Home » » Tentang Perjanjian Lama

Tentang Perjanjian Lama

Minggu, 04 Januari 2009

Asal perjanjian lama

Sebelum tersusun menjadi kumpulan fasal-fasal,
Perjanjian Lama merupakan tradisi rakyat yang tidak
mempunyai sandaran, kecuali dalam ingatan manusia,
satu-satunya faktor untuk tersiarnya idea,
tradisi-tradisi tersebut selalu dinyanyikan.

Edmond Jacob menulis: "Dalam tahap permulaan, semua
orang menyanyi; di Israil seperti di tempat lain, puisi
lebih dahulu daripada prosa. Bani Israil menyanyi baik
dan banyak. Nyanyian itu mempunyai bermacam-macam
ekspresi, tergantung kepada kejadian-kejadian dalam
sejarah dengan enthusiasme yang memuncak atau putus asa
yang menenggelamkan." Mereka menyanyi dalam keadaan
yang bermacam-macam, dan Edmond Jacob menyebutkan
sebagian di mana nyanyian yang menyertainya terdapat
dalam Perjanjian Lama: nyanyian makan pagi, nyanyian
akhir panen, nyanyian yang menyertai pekerjaan, seperti
nyanyian Sumur (Bilangan 21, 17), nyanyian perkawinan,
nyanyian kematian, nyanyian perang yang sangat banyak
dalam Bibel seperti nyanyian Debarah (Hakim-hakim 5,
1-32) yaitu nyanyian yang memuja kemenangan Israil yang
dikehendaki oleh Yahweh dalam suatu peperangan yang
dipimpin oleh Yahweh sendiri (Bilangan 10, 35). Ketika
Peti Suci sudah pergi, Musa berkata-kata: "Bangunlah
Yahweh, mudah-mudahan musuh-musuhmu terserak-serak.
Mudah-mudahan mereka yang benci kepadamu akan lari
tunggang langgang di hadapan wajahmu."

Nyanyian-nyanyian itu juga merupakan kata-kata mutiara
serta perumpamaan kata-kata yang berisi berkat atau
laknat, peraturan-peraturan yang dibikin untuk manusia
oleh para Nabi sesudah mereka itu menerima perintah
Ilahi.

Edmond Jacob mengatakan bahwa kata-kata tersebut
diwariskan dengan jalan keluarga atau melalui
rumah-rumah ibadat dalam bentuk sejarah Bangsa yang
terpilih olehTuhan. Sejarah ini kemudian menjadi
dongeng seperti dongengan Jatam (Kitab Hakim-hakim 9,
7-21) dimana tertulis: "Pohon-pohon itu berjalan untuk
mengusapkan minyak kasturi kepada raja mereka dan
mereka berkata kepada pohon Zaitun, pohon Tien, pohon
anggur dan pohon duri." Hal tersebut mendorong Edmond
Jacob untuk menulis "karena dijiwai oleh fungsi
dongeng, maka penyajian hikayat seperti tersebut di
atas tidak dirasakan janggal karena mengenai soal-soal
dan periode-periode yang sejarahnya tak dikenal orang."

Edmond Jacob kemudian menyimpulkan: "Adalah sangat
mungkin bahwa apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lama
tentang Nabi Musa dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi
tidak sesuai dengan yang terjadi dalam sejarah, akan
tetapi para tukang dongeng dalam masa riwayat secara
lisan sudah dapat mengisikan keindahan dan imaginasi
untuk merangkai episode yang bermacam-macam, sehingga
mereka berhasil menyajikannya sebagai sejarah yang
nampak besar kemungkinan kebenarannya bagi
pikiran-pikiran yang kritis, yaitu sejarah yang
mengenai asal alam dan manusia."

Perlu kita ingat bahwa setelah bangsa Yahudi tinggal di
Kan'an, yakni kira-kira pada akhir abad XIII sebelum al
Masih, tulisan sudah mulai dipakai untuk memelihara dan
meriwayatkan dongeng-dongeng, akan tetapi tidak secara
tepat, meskipun yang dikatakan itu mengenai hal-hal
yang harus tepat sekali, yakni soal hukum. Mengenai
hukum ini, perlu diterangkan bahwa hukum sepuluh
(Dekalog) yang dikatakan telah datang langsung dari
tangan Tuhan telah diriwayatkan dalam Perjanjian Lama
menurut dua versi yakni: Kitab Keluaran (Exodus 20,
1-21) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy 5, 1-30). Jiwanya
sama, tetapi perbedaan tetap ada. Kemudian muncul
keinginan untuk menetapkan dokumentasi-dokumentasi
penting seperti kontrak, surat-surat, daftar
orang-orang (hakim-hakim, pegawai-pegawai tinggi di
kota-kota), daftar silsilah keturunan, daftar
kurban-kurban dan daftar harta jarahan. Dengan begitu
terjadilah arsip-arsip yang berisi dokumen-dokumen yang
kemudian mengisi kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian
Lama yang sekarang ini. Dengan begitu dalam tiap-tiap
fasal terdapat bentuk literer yang tercampur. Para ahli
kemudian menyelidiki sebab-sebab yang mendorong untuk
mengumpulkan dokumen-dokumen yang berbeda-beda menjadi
satu.

Adalah sangat menarik untuk membandingkan penyusunan
Perjanjian Lama dengan dasar tradisi lisan, dengan apa
yang terjadi di bidang lain dan pada zaman yang
berlainan, yaitu masa timbulnya kesusasteraan primitif.

Marilah kita mengambil contoh dari sastra Perancis pada
zaman Kerajaan Perancis. Tradisi-tradisi lisan telah
muncul lebih dahulu sebelum peristiwa sejarah yang
besar dicatat dalam sejarah, yakni kejadian seperti
perang untuk mempertahankan agama Kristen, drama
tentang pahlawan-pahlawan yang kemudian diabadikan oleh
pengarang-pengarang dan penulis-penulis sejarah. Dengan
cara begitu mulai abad XI M timbul nyanyian dan tarian
dimana yang benar dan yang khayal menjadi satu dan
menjadi satu epik (syair kepahlawanan). Di antara epik
itu yang termasyhur adalah syair Roland (Chanson de
Roland), tentang pahlawan perang yang bernama Roland
yang menjadi komandan penjaga Kaisar Charlemagne (Karl
yang Agung) waktu kembali dari berperang di Spanyol.
Pengorbanan Roland bukannya satu dongengan yang
dibikin-bikin untuk sekedar dongengan; pengorbanan
Roland terjadi pada tanggal 5 Agustus tahun 778, yaitu
pada waktu serangan orang Basque (Penduduk pegunungan
Pyrenes). Karya kesusasteraan tidak semata-mata
bersifat legenda, tetapi mempunyai dasar sejarah;
walaupun begitu ahli-ahli sejarah, tidak-memahaminya
secara harafiah.

Persamaan antara lahirnya Bibel dan kesusasteraan yang
bukan agama nampaknya memang riil. Hal ini tidak
berarti bahwa kita menolak keseluruhan teks Bibel yang
dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai kumpulan
buku-buku mitologi, yakni seperti yang dilakukan oleh
orang-orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan; orang
dapat percaya kepada kebenaran bahwa Tuhan menciptakan
alam, bahwa Tuhan menyerahkan sepuluh perintah kepada
Musa, bahwa Tuhan mencampuri urusan-urusan manusia,
umpamanya pada ajaran Raja (Nabi) Sulaiman; orang dapat
percaya bahwa essensi dari kejadian-kejadian tersebut
telah disampaikan kepada kita, akan tetapi kita harus
ingat bahwa rincian penyajian soal tersebut harus
diperiksa dengan teliti, dengan kritik yang ketat,
karena sumbangan manusia dalam menjadikan tradisi
lisan, menjadi buku tertulis adalah sangat besar.




Siapa pengarang Perjanjian lama?



Kebanyakan pembaca Perjanjian Lama yang menerima
pertanyaan tersebut di atas akan menjawab dengan
mengulangi apa yang pernah mereka baca dalam Kata
Pengantar Bibel, yaitu yang mengatakan bahwa fasal itu
semua adalah karangan Tuhan, walaupun ditulis oleh
orang-orang yang mendapat wahyu dari Ruhul Kudus.

Kadang-kadang orang yang memperkenalkan Bibel tadi
menganggap cukup dengan keterangan singkat tersebut,
dan dengan begitu ia menutup kemungkinan untuk
pertanyaan lebih lanjut; tetapi kadang-kadang ia
menambah penjelasan bahwa mungkin ada
perincian-perincian yang ditambahkan orang dalam teks
lama, akan tetapi meskipun begitu, perbedaan faham
tentang sesuatu ayat, tidak merubah kebenaran
keseluruhan. Orang selalu menekankan kepada "Kebenaran"
yang dijamin oleh Kepala Gereja, yaitu orang yang
mendapat bantuan dari Ruhul Kudus, satu-satunya pihak
yang berhak menerangkan sesuatu kepada orang-orang yang
percaya. Bukankah Gereja, semenjak konsili-konsili abad
ke 4 telah meresmikan daftar Kitab Suci yaitu daftar
yang dikuatkan oleh konsili Florence (1441), Trente
(1546) dan Vatikan I (1870) untuk menjadi Kanon (Injil
Induk). Belum lama ini, setelah mengeluarkan
bermacam-macam encyclique (dekrit), Paus telah
mengumumkan suatu keterangan tentang Refelasi (wahyu)
dalam bentuk suatu teks yang sangat penting yang
disusun selama tiga tahun (1962 - 1965). Kebanyakan
orang yang membaca Bibel mendapatkan keterangan-
keterangan yang menenteramkan hati itu di permulaan
cetakan modern serta merasa puas dengan jaminan
kebenaran yang telah diberikan selama beberapa abad
dan mereka itu tak pernah memikirkan bahwa orang dapat
mendiskusikan isi Bibel.

Akan tetapi jika seseorang membaca buku-buku yang
ditulis oleh ahli-ahli agama, yakni buku-buku yang
tidak dimaksudkan untuk dibaca oleh orang awam, ia akan
menyadari bahwa soal autentitas kitab dalam Bibel itu
jauh lebih kompleks daripada pemikiran orang biasa.
Jika salah seorang membaca umpamanya, cetakan modern
dari pada Bibel yang diterjemahkan ke bahasa Perancis
di bawah asuhan Lembaga Bibel di Yerusalem dan
diterbitkan dalam bagian-bagian terpisah, ia akan
mendapatkan suara yang sangat berbeda, dan ia akan
mengerti bahwa Perjanjian Lama, seperti juga Perjanjian
Baru, telah menimbulkan problema-problema yang para
ahli tafsir tidak menyembunyikan unsur-unsurnya yang
menimbulkan khilaf.

Kita juga mendapatkan unsur-unsur yang pasti dalam
pembahasan yang lebih ringkas akan tetapi obyektif,
seperti dalam buku karangan Professor Edmond Yacob
"Perjanjian Lama," yang diterbitkan oleh Presse
Universitaire de France,dalam seri yang berjudul: Que
Sais-je, (apakah yang saya ketahui?). Buku tersebut
memberi gambaran yang menyeluruh.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa pada permulaannya,
seperti yang dikatakan Edmond Jacob, terdapat beberapa
teks Perjanjian Lama dan bukan teks tunggal. Pada abad
III SM sedikitnya ada tiga teks Ibrani, yaitu teks
massorethique, teks yang dipakai untuk terjemahanYunani
dan teks kitab Taurat Samaria. Pada abad pertama SM,
ada kecenderungan untuk membentuk teks tunggal, akan
tetapi hal tersebut baru terlaksana satu abad kemudian.

Jika kita mempunyai tiga teks tersebut di atas, tentu
kita dapat melakukan studi perbandingan dan kita
mungkin dapat mempunyai idea tentang teks yang asli,
akan tetapi kita tak mempunyai teks tersebut di atas.
Selain gulungan-gulungan yang terdapat di gua Qumran
pada tahun 1947, yaitu gulungan yang berasal dari zaman
sebelum timbulnya agama Kristen, dan dekat sebelum
munculnya Nabi Isa, telah terdapat Papyrus Decalogue
berasal dari abad II M, dan mengandung
perbedaan-perbedaan dari teks klasik, begitu juga
fragmen Perjanjian Lama, yang ditulis orang pada abad V
M. (Fragmen Geniza, Cairo); selain itu semua, teks
Bibel Ibrani yang paling tua adalah teks abad IX M.

Terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani terjadi
pada abad III sebelum Masehi. Teksnya dinamakan
Septante (berarti tujuh puluh; yakni jumlah orang yang
menterjemahkan). Terjemahan tersebut dilakukan oleh
orang-orang Yahudi di Alexandria. Pengarang-pengarang
Perjanjian Baru bersandar kepada teks tersebut, dan
teks tersebut dipakai orang sampai abad VII M. Pada
waktu sekarang teks Yunani yang dipakai Dunia Kristen
adalah manuskrip (tulisan tangan) yang dinamakan Codex
Vaticanus yang disimpan di Vatican dan Codex Sinaiticus
(berasal dari Sinai) yang disimpan di British Museum di
London. Manuskrip tersebut ditulis pada abad IV M.

Terjemahan dalam bahasa Latin dilakukan oleh Jerome
dari dokumen-dokumen Ibrani pada permulaan abad V M.
Terjemahan Latin ini kemudian dinamakan Vulgate oleh
karena telah tersebar diseluruh Dunia sesudah abad VII
M.

Perlu kita ketahui juga bahwa ada terjemahan Aramaik
dan Syriaks akan tetapi terjemahan itu hanya mengenai
beberapa bagian dari Perjanjian Lama.

Bermacam-macam terjemahan tersebut telah diolah oleh
beberapa orang ahli dan dijadikan teks tengah-tengah;
yakni yang merupakan kompromi antara bentuk-bentuk yang
berbeda-beda. Ada pula yang mengumpulkan bermacam-macam
terjemahan disamping Bibel Ibrani seperti terjemahan
Yunani, Latin, Syriak, Aramaik dan Arab. Kumpulan
itulah yang tersohor dengan nama Bibel Walton (London
tahun 1657).

Perlu kita tambahkan pula bahwa diantara Gereja-gereja
Masehi yang bermacam-macam sekarang keadaannya adalah
bahwa Gereja-gereja itu tidak menerima fasal-fasal yang
sama dalam Bibel, dan Gereja-gereja tersebut juga tidak
mempunyai pengesahan yang sama mengenai
terjemahan-terjemahan dalam satu bahasa. Usaha-usaha
untuk mempersatukan masih dilakukan dan terjemahan
Ekumenik (persatuan) yang dilakukan oleh ahli-ahli
Katolik dan Protestan mengenai Perjanjian Lama ternyata
akan meng hasilkan sintesa (perpaduan).

Dengan begitu maka usaha manusia mengenai teks
Perjanjian Lama ternyata sangat besar, dan dengan mudah
kita mengetahui bahwa sebagai akibat koreksi-koreksi
antara versi yang bermacam-macam dan terjemahan yang
bermacam-macam, teks yang asli sudah berubah selama dua
ribu tahun.

Asalnya Bibel
(Perjanjian Lama)


Sebelum tersusun menjadi kumpulan fasal-fasal,
Perjanjian Lama merupakan tradisi rakyat yang tidak
mempunyai sandaran, kecuali dalam ingatan manusia,
satu-satunya faktor untuk tersiarnya idea,
tradisi-tradisi tersebut selalu dinyanyikan.

Edmond Jacob menulis: "Dalam tahap permulaan, semua
orang menyanyi; di Israil seperti di tempat lain, puisi
lebih dahulu daripada prosa. Bani Israil menyanyi baik
dan banyak. Nyanyian itu mempunyai bermacam-macam
ekspresi, tergantung kepada kejadian-kejadian dalam
sejarah dengan enthusiasme yang memuncak atau putus asa
yang menenggelamkan." Mereka menyanyi dalam keadaan
yang bermacam-macam, dan Edmond Jacob menyebutkan
sebagian di mana nyanyian yang menyertainya terdapat
dalam Perjanjian Lama: nyanyian makan pagi, nyanyian
akhir panen, nyanyian yang menyertai pekerjaan, seperti
nyanyian Sumur (Bilangan 21, 17), nyanyian perkawinan,
nyanyian kematian, nyanyian perang yang sangat banyak
dalam Bibel seperti nyanyian Debarah (Hakim-hakim 5,
1-32) yaitu nyanyian yang memuja kemenangan Israil yang
dikehendaki oleh Yahweh dalam suatu peperangan yang
dipimpin oleh Yahweh sendiri (Bilangan 10, 35). Ketika
Peti Suci sudah pergi, Musa berkata-kata: "Bangunlah
Yahweh, mudah-mudahan musuh-musuhmu terserak-serak.
Mudah-mudahan mereka yang benci kepadamu akan lari
tunggang langgang di hadapan wajahmu."

Nyanyian-nyanyian itu juga merupakan kata-kata mutiara
serta perumpamaan kata-kata yang berisi berkat atau
laknat, peraturan-peraturan yang dibikin untuk manusia
oleh para Nabi sesudah mereka itu menerima perintah
Ilahi.

Edmond Jacob mengatakan bahwa kata-kata tersebut
diwariskan dengan jalan keluarga atau melalui
rumah-rumah ibadat dalam bentuk sejarah Bangsa yang
terpilih olehTuhan. Sejarah ini kemudian menjadi
dongeng seperti dongengan Jatam (Kitab Hakim-hakim 9,
7-21) dimana tertulis: "Pohon-pohon itu berjalan untuk
mengusapkan minyak kasturi kepada raja mereka dan
mereka berkata kepada pohon Zaitun, pohon Tien, pohon
anggur dan pohon duri." Hal tersebut mendorong Edmond
Jacob untuk menulis "karena dijiwai oleh fungsi
dongeng, maka penyajian hikayat seperti tersebut di
atas tidak dirasakan janggal karena mengenai soal-soal
dan periode-periode yang sejarahnya tak dikenal orang."

Edmond Jacob kemudian menyimpulkan: "Adalah sangat
mungkin bahwa apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lama
tentang Nabi Musa dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi
tidak sesuai dengan yang terjadi dalam sejarah, akan
tetapi para tukang dongeng dalam masa riwayat secara
lisan sudah dapat mengisikan keindahan dan imaginasi
untuk merangkai episode yang bermacam-macam, sehingga
mereka berhasil menyajikannya sebagai sejarah yang
nampak besar kemungkinan kebenarannya bagi
pikiran-pikiran yang kritis, yaitu sejarah yang
mengenai asal alam dan manusia."

Perlu kita ingat bahwa setelah bangsa Yahudi tinggal di
Kan'an, yakni kira-kira pada akhir abad XIII sebelum al
Masih, tulisan sudah mulai dipakai untuk memelihara dan
meriwayatkan dongeng-dongeng, akan tetapi tidak secara
tepat, meskipun yang dikatakan itu mengenai hal-hal
yang harus tepat sekali, yakni soal hukum. Mengenai
hukum ini, perlu diterangkan bahwa hukum sepuluh
(Dekalog) yang dikatakan telah datang langsung dari
tangan Tuhan telah diriwayatkan dalam Perjanjian Lama
menurut dua versi yakni: Kitab Keluaran (Exodus 20,
1-21) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy 5, 1-30). Jiwanya
sama, tetapi perbedaan tetap ada. Kemudian muncul
keinginan untuk menetapkan dokumentasi-dokumentasi
penting seperti kontrak, surat-surat, daftar
orang-orang (hakim-hakim, pegawai-pegawai tinggi di
kota-kota), daftar silsilah keturunan, daftar
kurban-kurban dan daftar harta jarahan. Dengan begitu
terjadilah arsip-arsip yang berisi dokumen-dokumen yang
kemudian mengisi kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian
Lama yang sekarang ini. Dengan begitu dalam tiap-tiap
fasal terdapat bentuk literer yang tercampur. Para ahli
kemudian menyelidiki sebab-sebab yang mendorong untuk
mengumpulkan dokumen-dokumen yang berbeda-beda menjadi
satu.

Adalah sangat menarik untuk membandingkan penyusunan
Perjanjian Lama dengan dasar tradisi lisan, dengan apa
yang terjadi di bidang lain dan pada zaman yang
berlainan, yaitu masa timbulnya kesusasteraan primitif.

Marilah kita mengambil contoh dari sastra Perancis pada
zaman Kerajaan Perancis. Tradisi-tradisi lisan telah
muncul lebih dahulu sebelum peristiwa sejarah yang
besar dicatat dalam sejarah, yakni kejadian seperti
perang untuk mempertahankan agama Kristen, drama
tentang pahlawan-pahlawan yang kemudian diabadikan oleh
pengarang-pengarang dan penulis-penulis sejarah. Dengan
cara begitu mulai abad XI M timbul nyanyian dan tarian
dimana yang benar dan yang khayal menjadi satu dan
menjadi satu epik (syair kepahlawanan). Di antara epik
itu yang termasyhur adalah syair Roland (Chanson de
Roland), tentang pahlawan perang yang bernama Roland
yang menjadi komandan penjaga Kaisar Charlemagne (Karl
yang Agung) waktu kembali dari berperang di Spanyol.
Pengorbanan Roland bukannya satu dongengan yang
dibikin-bikin untuk sekedar dongengan; pengorbanan
Roland terjadi pada tanggal 5 Agustus tahun 778, yaitu
pada waktu serangan orang Basque (Penduduk pegunungan
Pyrenes). Karya kesusasteraan tidak semata-mata
bersifat legenda, tetapi mempunyai dasar sejarah;
walaupun begitu ahli-ahli sejarah, tidak-memahaminya
secara harafiah.

Persamaan antara lahirnya Bibel dan kesusasteraan yang
bukan agama nampaknya memang riil. Hal ini tidak
berarti bahwa kita menolak keseluruhan teks Bibel yang
dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai kumpulan
buku-buku mitologi, yakni seperti yang dilakukan oleh
orang-orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan; orang
dapat percaya kepada kebenaran bahwa Tuhan menciptakan
alam, bahwa Tuhan menyerahkan sepuluh perintah kepada
Musa, bahwa Tuhan mencampuri urusan-urusan manusia,
umpamanya pada ajaran Raja (Nabi) Sulaiman; orang dapat
percaya bahwa essensi dari kejadian-kejadian tersebut
telah disampaikan kepada kita, akan tetapi kita harus
ingat bahwa rincian penyajian soal tersebut harus
diperiksa dengan teliti, dengan kritik yang ketat,
karena sumbangan manusia dalam menjadikan tradisi
lisan, menjadi buku tertulis adalah sangat besar.

Perjanjian Lama merupakan kumpulan fasal-fasal yang
panjangnya tidak sama dan isinya bermacam-macam,
ditulis selama lebih dari sembilan abad dalam beberapa
bahasa dan dimulai dengan tradisi lisan. Fasal-fasal
itu banyak yang telah dikoreksi dan dilengkapkan sesuai
dengan kejadian-kejadian atau kebutuhan-kebutuhan
tertentu, pada waktu-waktu yang berjauhan jaraknya
antara satu dengan lainnya.

Sangat boleh jadi bahwa munculnya literatur yang
melimpah ini terjadi pada permulaan monarki Yahudi pada
abad XI SM, yaitu pada waktu timbulnya kelompok
pegawai-pegawai Raja yang merupakan
sekretaris-sekretaris, yakni orang-orang pandai yang
pekerjaannya tidak terbatas dalam sekedar menulis. Dari
zaman itulah bermula tulisan-tulisan parsial yang
tersebut dalam fasal-fasal sebelum ini, yakni
tulisan-tulisan yang penting untuk ditetapkan waktunya,
seperti nyanyian-nyanyian yang tersebut di atas,
kata-kata yang diucapkan oleh nabi Ya'kub dan nabi
Dawud, Sepuluh Perintah dan lebih umum lagi teks-teks
legislatif yang membentuk tradisi keagamaan sebelum
tersusunnya undang-undang. Teks-teks tersebut merupakan
bagian-bagian yang terpisah disana-sini dalam
bagian-bagian Perjanjian Lama.

Kemudian kira-kira abad X SM tersusunlah teks "Yahwist"
dari Pentateuque (Torat) yang merupakan lima fasal
pertama. Kemudian orang menambahkan kepada teks
tersebut, bagian-bagian yang dinamakan "versi Elohist"
dan versi "Sakerdotal". Teks Yahwist membicarakan
periode permulaan alam sampai matinya Yakob. Teks
tersebut berasal dari Kerajaan Selatan (Israel Selatan)
atau Yuda.

Pada akhir abad IX dan pertengahan abad VIII SM, dalam
Kerajaan Yahudi Utara (Israil)3 telah tersiar pengaruh
Elia dan Elisa; yakni dua orang nabi yang kita jumpai
tulisannya dalam Perjanjian Lama. Periode teks Elohist
lebih singkat daripada teks Yahwist; karena teks
Elohist hanya menceritakan kejadian-kejadian tentang
Abraham (Ibrahim), Yacob (Ya'kub) dan Yosef (Yusuf).
Kitab (fasal) Yusak dan Hakim-hakim juga berasal dan
zaman ini.

Abad VIII SM adalah abad nabi-nabi penulis, yaitu Amos
dan Hosea di Israil(Kerajaan Utara) dan Isaiah dan
Mikah dalam Kerajaan Selatan (Yuda)

Pada tahun 721 SM Kerajaan Samaria mencaplok negara
Israil, dan dengan begitu maka Kerajaan Yuda mengambil
alih warisan keagamaan. Kumpulan peribahasa tersusun
pada periode ini dan menunjukkan campuran antara teks
Yahwist dan Elohist. Dengan begitu tersusunlah kitab
Taurah. Penyusunan Kitab Ulangan juga terjadi dalam
periode ini.

Pemerintahan Yosias dalam pertengahan kedua abad VII SM
bersamaan dengan permulaan zaman nabi Jeremia, akan
tetapi karangan Jeremia ini baru berbentuk yang
definitif satu abad kemudian.

Kenabian- Zefanya, Nahum dan Habakuk terjadi sebelum
orang Israil dideportasi (diasingkan) ke Babylon pada
takun 598 SM, yakni karena Babylon menang atas Samaria
yang mencaplok Israil pada tahun 721 SM. Pada waktu itu
Nabi Yehezkiel sudah menyelesaikan tugas kenabiannya.
Deportasi kedua terjadi ketika Yerusalem jatuh pada
tahun 587 SM, dan pengasingan itu baru selesai pada
tahun 538 SM.

Kitab (fasal) Yehezkiel, seorang nabi Yahudi yang besar
pada zaman pengasingan ke Babylon baru dibukukan
setelah ia meninggal. Para penulis fasal Yehezkiel
tersebut juga menulis versi sakerdotal mengenai Kitab
Kejadian, yakni mengenai periode dari waktu Dunia
diciptakan oleh Tuhan sampai matinya Ya'kub. Dengan
begitu maka di antara teks Yahwist dan teks Elohist
telah diselipkan teks ketiga yang perbedaan umurnya
adalah empat dan dua abad lebih dahulu. Pada waktu itu
sudah terdapat kitab "Nudub" (tangisan) atau
Lamentation.

Karena perintah raja Persia, Cyrus yang mengalahkan
Babylonia, pengasingan ke Babylon diakhiri pada tahun
538 SM. Orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan
mendirikan lagi tempel mereka di kota itu. Nampak pula
nabi-nabi baru dan kitab (fasal) baru seperti kitab
(fasal) Hagai, Zakarya, Israil, Maleachi, Daniel dan
Baruch.

Setelah Bani Israil diasingkan ke Babylon terkumpullah
fasal-fasal dalam perjanjian lama sebagai berikut:
Amstal Sulaiman (Proverbs) kurang lebih pada tahun 480
SM, fasal Ayub pada pertengahan abad V SM, al Khatib
(Ecelesiaste atau chronick), pada abad III SM bersamaan
dengan nyanyian (song of Salomon), dua fasal Berita,
fasal Esdras, fasal Nehemia; eclesiastique atau
seracide baru muncul pada abad II SM, fasal
kebijaksanaan Sulaiman, dua fasal Maccabees ditulis
pada abad I SM, fasal Ruth Esther, Yunus; Tobias dan
Yudit adalah sukar untuk dipastikan abad penulisannya.
Keterangan-keterangan tersebut masih dapat berubah jika
ada riset-riset baru, oleh karena Perjanjian Lama
seluruhnya baru terkumpul pada abad I SM dan secara
definitif, baru pada abad I M

Dengan begitu maka Perjanjian Lama merupakan satu
monumen literatur bangsa Yahudi, yang terkumpul sedikit
demi sedikit sehingga periode Agama Nasrani.
Kitab-kitab (fasal-fasal) nya telah ditulis,
disempurnakan dan ditinjau kembali antara abad X dan
abad I SM. Faktor ini bukan sekedar pendapat saya
pribadi akan tetapi saya kutip dari Encyclopedia
Universalis, cetakan tahun 1974, jilld III halaman 246
- 253, ditulis oleh S.P Sandraz guru besar pada
fakultas dominikan di Soulchoir; untuk memahami apakah
Perjanjian Lama itu, kita harus ingat hasil-hasil
penyelidikan para spesialis yang sangat kompeten.

Suatu wahyu telah tercampur dengan tulisan-tulisan itu,
akan tetapi pada waktu ini yang kita miliki hanya
hal-hal yang ditinggalkan oleh orang-orang yang telah
merubah teks asli menurut situasi dan kondisi yang
dihadapi mereka.

Jika kita bandingkan hal-hal obyektif tersebut di atas
dengan hal-hal yang tersebut dalam mukaddimah atau kata
pengantar bermacam-macam Bibel yang dicetak untuk awam,
kita rasakan ada perbedaan. Dalam kata pengantar itu
tak disebutkan hal-hal yang mengenai pembukuan Bibel;
hal-hal yang samar-samar dan kabur tidak diberi
penjelasan sehingga membingungkan pembaca, dan banyak
soal-soal yang diperkecil sehingga memberi gambaran
yang salah. Dengan begitu maka pengantar-pengantar itu
banyak yang merubah kebenaran. Banyak kitab (fasal)
yang dirubah beberapa kali; seperti dalam kasus Taurah,
tetapi dalam edisi hanya diterangkan, mungkin ada
perinci-perinci yang ditambahkan. Kadang-kadang ada
pengarang yang mengadakan diskusi tentang sesuatu
bagian yang tidak penting, akan tetapi ia melupakan
bagian yang sangat penting dan menolak pembahasan yang
mendalam. Sungguh menyedihkan jika kita melihat hal-hal
yang tidak benar dilakukan oleh orang-orang yang
menyiarkan Bibel untuk awam.

kitab kitab perjanjian lama

Perjanjian Lama merupakan kumpulan fasal-fasal yang
panjangnya tidak sama dan isinya bermacam-macam,
ditulis selama lebih dari sembilan abad dalam beberapa
bahasa dan dimulai dengan tradisi lisan. Fasal-fasal
itu banyak yang telah dikoreksi dan dilengkapkan sesuai
dengan kejadian-kejadian atau kebutuhan-kebutuhan
tertentu, pada waktu-waktu yang berjauhan jaraknya
antara satu dengan lainnya.

Sangat boleh jadi bahwa munculnya literatur yang
melimpah ini terjadi pada permulaan monarki Yahudi pada
abad XI SM, yaitu pada waktu timbulnya kelompok
pegawai-pegawai Raja yang merupakan
sekretaris-sekretaris, yakni orang-orang pandai yang
pekerjaannya tidak terbatas dalam sekedar menulis. Dari
zaman itulah bermula tulisan-tulisan parsial yang
tersebut dalam fasal-fasal sebelum ini, yakni
tulisan-tulisan yang penting untuk ditetapkan waktunya,
seperti nyanyian-nyanyian yang tersebut di atas,
kata-kata yang diucapkan oleh nabi Ya'kub dan nabi
Dawud, Sepuluh Perintah dan lebih umum lagi teks-teks
legislatif yang membentuk tradisi keagamaan sebelum
tersusunnya undang-undang. Teks-teks tersebut merupakan
bagian-bagian yang terpisah disana-sini dalam
bagian-bagian Perjanjian Lama.

Kemudian kira-kira abad X SM tersusunlah teks "Yahwist"
dari Pentateuque (Torat) yang merupakan lima fasal
pertama. Kemudian orang menambahkan kepada teks
tersebut, bagian-bagian yang dinamakan "versi Elohist"
dan versi "Sakerdotal".

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Taurah atau Pentateuque

Taurah adalah nama dalam bahasa Semit. Kalimat Yunani
yang sekarang dipakai dalam bahasa Perancis adalah
Pentateuque yang artinya kitab yang terdiri dari lima
bagian: Kejadian, Keluaran, Imamat orang Levi, Bilangan
dan Ulangan, yaitu lima fasal yang pertama dari 37
fasal yang terdapat dalam Perjanjian Lama.

Kumpulan teks ini membicarakan asal alam, sampai
masuknya bangsa Israil di Kana'an, tanah yang
dijanjikan sesudah mereka menjadi budak di Mesir; atau
lebih tepat lagi sampai wafatnya nabi Musa. Tetapi
riwayat kejadian-kejadian sejarah itu dipergunakan
sebagai kerangka untuk menerangkan kehidupan keagamaan
dan sosial bangsa Yahudi. Dari sinilah nama Hukum atau
Taurah.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen selama
berabad-abad berpendapat bahwa pengarang Taurah (lina
bagian pertama daripada Perjanjian Lama) adalah Nabi
Musa sendiri. Barangkali pendapat tersebut didasarkan
atas ayat (Keluaran 17, 14) yang berbunyi: "Tulislah
itu (kekalahan kaum Amalek) dalam Kitab," atau atas
ayat (Bilangan 33, 2) tentang keluarnya orang Yahudi
dari Mesir yang berbunyi "Musa menerangkan dengan
tulisan tempat-tempat mereka berangkat," atau dalam
(kitab Ulangan 3, 9) yang berbunyi: "Musa menulis
aturan (hukum) ini." Semenjak abad Pertama S.M. banyak
orang yang mempertahankan anggapan bahwa seluruh
Pentateuque ditulis oleh Nabi Musa, di antara
orang-orang itu adalah: Flavius Joseph dan Philon dari
Alexandria.

Pada waktu sekarang anggapan seperti tersebut di atas
sudah ditinggalkan orang. Tetapi meskipun begitu,
Perjanjian Baru masih mempertahankannya. Paulus dalam
suratnya kepada orang-orang Rum (10, 5) mengutip
kata-kata orang Levi: "Musa sendiri menulis
aturanaturan yang datang dari Taurah." Yahya, pengarang
Injil yang keempat, dalam fasal 5, ayat 46-47
meriwayatkan bahwa Yesus berkata: "Jika kamu telah
melihat Musa, kamu tentu akan percaya kepadaku karena
ia (Musa) telah menulis tentang diriku. Kalau kamu
tidak percaya kepada apa yang ditulis oleh Musa,
bagaimana kamu dapat percaya kepada apa yang aku
katakan?"

Di sini kekeliruan timbul daripada redaksi; teks asli
bahasa Yunani adalah "episteute" yang berarti "fasal"
dan bukan "menulis." Dengan begitu maka Yahya, penulis
Injil ke empat telah memberi keterangan salah yang
digambarkan telah diucapkan oleh Yesus.

Saya meminjam bahan-bahan di atas dari R.P. de Vaux,
direktur Lembaga Bibel di Yerusalem. Dalam terjemahan
"kitab Kejadian" tahun 1962 ia memberi pengantar umum
yang memuat argumentasi yang bertentangan dengan
keterangan Injil mengenai siapa yang menulis
"Pentateuque" (lima fasal pertama dalam Perjanjian
Lama).

R.P. de Vaux memperingatkan bahwa tradisi Yahudi yang
menjadi pedoman bagi Yesus dan para rasul (sahabat)nya
telah diterima sampai akhir abad pertengahan. Pada abad
XII, Aben Isra adalah satusatunya orang yang menentang
anggapan itu. Pada abad XVI, Carlstadt memperingatkan
kita bahwa Nabi Musa tentu tidak dapat menulis berita
tentang kematiannya, seperti yang tersebut dalam kitab
(fasal) Ulangan 34, 512. Pengarang kemudian menyebutkan
kritikkritik lainnya yang mengatakan bahwa tidak semua
Taurah itu karangan Musa; secara khusus disebutkan buku
karangan Richard Simon yang berjudul: Histoire Critique
du Vieux Testament (Sejarah Kritik tentang Perjanjian
Lama) tahun 1678 yang menonjolkan kesulitan-kesulitan
kronologis (urutan Sejarah), ulangan-ulangan,
tulisan-tulisan yang tak teratur tentang
riwayat-riwayat, serta perbedaan-style (tata bahasa)
dalam Taurah. Karangan R. Simon tersebut telah
menyebabkan heboh, tetapi orang tidak lagi mengikuti
argumentasi R. Simon; buku-buku sejarah dari permulaan
abad 18 selalu menyebutkan: "Apa yang telah ditulis
oleh Musa" untuk menunjukkan sumber yang sangat kuno.

Kita dapat mengerti betapa susahnya menentang suatu
dongengan (Legende) yang berdasarkan atas sandaran yang
(digambarkan) telah diberikan oleh Yesus dalam
Perjanjian Baru. Kita berhutang budi kepada Yean
Astruc, tabib pribadi Raja Louis XV yang telah
memberikan argumen yang kuat.

Pada tahun 1753 ia menerbitkan bukunya: Dugaan tentang
catatan-catatan asli, yang dipakai oleh Nabi Musa untuk
menulis kitab (fasal) Kejadian. Dalam buku itu, ia
menitik beratkan adanya bermacam-macam sumber. Ia sudah
terang, bukannya orang pertama yang menulis hal ini,
akan tetapi ia adalah orang pertama yang berani
mengumumkan suatu kenyataan yang sangat penting, yaitu
bahwa mengenai kitab: (fasal) Kejadian terdapat dua
teks yang berbeda-beda; yang satu menamakan Tuhan
dengan kata Yahwe, yang lainnya menyebut Tuhan dengan
kata Elohim. Eichhorn (1780-1783) mengungkapkan
penemuan yang sama mengenai empat kitab (fasal) lainnya
dalam Taurah (Pentateuque). Kemudian pada tahun 1798,
Ilgen merasa bahwa satu daripada dua teks yang
diselidiki oleh Astruc yaitu teks yang di dalamnya
Tuhan dinamakan Elohim, harus dibagi menjadi dua.
Dengan begitu maka Pentateuque menjadi benar-benar
terpecah-pecah.

Pada abad XIX telah dilakukan penelitian yang telah
mantap mengenai sumber-sumber Perjanjian Lama. Pada
tahun 1854, orang berpendapat bahwa ada 4 sumber,
yaitu: dokumen Yahwist, dokumen Elohist, Deuteronomy,
kitab-(fasal) Ulangan dan kode Sakerdotal (hukum para
pendeta). Dokumen Yahwist telah ditulis di Kerajaan
Yuda pada abad IX S.M. Dokumen Elohist adalah lebih
baru, dan ditulis di kerajaan Israil Deuteronomy (Kitab
Ulangan) menurut Edmond Yacob ditulis pada abad VIII
S.M., dan menurut R.P. de Vaux ditulis pada abad VII
S.M. pada zaman Yosias. Dan akhirnya, code Sakerdotal
(hukum-hukum pendeta) ditulis pada abad VI S.M., yakni
pada zaman pengasingan Israil di Babylon atau
sesudahnya.

Dengan begitu maka teks Taurah telah berangsur-angsur
tertulis selama sedikitnya tiga abad.

Akan tetapi masalahnya jauh lebih kompleks. Pada tahun
1941, A. Lods mengatakah bahwa document Yahwist
mempunyai 3 sumber, dokumen Elohist mempunyai 4 sumber,
kitab ulangan mempunyai 6 sumber dan hukum-hukum
pendeta mempunyai 9 sumber, di samping tambahan-
tambahan yang dibagi-bagi antara 8 penulis, sebagai
yang dikatakan oleh R.P. de Vaux.

Kemudian orang mulai berfikir bahwa banyak hukum-hukum
dalam Taurah yang sama dengan hukum-hukum lama di luar
Bibel, dan banyak riwayat-riwayat dalam Taurah yang
memberi kesan berasal dari lingkungan lain yang lebih
kuno; dengan demikian maka persoalannya menjadi jauh
lebih kompleks.

Sumber-sumber yang banyak itu menyebabkan perbedaan-
perbedaan dan ulangan-ulangan. R.P. de Vaux memberi
contoh tentang tercampurnya tradisi yang berbeda- beda
mengenai penciptaan alam, anak keturunan Cain (Habil),
banjir Nabi Nuh, penculikan Nabi Yusuf, petualangannya
di Mesir, perbedaan nama seseorang, penyajian yang
berbeda-beda mengenai sesuatu ke}adian.

Dengan begitu maka Taurah (Pentateuque) nampak tersusun
daripada tradisi bermacam-macam yang dihimpun secara
baik oleh penyusun-penyusunnya, yang kadang-kadang
menjajarkan kumpulan mereka dan kadang-kadang merubah
kumpulan-kumpulan itu dengan maksud menimbulkan sintesa
di antaranya; meskipun dalam melakukan hal terakhir ini
mereka tidak menghilangkan perbedaan serta
keragu-raguan sehingga hal-hal ini menarik perhatian
orang-orang zaman sekarang untuk mengadakan penelitian
mengenai sumber-sumber asli.

Dalam rangka kritik mengenai teks, Taurah (Pentateuque)
memberi contoh yang amat jelas tentang perubahan-
perubahan yang dilakukan oleh manusia, pada bermacam-
macam periode sejarah bangsa Yahudi, tradisi lisan
dan teks-teks yang berasal dari generasi-generasi
terdahulu.

Taurah bermula pada abad X atau IX S.M. dengan tradisi
Yahwist yang menceriterakan permulaan penciptaan alam,
kemudian menyusun sejarah bangsa Israil, dan seperti
kata R.P de Vaux, menempatkannya dalam rencana Tuhan
untuk seluruh kemanusiaan. Akhirnya Taurah terus
tersusun pada abad VI S.M dengan tradisi
pendeta-pendeta, yang mementingkan tahun dan silsilah
keturunan (Genealogi).4

Pernyataan-pernyataan yang sedikit atau jarang yang
tetap terdapat dalam tradisi ini, menurut R.P. de Vaux,
menunjukkan perhatian besar yang mengenai hukum seperti
istirahat pada hari Sabtu setelah menciptakan alam,
aliansi dengan Nuh, aliansi dengan Ibrahim, khitan,
pembelian gua Makpeh yang memberi hak milik kepada
pendeta-pendeta di Kana'an. Kita perlu ingat bahwa
tradisi sakerdotal (pendeta-pendeta) muncul setelah
bangsa Israil kembali dari pengasingannya di Babylon
dan mendiami Palestina mulai tahun 583 S.M. Jadi soal
agama dan soal politik tercampur.

Mengenai kitab (fasal) Kejadian, pembagian dalam tiga
sumber pokok telah dianggap benar: R.P. de Vaux dalam
terjemahannya membawakan teks-teks yang menjadi dasar
bagi teks yang ada sekarang dalam fasal Kejadian.
Dengan mendasarkan penyelidikan kepada teks-teks
tersebut, siapa saja dapat menunjukkan hubungan antara
teks dalam fasal Kejadian dengan teks dalam tiga sumber
pokok tersebut di atas. Umpamanya, mengenai yang
berhubungan dengan penciptaan alam, dengan banjir dan
periode semenjak banjir sampai munculnya Ibrahim, yaitu
ceritera dalam 11 bagian yang pertama dalam kitab
(fasal) Kejadian, kita dapat menemukan sebagian teks
Yahwist dan sebagian lainnya teks Sakerdotal.

Teks Elohist tak terdapat dalam 11 bagian pertama.
Percampuran antara teks Yahwist dan Sakerdotal nampak
dengan jelas. Adapun yang mengenai penciptaan alam
sampai Zaman Nabi Nuh (5 bagian yang pertama),
susunannya lebih mudah; satu bagian Yahwist bergantian
dengan satu susunan Sakerdotal dari permulaan sampai
akhir. Mengenai Banjir, khususnya mengenai bagian 7 dan
8, potongan-potongan teks menurut sumber asli
memisahkan beberapa bagian-bagian yang sangat pendek.
Dalam meneliti 100 baris teks Prancis, kita beralih
dari satu teks kepada teks yang lain lebih dari 17
kali. Dari sinilah timbulnya perbedaan-perbedaan dan
kontradiksi dalam pembacaan Taurah dalam Injil yang ada
sekarang. (Lihatlah gambar yang menjelaskan pembagian
sumber-sumber di bawah ini).

Perincian Pembagian Teks Yahwist dan Teks Sakerdotal
dalam Bagian 1-11 dari Kitab Kejadian

Angka pertama menunjukkan fasal (Bagian).

Angka kedua antara dua kurung menunjukkan nomornya
kata-kata (phrase) yang kadang-kadang dibagi menjadi
dua bagian, a dan b

Huruf Y menunjukkan teks Yahwist.

Huruf S menunjukkan teks Sakerdotal.

Contoh: baris pertama daripada tabel ini menunjukkan
bahwa dari fasal (bagian) pertama, kata-kata (phrase) 1
sampai bagian 2 kata-kata (phrase) 4a, teks yang ada
sekarang dalam Bibel adalah teks Sakerdotal.



Fasal(bagian)  Phrase s/d Fasal    Phrase      Teks

       1        (1)        2        (4a)        S
       2        (4b)       4        (2b)        Y
       5        (1)        5        (32)        S
       6        (1)        6        (8)         Y
       6        (9)        6        (22)        S
       7        (1)        7        (5)         Y
       7        (6)       ...       ...         S
       7        (7)        7        (10)        Y
       7        (11)      ...       ...         S
       7        (12)      ...       ...         Y
       7        (13)       7        (16a)       S
       7        (16B)      7        (17)        Y
       7        (18)       7        (21)        S
       7        (22)       8        (23)        Y
       7        (24)       8        (2a)        S
       8        (2b)      ...       ...         Y
       8        (3)        8        (5)         S
       8        (6)        8        (12)        Y
       8        (13a)     ...       ...         S
       8        (13b)     ...       ...         Y
       8        (14)       8        (19)        S
       8        (20)       8        (22)        Y
       9        (1)        9        (17)        S
       9        (18)       9        (27)        Y
       9        (28)       10       (7)         S
       10       (8)        10       (19)        Y
       10       (20)       10       (23)        S
       10       (24)       10       (30)        Y
       10       (31)       10       (32)        S
       11       (1)       (11)      (9)         Y
       11       (10)       11       (32)        S


Ini semua adalah gambaran yang sangat jelas tentang
permainan yang dilakukan oleh manusia mengenai Bibel.

>
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Sejarah,Kenabian,syair dan hikmah




Bagian-bagian Mengenai Sejarah


Dalam bagian-bagian yang mengenai Sejarah dalam Bibel,
kita dapatkan sejarah bangsa Yahudi semenjak masuk ke
daerah yang dijanjikan (kira-kira pada abad XIII S.M.)
sampai deportasi (pengasingan) ke Babylon pada abad VI
S.M.

Dalam sejarah itu ditekankan "kejadian nasional" yang
digambarkan sebagai pelaksanaan janji Tuhan. Akan
tetapi dalam hikayat ini tak terdapat ketelitian
historis. Suatu fasal seperti fasal Yusak hanya
mempunyai dasar teologi. Dalam hal ini, professor
Edmond Yacob mengingatkan kita tentang adanya
kontradiksi yang jelas antara arkeologi dan teks
Perjanjian Lama mengenai kerusakan kota Jericho dan Ay.

Kitab (fasal) Hakim-hakim dimaksudkan untuk
mempertahankan bangsa yang terpilih terhadap
musuh-musuh yang melingkunginya, yakni dengan
pertolongan Tuhan Fasal itu berkali-kali dirubah; hal
ini dijelaskan oleh R.P.A. Lefevre dalam mukaddimah
Bibel Crampon. Kata-kata pengantar yang bercampur aduk
susunannya serta tambahan-tambahan di belakang,
menunjukkan fakta tersebut. Sejarah Ruth ada hubunganya
dengan fasal Hakim-hakim.

Fasal Samuel dan Fasal Raja-raja merupakan
kumpulan-kumpulan biografik yang menarik bagi Samuel,
Saul, David dan Salomon Tetapi nilai sejarahnya
disangsikan. Edmond Yacob menemukan di dalamnya banyak
kesalahan-kesalahan; kadang-kadang sesuatu kejadian
diriwayatkan dua atau tiga kali. Nabi-nabi Elia, Elisa,
Yesaya dalam bagian itu juga mendapat tempat, tetapi
sejarah mereka tercampur dengan legenda, walaupun
menurut R.P.A. Lefevre nilai sejarahnya sangat penting.

Bagian pertama dan kedua dari kitab (fasal) Tawarikh,
fasal-fasal Ezra dan Nehemia ditulis oleh satu orang
yang hidup pada akhir abad IV S.M. Ia meriwayatkan
sejarah dari masa penciptaan Tuhan sampai waktu itu,
akan tetapi silsilah keturunan (genealogi) hanya sampai
nabi Dawud. Ia mengambil dan menjiplak dari fasal
Samuel dan fasal Raja-raja dengan tidak memperhatikan
kepincangannya; begitulah kata E. Yacob; akan tetapi ia
menambah hal-hal yang pasti yang dikuatkan oleh
arkeologi. Dalam fasal-fasal tersebut, sejarah
disesuaikan dengan teologi. Edmond Yacob berkata:
kadang-kadang pengarang menulis sejarah bersandar
kepada teologi. Umpamanya, untuk menerangkan bahwa Raja
Manassi, seorang yang fasiq dan menganiaya
pemeluk-pemeluk agama tetapi memerintah lama dan masa
pemerintahannya penuh dengan kemakmuran, pengarang
Injil mengatakan bahwa raja tersebut telah mengikuti
agama Yahudi ketika berada di Assyrie (Tawarikh, fasal
dua, 33/11), padahal soal tersebut tak terdapat baik
dalam sumber-sumber Bibel atau di luarnya.

Fasal Ezra dan Nehemia telah menjadi sasaran kritik
yang banyak oleh karena fasal itu penuh dengan
kekaburan dan karena fasal-fasal tersebut menceritakan
tentang suatu periode sejarah yang sampai sekarang
belum terang benar kecuali jika kita pakai dokumen di
luar Bibel, yaitu periode abad IX S.M.

Di antara fasal-fasal yang mengenai sejarah terdapat
fasal Tobias, Yudith dan Ester. Dalam fasal-fasal
tersebut terdapat perubahan-perubahan terhadap sejarah
seperti penggantian nama-nama orang, dan kejadian yang
tak pernah ada; semua itu untuk sesuatu maksud
keagamaan. Fasal-fasal tersebut lebih merupakan
berita-berita yang bersifat petunjuk-petunjuk moral
akan tetapi penuh dengan kekeliruan sejarah.

Mengenai dua fasal tentang Maccabee yang membicarakan
kejadian-kejadian abad II S.M., dapat dikatakan bahwa
fasal itu meriwayatkan sejarah dengan baik dan
mempunyai nilai yang besar.

Dengan begitu maka kesimpulan-kesimpulan fasal-fasal
sejarah: merupakan kumpulan yang pincang. Sejarah
ditulis, sebagian secara ilmiah dan sebagian lagi
secara khayalan.


Pasal-pasal Mengenai Kenabian



Fasal-fasal Kenabian ini memuat ajaran-ajaran Nabi-nabi
yang namanya tersebut dalam Perjanjian Lama terpisah
daripada nama-nama Nabi-nabi yang besar dan yang
ajarannya dimuat dalam fasal lain seperti fasal nabi
Musa, Samuel, Elia dan Elisa.

Fasal-fasal kenabian ini meliputi periode dari abad
VIII sampai abad II S.M.

Pada abad VIII S.M., kita dapatkan fasal Amos, Hosea,
Yesaya dan Micha. Amos, mashur karena ia telah
melakukan kesalahan keagamaan sehingga ia terpaksa
menderita dengan badannya, yaitu ketika ia kawin dengan
seorang pelacur suci5 dalam agama kafir. Ia menderita
sebagaimana Tuhan menderita karena makhlukNya yang
tidak rnengikuti petunjukNya, tetapi Tuhan tetap
mencintai mereka. Isaiah adalah seorang tokoh politik;
ia menguasai kejadian-kejadian karena Raja-raja minta
nasehat kepadanya. Ia adalah seorang Nabi besar. Di
samping karya pribadinya, petuah-petuahnya disiarkan
oleh murid-muridnya sampai abad III S.M., seperti
protes terhadap ketidakadilan, takut kepada hukum
Tuhan, pengumuman tentang akan adanya pembebasan pada
waktu orang Yahudi dalam pengasingan, pengumuman bahwa
orang Yahudi akan kembali ke Palestina. Dalam Isaiah II
dan III, persoalan kenabian berbarengan dengan
persoalan Politik. Ramalan Micha yang hidup pada waktu
yang sama dengan Isaiah, bertitik tolak dari idea, yang
sama.

Pada abad VII S. M., Zefanya, Jeremia, Nahum, Habakuk
menjadi mashur dalam kenabian. Jeremie mati dibunuh.
Petuah-petuahnya dikumpulkan oleh Baruch, mungkin ia
adalah pengarang fasal Tangisan (Nudub).

Pengasingan di Babylon pada permulaan abad VI S.M.
menyebabkan adanya aktivitas kenabian yang intensif.
Tokoh besarnya adalah Yehezkiel sebagai seorang yang
menenteramkan teman-temannya dan memberikan harapan
kepada mereka. Fasal Abdias ada hubungannya dengan
Yerusalem yang telah jatuh di tangan musuh.

Sesudah pengasingan yang selesai pada tahun 538 S.M.,
Nabi Hagai dan Zakora menunjukkan aktivitas dalam
menganjurkan membina temple kembali. Setelah Temple
dibina kembali, kita dapatkan fasal Malaoko yang berisi
petuah-petuah spiritual.

Mengapa fasal Yunus dimasukkan dalam fasal Nabi-nabi
meskipun Perjanjian Lama tidak menyebutkan teks khusus?
Jawabnya, Yunus adalah suatu sejarah yang dapat memberi
kesimpulan pokok yaitu: menyerahkan diri kepada
Kehendak Tuhan.

Fasal Daniel adalah suatu fasal yang kabur, dan menurut
ahli tafsir Kristen, ia merupakan fasal yang sulit,
tertulis dalam 3 bahasa, yakni Ibrani, Aramean dan
Yunani. Fasal Daniel adalah suatu karangan dari abad II
S.M, Pengarangnya ingin meyakinkan bangsanya yang hidup
dalam zaman kesusahan yang mendalam bahwa saat
kebebasan sudah dekat. Ini adalah untuk menjaga
keimanan mereka (Edmond Yacob).

Pasal Mengenai Syair dan Hikmah

Fasal-fasal ini merupakan kumpulan tulisan yang
mempunyai keseragaman literer yang nyata.

Yang pertama adalah Psaumen (nyanyian) yang merupakan
puncak daripada puisi Ibrani. Sebagian terbesar disusun
oleh Nabi Dawud, sebagian lagi oleh para pendeta dan
orang-orang Lewi. Themanya adalah memuja Tuhan, mendoa
(memohon) dan meditasi. Fungsinya adalah liturgi, yakni
dibaca waktu sembahyang.

Fasal Job (Ayub) merupakan fasal hikmah dan taqwa;
tertulis pada tahun 400 atau 500 S.M.

Fasal Nudub (Tangisan) karena jatuhnya Yerusalem,
ditulis pada permulaan abad VI S.M. mungkin ditulis
oleh Jeremia.

Kita juga harus menyebutkan fasal Cantiqus des
Cantiques (suatu kumpulan nyanyian tentang cinta kepada
Tuhan), fasal peribahasa, kumpulan kata-kata Nabi
Sulaeman dan orang-orang bijaksana di Istana, Imam
(Eclesiast) atau qoheleth dimana orang memperdebatkan
antara kebahagiaan dunia dan kebijaksanaan.

Bagaimana kumpulan yang sangat berbeda-beda dari segi
isinya, yang fasal-fasalnya ditulis selama paling
sedikit 700 tahun, dan mempunyai sumber-sumber yang
sangat berbeda, kemudian semua itu dipadukan dan
dimasukkan dalam satu buku, bagaimana kumpulan semacam
itu dalam beberapa abad dapat merupakan kesatuan yang
tak terpisah-pisah dan menjadi Kitab Wahyu Yahudi
Kristen (dengan sedikit perbedaan-perbedaan menurut
kelompok) dan menjadi hukum (Kanon) yakni suatu kalimat
Yunani yang mengandung arti (tidak boleh disentuh).

Pengumpulan bahan-bahan Perjanjian Lama tidak terjadi
pada zaman Kristen, akan tetapi masih dalam zaman
Yahudi, dan dimulai secara pasti pada abad VII S.M.
Fasal-fasal lainnya dimuat sesudah fasal-fasal pertama.
Tetapi perlu kita ingat bahwa 5 fasal pertama yang
merupakan Taurah (Pentateuk) selalu mempunyai kedudukan
yang lebih tinggi daripada fasal-fasal lain. Kemudian
orang menambah fasal-fasal Taurah itu dengan
Pengumuman-pengumuman para Nabi (siksaan Tuhan bagi
orang yang berdosa), serta janji-janji mereka, karena
Taurah sudah merupakan fasal-fasal yang diterima rakyat
pada abad II S.M., Kanon para Nabi sudah jadi.

Fasal-fasal lain seperti nyanyian Nabi Dawud yang
dipakai untuk sembahyang, ditambahkan pula bersama
dengan fasal Tangisan dan hikmat Suleman atau Ayub.

Agama Kristen, atau lebih tepat pada permulaannya,
agama Yahudi Kristen, sebagai yang akan kita lihat
nanti, yaitu agama yang telah banyak dipelajari oleh
sarjana-sarjana modern seperti Kardinal Danielou, agama
Kristen sebelum mengalami perubahan-perubahan pokok
yang disebabkan oleh pengaruh Paulus, telah menerima
warisan Perjanjian Lama. Para pengarang Injil sangat
tertarik kepada Perjanjian Lama.

Akan tetapi jika kita melakukan pembersihan-pembersihan
terhadap Injil empat dengan menghilangkan hal-hal yang
apokrif (yang misterius, tidak benar, tidak autentik),
kita tidak perlu melakukan hal yang sama untuk
Perjanjian Lama. Ini berarti bahwa kita menerima
seluruh atau hampir seluruh isi Perjanjian Lama.

Siapakah yang berani mempersoalkan sesuatu mengenai
kumpulan-kumpulan yang pincang ini sampai akhir abad
Pertengahan, sedikitnya di Barat? Tak ada atau hampir
tak ada. Mulai akhir abad Pertengahan sampai permulaan
abad modern telah timbul beberapa kritik. Kita sudah
membaca sebagian kritik tersebut pada permulaan buku
ini, akan tetapi gereja-gereja selalu dapat memaksakan
kekuasaannya . Suatu kritik autentik mengenai teks
memang sudah ada sekarang, akan tetapi jika para
pendeta-pendeta spesialis dapat mempergunakan pikiran
lebih banyak untuk menyelidiki perincian-perincian dari
bermacan-macam persoalan, mereka kemudian berpendapat
bahwa lebih baik jangan masuk terlalu jauh kedalam
"hal-hal yang sukar." Nampaknya mereka itu tidak
menyelidiki "hal-hal yang sukar itu" dengan sinar
pengetahuan modern. Jika kita mau mengadakan
perbandingan dalam sejarah, apalagi kalau terdapat
persesuaian antara mereka dan Bibel, maka sebetulnya
mereka itu belum berhasrat sungguh-sungguh untuk
melakukan perbandingan yang mendalam dan blak-blakan
dengan idea-idea ilmiah yang mereka rasakan akan
menyanggah idea-idea tentang kebenaran isi Injil yang
sampai waktu ini tidak pernah dibantah.



BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Perjanjian Lama dan Sains

SEKEDAR MENGEMUKAKAN FAKTA

Hanya sedikit hal-hal yang tersebut dalam Perjanjian
Lama, dan juga dalam Perjanjian Baru yang menimbulkan
konfrontasi dengan pengetahuan modern. Tetapi jika
terdapat hal-hal yang tidak sesuai antara teks Bibel
dengan Sains, maka soalnya menjadi sangat penting.

Dalam bab-bab yang terdahulu, kita telah menemukan
dalam Bibel kesalahan-kesalahan sejarah dan kita telah
menyebutkan beberapa masalah yang telah dibicarakan
oleh ahli tafsir Yahudi dan Kristen. Ahli-ahli Kristen
condong untuk mengecilkan persoalannya. Mereka
berpendapat bahwa adalah normal jika seorang pengarang
buku agama menyajikan fakta-fakta sejarah dengan
menghubungkannya dengan teologi, menulis sejarah untuk
keperluan agama. Kita akan melihat dalam Injil Matius,
sikap yang bebas terhadap sesuatu kenyataan, dan kita
dapatkan tafsiran-tafsiran yang tujuannya untuk
menjadikan yang tidak benar menjadi benar; suatu
pikiran yang obyektif dan logis tidak akan merasa puas
dengan cara yang demikian.

Dengan memakai logika, orang dapat menunjukkan banyak
kontradiksi dan kekeliruan dalam Bibel. Adanya
sumber-sumber yang berlainan telah menyebabkan adanya
versi yang berlainan mengenai sesuatu hikayat. Tetapi
di samping itu kita dapatkan bermacam-macam perubahan,
bermacam-macam tambahan. Pada mulanya tambahan itu
sebagai tafsiran, tetapi kemudian naskah asli dan
tafsiran disalin lagi dan semua isinya dianggap asli.
Semua ini sudah diketahui oleh ahli-ahli kritik teks,
dan mereka kemukakan secara jujur.

Mengenai Taurah, R.P. de Vaux dalam bukunya: Pengantar
Umum (Introduction Generale) yang ditulis sebelum
menterjemahkan Taurah telah menunjukkan bermacam-macam
kepincangan yang tak perlu lagi saya ulangi di sini
karena banyak lagi yang akan saya sebutkan dalam
penyelidikan ini. Kesimpulan dari semua itu adalah
bahwa kita tidak boleh memahami teks-teks Taurah secara
harafiah.

Di bawah ini adalah suatu oontoh yang menarik:

Dalam Kitab Kejadian (6, 3) Tuhan memutuskan, sebelum
Banjir Nabi Nuh, untuk membatasi umur manusia, paling
panjang hanya 120 tahun. "Hidupnya tidak akan lebih
dari 120 tahun." Tetapi kemudian, dalam Kitab Kejadian
(II, 10-32) kita dapatkan bahwa sepuluh orang keturunan
Nabi Nuh hidup sampai umur antara 148 dan 600 tahun
(lihatlah tabel mengenai anak turunan Nabi Nuh sampai
Abraham). Kontradiksi antara dua kalimat tersebut
adalah menyolok. Tetapi adalah mudah untuk menerangkan.
Kalimat pertama (Kitab Kejadian 6,3) adalah teks
Yahwist, yang sebagai kita telah membicarakannya,
dibuat pada abad X S.M. Sedangkan kalimat kedua (Kitab
Kejadian II, 10-32) merupakan teks yang lebih muda
(abad VI S.M.) dari tradisi pendeta-pendeta
(Sakerdotal) yang merupakan dasar dari silsilah
keturunan (genealogi) yang memberi gambaran tentang
lamanya hidup seseorang secara tepat tetapi ternyata
tidak benar dalam keseluruhannya.

Kontradiksi dengan Sains modern terdapat dalam Kitab
Kejadian, yaitu mengenai tiga persoalan:

1). Penciptaan alam dan tahap-tahapnya.
2). Waktu penciptaan alam dan waktu timbulnya
manusia di atas bumi.
3). Riwayat banjir Nuh.


Sebagai yang telah dikatakan oleh R. P. de Vaux, Kitab
Kejadian bermula dengan dua riwayat mengenai penciptaan
alam. Oleh karena itu kita perlu menyelidiki kedua
riwayat itu secara terpisah untuk mengetahui
kesesuaiannya dengan penyeiidikan-penyelidikan ilmiah.

RIWAYAT PERTAMA

Riwayat pertama memenuhi fasal I dan ayat-ayat pertama
dari fasal II. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat
menonjol tentang ketidaktepatan ilmiah. Kita perlu
melakukan kritik sebaris demi sebaris. Teks yang kita
muat di sini adalah teks menurut terjemahan Lembaga
Bibel Yerusalem, (Ecole Biblique de Yerusalem). Dalam
bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga
Alkitab Indonesia tahun 1962. (Rasjidi).

Fasal 1, ayat 1 dan 2,

1. "Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit
dan bumi.

2. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu
hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah
melayang-layang diatas muka air itu."

Kita dapat menerima bahwa pada tahap bumi belum
diciptakan, apa yang kemudian menjadi alam yang kita
ketahui sekarang masih tenggelam dalam kegelapan, akan
tetapi tersebutnya adanya air pada periode tersebut
hanya merupakan alegori (kiasan) belaka mungkin sekali
ini adalah terjemahan suatu mitos. Kita akan melihat
dalam bagian ketiga dari buku ini bahwa pada tahap
permulaan dari terciptanya alam yang terdapat adalah
gas. Maka disebutkannya air di situ adalah suatu
kekeliruan.

Ayat 3 sampai 5

3. "Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu
terangpun jadilah.

4. Maka dilihat Allah akan terang itu baiklah adanya,
lalu diceraikan Allah terang itu dengan gelap.

5. Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan
gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah
hari yang pertama."

Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi
kompleks yang terjadi pada bintang-bintang. Hal ini
akan kita bicarakan pada bagian ketiga daripada buku
ini. Pada tahap penciptaan alam yang kita bicarakan
sekarang, menurut Bibel, bintang-bintang belum
diciptakan, karena sinar di langit baru disebutkan
dalam ayat 14 dari Kitab Kejadian, yaitu sebagai
ciptaan pada hari keempat, untuk "memisahkan siang
daripada malam," "untuk menerangi bumi." Dan ini semua
betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek
(sinar) pada hari pertama, dengan menempatkan
penciptaan benda yang menyebabkan sinar
(bintang-bintang) tiga hari sesudah itu. Lagipula
menempatkan malam dan pagi pada hari pertama adalah
alegori (kiasan) semata-mata, karena malam dan pagi
sebagai unsur hari tak dapat digambarkan kecuali
sesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah sinar
planetnya yaitu matahari.

Ayat 6 sampai 8

6. "Maka firman Allah: Hendaklah ada suatu bentangan
pada sama tengah air itu supaya diceraikan dengan air.

7. Maka dijadikan Allah akan bentangan itu serta
diceraikanlah air yang di bawah bentangan itu dengan
air yang di atas bentangan. Maka jadilah demikian.

8. Lalu dinamai Allah akan bentangan itu langit.
Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang kedua."

Mitos air diteruskan dalam ayat-ayat tersebut dengan
memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah
langit. Dalam riwayat Banjir Nabi Nuh, langit
membiarkan air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke
tanah. Gambaran bahwa air terbagi menjadi dua kelompok
tak dapat diterima secara ilmiah.

Ayat 9 sampai 13

9. "Maka firman Allah: Hendaklah segala air yang di
bawah langit itu berhimpun kepada satu tempat, supaya
kelihatan yang kekeringan itu; maka jadilah demikian.

10. Lalu dinamai Allah akan yang kekeringan itu darat,
dan akan perhimpunan segala air itu dinamainya laut;
maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

11. Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan
rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang
berbuah-buah dengan tabiatnya yang berbiji dalamnya di
atas bumi itu; maka jadilah demikian.

12. Yaitu ditumbuhkan bumi akan rumput dan pokok yang
berbiji dengan tabiatnya dan pohon-pohon yang
berbuah-buah yang berbiji dalamnya dengan tabiatnya;
maka dilihat Allah itu baiklah adanya

13. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang
ketiga."

Fakta bahwa pada suatu periode dalam sejarah bumi,
ketika bumi ini masih tertutup dengan air, terjadi
bahwa daratan-daratan mulai muncul, adalah suatu hal
yang dapat diterima secara ilmiah. Akan tetapi bahwa
pohon yang mengandung biji-biji bermunculan sebelum
terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru
tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa siang dan
malam silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal
tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan.

Ayat 14 sampai 19

14. "Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda
terang dalam bentangan langit supaya diceraikannya
siang dengan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa
dan hari dari tahun.

15. Dan supaya ia itu menjadi benda terang pada
bentangan langit akan menerangkan bumi; maka jadilah
demikian.

16. Maka dijadikan Allah akan kedua benda terang yang
besar itu, yaitu terang yang besar itu akan
memerintahkan siang dan terang yang kecil akan
memerintahkan malam, dan lagi segala bintang pun.

17. Maka ditaruh Allah akan dia dalam bentangan langit
akan memberi terang di atas bumi.

18. Dan akan memerintahkan siang dan malam dan akan
menceraikan terang itu dengan gelap maka dilihat Allah
itu baik adanya.

19. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang ke
empat."

Di sini gambaran yang diberikan oleh pengarang Injil
dapat diterima. Satu-satunya kritik yang dapat kita
lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan
letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi
dan bulan telah memisahkan diri daripada matahari;
menempatkan penciptaan matahari dan bulan sesudah
penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang
sudah disetujui secara pasti dalam ilmu pengetahuan
mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.

Ayat 20 sampai 23

20. "Maka firman Allah: Hendaklah dalam segala air itu
menggeriak beberapa kejadian yang bernyawa dan yang
sulur menyulur, dan hendaklah ada unggas terbang di
atas bumi dalam bentangan langit.

21. Maka dijadikan Allah akan ikan raya yang
besar-besar dan segala binatang sulur menyulur yang
menggeriak dalam air itu tetap dengan tabiatnya, dan
segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka
dilihat Allah itu baik adanya.

22. Maka diberkati Allah akan dia, firmannya: Jadilah
biak dan bertambah kamu dan damaikanlah air yang di
dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun
bertambah-tambah di atas bumi.

23. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang
kelima."

Ayat-ayat tersebut mengandung hal-hal yang tak dapat
diterima


Riwayat kedua tentang penciptaan alam yang termuat
dalam Kitab Kejadian sesudah riwayat pertama, dengan
tanpa peralihan (transisi) dan tanpa komentar, tidak
menjadi sasaran kritik yang dilancarkan terhadap
riwayat pertama.

Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode
yang jauh lebih kuno, kira-kira 3 abad. Riwayat ini
pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan
manusia dan surga dunia di samping membicarakan
penciptaan bumi dan langit secara sangat singkat.
Beginilah bunyinya:

Fasal 2, 4b-7

4. "Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa
itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan
langit dan bumi.

5. Pada masa itulah belum ada tumbuh-tumbuhan di atas
bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena belum
lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum
ada orang akan membelakan tanah itu.

6. Melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan
segala tanah itu.

7. Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu daripada
debu tanah dan dihembuskannya nafas hidup ke lubang
hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa
yang hidup adanya."

Itulah; riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel yang
kita miliki sekarang. Apakah riwayat ini yang kemudian
ditambah dengan riwayat Sakerdotal, memang dari
permulaan adalah sangat singkat? Tak ada orang yang
dapat mengatakan bahwa teks Yahwist pernah dipotong,
dan tak ada pula orang yang dapat mengatakan bahwa
beberapa baris yang kita miliki itu merupakan segala
sesuatu yang termuat dalam teks yang lebih kuno
daripada Bibel mengenai penciptaan alam.

Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan
terbentuknya bumi dan langit. Riwayat tersebut hanya
memberi gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan
manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum
pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari dalam
bumi menutupi dataran bumi. Teks selanjutnya memberi
konfirmasi karena ayat 8 mengatakan: "Maka diperbuat
Tuhan Allah pula suatu taman dalam Eden, di sebelah
Timur, maka di sanalah ditaruhnya akan manusia yang
telah dirupakannya itu." Dengan ayat tersebut dapat
disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh pada waktu yang
sama dengan diciptakannya manusia. Ini secara ilmiah
tidak benar, manusia muncul di atas bumi lama setelah
tumbuh-tumbuhan ada, walaupun kita tidak tahu berapa
juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.

Itulah satu-satunya kritik yang dapat dilontarkan
kepada teks Yahwist. Dengan tidak mengatakan bahwa
manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya
alam dan bumi, dua hal yang dikatakan oleh teks
Sakerdotal sebagai dua hal yang terjadi dalam satu
minggu, teks Yahwist terhindar dari kritik berat yang
dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal.


TAHUN PENCIPTAAN ALAM DAN TAHUN MUNCULNYA

MANUSIA DI ATAS BUMI

Menurut bahan-bahan yang terdapat dalam Perjanjian
Lama, kalender Yahudi menempatkan tahun-tahun itu
secara pasti. Pertengahan kedua daripada tahun 1975,
sama dengan permulaan tahun yang ke 5736 daripada
penciptaan alam. Manusia yang diciptakan Tuhan beberapa
hari sesudah terciptanya alam, mempunyai usia yang
sama, menurut kalender Yahudi.

Tentu saja tahun tersebut perlu dikoreksi, karena tahun
Yahudi dihitung menurut gerak bulan sedangkan kalender
Barat didasarkan atas tahun matahari, akan tetapi
koreksi sebanyak 3% agar menjadi tepat, tidak ada
artinya. Untuk tidak meruwetkan perhitungan, lebih baik
tidak melakukan koreksi itu. Yang penting di sini
adalah soal kebenaran, maka tidak penting jika masa
berjuta tahun itu berselisih 30 tahun untuk lebih dekat
kepada kebenaran, marilah kita katakan bahwa menurut
perhitungan Yahudi, terciptanya alam terjadi pada abad
XXXVII SM.

Apakah yang diajukan kepada kita oleh Sains modern?
Sukarlah kiranya untuk menjawab pertanyaan yang
mengenai terbentuknya alam; yang dapat kita katakan
adalah waktu terbentuknya sistem matahari (solair).
karena ini dapat kita kira-kirakan dengan cara yang
memuaskan. Orang memperkirakan bahwa antara waktu
terciptanya alam dan waktu sekarang, kirakira 4.5
milliard tahun. Dengan begitu dapat kita ukur perbedaan
antara kebenaran yang sudah ditetapkan oleh ilmu
pengetahuan (dan yang akan kita bicarakan secara
panjang dalam bagian ketiga dari buku ini) dan hal-hal
yang dibicarakan oleh Perjanjian Lama. Hal-hal terakhir
ini adalah hasil dari penyelidikan yang teliti terhadap
teks Bibel. Kitab Kejadian memberi keterangan yang
persis mengenai perbedaan waktu antara Adam dan
Ibrahim. Daftar tahun antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isa
tidak lengkap dan perlu dilengkapi dengan sumber-sumber
lain.


BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Banjir Nabi Nuh

Fasal 6, 7 dan 8 daripada Kitab Kejadian dipergunakan
untuk meriwayatkan banjir untuk lebih tepat, saya
katakan bahwa ada dua riwayat yang tidak ditulis satu
di samping lainnya, akan tetapi terpisah dengan
kalimat-kalimat yang memberi kesan seperti adanya
kesinambungan antara berbagai-bagai dongeng. Akan
tetapi sesungguhnya dalam tiga fasal tersebut terdapat
kontradiksi yang menyolok. Kontradiksi tersebut dapat
diterangkan dengan adanya dua sumber yang berlainan,
yaitu sumber Yahwist dan sumber Sakerdotal.

Kita telah melihat sebelum ini bahwa dua sumber
tersebut membentuk suatu campuran yang pincang. Tiap
teks asli dipotong-potong dalam paragraf-paragraf dan
kalimat-kalimat, dengan unsur daripada satu sumber
berseling dengan unsur-unsur dari sumber yang lain,
sehingga dalam teks Perancis, orang melompat dari satu
sumber ke sumber yang lain tujuh belas kali, sepanjang
hanya seratus baris.

Secara keseluruhan, hikayat banjir adalah sebagai
berikut:

Karena maksiat manusia sudah sangat umum, Tuhan
memutuskan untuk memusnahkan manusia dan
makhluk-makhluk hidup lainnya, Tuhan memberi tahu Nabi
Nuh dan memerintahnya untuk membikin perahu, serta
membawa muatan yang terdiri dari isterinya, tiga orang
anaknya dengan isteri-isteri mereka, serta beberapa
makhluk hidup lain. Mengenai makhluk-makhluk hidup ini,
dua sumber berbeda. Satu riwayat yang berasal dari
sumber Sakerdotal mengatakan Nuh membawa satu pasang
dari tiap jenis. Kemudian dalam kata-kata berikutnya
(berasal dan sumber Yahwist) dikatakan bahwa Tuhan
memerintahkan mengambil 7 dari tiap-tiap jenis jantan
dan betina dari jenis yang suci, dan hanya satu pasang
dari jenis yang tidak suci.

Akan tetapi lebih lanjut lagi, dikatakan bahwa Nuh
hanya membawa dalam perahu itu satu pasang daripada
tiap jenis. Ahli-ahli Perjanjian Lama seperti R.P. de
Vaux mengatakan bahwa teks semacam itu merupakan teks
Yahwist yang sudah dirubah.

Satu paragraf (dari sumber Yahwist) mengatakan bahwa
sebab banjir adalah air hujan, sedang paragraf lain
(dari sumber Sakerdotal) mengatakan bahwa sebab banjir
adalah dua yaitu air hujan dan sumber-sumber dari
tanah.

Seluruh bumi telah tenggelam sampai diatas puncak
gunung. Segala kehidupan musnah. Setelah satu tahun,
Nabi Nuh keluar dari perahunya yang telah berada diatas
puncak gunung Ararat setelah air bah menurun.

Di sini kita harus menambahkan bahwa lamanya banjir itu
berbeda menurut sumbernya. Sumber Yahwist mengatakan 40
hari sedang sumber Sakerdotal mengatakan 50 hari.

Sumber Yahwist tidak memastikan pada umur berapa banjir
itu dialami oleh Nabi Nuh, tetapi sumber Sakerdotal
mengatakan bahwa banjir itu terjadi waktu Nabi Nuh
berumur 600 tahun.

Sumber Sakerdotal juga memberi penjelasan tentang tahun
terjadinya banjir yaitu dengan tabel silsilahnya, baik
dari segi Nabi Adam maupun dari segi Nabi Ibrahim. Oleh
karena menurut perhitungan yang dilakukan atas dasar
Kitab Kejadian, Nabi Nuh dilahirkan 1056 tahun sesudah
Nabi Adam (silahkan lihat tabel nenek moyang dari
Ibrahim) maka banjir telah terjadi 1656 tahun sesudah
lahirnya Nabi Adam. Akan tetapi dilihat dari segi Nabi
Ibrahim, Kitab Kejadian menempatkan terjadinya banjir
pada 292 tahun sebelum lahirnya Nabi Ibrahim tersebut.

Menurut Kitab Kejadian, banjir mengenai seluruh jenis
manusia dengan seluruh makhluk hidup yang diciptakan
oleh Tuhan telah mati di atas bumi. Kemanusiaan telah
dibangun kembali, dimulai dengan tiga orang putra Nuh
dan isteri-isteri mereka, sedemikian rupa bahwa tiga
abad kemudian lahirlah Nabi Ibrahim, dan Nabi Ibrahim
mendapatkan jenis manusia sudah pulih kembali dalam
kelompok-kelompok bangsa. Bagaimana dalam waktu yang
singkat, jenis manusia dapat pulih kembali? Soal ini
telah menghilangkan kepercayaan kepada riwayat banjir
tersebut.

Di samping itu, bukti-bukti sejarah menunjukkan
ketidakserasian riwayat tersebut dengan ilmu
pengetahuan modern. Sekarang ini ahli sejarah
menempatkan Nabi Ibrahim pada tahun 1800-1850 SM. Jika
banjir telah terjadi 3 abad sebelum Nabi Ibrahim
seperti yang diterangkan oleh Kitab Kejadian dalam
silsilah keturunan para Nabi, ini berarti bahwa banjir
telah terjadi pada abad XXI atau XXII SM. Pada waktu
itu, menurut ilmu sejarah modern, di beberapa tempat di
dunia ini sudah bermunculan bermacam-inacam peradaban
yang bekas-bekasnya telah sampai kepada kita. Waktu
itu, bagi Mesir merupakan periode sebelum Kerajaan
Pertengahan (tahun 2100 SM), kira-kira zaman peralihan
pertama sebelum dinasti ke sebelas. Waktu itu, adalah
periode dinasti ketiga di kota Ur atau Babylon. Kita
tahu dengan pasti bahwa tak ada keterputusan dalam
kebudayaan, jadi tak ada pemusnahan jenis manusia
seperti dikehendaki oleh Bibel.

Oleh karena itu maka kita tak dapat memandang tiga
riwayat Bibel sebagai menggambarkan kejadian-kejadian
yang sesuai dengan kebenaran. Jika kita ingin bersikap
obyektif kita harus mengakui bahwa teks-teks yang kita
hadapi tidak merupakan pernyataan kebenaran. Mungkinkah
Tuhan memberikan sebagai wahyu kecuali hal-hal yang
benar? Kita tak dapat menggambarkan Tuhan yang memberi
pelajaran kepada manusia dengan perantaraan khayal dan
khayal yang kontradiksi. Dengan begitu maka kita
terpaksa membentuk hipotesa bahwa Bibel adalah tradisi
yang secara lisan diwariskan dari suatu generasi kepada
generasi yang lain, atau hipotesa bahwa Bibel adalah
suatu teks dari tradisi-tradisi yang sudah tetap. Jika
seseorang mengatakan bahwa suatu karya seperti Kitab
Kejadian telah dirubah-rubah sedikitnya dua kali selama
tiga abad, maka tidak mengherankan jika kita
mendapatkan didalamnya kekeliruan-kekeliruan atau
riwayat yang tidak sesuai dengan hal-hal yang telah
diungkapkan oleh kemajuan pengetahuan manusia, yaitu
kemajuan yang jika tidak memberi ilmu tentang segala
sesuatu, sedikitnya kemajuan yang memungkinkan
seseorang mendapat pengetahuan yang cukup untuk menilai
keserasian dengan riwayat-riwayat kuno. Tidak ada yang
lebih logis daripada berpegangan bahwa interpretasi
kesalahan teks-teks Bibel itu hanya menyangkut manusia.

Sangat disayangkan, bahwa interpretasi semacam ini
tidak diakui oleh kebanyakan ahli tafsir Bibel, baik
orang Yahudi maupun orang Kristen. Tetapi walaupun
begitu argumentasi mereka perlu kita perhatikan.

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

SIKAP PENGARANG PENGARANG KRISTEN

IV. SIKAP PENGARANG PENGARANG KRISTEN
TERHADAP KESALAHAN ILMIAH DARI TEKS BIBEL

PENELITIAN MEREKA YANG KRITIS

Kita merasa heran karena reaksi yang berbeda-beda yang
ditunjukkan oleh ahli tafsir Kristen terhtadap kumpulan
kesalahan-kesalahan, kekeliruan dan kontradiksi ini. Di
antara mereka ada yang mengakui sebagian
kesalahan-kesalahan tersebut dan tidak segan-segan
membicarakan soal-soal yang rumit itu dalam
karangan-karangan mereka. Ada golongan lain yang secara
lihai menghindari hal-hal yang tak dapat dipertahankan,
tetap mempertahankan kemurnian Bibel kata demi kata
serta berusaha meyakinkan orang lain dengan
keterangan-keterangan yang bersifat apologetik dengan
memakai argumentasi yang tak terduga, dan dengan begitu
mengharap orang lain akan melupakan soal-soal yang
ditolak oleh logika.

R. P. de Vaux, dalam pengantar terjemahan Kitab
Kejadian mengakui adanya kritik-kritik dan mengakui
pula kebenaran kritik-kritik tersebut, akan tetapi,
baginya, tidaklah penting untuk mengadakan penyusunan
baru terhadap kejadian-kejadian pada masa yang lampau.
Ia menulis dalam catatan-catatannya: bahwa Bibel
menyebutkan kenangan sesuatu atau beberapa banjir yang
dahsyat di lembah Tigris atau Euphrate, yaitu
banjir-banjir yang dibesar-besarkan dalam tradisi
sehingga menjadi suatu bencana dunia, adalah tidak
penting; yang penting adalah bahwa pengarang Kitab
Kejadian telah mengisi kenangan itu dengan ajaran abadi
mengenai keadilan dalam rahmat Tuhan, serta kejahatan
manusia, dan keselamatan bagi orang yang benar.

Dengan begitu maka untuk merubah suatu legenda rakyat
menjadi suatu kejadian suci yang perlu diyakini oleh
umat beragama, adalah suatu tindakan yang dapat
dibenarkan selama pengarang memakainya untuk contoh
dalam pelajaran agama. Sikap apologetik semacam itu
akan membenarkan segala macam penyalahgunaan
tulisan-tulisan yang dianggap suci dan mengandung sabda
Tuhan. Membenarkan campur tangan manusia dalam hal-hal
yang suci berarti menutupi segala perubahan-perubahan
yang dilakukan oleh manusia terhadap teks Bibel. Jika
terdapat suatu maksud teologik maka segala perubahan
dibolehkan, dan dengan begitu maka orang membenarkan
perubahan-perubahan yang dilakukan oleh
pengarang-pengarang Sakerdotal (pendeta-pendeta) pada
abad VI serta kesibukan-kesibukan legalistis yang
akhirnya menghasilkan riwayat-riwayat khayalan yang
sudah kita lihat.

Ada kelompok yang tidak kecil daripada ahli-ahli tafsir
Kristen yang merasa bangga untuk menerangkan
kekeliruan, kesalahan dan kontradiksi yang terdapat
dalam Bibel dengan mengemukakan alasan bahwa para
pengarang Bibel terpengaruh oleh faktor-faktor sosial
daripada peradaban atau mental yang berbeda dengan
peradaban dan mental sekarang; ini berarti bahwa
persoalan kekeliruan dan kontradiksi tersebut berakhir
dan menjelma menjadi suatu jenis yang khusus daripada
kesusasteraan. Penggunaan istilah "suatu jenis yang
khusus daripada kesusasteraan" ini dalam perdebatan
yang rumit di antara para ahli tafsir Bibel telah dapat
menutupi segala kesulitan. Tiap kontradiksi antara dua
teks dapat dijelaskan dengan: perbedaan cara ekspresi
daripada tiap pengarang, khususnya perbedaan gaya
sastranya. Sudah tentu argumentasi seperti ini tidak
dapat diterima oleh semua orang, karena argumentasi
tersebut tidak serius. Tetapi argumentasi tersebut
masih ada orang yang memakainya sekarang, dan dalam
membicarakan Perjanjian Baru, kita akan melihat
orang-orang menafsirkan kontradiksi yang ada didalamnya
dengan cara yang berlebihan.

Suatu cara lain untuk memaksakan hal-hal yang tak dapat
diterima oleh logika dalam teks Bibel adalah dengan
mengelilingi teks tersebut dengan
pertimbangan-pertimbangan apologetik. Dengan begitu
maka perhatian pembaca dialihkan dari problema crucial
mengenai kebenaran kepada problema-problema lain.

Pemikiran-pemikiran Kardinal Danielou mengenai Banjir
yang dimuat dalam majalah Dieu Vivant (Tuhan yang
hidup), nomor 38 tahun 1947 halaman 95-112 dengan judul
"Banjir Pembaptisan dan Hukuman," menunjukkan cara
tersebut. Ia menulis: "Tradisi yang paling kuno
daripada Gereja telah terlihat dalam Teologi Banjir,
gambar Yesus Kristus dan gambar Gereja. Ini adalah
hikayat yang besar sekali artinya. Hukuman yang
mengenai seluruh umat manusia." Setelah mengutip
Origene yang dalam karangan: "Ceramah tentang
Yehezkiel," membicarakan tentang tenggelamnya seluruh
Dunia dan diselamatkannya dalam Perahu, Kardinal
Danielou tersebut membicarakan tentang pentingnya angka
delapan (yang menunjukkan jumlah orang yang
diselamatkan oleh Perahu; Nuh dan isterinya serta tiga
orang anaknya dan isteri-isteri mereka). Ia mengulangi
yang ditulis oleh Yusten dalam Dialognya "mereka itu
memberikan simbol hari ke delapan, hari Yesus Kristus
dibangkitkan dari mati" dan ia menulis: "Nuh, yang
dilahirkan pertama daripada penciptaan baru, suatu
citra Yesus Kristus yang merealisir apa yang
digambarkan oleh Nuh." Ia meneruskan perbandingan
antara Nuh yang diselamatkan oleh kayunya perahu dan
oleh air yang mengapungkannya, dan air pembaptisan (air
Banjir yang melahirkan kemanusiaan baru) dan kayu
salib. Kardinal menekankan nilai simbolisme dan menutup
uraiannya dengan menekankan kekayaan spiritual dan
doktrinal daripada sakramen Banjir!

Banyak sekali yang dapat dikatakan mengenai
pendekatan-pendekatan apologetik. Pendekatan semacam
itu menerangkan suatu kejadian yang tak dapat
dipertahankan kebenarannya, dan pada waktu yang
diterangkan oleh Bibel, dengan penjelasan yang bersifat
universal. Dengan tafsiran seperti yang ditulis oleh
Kardinal Danielou kita kembali ke abad pertengahan di
mana kita harus menerima teks apa adanya dan segala
pembicaraan mengenainya terlarang kecuali pembicaraan
yang menguatkan.

Meskipun begitu, saya merasa segar bahwa sebelum
periode obscurantisme yang dipaksakan ini, kita baca
sikap-sikap yang logik seperti sikap Agustinus yang
menunjukkan pemikiran yang maju, lebih dahulu daripada
pemikiran yang ada pada masa hidupnya.

Pada periode pendeta-pendeta Gereja, problema kritik
teks sudah terasa oleh karena Agustinus menyebutkannya
dalam suratnya no. 82, yaitu yang mengandung
kalimat-kalimat penting sebagai berikut: "Khusus kepada
fasal-fasal dari Bibel, yang dinamakan kanonik (yang
telah dilegalisir oleh Paus) saya memberi perhatian dan
kehormatan, dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa tak
seorangpun daripada para pengarang-pengarangnya yang
melakukan kekeliruan dalam menulisnya. Jika dalam
fasal-fasal itu saya jumpai suatu pernyataan yang
kelihatan bertentangan dengan kebenaran, maka saya
tidak ragu untuk mengatakan bahwa: teks (yang saya
baca) itu salah, atau si penterjemah tidak
menterjemahkan teks asli sebaik-baiknya, atau pikiran
saya kurang cerdas.

Bagi Agustinus, tak terbayang bahwa suatu teks kitab
suci dapat mengandung kesalahan. Agustinus memberi
penjelasan tentang "dogma bahwa Bibel tidak bisa salah"
secara terang dan jelas. Jika ada kalimat-kalimat yang
nampaknya kontradiksi dengan kebenaran, ia mencari
sebabnya, dan tidak mengenyampingkan kemungkinan sebab
itu datang dari manusia. Sikap semacam itu adalah sikap
orang yang percaya dan mempunyai daya kritik. Pada
zaman Agustinus ( 354 - 430 M ) belum ada kemungkinan
konfrontasi antara teks Bibel dan Sains. Suatu
pandangan yang luas yang serupa dengan pandangan
Agustinus akan menghilangkan kesulitan-kesulitan yang
disebabkan konfrontasi antara beberapa teks dalam Bibel
dengan pengetahuan ilmiah.

Sebaliknya, para spesialis pada masa kita sekarang
merasa bangga untuk mempertahankan teks Bibel terhadap
sangkaan kesalahan. R.P. de Vaux, dalam Pengantar
kepada Kitab Kejadian memberikan sebab-sebab yang
mendorongnya untuk mempertahankan teks Bibel, walaupun
teks tersebut ternyata tidak dapat diterima dan segi
sejarah atau dari segi Sains. Ia meminta kita "supaya
jangan memandang sejarah dalam Bibel dengan kacamata
metode-metode yang diikuti oleh orang-orang modern,"
seakan-akan ada beberapa cara untuk menulis sejarah.
Jika sejarah itu ditulis dengan cara yang tidak betul,
maka ia menjadi roman sejarah. Tetapi dalam hal ini,
sejarah menjadi terlepas dari konsep-konsep kita.
Ahli-ahli tafsir Bibel menolak pengamatan teks Bibel
dengan geologi, paleontologi dan ilmu pra sejarah. Ia
menulis: Bibel tidak ada sangkut pautnya dengan
disiplin-disiplin tersebut. Jika seseorang ingin
mengkonfrontasikan Bibel dengan ajaran Sains, ia hanya
akan mencapai sebagai hasilnya, suatu pertentangan yang
tidak riil, atau suatu persesuaian yang "semu." Perlu
diterangkan disini bahwa pemikiran-pemikiran ini
dikemukakan berhubung dengan hal-hal yang terdapat
dalam Kitab Kejadian yang sama sekali tidak sesuai
dengan Sains modern yakni yang terkandung dalam 11
fasal yang pertama. Tetapi jika ada bagian-bagian Bibel
yang sekarang ini diperkuat oleh ilmu pengetahuan,
umpamanya beberapa hikayat dari zaman nabi-nabi bangsa
Israil, pengarang tidak segan-segan memakai pengetahuan
modern untuk menunjang kebenaran Bibel. Ia menulis
dalam halaman 34: Keragu-raguan terhadap hikayat ini
harus disingkirkan karena sejarah dan arkeologi Timur
telah memberikan kesaksian yang menguntungkan. Dengan
kata lain: jika Sains berfaedah untuk menguatkan teks
Bibel ia menggunakannya; jika Sains melemahkan teks
Bibel, orang tak boleh mempergunakan Sains untuk
menyesuaikan hal-hal yang tidak dapat disesuaikan,
yakni untuk menyesuaikan teori bahwa Bibel itu mutlak
benar. Dengan kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam
Perjanjian Lama, ahli-ahli teologi modern mencoba
meninjau kembali tentang konsep klasik mengenai
kebenaran. Untuk menyebutkan secara terperinci
argumentasi-argumentasi rumit yang berkembang dalam
karangan-karangan mengenai Kebenaran Bibel seperti
karangan O. Lorentz (1972) "Apakah kebenaran Bibel itu
(quelle est la verite de la Bibel), akan membawa kita
keluar dari rangka buku ini; cukuplah kiranya jika kita
cantumkan disini pantangannya mengenai Sains."

Penulis menyebutkan bahwa Konsili Vatikan II
berhati-hati untuk memberi patokan guna membedakan
antara kekeliruan dan kebenaran dalam Bibel.
Pertimbangan-pertimbangan fundamental menunjukkan bahwa
hal tersebut adalah mustahil oleh karena Gereja tidak
dapat memutuskan kebenaran atau kesalahan metode ilmiah
sehingga ia juga tidak dapat memutuskan kebenaran Bibel
secara umum dan menurut prinsip.

Memang jelas bahwa Gereja tak dapat mengatakan terus
terang mengenai metode ilmiah sebagai usaha untuk
sampai kepada Pengetahuan. Tapi itu bukan persoalan
yang kita bicarakan. Kita tidak membicarakan
teori-teori tetapi membicarakan fakta yang jelas.
Apakah kita harus menjadi pendeta besar di zaman kita
ini untuk mengetahui bahwa alam itu tidak diciptakan
dan bahwa manusia itu tidak timbul di dunia ini
semenjak 37 atau 38 abad, atau mengetahui bahwa
perkiraan yang didasarkan atas silsilah keturunan dalam
Bibel mungkin dianggap salah, tanpa ada resiko
kekeliruan. Pengarang yang namanya disebut di sini (O.
Lorentz) tentu mengetahui hal ini. Keteranganrrya
tentang Sains hanya dimaksudkan untuk mengelakkan
persoalan, karena ia tidak membahas persoalan tersebut
secara yang semestinya.

Bahwa kita menyebutkan sikap para pengarang Kristen
dalam menghadapi kekeliruan ilmiah dalam teks Bibel
menunjukkan kesulitan yang timbul karenanya dan
menunjukkan pula bahwa tidak mungkin untuk menerangkan
sikap yang logis kecuali dengan mengakui bahwa
kekeliruan-kekeliruan itu berasal dari manusia dan
rasanya tidak mungkinlah untuk menerima
kekeliruan-kekeliruan tersebut sebagai suatu bagian
daripada wahyu.

Krisis yang mencekam kalangan-kalangan Gereja mengenai
wahyu telah terungkap dalam Konsili Vatikan II
(1962-1965), di mana diperlukan lebih dari 5 redaksi
untuk sampai kepada suatu teks final sesudah perdebatan
selama 3 tahun. Dengan begitu maka berakhirlah "situasi
yang parah dan mengancam bubarnya Konsili," menurut
kata-kata Monsieur Weber dalam kata pengantarnya untuk
dokumen no. 4 mengenai: Wahyu.

Dua kalimat dalam dokumen Konsili Vatikan mengenai
Perjanjian Lama (fasal 4, halaman 3) menyebutkan
kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan beberapa
teks dengan cara yang tidak dapat lagi dibantah.

Dengan mengingat situasi manusia sebelum keselamatan
yang ditegakkan oleh Yesus Kristus, kitab-kitab
(fasal-fasal) Perjanjian Lama memungkinkan kepada kita
semua untuk mengetahui siapa Tuhan itu dan siapa
manusia itu, begitu juga rasanya Tuhan dalam
keadilanNya dan rahmatNya bertindak terhadap manusia.
Kitab-kitab (fasal-fasal) itu walaupun mengandung
hal-hal yang tidak sempurna dan lemah, merupakan saksi
dari pendidikan ilahi yang benar.6

Dengan kata "imparfait" (tidak sempuma) dan "Caduc"
(lemah) yang dipakai untuk memberi ciri kepada beberapa
teks, berarti bahwa teks-teks tersebut dapat dikritik
dan dapat ditinggalkan. Prinsip ini telah diterima
secara jelas sekali.

Teks ini merupakan satu bagian daripada deklarasi umum
yang mendapat 2344 suara pro dan 6 kontra. Tetapi
sesungguhnya tidak diperlukan adanya gambaran hampir
aklamasi. Dalam tafsiran dokumen resmi, di bawah tanda
tangan Monsigneur Weber kita dapatkan suatu kalimat
yang dengan jelas mengoreksi adanya "caducite"
(kelemahan) beberapa teks yang termasuk dalam deklarasi
agung daripada Konsili "Tidak ada syak lagi bahwa
beberapa fasal dari Bibel Israil mempunyai sifat
"sementara" dan sifat "tidak sempurna."

"Caduc" suatu kata dalam deklarasi resmi, tidak sinonim
dengan "sifat sementara" yang dipakai oleh juru tafsir.
Mengenai kata sifat "Israilite" yang ditambahkan,
memberi kesan bahwa deklarasi Konsili hanya dapat
mengkritik versi Ibrani; padahal soalnya tidak begitu.
Yang menjadi sasaran Konsili adalah Perjanjian Lama,
dan Perjanjian Lama itulah yang dianggap mengandung
kekurangan dan kelemahan dalam beberapa bagiannya.

V. KESIMPULAN

Kita harus memandang Bibel bukan dengan melekatkan
kepadanya secara resmi sifat-sifat yang kita inginkan
untuknya, tetapi, dengan menelitinya sebagaimana adanya
secara obyektif. Ini memerlukan pengetahuan tentang
teks dan juga tentang sejarah teks-teks tersebut.
Sejarah teks memungkinkan kita memperoleh idea tentang
keadaan-keadaan yang mendorong kepada terjadinya
perubahan-perubahan teks selama beberapa abad, kepada
terbentuknya teori yang kita miliki secara pelan-pelan
dengan beberapa pengurangan atau penambahan.

Hal-hal tersebut memungkinkan sekali bahwa dalam
Perjanjian Lama kita mendapatkan versi bermacam-macam
mengenai sesuatu hikayat, atau mendapatkan
kontradiksi-kontradiksi, kekeliruan sejarah, kesalahan
dan ketidak sesuaian dengan pengetahuan-pengetahuan
ilmiah yang sudah pasti. Hal-hal yang akhir ini sangat
wajar dalam karya manusia kuno, sehingga wajar pula
jika kita menemukannya dalam buku-buku yang ditulis
dalam kondisi tersusunnya teks Bibel.

Sebelum problema ilmiah muncul, dalam periode di mana
orang belum dapat mengatakan tidak benar atau
kontradiksi, seseorang yang berperasaan sehat seperti
Agustinus, berpendapat bahwa Tuhan tidak mungkin
mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak sesuai
dengan kebenaran, dan ia membentuk suatu prinsip yaitu:
kemustahilan bahwa pernyataan yang tidak sesuai dengan
kebenaran itu berasal dari Tuhan. Dan karena itu ia
bersedia untuk mengeluarkan hal yang semacam itu dari
Bibel.

Kemudian, ketika orang sudah dapat memahami bahwa
beberapa bagian Bibel tidak sesuai dengan pengetahuan
modern, manusia tidak suka mengikuti sikap seperti
tersebut di atas. Dengan begitu kita mengalami
perkernbangan teratur yang bertujuan untuk memelihara
dalam Bibel teks-teks yang mestinya sudah tidak
mempunyai tempat lagi.

Konsili Vatikan II (1962-1965) telah meredakan sikap
yang keras ini dengan mengemukakan reserve untuk
"fasal-fasal Perjanjian Lama" yang mengandung "hal-hal
yang kurang sempurna dan hal-hal yang lemah." Apakah
sifat reserve tersebut merupakan suatu pandangan taqwa
semata-mata atau akan disusul dengan perubahan sikap
terhadap hal-hal yang tak dapat diterima lagi pada abad
XX dalam buku-buku yang jika diselamatkan dari
perubahan-perubahan yang dibikin oleh manusia, hanya
akan dijadikan oleh Tuhan sebagai saksi daripada
pendidikan suci yang hakiki.


sumber :

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi