tentang kelompok Albigenses, yang diambil dari sumber yang non- Katolik. Kusno menanyakan tanggapan Katolisitas, dan berikut ini adalah tanggapan dari Ingrid, yang menyertakan sumber yang lebih lengkap, dengan tujuan agar fakta sejarah tersebut dapat dicermati dengan lebih obyektif].

Pertanyaan:

Penganiayaan Kelompok Albigenses
Kelompok Albigenses adalah orang-orang yang menganut ajaran dualistis, yang tinggal di Prancis bagian se1atan pada abad ke-12 dan ke-13. Mereka mendapatkan nama itu dari kota Perancis, Albi, yang merupakan pusat gerakan mereka. Mereka tinggal dengan peraturan etika yang ketat dan banyak tokoh menonjol di antara anggota mereka, seperti The Count of Toulouse, The Count of Foix, The Count of Beziers, dan yang lain yang memiliki pendidikan serta tingkat yang setara. Untuk menekan mereka, Roma pertama-tama mengirim biarawan Cistercian dan Dominikan ke wilayah mereka untuk meneguhkan kembali ajaran paus, tetapi tidak berguna karena ke1ompok Albigenses tetap setia dengan doktrin reformed.
Bahkan ancaman Konsili Lateran yang kedua, ketiga, dan keempat (1139,1179, 1215) – yang memutuskan pemenjaraan dan penyitaan harta benda sebagai hukuman atas bidat dan untuk mengucilkan para pangeran yang gagal menghukum penganut bidat – tidak menyebabkan ke1ompok Albigenses kembali ke pangkuan Roma. Dalam Konsili Lateran III, pada 1179, mereka dikutuk sebagai bidat oleh perintah Paus Alexander III. Ini adalah paus yang sama yang mengucilkan Frederick I, Kaisar Romawi yang Kudus, RajaJerman dan Italia, pada 1165. Kaisar se1anjutnya gagal menaklukkan otoritas paus di Italia dan dengan demikian mengakui supremasi paus pada tahun 1177.
Pada tahun 1209, Paus Innocentius III menggunakan pembunuhan biarawan di wilayah Pangeran Raymond dari Toulouse sebagai pembenaran untuk memulai pengobaran penganiayaan terhadap pangeran dan kelompok Albigenses. Pada Konsili Lateran IV, tahun 1215, kutukan terhadap kelompok ini disertai dengan tindakan keras. Untuk melaksanakannya, ia mengirim agen di seluruh Eropa untuk membangkitkan pasukan untuk bertindak bersama-sama melawan Albigenses dan menjanjikan surga kepada semua yang mau bergabung serta berperang selama 40 hari dalam hal yang ia sebut Perang Kudus.
Selama perang yang paling tidak kudus ini, yang berlangsung antara 1209 sampai 1229, Pangeran Raymond membela kota Toulouse serta tempat-tempat lainnya di wilayahnya dengan keberanian yang besar dan kesuksesan melawan tentara Simon de Montfort, Pangeran Monfort dan bangsawan Gereja Roma yang fanatik. Ketika pasukan paus tidak mampu mengalahkan Pangeran Raymond seeara terbuka, raja dan ratu Perancis serta tiga Uskup Agung mengerahkan tentara yang lebih besar, dan dengan kekuatan militer mereka, mereka membujuk pangeran itu untuk datang ke konferensi perdamaian serta menjanjikan jaminan keamanan kepadanya. Namun ketika ia tiba, secara ia ditangkap, dan dipenjara, dan dipaksa untuk muncul dengan kepala telanjang dan kaki telanjang di depan musuh-musuhnya untuk menghinanya, dan dengan berbagai siksaan yang dilakukan untuk menangkal sikap oposisinya terhadap doktrin Paus.
Pada awal penganiayaan tahun 1209, Simon de Montfort membantai penduduk Beziers. Ini merupakan contoh kecil kekejaman yang ditimbulkan tentara paus terhadap Albigenses selama 20 tahun. Selama pembantaian itu, seorang prajurit bertanya bagaimana ia bisa membedakan antara orang Kristen dengan bidat. Pemimpinnya dikatakan menjawab, “Bunuh mereka semua. Allah tahu siapa milik-Nya.”
Setelah penangkapan Pangeran Raymond, Paus menyatakan bahwa kaum awam tidak diperbolehkan untuk membaea Kitab Suci dan selama sisa abad ke-13 berikutnya, kelompok Albigenses bersama dengan Waldenses dan kelompok reformed lainnya, merupakan target utama Inkuisisi di seluruh Eropa.
So menurut bapak stefanus mana versi yang benar?
SUMBER:
http://www.sarapanpagi.org/inkuisisi-dalam-sejarah-gereja-vt1554.html
Kusno

Jawaban:

Shalom Kusno,
Pertama-tama, jika kita ingin mempelajari sejarah Gereja dengan sikap obyektif, sebaiknya memang membaca dari sumber yang berimbang, sehingga kita dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang kejadian pada masa lampau tersebut. Mengenai tulisan yang anda sampaikan di atas memang ada benarnya, tapi kurang lengkap, sehingga kita yang membacanya bisa menjadi bias, dan bertanya-tanya mengapa Gereja Katolik bisa bersikap demikian.
1. Jadi pertama- tama mari kita lihat dulu, apakah Albigenses itu, dan mengapa Gereja Katolik sangat menentangnya?
Albigenses adalah suatu sekte Kristen di abad 12-13 yang menganut ajaran Dualisme. Walaupun mereka menamakan dirinya sebagai Kristen, namun sebenarnya ajaran sekte ini sangatlah menyimpang dari ajaran Kristiani. Karena mereka tidak mempercayai adanya satu Tuhan Pencipta dan Pengatur segalanya, tetapi mereka mempercayai adanya dua tuhan, yang satu baik dan yang kedua, jahat. Maka Tuhan (allah yang baik) dan Iblis (allah yang jahat) sama-sama bertanggung jawab terhadap dunia ini. Dengan prinsip ini, maka mereka percaya bahwa segala yang berupa material di dunia, termasuk yang ada pada manusia (yaitu tubuh manusia) adalah hasil pekerjaan Iblis dan sepenuhnya adalah jahat. Maka manusia yang merupakan separuh ciptaan Tuhan, dan separuh ciptaan Iblis, perlu untuk diselamatkan. Sumber keselamatan ini bukanlah Penjelmaan Tuhan Yesus ke dunia dan kurban salib-Nya tetapi pembebasan jiwa dari tubuh. Maka bagi para Albigensian, Kristus bukan Tuhan dan juga bukan manusia, tetapi semacam malaikat yang mengambil tempat sementara dalam tubuh manusia, dan sengsara dan wafat-Nya hanyalah ilusi.
Konsekuensi dari ajaran sesat Albigensian ini adalah sangat merusak, karena: 1) konsep keselamatan bagi mereka adalah ‘pembebasan dari tubuh’, bukannya penghapusan dosa oleh jasa Kristus dan anugerah hidup ilahi di dalam-Nya; 2) mereka membenci perkawinan, karena perkawinan memungkinkan terciptanya ‘tubuh’ yang baru 3) mereka mendukung homoseksualitas/ perkawinan sesama jenis; 4) mereka membenci kehamilan; wanita yang mengandung dianggap sebagai seorang yang dirasuki Iblis. 5) mereka mendorong tindakan bunuh diri, karena menyebabkan seseorang terlepas dari ‘tubuh’. Di atas semua itu, dengan konsep ‘merendahkan tubuh, mereka tidak menghargai Inkarnasi (Penjelmaan Tuhan Yesus menjadi manusia, dan mengambil ‘tubuh’ manusia). Dan karena Penjelmaan Kristus merupakan salah satu inti Iman Kristiani, maka dapat dimengerti bahwa ajaran Albigensian/Kataris ini sungguh sangat menentang kebenaran iman Kristiani.
Para Albigensian ini beranggapan bahwa selama jiwa masih bersatu dengan tubuh maka masih ada kemungkinan ia jatuh dalam perangkap Iblis. Untuk mengatasi hal ini mereka mengadakan suatu ritus yang dinamakan Consolamentum, dan sesudah itu mereka disebut Perfect, dan terikat kewajiban-kewajiban yang sangat serius, dan tidak boleh diingkari, agar tidak lagi jatuh dalam bahaya perangkap Iblis.  Kewajiban ini misalnya, hidup selibat seumur hidup, puasa yang ketat (tidak boleh makan daging, telur, susu, mentega dan keju), tidak boleh terikat sumpah. Dari ketentuan ini mayoritas orang tidak dapat melaksanakannya. Mereka yang telah menerima Consolamentum ini banyak yang memilih untuk bunuh diri daripada menjalankan hidup seperti itu. Lagipula,  menurut mereka bunuh diri adalah tindakan yang sempurna bagi Albigensian yang sejati, yang merasa tidak mampu melaksanakan cara hidup yang disyaratkan.
Para Albigensian ini bertemu dalam ibadah secara teratur. Mereka membaca Alkitab, terutama Perjanjian Baru, yang telah mereka terjemahkan dalam bahasa vernakular/ setempat, dengan tafsiran-tafsirannya  yang sangat anti Katolik. Mungkin kita bertanya-tanya mengapa sampai ajaran yang menyimpang ini sampai meluas dan diterima banyak orang? Pertama, karena mereka mempunyai banyak pengkhotbah yang mengkhotbahkan pengajaran ini ke-mana-mana, sedangkan pada saat itu para imam Katolik rata-rata tidak pernah/ jarang berkhotbah. Maka mereka yang lahir dan dibesarkan secara Katolik lama-kelamaan berpikir bahwa itu memang ajaran Kristiani. Kedua, para Perfect itu memang hidup dengan sangat miskin, sedangkan pada saat itu para imam memang hidup dalam kelimpahan. Para Perfect banyak berderma, dan menggunakan uang sumbangan untuk mendukung industri bagi lapangan kerja para pemeluk sekte ini. Maka sedikit demi sedikit, sekte ini semakin berakar dalam kehidupan negara dan ekonomi.
2. Pengaruh yang ditimbulkan oleh sekte Albigenses
Konsili pertama yang membahas masalah heresi ini adalah Konsili Orleans tahun 1022, yang mengadili 13 orang imam/ clergy. Heresi/ bidat ini berkembang luas di Jerman, Italia utara, Perancis selatan, lalu juga ke Champagne, Languedoc (salah satu pusat Christendom yang penting) dan Milan, dan menyebar ke Burgundy, Picardy, Fladers, Perancis tengah, Tuscany, khususnya, Florence, dan juga ke Roma, Italia selatan, Sicily dan Sardinia.
Maka kemudian Albigenses ini (atau juga sering disebut Catharists) dikecam di banyak Konsili, yaitu di Tolouse (1119), Lateran II (1139), Rheims (1148), Tours (1163), dan Lateran III (1179). St. Bernardus dikirim untuk berkhotbah di daerah-daerah yang terpengaruh oleh heresi ini, namun baik kesucian maupun kefasihannya berkhotbah tidaklah membawa pengaruh yang besar. Di Perancis selatan, gereja-gereja sudah tidak dikunjungi, sakramen ditinggalkan. Di Toulouse sekte ini malah menjadi agama resmi. Utusan Paus Alexander III diusir dan dihina, kecaman dari Konsili 1179, tidak digubris. Hampir semua provinsi Christendom yang penting telah menjadi anti- Katolik. Beberapa uskup dan imam Katolik juga mulai banyak yang terpengaruh oleh ajaran mereka.
3. Paus Innocent III dan reaksi dari pihak Gereja Katolik
Setelah Paus Innocentius III dipilih, ia memusatkan perhatian untuk menangani masalah yang terjadi di Languedoc. Dia menunjuk dua pertapa dari ordo pertapa Cistercian sebagai pembawa pesannya. Misi mereka adalah untuk mempengaruhi para pangeran, untuk mengusir para bidat dan menyita harta milik mereka, berdasarkan hukum pada tahun 1184. Keberhasilan usaha mereka terhitung kecil, baik untuk menaggulangi heresi maupun untuk mengusahakan reformasi bagi kehidupan para imam/ clergy yang pada waktu itu banyak yang hidupnya tidak sesuai dengan panggilan hidup mereka. Maka pada tahun 1202, kedua pertapa ini digantikan oleh dua pertapa Cistercian lainnya, salah satunya bernama Peter de Castelnau dan Raoul. Castelnau ini seorang yang berani dan penuh semangat. Uskup Agung Languedoc diturunkan, karena menolak untuk bekerjasama, Uskup Toulouse diturunkan, karena kasus simoni, demikian juga dengan Uskup Beziers.
Pada tahun 1205 maka propaganda anti Catharist/ Albigensian mencapai puncaknya, melalui pengajaran, khotnah, pamflet, dsb, yang diarahkan oleh disiplin religius yang terbaik. Para utusan Paus juga mengajarkan tentang iman supaya umat Katolik tidak ragu tentang iman mereka dan kesungguhan Bapa Paus untuk mengkoreksi kehidupan para imam/ clergy. Namun demikian, misi inipun tidak berakibat banyak. Pangeran Touluose tetap menolak bekerja sama.
Kemudian Bapa Paus memperoleh bantuan dari Diego (uskup Osma) dan Dominic. Mereka membentuk tim  tujuhpuluh dua murid, yang seperti dalam Injil. Mereka hidup dalam kemiskinan, dan berkhotbah dan terbagi-bagi dalam kelompok kecil, berdialog dengan para bidat. Pada tahun 1206-1207 mulailah terjadi pertobatan, dan sebagaian dari para heretik itu kembali ke pangkuan Gereja Katolik. Tahun 1207 seluruh Waldensian kembali, dan Paus Innocentius III mengizinkan mereka hidup sesuai dengan kaul kemiskinan  mereka dalam satu order religius yang bernama Poor Catholics (Kaum Katolik yang miskin).
Setelah 10 tahun misi ini, Castelnau kembali ke Toulouse untuk berdialog dengan Pangeran Raymond VI, agar ia mau bekerjasama. Sudah dua kali Pangeran Raymond berjanji mau bekerjasama, namun kemudian ia berubah pikiran dan menolak secara resmi. Maka Castelnau memberi sangsi ekskomunikasi dan memberi interdict/ pemotongan hak dan fungsi pada daerah kekuasaannya. Namun, tiga bulan kemudian, 15 Jan 1208, Peter de Castelnau dibunuh oleh salah seorang sersan kerajaan Toulouse. Pangeran Toulouse secara umum bertanggungjawab atas hal ini. Kematian Castelnau ini mengakhiri misi khotbah dari kaum Cistercian dan digantikan oleh perang. Pembunuh Castelnau di- ekskomunikasi, dan keputusan atas Pangeran Raymond diperbaharui. Hak-haknya sebagai pemimpin daerah dicabut, sekutu-sekutunya dibebaskan dari perjanjian. Paus Innocentius III menyatakan perang / crusade selama 40 hari untuk mengalahkan para heretik, memberikan indulgensi kepada para prajurit, seperti yang diberikan kepada prajurit di Holy Land. [Walaupun perang selalu pada dasarnya kejam dan tidak kudus, tetapi untuk alasan membela kebenaran iman ini, maka disebut perang kudus/ crusade]. Pada tahun 1209, pasukan dari 200,000 siap mengepung Toulouse.
Pangeran Raymond VI, akhirnya menyerah (18 Juni 1209), dan tunduk pada hukuman dera di hadapan publik di St. Gilles , berjanji untuk mengalahkan para heretik. Setelah itu pasukan sampai di Valence dan ia bergabung dengan mereka. Pada bulan Agustus kedua pusat heretik dikalahkan yaitu Beziers dan Carcassone. Sayangnya kemenangan di Beziers ditandai juga dengan pembunuhan massal, yang tidak hanya mencakup pasukan kota, tapi juga beribu penduduk sipil. Di sinilah terdengar seruan yang mengerikan di Beziers: “Bunuh saja semua, Tuhan akan mengetahui siapa milik-Nya.” Salah satu pemimpinnya yaitu Simon de Monfort, yang kemudian menjadi penguasa atas Bezier dan Carcassone. Selama tahun-tahun ke depan dia berjuang melawan Pangeran Raymond, mereka yang tergantung padanya, dan raja Aragon, Peter II yang mempunyai kuasa di atas Pangeran Raymond.
Sejak saat itu perang melawan Albigenses juga tercampur dengan motif-motif lainnya, termasuk persaingan politik. Pangeran Raymond sendiri tidak pernah memberikan sikap yang jelas, karena ia tidak mau menyerahkan para bidat. Maka utusan Paus kembali memberikan sangsi ekskomunikasi kepada Raymond, dan interdict. Pangeran Raymond naik banding kepada Paus Innocentius, yang kemudian mencabut interdict tersebut. Tiga bulan kemudian diadakan Konsili untuk membahas pelanggaran Raymond ini (1210) dan Raymond tidak mengindahkan apapun kewajiban yang sudah dijanjikannya di bawah sumpah. Dia tidak membubarkan pasukannya ,dan  terus mendukung para bidat/ heretik. Paus Innocentius kembali memberi peringatan, dan kembali mengingatkannya untuk bekerja sama. Kembali Konsili diadakan untuk membahas apa yang telah dilakukan Pengeran Raymond (Des 1210, Jan 1211, Feb 1211). Beberapa pelanggaran dilakukannya, dan akhirnya, diputuskan oleh Paus bahwa Pangeran Raymond di ekskomunikasi, dan dikatakan sebagai musuh Gereja.
Selanjutnya, Simon de Montfort sedikit demi sedikit menaklukkan tempat- tempat heretik tersebut. Lavaur jatuh ke tangan pasukan crusaders, yang menang atas daerah itu, dengan membunuh penduduk di sana, setelah mendengar bahwa pasukan merekapun sebanyak 6000 orang telah dibantai pihak heretik. Paus Innocent III berusaha melerai pertengkaran tersebut, namun tak berdaya karena terjepit oleh kesaksian- kesaksian kedua belah pihak yang saling menjatuhkan. Peter II Raja Aragon yang adalah ayah mertua Raymond berusaha memperoleh ampun bagi menantunya, namun tak berhasil. Sementara itu Paus Innocentius akhirnya menjadi yakin atas pelanggaran dan penipuan dari Pangeran Raymond, dan trik-trik dari Peter, Raja Aragon. Terjadilah pertempuran antara Raja Peter II dengan Simon de Montfort, yang berakhir dengan kematian Raja Peter II (1213). Maka, seluruh daerah kekuasaan Raymond jatuh ke tangan Simon de Montfort, kecuali Toulouse. Namun Paus Innocent III mengakui de Monfort hanya sebagai administrator daerah-daerah ini. Pada saat Konsili Montpelier 1215 diadakan, Simon de Montfort diakui sebagai Pangeran Toulouse, dengan catatan pemberian hak-hak yang khusus kepada Raymond dan keturunannya. Setelah diberitahukan kepada Paus Innocentius III bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk menumpas heresi, akhirnya menyetujui pilihan itu. Setelah 7 tahun lamanya dari pertempuran, pembantaian yang tidak dapat dikatakan disebabkan karena kesalahan satu pihak saja, hambatan terbesar untuk menumpas heresi Albigensian (Neo- Manicheaeism) akhirnya teratasi, walaupun selanjutnya masih terdapat sisa- sisa pengaruhnya.
Setelah Simon de Montfort wafat, puteranya Amalric naik tahta, mewarisi hak-hak ayahnya. Namun kemudian terjadilah pertempuran-pertempuran di wilayahnya hingga akhirnya ia dan  Raymond VII menyerahkan daerah kekuasaan mereka kepada Raja Perancis. Sementara ini Konsili Toulouse (1229) mempercayakan kepada Inkuisisi (Inqusition) ke tangan para biarawan Dominikan, dengan tujuan untuk mengakhiri heresi Albigensianisme. Heresi ini akhirnya berkahir di akhir abad ke- 14.
4. St. Dominikus dan St. Fransiskus
Mari di sini kita melihat juga peran kedua orang kudus yang hidup pada jaman itu, yaitu St. Dominikus dan St. Fransiskus. Pertempuran itu tidak menghentikan kampanye khotbah dan diskusi. Uskup Diego pensiun, dan kini Dominikus Guzman mengambil peran aktif. Ia beserta timnya mulai diakui sebagai pengkhotbah resmi. Des 1216, ordo Dominikan diakui oleh Paus Honorius III dengan tugas khusus untuk berkhotbah. Ordo ini bertujuan untuk melatih para penerus rasul untuk memerangi heresi dengan pemikiran/ ajaran dan kehidupan asketik. Kehidupan biara diisi dengan proses mempelajari Kitab Suci dan membahas pertanyaan-pertanyaan Teologis. Dari ordo inilah muncul Peter Lombard dan St. Thomas Aquinas. Di sinilah kita mengetahui bagaimana Tuhan memakai kejadian yang kisruh di abad pertengahan tersebut, untuk kemudian melahirkan pengajaran Gereja Katolik yang lebih sistematis, dan berakar pada Alkitab, sehingga dapat lebih mudah diajarkan kepada umat. Dengan memahami ajaran ini, maka umat Katolik diharapkan untuk lebih memahami imannya tidak mudah terbawa oleh arus pemahaman heretik yang tidak mempunyai dasar yang kuat, sehingga kontradiktif di dalam banyak hal.
Demikian pula, St. Fransiskus adalah seorang kudus yang lahir pada jaman itu (1182) untuk memberi teladan kehidupan membiara yang memegang kaul kemiskinan, berlawanan dengan kehidupan berlebihan para clergy pada saat itu. Dengan demikian teladan hidupnya menjadi contoh hidup para religius, dan dengan caranya sendiri ia berperan untuk memurnikan makna panggilan hidup membiara. St. Fransiskus berasal dari keluarga yang kaya dan ternama, namun ia meninggalkan segalanya demi maksud membangun Gereja. Ia mendirikan ordo para bruder yang hidup dalam kaul kemiskinan dan mengkhotbahkan pertobatan. Ordo ini berkembang pesat, dan membangkitkan kembali Gereja Katolik dari dalam.
Melalui kedua orang kudus ini, St. Dominikus dan dan St. Fransiskus dari Asisi, Tuhan memenuhi janjinya,  “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” (Rom 5:20) Artinya, biar bagaimanapun kuasa Tuhan lebih besar daripada kuasa Iblis; dan Tuhan dapat memakai kejadian seburuk apapun untuk mendatangkan kebaikan kepada mereka yang mengasihi Dia (lih. Rom 8:28), dan janji ini digenapi-Nya di dalam Gereja-Nya.
5. Kesimpulan
Sebenarnya Albigensianisme bukanlah heresi Kristiani tetapi sebuah agama yang di luar Kristen. Setelah upaya persuasif gagal, pihak otoritas Gereja menerapkan represi dengan kekerasan, yang seringnya menjurus ke arah berlebihan dan ini sangat disayangkan. Simon de Montfort bermaksud baik pada mulanya, namun akhirnya menggunakan nama agama untuk merebut wilayah kekuasaan Pangeran Toulouse. Memang harus diakui bahwa hukuman mati terlalu banyak diberikan kepada para pengikut sekte Albigensianisme ini, namun harus pula kita pahami bahwa hukuman sangsi pada jaman itu memang lebih keras diberikan daripada pada jaman sekarang, dan seringkali dipicu oleh suatu pelanggaran yang berlebihan. Pangeran Raymond VI dan VII seringnya menjanjikan akan bekerjasama menumpas heresi, tetapi tidak pernah benar- benar melaksanakannya. Paus Innocent III benar ketika mengatakan bahwa ajaran sesat Albigensianisme merupakan sesuatu heresi yang lebih buruk daripada kaum Saracens. Paus selalu mengusahakan jalan tengah, walau sering tak berhasil, dan iapun sebenarnya tak pernah menyetujui kebijaksanaan yang egois dari Simon de Montfort. Yang diperangi oleh Gereja pada saat itu, bukan saja keruntuhan agama Kristen, tetapi juga kepunahan umat manusia, karena ajaran Albigensianisme yang mendorong ‘culture of death‘/ budaya kematian, dengan membenci tubuh, membenci perkawinan dan mendorong bunuh diri dari para anggotanya.
Bahwa sesudah saat itu diadakan Konsili di Toulouse 1229 yang melarang orang Katolik membaca Alkitab, itu adalah suatu larangan yang bersifat sementara, karena pada saat itu banyak beredar terjemahan Kitab Suci dengan tafsiran- tafsiran yang menyimpang sesuai dengan ajaran Albigensian. Hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.
Maka jelaslah sudah duduk masalahnya. Gereja Katolik tidak melarang umatnya membaca Alkitab, hanya memang pada suatu periode tertentu sekitar tahun 1229, memang terjadi kondisi khusus sehubungan dengan adanya penyelewengan teks Kitab Suci yang dilakukan oleh sebuah sekte sesat (Albigensian) pada saat itu. Maka larangan untuk membaca Alkitab pada saat itu merupakan tindakan gembala untuk menyelamatkan kawanan dombanya. Sebab pengalaman telah menunjukkan bahwa tanpa bimbingan Gereja maka penafsiran Alkitab dapat berakhir dengan interpretasi yang malah bertentangan dengan iman Kristen.
Selanjutnya, terutama melalui Konsili Vatikan ke II, Dei Verbum 25,  kita mengetahui bahwa kita sebagai umat beriman dianjurkan untuk membaca Alkitab, terutama para imam dan pengajar iman seperti para katekis. Namun demikian, pembacaannya harus didahului dengan doa sehingga kita dapat mendengar Dia (Tuhan) sendiri lewat ayat-ayat ilahi yang kita baca.
Demikianlah Kusno, yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda. Mari kita melihat fakta sejarah dengan sikap obyektif. Bahwa memang terdapat kesalahan- kesalahan dari kedua belah pihak, namun selalu ada alasannya, mengapa sampai demikian. Albigenses atau Catharist adalah ajaran Neo- Manichaeism (versi baru dari Manichaeism yang adalah aliran sesat pada jaman St. Agustinus sekitar abad ke-4) yang sangat tidak Kristiani, maka mereka bukannya menawarkan ‘doktrin reformed’, karena prinsip ajaran mereka malah sungguh menyimpang.  Saya sebagai umat Katolik, sepenuhnya bisa memahami keputusan pihak otoritas Gereja Katolik saat itu, dalam rangka mempertahankan kemurnian pengajaran iman Kristiani yang sesuai dengan pengajaran para rasul, walaupun juga menyesalkan adanya keadaan kekerasan yang melewati batas. Agaknya memang keadaan pada saat itu sangatlah rumit, dan Paus Innocentius III sungguh menghadapi pilihan yang sangat sulit. Tetapi, tanpa kegigihannya mengakhiri heresi Albigensian, mungkin tak banyak bangsa yang bertahan hidup sampai sekarang, bukan karena perang, tetapi karena dengan sendirinya membenci kehidupan dan mengakhiri kehidupan mereka sendiri dengan bunuh diri. Dengan mempelajari sejarah Gereja kita akan semakin disadarkan akan kelemahan kita sebagai manusia, namun juga kita mengagumi akan campur tangan Tuhan yang menjaga keberadaan Gereja-Nya yang diterpa badai tak hanya dari luar tetapi dari dalam tubuhnya sendiri. Namun janji Tuhan Yesus kepada Rasul Petrus selalu digenapinya, dan Kristus tak akan membiarkan Gereja-Nya runtuh, sebab Ia berjanji, “alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org
Sumber:
-Philip Hughes, A History of the Church, volume III (New York: Sheed and Ward, 1949), p. 340-361
-New Advent Encyclopedia, silakan klik
Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 12 11 09 Disimpan dalam TJ: Apologetik Kristen, TJ: Sejarah Gereja, Tanya-Jawab. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

3 komentar untuk “Tentang ajaran sesat Albigenses”

  1. 2
    Maximillian Reinhart says:
    Yth. Para Moderator Katolisitas.
    Aku adalah penganut Tradition Roma Catholic, dan aku menggunakan alamat email kloningan. Sebelumnya aku mohon maaf atas kelancangan aku menulis di situs ini dengan menggunakan nama dan email yang tidak jelas.
    Ini hanya lah upaya aku dalam berapologetik dengan pihak yang berseberangan dengan Iman Katolik kita. Sehingga tetap harus kujaga id aku yang asli.
    Baru-baru ini aku mendapatkan pertanyaan terkait masalah Kuasa Tak Bisa Salah di dalam Ajaran Gereja Katolik (Infability of The pope).
    Dalam masa pemerintahan Puas innocent IV, sedikitnya ada pembantaian yang terjadi di Spanyol. Dan Paus turut andil di dalamnya bahkan menggunakan kuasanya untuk memperbolehkan tawanan disiksa dengan SUNGGUH SANGAT KEJAM DAN BIADAB. …….., walau aku mengakui ada sejarah mencatat jaman kekelaman Gereja Katolik, tetapi aku tidak menduga bahwa kekejaman yang “biadab” itu justru timbul atas prakarsa Paus Innocent IV.
    APAKAH BENAR…???
    Aku sungguh ingin mendapatkan pencerahan…
    [Dari Katolisitas: linknya dihapus]
    Mohon dengan sangat agar bisa diluruskan sesegera mungkin, aku tunggu..
    Salam Damai Kristus, Maximillian
    • 2.1
      Shalom Maximillian,
      Berikut ini adalah jawaban saya atas pertanyaan anda:
      1. Apakah penyiksaan dalam Inkuisisi diciptakan oleh Gereja Katolik?
      Memang terdapat banyak kisah tentang Inkuisisi (Inquisition) di abad pertengahan, dan jika kita melihat kekejaman yang terlibat di dalamnya, kita dapat menjadi terperangah. Justru karena melibatkan kekejaman, dan data akurat yang diperoleh tidak mudah, maka banyak orang menyusun cerita tentang Inkuisisi itu, yang sebagian besar juga dilebih- lebihkan, dan sangat menyudutkan posisi Gereja Katolik. Memang tidak dapat dikatakan bahwa Gereja Katolik tidak sama sekali terlibat di dalam hal ini, sebab kenyataannya memang ada keterlibatannya, terutama dengan memberlakukan, walaupun dengan kondisi yang terbatas, beberapa prinsip hukuman menurut hukum Romawi (Roman Law). Harus diakui bahwa sistem pengadilan dan penghukuman di jaman sekarang sangat jauh berbeda dengan pada jaman Abad Pertengahan, sehingga kita yang hidup di jaman sekarang sangat sulit memahaminya. Namun untuk dapat melihat hal ini dengan lebih obyektif, kita harus melihat situasi peradaban masyarakat pada jaman itu, yang memang umumnya menerapkan cara- cara demikian untuk menghukum para pengacau. Maka segala jenis penghukuman, dengan alat- alat tertentu yang kejam tersebut bukan sesuatu yang diciptakan oleh Gereja Katolik. Hal itu sudah ada, sejalan dengan perkembangan hukum Romawi. [Mari mengingat bahwa pada abad pertama, hukum Romawi-lah, yang mendera dan menyalibkan Tuhan Yesus dengan begitu kejamnya!]
      Maka, sejarah Inkusisi memang tak terlepas dari cara penanganan para bidat/ heretik pada jaman abad-abad awal, yang diterapkan oleh para kaisar Kristen. Hukuman diberikan, sebagai langkah penertiban yang diambil oleh pihak penguasa, karena para bidat telah mengacau keamanan masyarakat sipil, dengan ajaran- ajaran mereka yang menyimpang dari ajaran Gereja. Hal inilah yang juga terjadi pada jaman Abad Pertengahan. Pada saat itu penanganan dengan kekerasan untuk melawan para bidat sudah diterapkan oleh Raja Robert II dari Perancis, dan Raja Henry II dari Inggris. Maka saya tidak heran jika foto- foto atau bukti-bukti peninggalan alat- alat penyiksaan yang ada di buku- buku sejarah atau bahkan museum, berasal dari peninggalan masa diberlakukannya hukum Romawi di beberapa negara Eropa pada Abad Pertengahan.
      2. Penanganan heresi di Abad Pertengahan oleh otoritas Gereja Katolik
      Gereja Katolik pada awalnya sampai pertengahan bada ke- 12 hanya memberikan sangsi spiritual seperti eks-komunikasi, interdict, dst, kepada para bidat/ heretik, karena segala bentuk kekerasan dilarang oleh Paus Nicholas I. Baru setelah pertengahan abad ke- 12, setelah segala upaya persuasif tidak berhasil, sedangkan kekacauan sudah meraja lela seperti dituliskan di artikel di atas, maka Paus Lucius III melalui Konsili Verona 1184 mengeluarkan persetujuan tentang hukuman fisik bagi para heretik. Perintah ini tidak semata- mata untuk menghukum, tetapi juga untuk memeriksa (inquisitio) dengan maksud agar para bidat itu bertobat. Baru jika tidak bertobat, maka orang tersebut diserahkan ke pihak otoritas sipil untuk menerima hukuman, yang dapat berakhir dengan hukuman mati. Perlu diketahui di sini bahwa yang diperiksa dan dihukum (jika terbukti bersalah) hanya terbatas pada mereka yang sudah dibaptis namun berkeras untuk mengajarkan/ menyebarkan ajaran yang sesat dan bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. (termasuk di sini adalah para convert dari agama lain yaitu dari Judaism dan muslim, yang diadili pada Inkuisisi di Spanyol di abad ke- 15)
      Selanjutnya, inkuisisi (Inquisition)  harus dilihat dengan kacamata obyektif. Inkuisisi ini dimulai atas perintah Paus Gregorius IX tahun 1231, untuk memerangi ajaran sesat Albigensian juga dikenal sebagai Cathars. Ajaran sesat Albigensian ini, seperti heresi Manichaeisme, mengajarkan konsep dualisme, roh dan tubuh; roh itu baik, namun “matter“/ tubuh adalah asal dari segala kejahatan, dan karenanya, menentang Inkarnasi dan Keselamatan [di dalam Kristus, Sabda yang menjelma menjadi 'daging'/ tubuh manusia]. Dengan demikian, heresi ini tidak saja menentang inti iman Kristiani tetapi juga inti basis kemasyarakatan, sebab mereka 1) menentang perkawinan legal sebab perkawinan dikatakan dapat menghasilkan kehidupan fisik/ tubuh yang baru; 2) mengajarkan bahwa bunuh diri adalah sesuatu yang baik, karena mengakhiri kehidupan tubuh; 3) homoseksualitas adalah lebih baik daripada heteroseksualitas, karena tidak ‘menghasilkan’ tubuh/ fisik yang baru; 4) menganggap bahwa kitab Perjanjian Lama termasuk ke 10 perintah Allah sebagai pekerjaan setan. Nah, tak mengherankan, heresi ini berakibat menghasilkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat.
      Jadi maksud inkuisisi adalah untuk mempertahankan kemurnian iman Kristiani dan memberikan hukuman eks-komunikasi pada orang-orang yang tidak mau bertobat. Cara inkusisi diambil karena pendekatan persuasif melalui khotbah pengajaran iman yang benar yang dilakukan oleh St. Dominikus dan para biarawan Dominikan tidak sepenuhnya efektif. Order Dominikan kemudian mendapat tugas untuk menangani inkusisi yang didahului oleh semacam pengadilan di hadapan juri yang terdiri dari sedikitnya 20 orang, yang menjadi permulaan dari sistem juri dalam pengadilan modern. Kisah tentang perkembangan heresi Albigenses, dapat anda baca kembali di artikel di atas, silakan klik.
      Maka, secara prinsip, prosedur yang dilaksanakan oleh para legates yang diberi tugas oleh Paus dalam menangani para heretik pada Abad Pertengahan adalah sebagai berikut:
      1. Edict of Faith:
      Seruan agar umat menolak ajaran sesat, sebab jika tidak sangsi ekskomunikasi diberlakukan. Hal ini dilakukan oleh para biarawan Dominikan.
      2. Edict of Grace:
      Seruan kepada para heretik agar menghadap para inkuisitor dan menjanjikan pengampunan jika mereka menarik pengajarannya dalam waktu 15- 30 hari.
      3. Jika para heretik ini menolak menarik pengajarannya, mereka akan diperiksa dan dipenjara menjelang hari pengadilan. Jika setelah diadili mereka bertobat, maka hukumannya adalah penitensi kanonikal seperti ziarah, pelayanan di Holy Land dst.
      4. Baru jika para heretik ini tetap berkeras maka diberlakukan kekerasan.
      Dalam bukunya yang berjudul Characters of the Inquisition, William Thomas Walsh mengisahkan beberapa Chief Inquisitors, di antaranya Bernard of Gui. Dikatakan bahwa mereka adalah “far from being inhuman, …men of spotless character and sometimes of truly admirable sanctity….”[http://www.newadvent.org/cathen/080261.htm " id="identifier_0_2789" rel="nofollow">1]. Setelah itu, mereka yang tidak juga mau bertobat diserahkan kepada pemerintah sekular untuk dihukum. Memang harus diakui bahwa hukuman terakhir ini sangatlah kejam, seperti digantung atau dibakar di hadapan umum; sesuatu yang sangat tak terbayangkan oleh masyarakat abad ini.
      3. Paus Innocentius IV (1252) dan Bull Ad Extirpanda

      Dengan meluasnya kekacauan akibat ajaran sesat Albigenses, Paus Innocentius IV (1252) memang mengeluarkan Bull Ad Extirpanda, yang memperbolehkan penggunaan kekerasan pada pemeriksaan para heretik, yang dianggap sebagai "pembunuh jiwa dan perampok sakramen Gereja dan iman Kristiani" (1913 Catholic Encyclopedia). Namun demikian, hal ini hanya boleh diberlakukan secara terbatas, yaitu oleh para inkusitor sebagai cara yang terakhir, jika cara- cara persuasif lainnya tidak berhasil. Tujuan kekerasan ini adalah supaya para heretik tersebut mengakui kesalahannya. Parameter pelaksanaannya (dikutip dari Wikipedia): 1) bahwa tindakan kekerasan tersebut tidak boleh sampai membunuh atau membuat cacat; 2) tindakan tersebut hanya boleh dilakukan satu kali; 3) bahwa para inkuisitor harus mempunyai bukti yang benar- benar nyata tentang pelanggaran sang tertuduh.
      Ada banyak orang yang menganggap bahwa Bull ini merupakan bukti bahwa dogma Infalibilitas Paus itu adalah ajaran yang salah. Mereka mengatakan bahwa Bull tersebut adalah buktinya, karena jelas- jelas efeknya salah: yaitu kekejaman yang sangat pada jaman Inkuisisi. Pandangan ini keliru, sebab Bull Ad Extirpanda tersebut tidak memenuhi ketiga syarat untuk dianggap sebagai pernyataan yang Infallible. Silakan membaca di sini untuk membaca lebih lanjut tentang Infalibilitas Paus, silakan klik. Ketiga syarat yang harus dipenuhi oleh suatu ajaran Paus, untuk dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak mungkin salah (Infallible) adalah: 1) pengajaran tersebut harus diucapkan dalam kapasitasnya sebagai wakil Petrus, dikenal sebagai ex-cathedra, artinya di atas kursi Petrus (Umumnya ada perkataan kira- kira seperti demikian pada pernyataannya: Saya, selaku penerus Rasul Petrus menyatakan bahwa…..); 2) Ajaran itu merupakan ajaran definitif yang menyangkut iman dan moral; 3) Ajaran itu berlaku universal untuk seluruh umat Katolik di seluruh dunia.
      Namun karena Bull Ad Extirpanda tidak mencakup pengajaran yang memenuhi ketiga syarat tersebut, maka bull tersebut tidak dapat dijadikan bukti yang menentang dogma infalibilitas Paus (Papal Infalibility).
      Tidak diketahui dengan pasti apakah Paus Innocentius IV memberikan Bull ini di atas kursi Petrus, sehingga bersifat ex-cathedra, namun yang pasti, aturan penanganan heretik tersebut hanya untuk dilakukan secara sangat terbatas, yaitu oleh para inkuisitor, sehingga tidak bersifat universal.
      4. Perbandingan Inkuisisi dengan penanganan pemerintah sekular dan pada jaman Reformasi
      Sekarang, mari kita melihat apa yang terjadi dalam inkuisisi yang dilakukan oleh Gereja dan penanganan yang dilakukan oleh pemerintah sekular pada abad 13-14, dan jumlah korban umat manusia di abad- abad berikutnya.
      Sebagai contohnya, di Touluose, dari 1308-1323 hanya 42 orang dari 930 yang diadili dinyatakan sebagai “unpenitent heretics“/ bidat yang tak menyesal, dan diserahkan kepada pihak pemerintah sekular.
      Spanish Inquisition, dalam 30 tahun pemerintahan ratu Isabel, ada sekitar 100,000 orang yang dikirim ke inkuisisi, dan 80,000 dinyatakan tidak bersalah. 15,000 dinyatakan bersalah, namun setelah mereka menyatakan iman secara publik, maka mereka dibebaskan kembali. Hanya ada sekitar 2,000 orang yang meninggal karena keputusan inkuisisi sepanjang pemerintahan Ratu Isabella, dan 3000 orang kemudian dari tahun 1550 – 1800. Sedangkan, sebagai perbandingan, hanya dalam waktu 20 hari, Revolusi Perancis (1794), yang dimotori oleh gerakan “Enlightenment”, meng-eksekusi pria dan wanita sebanyak 16,000- 40,000. Jumlah korban ini, jauh lebih banyak daripada korban inkuisisi dalam 30 tahun pemerintahan Ratu Isabella.
      Menurut Raphael Molisend, seorang sejarahwan Protestan, Henry VIII membunuh 72,000 umat Katolik. Orang yang meninggal selama beberapa tahun pada masa pemerintahan Henry VIII dan anaknya Elizabeth I, jauh melebihi apa yang terjadi pada inkuisisi di Spanyol dan Roma selama 3 abad. Dari Geneva, Calvin mengirimkan utusan kepada England (Inggris) dengan pesan untuk membunuh orang-orang Katolik: “Siapa yang tidak mau membunuh para pengikut Paus, adalah pengkhianat.” Kebijakan ini dikenal tidak hanya oleh orang-orang Inggris yang setia kepada Roma, tetapi juga orang- orang Irlandia, yang hidup dan hak asasinya diambil (sampai 1913), demikian juga tanah mereka. Tahun 1585 parlemen Inggris mengeluarkan dekrit “hukuman mati bagi para warga Inggris yang kembali ke Inggris setelah ditahbiskan menjadi imam Katolik, dan semua orang yang menghubungi mereka.” (Black Legends of the Church by Vittorio Messori, ch. 6, nr. 36)
      Bandingkan juga dengan Perang Dunia I dan II, yang membunuh 50 juta orang. 40 juta orang meninggal dalam masa pemerintahan Stalin di Rusia. 80 juta orang meninggal di Cina karena revolusi komunis dan 2 juta di Kamboja. Dan entah berapa banyak lagi korban karena konflik antar agama yang terjadi di seluruh dunia sampai sekarang.
      5. Kesimpulan
      Sebagai kesimpulannya, maka jika kita menilai dari standar saat ini, memang dapat dikatakan bahwa inkuisisi merupakan suatu titik kelam dalam sejarah Gereja. Hal penerapan kekerasan dalam inkuisisi dipengaruhi oleh hukum Romawi yang memang secara luas diterapkan pada beberapa negara di Eropa pada jaman Abad Pertengahan [sampai dengan abad ke -15 di Spanyol]. Inkuisisi ini mendapat dukungan dari pemerintah negara- negara yang bersangkutan, karena mereka melihatnya sebagai upaya menanggulangi kekacauan masyarakat.
      Tentu saja ada kesalahan yang dilakukan oleh putera/i Gereja Katolik yang tidak menerapkan hukum kasih selama dalam proses inkuisisi ini. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II meminta maaf atas nama mereka, menjelang perayaan tahun Yubelium 2000. Di satu sisi, kita seharusnya melihat keberanian dari Gereja Katolik untuk mengakui kesalahan ini dan dengan berani meminta maaf. Silakan membandingkan dengan agama atau gereja lain, apakah ada yang pernah melakukan hal yang sama, untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh putera dan puteri mereka di masa yang lalu?
      Yang terpenting, Katekismus jelas melarang metode kekerasan/ penyiksaan apapun:
      KGK 2297 Penculikan dan penyanderaan menyebarluaskan rasa takut dan melakukan tekanan tidak halal melalui ancaman atas kurban; mereka tidak dapat dibenarkan menurut moral. Terorisme, yang mengancam, melukai, dan membunuh secara sewenang-wenang merupakan pelanggaran besar terhadap keadilan dan cinta kasih Kristen. Siksaan yang memakai kekerasan fisik atau psikis untuk memeras pengakuan, untuk menyiksa yang bersalah, untuk menakut-nakuti penentang atau untuk memuaskan kedengkian, melawan penghormatan terhadap manusia dan martabatnya…..
      Demikianlah yang dapat saya sampaikan mengenai Inkuisisi, dan kaitannya dengan Paus Innocentius IV dan infalibilitas Paus. Semoga berguna.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
  2. 1
    kusno says:
    kepada bapak stefanus :
    Penganiayaan Kelompok Albigenses
    Ke1ompok Albigenses adalah orang-orang yang menganut ajaran dualistis, yang tinggal di Prancis bagian se1atan pada abad ke-12 dan ke-13. Mereka mendapatkan nama itu dari kota Prancis, Albi, yang merupakan pusat gerakan mereka. Mereka tinggal dengan peraturan etika yang ketat dan banyak tokoh menonjol di antara anggota mereka, seperti The Count of Toulouse, The Count of Foix, The Count of Beziers, dan yang lain yang memiliki pendidikan serta tingkat yang setara. Untuk menekan mereka, Roma pertama-tama mengirim biarawan Cistercian dan Dominikan ke wilayah mereka untuk meneguhkan kembali ajaran paus, tetapi tidak berguna karena ke1ompok Albigenses tetap setia dengan doktrin reformed………….
    [Dari Admin Katolisitas: kami edit, karena sudah tertulis lengkap di atas. Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Tentang ajaran sesat Arianism


Pertanyaan:

Salam kasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Ajaran-ajaran sesat yang terjadi di sepanjang sejarah Gereja yang berusaha menyederhanakan misteri kemanunggalan Kristus (yang adalah sepenuhnya Allah dan manusia), di antaranya, khususnya yang ditulis, dibawah ini :
3. “Arianism (abad ke 3 -4) menolak Allah Tritunggal. Kristus dianggap bukan Tuhan, namun sebagai malaikat yang tertinggi (super-angel)”
Sebab ada yang mengatakan dan tertulis dalam kitabnya bahwa Roh Kudus adalah malaikat (=Jibril).
Mungkin Ibu Inggrid dapat memberikan penjelasan / penjabaran ringkasan tetang ajaran arianism tersebut diatas ?.
Semoga Roh Kudus menerangi kita.
Dari : Julius Santoso.

Jawaban:

Shalom Julius,
1. Arianism adalah bidaah/ heresi yang sangat berbahaya, di awal abad ke -4 (319) karena mengajarkan ajaran sesat dalam hal Trinitas dan Kristologis. Bidaah ini diajarkan oleh Arius, seorang imam dari Alexandria, yang ingin menyederhanakan misteri Trinitas. Ia tidak bisa menerima bahwa Kristus Sang Putera Allah berasal dari Allah Bapa, namun sehakekat dengan Bapa. Maka Arius mengajarkan bahwa karena Yesus ‘berasal’ dari Bapa maka mestinya Ia adalah seorang ciptaan biasa, namun ciptaan yang paling tinggi. Arius tidak memahami bahwa di dalam satu Pribadi Yesus terdapat dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia.
Berikut ini adalah ringkasan ajaran sesat/ heresi Arianism:
- Kristus Sang Putera tidak sama-sama kekal (tak berawal dan berakhir) dengan Bapa, melainkan mempunyai sebuah awal.
- Kristus Sang Putera tidak sehakekat dengan Allah Bapa.
- Allah Bapa secara tak terbatas lebih mulia dari pada Kristus Sang Putera.
- Kristus Sang Putera adalah seorang ciptaan, yang diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, berupa kodrat malaikat (super-archangel) yang tidak sehakekat  dengan Allah Bapa.
- Tuhan bukan Trinitas secara kodratnya.
- Kristus Putera Allah bukan Putera Allah secara kodrati, tetapi Putera angkat.
- Kristus Putera Allah diciptakan dengan kehendak bebas Allah Bapa.
- Kristus Putera Allah tidak tanpa cela, tetapi dapat secara kodrati berubah/ berdosa.
- Kristus Putera Allah tidak dapat memahami Allah Bapa.
- Jiwa dari Kristus Putera Allah yang sudah ada sebelumnya (dari super archangel tersebut) mengambil tempat jiwa manusia dalam kemanusiaan Yesus.
Maka menurut Arius, Kristus adalah bukan sungguh-sungguh Allah, namun juga bukan sungguh-sungguh manusia (sebab jiwanya bukan jiwa manusia). Sebagai dasarnya Arius mengambil ayat Yoh Yoh 1:14, “Firman itu menjadi manusia/ “the Word was made flesh”, dan ia berkesimpulan bahwa Firman itu hanya menjelma menjadi daging saja tetapi tidak jiwanya. Prinsip ini kemudian juga diikuti oleh Apollinaris (300-390).
Ajaran sesat ini diluruskan melalui Konsili Nicea (325) yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup. Ajaran Arius ini dikecam, dan dianggap sebagai inovasi radikal.  Maka dibuatlah suatu pernyataan Credo, untuk mempertahankan ajaran para rasul, yaitu Kristus adalah “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.” Pada waktu penandatanganan ajaran ini, hampir semua dari para uskup tersebut setuju, hanya terdapat 17 uskup yang enggan bersuara, namun kenyataannya hanya 2 orang uskup yang menolak, ditambah dengan Arius sendiri.
Konsili Nicea ini sering disalah mengerti oleh umat non-Kristen, sebab mereka menyangka bahwa baru pada tahun 325 Yesus dinobatkan sebagai Tuhan. Ini salah besar, sebab pernyataan Kristus sehakekat dengan Allah tersebut dibuat untuk meluruskan ajaran sesat Arianism dan untuk menegaskan kembali iman Gereja yang berasal dari pengajaran para rasul. Maka kita mengenal pernyataan itu sebagai “Syahadat Para Rasul”, karena memang dalam syahadat tersebut tercantum pokok-pokok iman yang diajarkan oleh para rasul.
Perjuangan melawan bidaah Arianism kemudian dilanjutkan oleh St. Athanasius (296-373). Ajaran St. Athanasius yang terkenal adalah bahwa kalau Kristus mempunyai awal mula, maka artinya ada saat bahwa Allah Bapa bukan Allah Bapa, dan di mana Allah Bapa tidak punya Sabda ataupun Kebijaksanaan….Ini jelas bertentangan dengan Wahyu Allah dan akal sehat. “Sebab jika Allah Bapa itu kekal, tak berawal dan tak berakhir maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga kekal, tak berawal dan berakhir.”[1]
Demikian yang dapat saya tuliskan mengenai bidaah/ heresi Arianism. Bidaah ini tidak menyebutkan secara khusus tentang Roh Kudus dan menghubungkannya dengan malaikat Gabriel/ Jibril. Namun melalui sejarah kita mengetahui bahwa sudah sejak abad awal ada orang-orang yang berusaha menyederhanakan konsep Trinitas, dan misteri ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus.
Dengan mempelajari sejarah Gereja, kita mengetahui betapa pentingnya peran Paus dan para uskup untuk mempertahankan kemurnian ajaran Alkitab dan para rasul, yang memang sering disalah-artikan oleh interpretasi pribadi orang-orang tertentu. Semoga kita semua dapat mempunyai kerendahan hati untuk menerima pengajaran dari para penerus rasul dalam Magisterium Gereja Katolik, dan dengan demikian menerima kemurnian pengajaran Alkitab sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul-Nya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

CATATAN KAKI:
  1. Nicene and Post-Nicene Fathers [NPNF] 4:311 []
Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 03 09 09 Disimpan dalam TJ: Apologetik Non Kristen, TJ: Kristologi, TJ: Sejarah Gereja, Tanya-Jawab. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

6 komentar untuk “Tentang ajaran sesat Arianism”

  1. 4
    fxe says:
    Pertama-tama , saya ingin menyampaikan kepada Team Katolisitas dan pengunjung web ini; “Selamat Natal dan Tahun Baru 2010″. Semoga Tuhan senantiasa berkenan menyertai Katolisitas & kita semua.
    Perkenankan saya mengajukan pertanyaan di awal tahun ini.
    Apakah Katolisitas berkenan memberikan ulasan mengenai “bad popes” sepanjang sejarah Gereja?
    Setahu saya ada yg sampai membunuh orang dan berzinah dgn istri orang yg dibunuh itu, berpesta-pora, mabuk , dsb.
    Dan, bagaimana tinjauan teologis thd kasus-kasus seperti itu…, mengingat Gereja harus menjadi tanda keselamatan bagi dunia, juga doktrin infalibilitas.. apakah paus dgn karakter moral seperti itu, masih harus diikuti ajarannya?
    Terlebih belakangan ini skandal-skandal juga muncul, kasus di Gereja Amerika, dan banyak kasus lain yg tidak terekspose termasuk di Indonesia sendiri… Bagi banyak orang, kasus-kasus ini sangat mengaburkan wajah Gereja.
    Benarkah bahwa setiap kali ada “bad pope” selalu ada satu orang kudus (santo/santa) sebagai penawar (counter-measure) nya?
    Satu hal lain, Gereja tidak berbuat salah , tetapi bisa bersalah karena tidak berbuat sesuatu disaat mestinya dia berbuat sesuatu…! Contoh tuduhan ini ditujukan ke Paus Pius atas segala sikapnya di WW-2.. dan juga contoh2 lainnya.
    Mohon pencerahan. Terima kasih.
    • 4.1
      Shalom Fxe,
      Saya pernah menjawab pertanyaan tentang “bad Popes”, di sini, silakan klik. Ya, memang benar ada saatnya di mana Gereja dipimpin oleh Paus yang hidupnya tidak mencerminkan panggilannya sebagai penerus Rasul Petrus. Syukurlah, Paus- paus yang demikian tidak mengeluarkan doktrin- doktrin penting di mana mereka menyatakan ajaran iman dan moral atas nama Rasul Petrus. Namun demikian, seandainya-pun mereka mengeluarkan pengajaran, kita percaya akan janji Kristus bahwa pada saat mereka menjalankan wewenang mereka untuk mengajar, maka mereka akan tetap dipimpin Roh Kudus, sebab Kristus telah menjanjikannya demikian kepada Rasul Petrus (lih. Mat 16:18, 28:19-20). St, Agustinus mengajarkan tentang hal ini sebagai berikut, “Tuhan telah meletakkan ajaran kebenaran pada kursi kesatuan [ex cathedra]. Pada saat duduk di kursi ini, yang daripadanya diajarkan ajaran keselamatan, bahkan [Paus] yang jahatpun dipaksa untuk mengajarkan apa yang baik. Sebab apa yang diajarkannya bukan ajaran mereka sendiri, tetapi ajaran Tuhan.” (Sumber: St. Agustinus, Ep. 105, 16)
      Mengenai Infalibilitas memang hanya berlaku untuk Bapa Paus (dan para uskup dalam kesatuan dengannya) pada saat ia, bertindak selaku Rasul Petrus, dalam menyatakan secara definitif doktrin perihal iman dan moral, yang berlaku untuk Gereja Universal. Para imam tidak mempunyai infalibilitas, sebab hal “tidak dapat sesat” ini memang hanya dijanjikan oleh Kristus kepada Petrus dan para penerusnya, dan itupun hanya terbatas pada saat mereka mengajar dalam hal iman dan moral secara definitif.Lebih lanjut tentang infalibilitas, silakan klik di sini.
      Terus terang, saya belum pernah mengadakan penelitian khusus, apakah Tuhan ‘mengirimkan’/ membangkitkan santo/ santa untuk manjadi penawar/ counter measure dari setiap ‘bad Pope’. Namun secara garis besar, dapat dikatakan bahwa pada saat Gereja diterpa oleh masalah di mana terdapat putera-puteri Gereja yang menyimpang, maka Tuhan ‘menyediakan’ putera-puteri yang lain untuk menjadi teladan. Sebagai contoh ketika di jaman abad pertengahan, terdapat penyimpangan dalam praktek kehidupan para rohaniwan yang mayoritas tidak mempraktekkan kaul kemiskinan, maka St. Fransiskus Asisi (1181-1226) merupakan contoh yang sempurna, yang memperbaharui kehidupan kaum religius, dengan kaul kemiskinannya yang ekstrim. Teladan serupa diberikan oleh St Clare Asisi (1194- 1253). Demikian pula, St. Catherine of Siena (1347-1380) yang diutus oleh Tuhan untuk menghadap Paus Gregorius XI (1362-1370) – salah satu jajaran Paus Avignon- untuk meninggalkan Avignon dan kembali ke Roma dan mengadakan reformasi kaum klerik. Atau St. Ignatius Loyola (1491- 1556), St. Teresa Avila (1515- 1582) dan St. Yohanes Salib (1542- 1591), St. Francis de Sales (1567- 1622) yang mengajarkan dan me-reformasi spiritualitas Katolik pada sekitar jaman reformasi Protestan.
      Saya juga pernah mendengar tuduhan mengenai Paus Pius yang dianggap para kritikus tidak melakukan sesuatu yang cukup berarti dalam kasus Hitler dan perang dunia. Hal ini memang kontroversial, dan sebaiknya kita tidak langsung menghakimi Bapa Paus, tanpa terlebih dahulu menyelidiki apa yang telah dilakukannya. Silakan anda membaca link ini: The Truth about Pope Pius XII, silakan klik. Semoga hati kita semua dapat terbuka untuk menerima bahwa memang keadaan yang dihadapi Paus Pius XII pada saat itu memang sungguh sulit, namun ia dalam kapasitasnya juga sudah berusaha sedapat mungkin untuk mengusahakan perdamaian.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
  2. 3
    Ajaran Agama Kristen yang Asli adalah dari Murid murid (Apostel) Yesus yang pernah Hidup bersama. Karena awal awalnya Ajaran Yesus itu Secara Lisan kepada 12 Rasulnya. Sedangkan Paulus (Saul) tidak hidup bersama dengan Yesus. Ajaran Paulus berkembang dimasa Kaisar Konstantin lari ke Byzantium (Romawi Timur) dan Ajarannya dicocokkan dengan selera Kaisar Roma dalam Pelarian. Dan dalam Konsili Nicea itu terdapat Ratusan Injil, Termasuk Ajaran Origen, Tertulianus, Barnaba, Clementius, dll. Tapi yang disetujui oleh Kaisar Romawi adalah Ajaran Paulus (Matius,Markus,Lukas,Yohanes)karena disana ada Penebusan Dosa bagi yang Pernah berbuat Dosa. Sehingga Cocok dengan selera Kaisar yang sering membantai Rakyatnya. Tolong dibaca Naskah2 Injil tua sebelum Paulus menulis Injilnya, sekarang tersedia di Perpustakaan Wina Austria, dan tersimpan rapi.
    [Dari Admin Katolisitas: komentar ini digabungkan karena masih satu topik]
    Memang benar, sebelum Konsili Nicea tidak ada Orang Kristen kecuali Paulus yang menyebut Yesus itu Tuhan (Tahun 325). Dan setelah itu Kaisar Romawi membunuhi orang orang Kristen yang memegang Teguh Ajaran Yesus yang Asli yaitu Allah Maha Esa dan Yesus sebagai Manusia biasa yang diberi Wahyu, oleh Malaikat Jibril (Roh Kudus). Di Pengabaran Pengabaran Yahya sudah jelas, Bahwa Yesus itu akan Meluruskan Gembala gembala Yahudi yang Sesat.
    • 3.1
      Shalom Tertulianus,
      1. Memang benar bahwa ajaran Yesus dimulai dari pengajaran yang diberikan kepada kedua belas rasul-Nya. Lalu beberapa tahun setelah peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus, Rasul Matius dan Yohanes mulai menuliskan ajaran Yesus itu, dan Markus (murid Rasul Petrus) menuliskan apa yang sering diajarkan oleh Rasul Petrus, dan Lukas (murid Rasul Paulus) menuliskan apa yang sering diajarkan oleh Rasul Paulus.
      Gereja Katolik, yang setia kepada Tradisi dari para rasul, menunjukkan bahwa Injil pertama dituliskan oleh Matius, berdasarkan kesaksian Bapa Gereja, yaitu St. Irenaeus (180), yang menjadi murid St. Polykarpus yang adalah murid Rasul Yohanes. Dalam buku III, bab 1, 1, St. Irenaeus menulis asal usul Injil yang berasal dari para rasul (berikut ini saya terjemahkan): “Kita belajar tentang rencana keselamatan tidak dari siapapun kecuali dari mereka yang olehnya Injil diturunkan kepada kita, yang mereka umumkan pada suatu saat kepada publik, dan yang selanjutnya, oleh kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak iman kita…. Sebab, setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul] dikaruniai kuasa dari atas ketika Roh Kudus turun [atas mereka], dan mereka dipenuhi oleh segala [karunia-Nya], dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka pergi ke seluruh dunia, mengabarkan/ mengajarkan tentang kabar gembira dari Allah kepada kita, dan mengabarkan damai dari surga kepada umat manusia… Matius juga menuliskan Injil di antara umat Yahudi di dalam bahasa mereka, sedangkan Petrus dan Paulus mengajarkan Injil dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah dari Petrus juga meneruskan kepada kita secara tertulis tentang apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, pembantu Paulus, juga meneruskan kepada kita Injil yang biasanya dikhotbahkan oleh Paulus. Selanjutnya, Yohanes, rasul Tuhan kita …juga menuliskan Injil ketika tinggal di Efesus, Asia kecil.”
      Maka tidak benar bahwa Rasul Paulus mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan yang diajarkan oleh para rasul lainnya yang dituliskan di dalam ketiga Injil lainnya. Sebab Injil Lukas yang dituliskan berdasarkan khotbah Rasul Paulus juga berada dalam kesatuan dengan ketiga Injil lainnya. Walaupun Rasul Paulus tidak hidup bersama Yesus, namun ia secara khusus dipilih oleh Kristus sendiri untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain non- Yahudi, raja-raja dan orang-orang Israel (lih. Kis 9: 15).
      Rasul Paulus mulai menuliskan surat- surat-nya kepada jemaat pada masa abad awal, dimulai dengan surat kepada jemaat di Tesalonika (50-52), Filipi dan Korintus (54-57), Galatia dan Roma (57-58), Kolose, Efesus dan Filemon (61-63), Ibrani (63- 67), kepada Timotius dan Titus (65-67). Pengajaran Rasul Paulus inilah yang diteruskan oleh para muridnya, terutama Lukas (wafat th 84), Paus Clement I dari Roma (wafat th 99), Appollo, Priscilla dan Aquila (abad ke-1).
      Untuk membuktikan bahwa jemaat awal mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, mari membaca beberapa kutipan dari Bapa Gereja sebelum tahun 325, yang diambil dari buku: William A. Jurgens, Faith of the Early Fathers: Three-Volume Set (Liturgical Press, 1980):
      1. St. Ignatius of Antioch (110 AD)
        • Vol.1, hal. 17 – “Ignatius, yang juga dipanggil Theophorus, kepada Gereja di Efesus di Asia…. ditakdirkan dari sepanjang abada untuk sebuah kemuliaan yang tidak berkesudahan dan tak berubah, disatukan dan dipilih melalui penderitaan yang nyata oleh kehendak Bapa di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Letter to the Ephesians 1)
        • Vol. 1, hal. 18 – “Karena Tuhan kita, Yesus Kristus, dikandung oleh Maria, sesuai dengan rencana Tuhan: dari keturunan Daud, memang benar, namun juga dari Roh Kudus…..” (Letter to the Ephesians 18,2).
        • Vol. 1, hal. 21 – “..; kepada Gereja yang dikasihi dan diterangi oleh kasih dari Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak-Nya ….” (Letter to the Romans, 1).
      2. St. Irenaeus (140 AD).
        • Vol. 1, hal. 84-85 – “….dan kebangkitan kembali semua badan dari seluruh umat manusia, sehingga kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Allah dan Penyelamat dan Raja…” (Against Heresies, 1,10,1)
        • Vol. 1, hal. 99 – “.. Namun demikian, engkau akan mengikuti satu-satunya guru yang benar dan dapat diandalkan, Sabda Allah, Yesus Kristus, Tuhan kita, dimana, karena kasih-Nya yang begitu besar, menjadi seperti kita [manusia], sehingga Dia dapat membawa kita kepada sebagaimana adanya Dia.” (Against Heresies, 5, Preface).
      3. Tertullian (210 AD).
        • Vol. 1, hal. 146 – “…Asal dari dua hakekatnya [Yesus] menunjukkan bahwa Dia [Yesus] sebagai manusia dan Tuhan.” (The Flesh of Christ, 5:7).
      4. Origen (225 AD).
        • Vol. 1, hal. 191 – “Walaupun Dia [Jesus] adalah Tuhan, Dia telah mengambil tubuh; dan menjadi manusia, Dia [Jesus] tetap sebagai Tuhan.” (The Fundamental Doktrines, 1 Preface, 4).
      5. Cyprian of Carthage (253 AD).
        • Vol. 1, hal. 238 – “Barang siapa menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait-Nya [bait Roh Kudus].” (Letter of Cyprian to Jubaianus, 73,12).
      6. Arnobius of Sicca (305 AD).
        • Vol. 1, hal. 262 – “beberapa orang geram, marah, dan bergejolak, dan berkata “Apakah Kristus adalah Tuhanmu?” “Memang Dia adalah Tuhan,” kita harus menjawab, “dan Tuhan di dalam kekuatan yang tersembunyi.” (Against the Pagans, 1, 42).
      Maka tidak benar bahwa pengajaran Rasul Paulus baru berkembang di abad ke- 4. Lebih lanjut mengenai topik ini, yaitu Beberapa Keberatan akan ke- Tuhanan Yesus, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
      Jadi tidak benar bahwa yang menetapkan atau yang menyetujui Injil adalah Kaisar Konstantin. Memang benar, terdapat banyak Injil di abad- abad awal, dan banyak di antaranya memuat ajaran yang bertentangan dengan ajaran Kristus, oleh sebab itu Gereja Katolik, melalui para pemimpinnya hanya menetapkan ke- empat Injil (Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) sebagai Injil yang otentik, berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja yang merupakan para murid dari para rasul tersebut. Keempat Injil inilah yang merupakan kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, karena memuat ajaran Kristus dan para rasul, sedangkan injil-injil lainnya dapat dikatakan sebagai karya manusia biasa. Penetapan kanon Kitab Suci dilakukan pertama kali oleh Paus Damaskus I pada tahun 382, diikuti oleh Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). Silakan membaca lebih lanjut dalam artikel Perkenalan dengan Kitab Suci bagian ke-2 (silakan klik).
      Maka, hal penebusan dosa bukan ajaran yang “dibuat” oleh Paulus atau keempat Injil. Hal penebusan dosa memang diajarkan oleh Kristus sendiri dan merupakan penggenapan nubuat dari para nabi yang ada sebelum Kristus. Silakan membaca artikel ini: Yesus, Tuhan yang dinubuatkan oleh para nabi, silakan klik, untuk mengetahui bahwa pengajaran bahwa Yesus datang untuk menebus dosa manusia itu sudah dinubuatkan oleh para nabi, dan bukan baru “ditemukan/ dibuat” pada jaman Kaisar Konstantin.
      Gereja Katolik, melalui Magisterium (para pemimpin Gereja yang memiliki wewenang mengajar) selalu menjaga kemurnian pengajaran para rasul Kristus. Maka memang tidak sembarang injil yang ada pada saat itu dapat digunakan sebagai dasar pengajaran Gereja. Magisterium merupakan para penerus rasul itulah yang mempunyai wewenang untuk menentukan kitab-kitab yang sesuai dengan ajaran Kristus dan para rasul, dan mana yang tidak; dan ini sangat masuk akal, karena sabda Allah diwahyukan kepada Gereja, maka Gerejalah yang berhak untuk menginterpretasikannya dengan terang pengajaran para rasul.
      2. Anda keliru jika mengatakan bahwa sebelum Konsili Nicea 325, tidak ada orang Kristen yang menyebut Kristus sebagai Tuhan. Konsili Nicea diadakan karena pada saat itu berkembang ajaran sesat Arianisme, yang menentang ke- Tuhanan Yesus, dan menganggap Yesus “hanya” manusia biasa atau sejenis malaikat. Ajaran sesat ini berkembang hingga mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, sehingga pada waktu itu Kaisar Konstantin turut berkepentingan untuk mendukung diadakannya Konsili, demi mengakhiri kekacauan yang ada. Untuk menertibkan ajaran inilah, maka Konsili Nicea diadakan yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup. Ajaran Arius ini dikecam, dan dianggap sebagai inovasi radikal. Maka dibuatlah suatu pernyataan Credo, untuk mempertahankan ajaran para rasul, yaitu Kristus adalah “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.” Pada waktu penandatanganan ajaran ini, hampir semua dari para uskup tersebut setuju, hanya terdapat 17 uskup yang enggan bersuara, namun kenyataannya hanya 2 orang uskup yang menolak, ditambah dengan Arius sendiri.
      Kaisar Konstantin dikenal sebagai penentang kaum kafir/ pagan, ia menutup banyak kuil-kuil dan menentang pengorbanan kepada dewa/i yang dilakukan pada jaman itu. Putera kesayangan Konstantin yang bernama Konstantius adalah pengikut aliran Arianisme, sehingga ironisnya, pada masa itu pihak kerajaan yang tadinya ingin menertibkan aliran Arianisme malah akhirnya menganut Arianisme. Maka malah St. Athanasius, Uskup Alexandria yang menentang Arianisme, kemudian mengalami penganiayaan, diasingkan/ dibuang sampai 5 kali untuk mempertahankan Credo Nicea tersebut. St. Athanasius wafat pada tahun 371.
      Tentang topik apakah Yesus bukan Tuhan dan Yesus hanya diutus ke Israel, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
      Demikianlah sekilas tanggapan saya tentang pandangan anda. Semoga berguna.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid & Stef- http://www.katolisitas.org
  3. 2
    Julius Santoso says:
    Ibu Ingrid Listiati
    Salam Kasih Dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Terima kasih atas pencerahan, semakin jelas bagi saya pribadi, bahwa ide ajaran yang mengatakan Roh Kudus adalah malaikat (=Jibril) itu adalah dari ajaran Arius yang dikemas dengan ajaran baru. Dimana Arius mengajarkan Kristus Sang Putera adalah seorang ciptaan, yang diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, berupa kodrat malaikat (super-archangel) yang tidak sehakekat dengan Allah Bapa.
    Biarpun Ajaran sesat ini diluruskan melalui Konsili Nicea (325), namun ajaran arius tersebut telah muncul kembali pada tahun 666, bahkan banyak orang yang memutar balikan ajaran Gereja Katolik yang luhur ini, dengan mengatakan bahwa Yesus diangkat sebagai Tuhan pada tahun 325.
    Why 13:18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.
    Puji Tuhan.
    Dari Julius Santoso.
  4. 1
    JULIUS sANTOSO says:
    Salam kasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Ajaran-ajaran sesat yang terjadi di sepanjang sejarah Gereja yang berusaha menyederhanakan misteri kemanunggalan Kristus (yang adalah sepenuhnya Allah dan manusia), diantaranya, khususnya yang ditulis, dibawah ini :
    3. “Arianism (abad ke 3 -4) menolak Allah Tritunggal. Kristus dianggap bukan Tuhan, namun sebagai malaikat yang tertinggi (super-angel)”
    Sebab ada yang mengatakan dan tertulis dalam kitabnya bahwa Roh Kudus adalah malaikat (=Jibril).
    Mungkin Ibu Inggrid dapat memberikan penjelasan / penjabaran ringkasan tetang ajaran arianism tersebut diatas ?.
    Semoga Roh Kudus menerangi kita.
    Dari : Julius Santoso.

Tentang Kayu Salib Yesus

Tentang Kayu Salib Yesus


Pertanyaan:

Shalom Pak Stef & Bu Ingrid,
Saya punya satu pertanyaan (yang agak melenceng) mengenai SALIB (kayu) yang di pikul oleh Yesus sampai pada ajalnya itu, apakah ada catatan atau tulisan dimana SALIB (kayu) itu berada? Apakah ada disimpan atau sudah hancur/lapuk?
Maaf sekali lagi, dan thanks. GBU
Simon

Jawaban:

Shalom Simon,
Kisah tentang salib Tuhan Yesus, adalah sebagai berikut: (Sumber: New Advent Catholic Encyclopdia):
Pada tahun 326, ibu dari Kaisar Konstantin, yang bernama  St. Helena (80 thn) melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk membersihkan daerah kubur Yesus. Ia menerima wahyu bahwa ia akan menemukan kubur Yesus, dan Salib-Nya. Tugas ini dilakukan dengan bantuan dari St. Macarius, uskup di kota itu. Orang-orang Yahudi menyembunyikan Salib Yesus di semacam sumur dan ditimbuni oleh batu-batu, agar para beriman tak dapat menghormati Salib itu. Hanya sedikit orang Yahudi yang mengetahui tempat Salib itu dikuburkan, salah satunya bernama, Yudas, yang didorong oleh inspirasi ilahi, menunjukkan kepada para penggali letak dari Salib itu. Yudas ini kemudian menjadi seorang Santo, dengan nama Cyriacus.
Dalam penggalian terdapat tiga salib yang ditemukan. Menurut salah satu tradisi, untuk menentukan yang mana dari salib itu adalah Salib Tuhan Yesus, maka konon St. Macarius memerintahkan ketiga salib itu untuk dibawa ke sisi tempat tidur seorang perempuan yang sakit parah dan hampir meninggal. Persentuhan dengan kedua salib itu,  tidak memberikan akibat apapun kepada perempuan itu, sedangkan persentuhan dengan salib yang ketiga di mana diyakini sebagai Salib Kristus, mengakibatkan perempuan tersebut langsung sembuh. St. Helena-pun mengenali salib yang ketiga ini sebagai Salib Kristus melalui mukjizat: yaitu dengan menyentuhkan Salib Kristus ini dengan seorang pria yang telah wafat, dan ia dapat hidup kembali. Hal ini dituliskan dalam surat St. Paulinus kepada Severus, tertulis dalam Breviary di Paris. Namun demikian, menurut tradisi St. Ambrose, Salib Kristus dikenali di antara tiga salib itu, sebab terdapat naskah yang masih terpaku disana (yang bertuliskan INRI tersebut).
Setelah penemuan ini, maka St. Helena dan Konstantin membangun sebuah basilika yang megah di Kubur Yesus yang Kudus (Holy Sepulchre). Tepat di tempat ditemukannya Salib itu, dibangun sebuah atrium basilika. Sebuah bagian dari Salib Kristus ini tetap berada di Yerusalem, yang diselubungi relikwiari dari perak; sedangkan bagian lainnya, dengan paku-pakunya dikirim kembali ke Kaisar Konstantin, dan bagian inilah yang kemudian diletakkan di dalam patung Konstantin yang berada di Konstantinopel. Paku-paku yang lain kemudian disimpan di ketedral Monza.
Referensi tertulis yang paling awal tentang Salib ini diperoleh dari St. Cyril dari Yerusalem dalam tulisannya “Catecheses” (P.G., XXXIII, 468, 686, 776) yang ditulis tahun 348, sekitar 20 tahun setelah Salib ini ditemukan oleh St. Helena. Salib ini kemudian sempat dibawa lari oleh Raja Persia, Chosroes (Khusrau), yang dikalahkan oleh Raja Heraclius II. Kemudian Salib ini dibawa dalam kemenangan ke Konstantinopel dan pada tahun 629 ke Yerusalem. Namun kemudian, Heraclius dikalahkan oleh kaum muslim dan tahun 647 Yerusalem ditaklukkan oleh mereka.
Pada tgl 14 September 1241, St. Louis dari Perancis membawa fragment dari Salib Suci ini yang diterimanya dari Templars. Fragmen ini lolos dari penghancuran di jaman revolusi dan masih disimpan di Paris. Terdapat juga bagian Salib yang lain berserta dua buah paku, yang diberikan oleh Ratu Anna Gonzaga kepada biaraSaint-Germain-des-Prés. Segera setelah ditemukannya Salib Yesus ini, maka kayunya dipotong-potong menjadi relikwi dan disebarkan ke seluruh dunia. Hal ini kita ketahui dari tulisan-tulisan dari St. Ambrosius, St. Paulinus Nola, Sulpicius Severus, Rufinus, dst. Banyak bagian disimpan di Santa Croce di Gerusalemme, Roma, dan di Notre Dame, Paris (cf. Rohault de Fleury, “Mémoire”, 45-163; Gosselin, Notice historique sur la Sainte Couronne et les autres Instruments de la Passion de Note-Dame de Paris”, Paris, 1828; Sauvage, “Documents sur les reliques de la, Vrai Croix“, Rouen, 1893).
Penyebaran bagian-bagian dari kayu Salib Yesus ini menyebabkan dibuatnya sejumlah besar salib-salib, sejak dari abad ke-4 dan seterusnya, dan banyak di antaranya masih ada sampai sekarang. Sejak abad awal inilah maka dimulai devosi untuk menghormati salib pada hari Jumat Agung, yang dimaksudkan bukan untuk menghormati kayu salib, tetapi untuk menghormati Yesus yang pernah tergantung di kayu salib itu.
Baru-baru ini dibuka perbendaharaan di Sancta Sanctorum dekat Lateran, dimana disimpan benda-benda yang berkaitan dengan kayu Salib Suci, yang memberikan pengetahuan tentang salib-salib yang mengandung partikel kayu Salib Yesus itu, dan gereja-gereja yang dibangun di abad ke-5 dan 6 untuk menghormatinya. Benda yang terkenal yang ditemukan adalah salib votive dari abad ke 5, yang padanya terpasang batu-batu permata,kotak kayu berbentuk salib dengan penutup geser yang bertuliskan, “terang dan hidup” dan salib yang diberi ornamen enamel cloisonnes . Salib votive adalah benda yang paling penting sebab ini berasal pada masa yang sama dengan salib di jaman Justin II yang disimpan di basilika St. Petrus, yang mengandung relikwi dari Salib Suci yang dipasang di batu permata. Ini diyakini sebagai salib yang tertua dalam bentuk logam berharga (De Waal in “Römische Quartalschrift”, VII, 1893, 245 sq.; Molinier, “Hist. générale des arts; L’orfèvrerie religieuse et civile”, Paris, 1901, vol. IV, pt. I, p. 37).
Salib ini yang mengandung relikwi Salib Suci pertama kali ditemukan oleh Paus Sergius I (687-701) di sakristi basilika St. Petrus (cf. Duchesne, Lib. Pont., I, 347, s.v. Sergius) yang disimpan di kotak perak yang terkunci.
Demikian sekilas tentang kayu Salib Yesus. Untuk selengkapnya silakan anda membaca di link ini, silakan klik
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org
Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 20 08 09 Disimpan dalam TJ: Devosi, TJ: Sejarah Gereja, Tanya-Jawab. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

21 komentar untuk “Tentang Kayu Salib Yesus”

  1. 10
    Joan Heru says:
    Syaloom….
    Kalo boleh saya menanyakan..mungkin ini tidak berhubungan langsung dengan salib, tetapi ada hubungan dengan kematian Yesus juga , konon saya denganr bahwa tombak yang digunakan untuk menusuk Yesus juga pernah ditemukan..apa benar?..pernah ada rumor bahwa Hitler jaya dikarenakan mempunyai tombak tersebut.dan mulai kalah ketika dia kehilangan tombak..karena dicuri..oleh sipa saya kurang tahu..apa benar ya rumor tentang hal tersebut..terimakasih..mohon tanggapannya
    • 10.1
      Shalom Joan Heru,
      Silakan anda klik di Wikipedia, dengan kata kunci Holy Lance, jika anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang hal ini. Dikabarkan di sana bahwa menurut Trevor Ravenscroft, Hitler berusaha mendapatkan tombak yang digunakan untuk menusuk Yesus, demikian:
      Trevor Ravenscroft’s 1973 book, The Spear of Destiny[14] (as well as a later book, The Mark of the Beast[15]), claims that Adolf Hitler started World War II in order to capture the spear, with which he was obsessed. At the end of the war the spear came into the hands of US General George Patton. According to legend, losing the spear would result in death, and that was fulfilled when Hitler committed suicide.
      Namun hal itu hanya merupakan legenda modern, yang memang memerlukan pembuktian lebih lanjut, sebab terdapat juga beberapa versi, seperti juga menurut Richard Wagner dan Howard Buechner.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org
  2. 9
    lucia says:
    syalom pak stef dan bu inggrid.
    bolehkah saya memberi kesaksian tentang salib yesus?
    trims sebelumnya.
    …waktu anak saya meninggal krn sakit dss, namanya maria, usianya 3 th…ketika dia dijemput saya melihat tangan maria menggapai ke arah salib… dan ‘yang datang itu’ berjalan maju sekitar lima langkah sehingga anak saya berseru “saliiim” itu istilahnya bila menyalami tangan suster atau pastur yg ditemui sehari-harinya. lalu spt ada yg membimbing anakku berdoa dan bernyanyi lagu merdu dlm bahasa yg tak termengerti sebelum meninggalnya dlm gendongan saya dia berkata “aku ada dimana?” sambil melihat ke arah bawah, lalu dia berseru YESUS…,MARIA…
    Itulah kesaksian saya mengenai salib, salib adalah benda sangat suci yg merupakan jalan dan pintuNya bagi kita….
  3. 8
    vyerly says:
    dalam Islam saya lihat semuanya diatur dengan tertib. baik arah mesjidnya, bacaan sembahyang nya, dan juga gerakan sembahyangnya. tapi kok Vatikan g mau atur arah gerejanya ya. dan masing -masing gereja pun punya gaya dan doa tersendiri.
    saya pikir, kalau tuhan mau ampuni dosa umatnya, tinggal diampuni, ya sudah, selesai. lalu suruh rajin beribadat. .tapi kok pakai rela disalib pula agar dosa umatnya diampuni???? ntar banyak pula orang tua yang mau di salib agar dosa-dosa anaknya yang sangat dia sayangi dapat diampuni
    • 8.1
      Shalom Vyerly,
      Terima kasih atas komentarnya. Untuk beberapa arsitektur Islam, anda dapat melihat contoh beberapa masjid di beberapa negara di sini – silakan klik, yang juga terlihat beradaptasi dengan arsitektur lokal. Tentang bangunan Gereja Katolik, terlihat juga beragam. Namun, sebenarnya, ada petunjuk dari Vatican, seperti letak tabernakel, dll. Dan memang hal ini, perlu diperketat, sehingga bangunan Gereja Katolik dapat mencerminkan karakteristik Gereja Katolik. Tentang liturgi, sebenarnya kalau anda pernah menghadiri Misa di beberapa daerah di Indonesia, maka mereka sebenarnya mempunyai susunan yang sama, hanya dengan bahasa lokal. Kalau misa di luar negeri, maka kita juga akan melihat struktur misa yang sama, dengan bahasa yang berbeda. Hal ini sebenarnya mencerminkan keindahan dari perayaan liturgi. Dan di seluruh dunia, Gereja Katolik mempunyai pengajaran yang sama. Jadi persatuan dalam memuji Allah dalam liturgi, juga didukung dengan persatuan dalam pengajaran dalam dogma dan doktrin.
      Kalau anda ingin berdiskusi tentang mengapa keselamatan harus melalui peristiwa salib, maka silakan anda membaca artikel “kesempurnaan rencana keselamataan Allah” di sini – silakan klik. Setelah membaca artikel tersebut, maka anda dapat memberikan argumentasi atau sanggahan.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org
    • 8.2
      didiktarsisius says:
      Maaf Vyerly, pikiran anda dalam memahami agama sangat berbeda dengan kami yang mengimaninya. kami tidak mengandai andaikan seperti pemikiran manusia, Pikiran Roh Kuduslah ynag ada di hati kami. Rancangan Tuhan berbeda dengan rancangan manusia.
  4. 7
    septiyana says:
    saya mendengar bahwa salib tuhan berada di ka’bah saudi arabia apakah desas desus itu memeng benar dan kenapa bisa ada disana??????????
    • 7.1
      Shalom Septiyana,
      Mohon maaf kami di sini tidak ingin mengomentari sesuatu yang merupakan desas desus. Terus terang kami tidak mengetahui hal yang anda tanyakan. Silakan bertanya kepada yang lebih mengetahui tentang ini.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid & Stef- katolisitas.org
  5. 6
    fxe says:
    bu Ingrid;
    kenapa ya — sejauh saya tahu — Vatikan masih belum mengeluarkan sikap resmi:
    relikui itu otentik (kain Yesus) atau tidak otentik…
    padahal belum ada relikui lain yg begitu di-kritis-i spt kain Turin ini,
    tetapi Gereja berani menyatakan itu otentik.
    • 6.1
      Shalom fxe,
      Saya rasa, kemungkinan alasannya karena pada relikui yang lain terdapat jaminan keotentikan dari relikui tersebut, karena kesaksian dari orang-orang terdekat dari Santa/ santo tersebut (misal karena umumnya mereka hidup di biara yang sama, kesaksian kepala biara, dst), dan juga karena sudah terbukti melalui banyaknya mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah melalui penghormatan terhadap relikui tersebut, seperti halnya di Alkitab, bahwa saputangan dan kain-kain yang pernah dipakai oleh Rasul Paulus dapat menyembuhkan orang-orang sakit (lih. Kis 19:12). Perlu diketahui juga kebanyakan relikui tidak ada yang ’setua’ kain kafan Turin, sehingga melacak keotentikan-nya relatif lebih mudah.
      Sedangkan untuk kain kafan Turin memang mungkin memerlukan penelitian lebih seksama, dan Gereja Katolik sangat berhati-hati dalam hal ini. Mari kita menghargai keputusan ini, dan justru malah kita dapat mengetahui bahwa Gereja tidak ‘main-main’ dengan hal macam ini. Jika sampai suatu saat nanti dikeluarkan pernyataan dari pihak otoritas Gereja, maka kita dapat mengetahui bahwa hal itu sudah melalui proses pembuktian yang layak dan bersifat obyektif.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
  6. 5
    fxe says:
    Untuk kondisi penyaliban;
    kita bisa mengambil referensi studi Shroud of Turin,
    dimana telah terbukti sebagai pembungkus jenasah korban penyaliban di abad pertama.
    disitu kalau tidak salah dibahas posisi kaki dan juga posisi pakunya, juga posisi tangan,
    tinggi rentang tangan thd kepala , dsb dsb.
    walaupun hasil studi ini tidak menjadi standar resmi…
    • 5.1
      Shalom Fxe,
      Studi Shroud of Turin memang menjelaskan banyak hal tentang kemungkinan penyaliban Yesus, namun dari sumber yang saya ketahui, yang dibicarakan secara detail adalah posisi paku di tangan, namun posisi kaki tidak disebutkan secara mendetail. Mengenai cara pemakuan di tangan memang terjadi dua kemungkinan yaitu baik di pergelangan tangan (paku menenbus lurus) atau di bagian atas telapak tangan atas dengan paku diagonal tembus ke pergelangan tangan, seperti yang dikatakan oleh sorang ahli forensik bernama Dr. Fred Zugibe. Perkiraan gambarnya pernah kami tampilkan di sini, silakan klik.
      Namun mengenai paku yang di kaki dan posisi penyaliban di kaki tidak disebutkan secara mendetail.
      Studi Shroud of Turin memang sangat menarik, dan meskipun tidak menjadi standar resmi, sebenarnya secara obyektif kita dapat melihat bahwa terdapat banyak fakta ajaib yang tak dapat dijelaskan secara empiris dan juga pada saat bersamaan terdapat fakta-fakta empiris yang sangat cocok dengan kondisi abad pertama di Yerusalem, tempat asal dari kain kafan tersebut. Suatu saat mungkin kami dapat mengulasnya di situs ini.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
  7. 4
    Shalom Ibu Inggrid…
    Mengenai Salib Yesus, kalau saya perhatikan di setiap Salib yang ada di toko-toko, di gereja atau di rumah-rumah umat katolik, saya melihat ada perbedaan mengenai posisi kaki Yesus saat dipaku di kayu Salib (corpus), Kaki Yesus yang sebelah kanan atau kiri posisinya di atas?, maksudnya saat Yesus di paku dan di salib apakah kaki kiri (punggung kaki) di bawah atau kaki kanan yang ada di bawah ?
    Lalu sebelah mana arah posisi kepala Yesus saat menghembuskan nafas terakhir, apakah tertunduk di sebelah kiri, di sebelah kanan, atau tertunduk ke depan bawah ?
    Apakah tidak ada standarisasi dari Vatikan mengenai pembuatan Corpus tersebut ? sepertinya sederhana dan tidak ada yg memperhatikan, tetapi bagi saya penting karena saya ingin benar2 tahu keadaan dan kondisi Yesus saat di salibkan & wafat saat itu.
    Sampai saat ini saya belum menemukan jawaban yang memuaskan.
    Terima Kasih
    Samuel R.S
    (just call me Sam)
    • 4.1
      Shalom Sam,
      Kalau seandainya pada jaman Yesus sudah ada teknologi kamera, pasti pertanyaan anda dapat terjawab dengan lebih memuaskan. Namun sayangnya, tidak ada teknologi kamera pada waktu itu dan juga tidak ada yang mengabadikan gambar kondisi terakhir yang dialami oleh Tuhan Yesus Penyelamat kita. Sehingga memang, terus terang agak sulit untuk memastikan jawaban dari pertanyaan anda. Yang ada sekarang hanyalah hipotesa dari para ahli kitab suci, sejarah, anthropologis dan forensik, yang mengadakan penelitian berabad sesudah peristiwa penyaliban Yesus, dengan misalnya, melihat bukti- bukti sejarah yang mereka dapatkan dari kasus penyaliban serupa. Maka mereka memberikan teori hipotesa misalnya, bagaimana Tuhan Yesus disalibkan, di bagian tangan dan kaki-Nya, dan itupun sampai sekarang, kita melihat hipotesa yang berbeda- beda, misalnya apakah kedua kaki dipaku (seperti tradisi sebelum abad pertengahan), atau kaki satu yang lain menumpuk di kaki yang lain dan dipaku bersama (seperti tradisi/ karya seni abad ke 13 dan sesudahnya). Silakan anda membaca di link ini, silakan klik. Dalam hal ini kelihatannya memang kita tidak bisa secara persis mengetahui kebenarannya, dan saya mohon maaf karena tidak dapat menjawab pertanyaan anda.
      Setahu saya memang Vatikan tidak menetapkan standarisasi tentang crucifix (salib yang ada Corpus Christi/ Tubuh Kristus-nya ini). Bagi saya, dan semoga juga berlaku bagi anda: crucifix yang terbaik adalah crucifix yang dapat membantu anda berdoa dan meresapkan misteri kasih Allah yang terkandung di dalamnya. Yaitu bahwa Yesus Sang Allah Putera, telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita semua, demi menebus dosa-dosa kita.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
      • 4.1.1
        Shalom Ingrid….
        Thanks atas responnya walaupun belum memuaskan hehehe, link yg di dapat agak susah dimengerti krn pake bahasa inggris. Saya kira dari pihak Vatikan bisa mencari pembuktian yg akurat dan menetapkan suatu standarisasi yg pas mengenai posisi Corpus Christus yg benar supaya tidak ada perbedaan2. Walaupun memang intinya bagi saya tetap dapat meresapi misteri kasih Allah, baik dalam wujud Salib Kristus dan Sakramen Ekaristi yg setiap hari saya terima dalam Misa Harian & Hari Minggu.
        Terima kasih atas usaha anda menjawab pertanyaan saya.
        Thanks & GBU…
        Sam,
    • 4.2
      Dominic.K says:
      shalom ……… sdr samuel jika anda ingin lebih banayk mengetahui perjalanan sengsara Kristus, anda bisa membaca dari wahyu pribadi yg diterima oleh Anna Katharina Emmerick, seorng biarawan Agustinian di Agnetenberg, Dülmen . klik ——) http://www.indocell.net/yesaya/pustaka3/id32.htm dan silahkan anda pilih bagian Bab XXXVIII . Dan menurut berita” film Passion of Christ ” yg di sutradarai oleh mel gibson adalah inspirasi dari buku Anna Katharina Emmerick.thank
      Buat katolisitas.org , terima kasih atas kesetiannnya sampai saat ini dalam membantu dan menguatkan iman kepercayaan kami dalam ajaran gereja katolik yg kudus.Tuhan memberkati team katolisitas,
      thanks Dominic.K
      • 4.2.1
        Syalom Sdr. Dominic…
        Terima kasih atas link yang diberikan. Saya sudah mengetahui cukup jelas Kisah Sengsara Tuhan Yesus Kristus, saat saya mengikuti seminar Kain Kafan dan mengamati foto2 Kisah Sengsara Tuhan Yesus, dan saya sudah menulis untuk Warta Regina Caeli, silakan bisa lihat2 di http://www.reginacaeli.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1585&Itemid=226 atau klik http://www.reginacaeli.org pilih Warta RC dan cari tahun ke IV lalu cari edisi 5/IV
        Berikut tulisan saya yg termuat di Warta RC :
        Seminar Misteri Kain Kafan Yesus
        Pameran dan Seminar Kain Kafan
        Seksi Katakese Paroki Regina Caeli menggelar acara Pameran & Seminar Kain Kafan dan Kisah Sengsara Yesus Kristus pada tgl 16 – 18 April lalu. Pameran diadakan hari Jumat – Minggu, pk. 09.00 – 12.00 dan pk. 16.00 – 20.00; sedangkan Seminar diadakan hari Sabtu, pk. 16.00 – 20.00.
        Pameran Foto-foto Kain Kafan
        Bertempat di Gedung Karya Pastoral, yang masih dalam tahap penyelesaian, pameran foto-foto kain kafan menggelar 32 poster, sebuah saliba besar, dan replika kain kafan ukuran 4.36 x 1.10 meter. Konggregasi Pasionis yang dipimpin oleh Pastor Gabrielle Antonelli, CP menerjunkan lima anggota timnya untuk memandu pengunjung pameran guna memahami setiap poster yang dipamerkan. Untuk menjelaskan ke-32 poster dibutuhkan waktu antara 60-90 menit. Ibu Joice, salah satu pemandu mengatakan bahwa memang waktu untuk menjelaskan cukup lama dan cukup membuat lelah pengunjung, namun pengunjung yang mengikuti penjelasan dengan khidmat akan mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai Kisah Sengsara Yesus Kristus dan semakin menumbuhkan cinta kepada-Nya. Pameran Kain Kafan Yesus (KKY) ini dikunjungi oleh 800 – 1000 orang, dan banyak umat yang menyempatkan berdoa di dekat replika kain kafan dan kayu salib besar.
        Sejarah Kain Kafan Yesus
        Seminar KKY ini yang dibawakan oleh Pastor Gabrielle Antonelli, CP ini dibagi dalam 3 sesi, yaitu (1).Sejarah Kain Kafan, (2) Kain Kafan & SengsaraYesus, dan (3) Pemahaman & Makna Sengsara Yesus.
        Dalam sesi Sejarah Kain Kafan, penjelasan berawal dari peristiwa wafat Yesus, yaitu pada hari Jumat tanggal 7 April th 30. Kain kafan disembunyikan karena menurut adat Yahudi, barang dari kubur adalah najis. Demi keamanan, murid-murid Yesus dan orang-orang kristen melarikan diri (diaspora). Sementara itu, kain kafan pun ikut menempuh perjalanan dari Yerusalem ke Edessa, Konstantinopel, Athena, Lirey, Chamberry, Torino. Sampai sekarang kain kafan ini ada di Gereja Katedral Torino (Turin). Pada 2 Mei 2010 mendatang, rencananya Paus Benediktus XVI akan menghadiri Pameran Kain Kafan di Katedral Turin tersebut.
        Pembuktian keaslian kain kafan itu didukung oleh teori 3 dimensi melalui Vapografi. Karena jenasah tidak dimandikan dan hanya ada mur dan rempah-rempah, hal ini mengakibatkan ‘kuningisasi’ pada kain kafan, yang kemudian menimbulkan sebuah lukisan wajah pada kain kafan itu. Pada lukisan itu tidak ada warna pigmen, tidak ada arah kuas, tetapi ada noda darah. Yesus benar bangkit dibuktikan dengan tidak terdapat tanda pembusukan jasad. Durasi 36-40 jam terbungkus, terjadi gambar karena pancaran cahaya, tidak ada pergeseran tubuh dalam kain kafan, tubuh seperti keluar dari kain kafan. Rasul Yohanes “melihat dan percaya“ Yesus bangkit karena makam kosong, posisi kain kafan yang tidak berubah, hilangnya rempah-rempah dan hilangnya tubuh Yesus.
        Kain Kafan & Sengsara Yesus
        Penderitaan Yesus saat berdoa di taman Getsemani nampak dengan mengalirnya peluh darah. Hal ini menunjukkan depresi berat yang dialami Yesus. Derita itu dimulai dengan penghianatan Yudas, penyangkalan Petrus dan murid-murid yang bersembunyi karena ketakutan, penderitaan penghinaan, fitnah nan keji dari para Imam dan ahli Taurat, diludahi, dipukul, diejek. Lalu penderitaan berlanjut dengan penderaan fisik yang sangat menyakitkan, cambukan memakai alat cambuk flagellum accilatum bermata 6, sebuah cambuk tajam yang mencabik-cabik punggung dan badan Yesus sebanyak 121 kali cambukan atau 726 luka yang merobek tubuh Yesus. Darah membanjiri tubuh Yesus. Penderitaan berlanjut saat dipasang mahkota dari duri Spina Christi yang tajam dan getahnya beracun. Mahkota itu bentuknya besar bukan berupa simpul ikatan tapi kepalaYesus dibrongsong dengan gumpalan duri sehingga melukai kepala Yesus. Getah dari duri yang patah membuat luka menjadi perih dan gatal. Lalu Yesus melanjutkan penderitaan memanggul patibulum, palang salib dengan berat 50-60 kg. Kedua tangan diikat pada patibulum. Ikatan di tangan kanan disambung dengan ikatan pada kaki salah seorang penyamun yang ikut disalibkan, lalu ikatan tangan kiri disambung dengan ikatan pada kaki kiri sehingga sangat menyulitkan Yesus dalam memanggul. Akibatnya Yesus jatuh beberapa kali selama perjalanan menuju bukit Golgota yang berjarak 500 m dari Istana Pilatus. Bukit Golgota hanyalah sebuah gundukan luas setinggi 2 meter. Simon dari Kirena hanya membantu mengangkat tubuh Yesus yang jatuh berulangkali dan membuat luka pada lutut, dada dan wajahnya. Saat di bukit golgota, paku menembus pergelangan tangannya (bukan telapak tangan), lalu kaki kiri ditumpuk di atas kaki kanan dan dipaku 16 cm. Setelah itu badan Yesus bersama patibulum ditarik naik ke tiang kayu vertikal dan membentuk sebuah salib. Penderitaan selama 3 jam di salib tentu membuat sekujur tubuh Yesus merasakan kesakitan yang luar biasa dahsyatnya. Begitu menderitanya, pada saat Yesus menghembuskan nafas terakhir jantung-Nya pecah, sehingga ketika tentara menusuk lambung Yesus, darah dan air langsung muncrat. diperkirakan
        Pemahaman dan Makna Sengsara Yesus
        Konggregasi Pasionis (CP) didirikan oleh Santo Paulus Danei yang biasa disebut Paulus dari Salib. Pasionis berarti pengorbanan untuk yang kita cintai. Spiritualitas pasionis merenungkan, meresapi, menghayati, mewartakan Sengsara Yesus sebagai karya paling agung Kasih Allah. Inilah memoria menghadirkan sengsara itu dalam kehidupan kita, karya kita, yang rela dijiwai oleh semangat Kristus dalam sengsara-Nya. Memoria itu bukan cuma suatu kenangan tetapi suatu partisipasi ambil bagian dalam sengsara Kristus, yaitu partisipasi silih atau solidaritas dengan orang berdosa sebagai pemurnian yang mengubah, sebagai kontemplasi, sebagai kerasulan yang membahagiakan. Menghayati sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus tidak cukup hanya menjalani 14 perhentian Ibadat Jalan Salib, karena Yesus Kristus mengalami 4 tingkat penderitaan, yaitu (1) Sengsara Sakramental, (2) Sengsara Rohani/Spiritual, (3) Sengsara Fisik, (4)Sengsara Aktual. Saat ini Yesus Kristus masih mengalami sengsara aktual sepanjang masa sampai akhir jaman di mana Gereja-Nya yang dikejar-kejar. Yesus Kristus selalu hadir pada diri orang-orang sakit, menderita dan mengalami ketidakadilan.
        Apa arti Sengsara Yesus Kristus bagi diri kita ? Mampukah kita menyangkal diri, memikul salib-Nya dan mengikuti Yesus Kristus. Sanggupkah kita mengatakan “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibr 10:7).
        Umat yang datang baik ke pameran maupun seminar mendapatkan informasi dan pengetahuan baru terutama mengenai Kisah Sengsara Yesus secara lebih detail, juga info mengenai kain kafan yang masih dalam proses pembuktian dari berbagai disiplin ilmu yang melibatkan para ahli di seluruh dunia. Namun dari pembuktian terbalik berdasarkan Kitab Suci dan bukti-bukti dari para ahli, diyakini secara Pengetahuan & Iman, bahwa kain kafan tersebut memang kain yang membungkus jenazah Yesus Kristus. Dari pengetahuan dan iman itulah umat diajak untuk semakin mencintai Yesus Kristus yang NYATA ADA dan telah menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk menebus dosa manusia. Menutup seminar Romo Gabriel memberikan pertanyaan “Apa arti Sengsara Yesus bagi anda ?” (Samuel Rismana S)
        Bagi yg ingin mendapatkan foto2 pameran tersebut, silakan menghubungi saya, nanti akan saya kirim.
        Trims…God Bless Us All…
        Samuel Rismana S
  8. 3
    feny says:
    Saya ada pertanyaan sehubungan dengan salib Yesus dari Bp.Simon.
    Apakah benar paku yang di gunakan menyalib Yesus terbuat dari kayu yang panjang dan ujungnya tajam?
    Panjang kayu sekitar 25 cm dan ujungnya yg tumpul bulat berdiameter sekitar 2 cm?
    Maaf sebelumnya, karena saya pernah berdoa ( doa 15 bapa kami-St.Brigita) dan di karunai pengelihatan Yesus di salib tsb.
    Terima kasih.
    Tuhan memberkati
    • 3.1
      Shalom Feny,
      Menurut catatan sejarah yang diketahui dari tulisan St. Ambrosius (340-397), diketahui bahwa paku-paku salib Yesus dibawa oleh St. Helena (330), ibu dari Kaisar Konstantin, yang menemukan salib Yesus di Holy Land. Oleh St. Helena, stu dari paku itu diubah/ dijadikan kekang kuda bagi kuda Kaisar Konstantin, dan satu lagi dipatrikan di mahkota kerajaan. Gregorius de Tours menyebutkan satu paku juga dicelupkan ke laut Adriatik untuk meredakan badai…. seperti yang disebutkan di sumber ini, silakan klik
      Maka dari data itu saya rasa, paku itu tidak terbuat dari kayu, tetapi dari besi, sebab jika dari kayu tentu tidak bisa ditempa menjadi kekang kuda, atau menjadi bagian dari mahkota kerajaan.
      Sedangkan untuk cara pemakuan Yesus, mungkin anda dapat melihat di jawaban ini, silakan klik.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
  9. 2
    DV says:
    kt temen saya, serpihan salib Yesus ada digereja saya..krn gereja saya memakai nama SALIB SUCI…..
    kaget dan senang jg pas tau ini..
  10. 1
    Simon says:
    Shalom Pak Stef & Bu Ingrid,
    Saya punya satu pertanyaan (yang agak melenceng) mengenai SALIB (kayu) yang di pikul oleh Yesus sampai pada ajalnya itu, apakah ada catatan atau tulisan dimana SALIB (kayu) itu berada? Apakah ada disimpan atau sudah hancur/lapuk?
    Maaf sekali lagi, dan thanks. GBU, Simon
    [Dari Admin Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi