Home » » Tentang Arti‘Petros’ dan ‘Petra’

Tentang Arti‘Petros’ dan ‘Petra’



1. Yesus berbicara dalam bahasa Aram?
Pandangan Protestan di atas seolah mengatakan bahwa pada Mat 16:18, Yesus tidak berbicara dalam bahasa Aram, atau anggapan bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram itu hanyalah suatu spekulasi. Namun jika kita membaca ayat- ayat Kitab Suci lainnya, kita mengetahui bahwa memang sesungguhnya nama yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada Simon Petrus adalah Kepha (= Kefas dalam terjemahan Indonesia), yaitu suatu kata bahasa Aram yang berarti batu karang. Ini disebutkan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya (Yoh 1:42), dan juga oleh Rasul Paulus dalam suratnya (Gal 1:18). Maka para rasul yang lain mengingat bahwa nama yang Tuhan Yesus berikan kepada Simon adalah ‘Kefas’, dari bahasa Aram. Maka, sebenarnya ayat  Mat 16:18 itu sesungguhnya mengatakan, “Kamu adalah Kefas, dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Dan Kefas ini adalah Rasul Simon Petrus.
Di Kitab Suci sendiri kita mengetahui perkataan lain, seperti “Eli, Eli, lama sabakhtani” (Mat 27:46; Mrk 15:34) yang juga adalah bahasa Aram. Dan dengan demikian bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram bukanlah suatu spekulasi. Bahwa Kitab Suci kemudian dituliskan dalam bahasa Yunani, itu berhubungan dengan kondisi saat itu yang memang menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa dalam literatur (dan juga percakapan); namun itu tidak mengubah kenyataan bahwa Yesus sebenarnya memberikan nama “Kefas” dari kata Aram, kepada Simon, yang dalam bahasa Yunani-nya diterjemahkan sebagai “Petros”, sehubungan dengan gender maskulin yang ada dalam tata bahasa Yunani untuk nama seorang pria.
2.“Petros”= batu kecil; “Petra” = batu besar?
Paham Protestan umumnya mengatakan bahwa “Petros” artinya batu kecil dan “Petra” artinya batu besar/ batu karang. Sehingga, paham ini berkesimpulan bahwa perkataan Yesus, “Kamu adalah Petros, dan di atas petra ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” menunjukkan bahwa ‘Petros’ dan ‘petra’ ini tidak sama. Petros adalah nama lain Simon, sedangkan ‘petra’ / batu karang adalah untuk diartikan sebagai Kristus sendiri ataupun pengakuan iman Simon.
Para apologist Katolik umumnya mengatakan bahwa sebenarnya ‘petros’ dan ‘petra’ mengacu kepada arti yang tidak berbeda, yaitu sama- sama batu besar. Hal ini juga dikatakan oleh ahli bahasa Yunani Protestan yaitu D.A Carson dalam bukunya “Matthew”. in Frank E. Gaebelein, ed. The Expositor’s Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 1984), vol.8, 368; dan Joseph Thayer, dalam bukunya Thayer’s Greek- English Lexicon of the New Testament (Peabody: Hendrickson, 1996), 507.
Kata “batu kecil” yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah ‘lithos‘, bukan ‘petros‘. Maka kata ‘lithos‘ (bentuk jamaknya adalah ‘lithoiyang dipakai dalam ayat Mat 4:3, pada saat Iblis mencobai Yesus, untuk mengubah batu- batu (lithoi) menjadi roti. Kata ‘lithoi‘ ini juga yang dipakai oleh Rasul Petrus pada saat menasihati jemaat agar hidup sebagai batu (‘lithoi‘) yang hidup yang membentuk sebuah rumah rohani (1 Pet 2:5). Kalau seandainya Yesus (dan Matius) menginginkan ditampilkan perbedaan ini (batu besar dan batu kecil) maka yang digunakan harusnya adalah, “Kamu adalah lithos (batu kecil) dan di atas petra (batu besar) ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Jika demikian malah kalimatnya menjadi tidak logis bukan, karena sepertinya tidak ‘nyambung’.
Kita perlu melihat bahwa kalimat tersebut terdiri dari dua bagian kalimat yang dihubungkan oleh kata “dan”. Matius memilih kata “kai” untuk menghubungkan kedua bagian kalimat itu, di mana kata “kai” itu mengacu kepada “pronoun”/ subyek yang sama yang sudah disebut sebelumnya. Selanjutnya, digunakan kata ‘tauteyang kalau dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “this very“, atau dalam bahasa Indonesianya adalah “dan inilah”. Maka sesungguhnya, yang ingin dikatakan oleh Yesus adalah, “Kamu adalah Petros (batu karang), dan di atas petra (batu karang) inilah, Aku akan mendirikan Gereja-Ku.”
Jika maksud Yesus adalah untuk membedakan keduanya, Matius seharusnya menggunakan kata “alla“  yaitu “tetapi” sehingga tidak mengacu kepada subyek yang sedang dibicarakan sebelumnya, atau dapat diartikan sebagai batu yang lain. Tetapi kita mengetahui tidak demikian halnya.
Maka untuk menjawab pertanyaan di atas: kalau memang Petros dan petra sama artinya, mengapa tidak ditulis “Engkau adalah Petros, dan di atas petros ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku”? Jawabannya adalah: karena dalam tata bahasa Yunani dikenal sistem gender, seperti halnya dalam bahasa Latin, di mana batu karang (secara literal) itu mempunyai gender feminin dengan akhirannya adalah “a”.  Maka Yesus memberi nama baru kepada Simon, untuk dihubungkan dengan karakter yang dilambangkannya yaitu batu karang (petra); yang memang terpampang di hadapan mereka pada saat Yesus mengatakan hal ini kepada mereka, di Kaisaria, Filipi. [Silakan anda klik di wikipedia atau sumber internet lainnya untuk melihat potret lokasi Caesarea, Phillipi, agar anda lebih memahami konteks yang dibicarakan di sini].
3. Petra” di sini artinya “pengakuan iman Petrus” dan bukan Petrus?
Ada juga pandangan Protestan yang mengatakan bahwa “batu karang”/ petra yang dimaksud di sini adalah “pengakuan Petrus” dan bukannya Petrus sendiri. Pandangan ini sesungguhnya adalah pandangan yang hanya mengambil interpretasi alegoris/ simbolis tetapi tidak mau mengambil arti literalnya. Sebaliknya, Gereja Katolik mengambil keduanya, yaitu “petra”/ batu karang (Mat 16:18) tersebut mengacu kepada Petrus (arti literal) oleh sebab pengakuan imannya akan Kristus sebagai Anak Allah yang hidup (arti alegoris/ simbolis).
Banyak ahli Kitab Suci Protestan mengakui bahwa Petruslah “batu karang” yang dimaksud dalam pernyataan Yesus ini. Silakan klik di sini untuk membaca pengajaran mereka, antara lain Oscar Cullmann (Lutheran), Eduard Schweizer, Francis W. Beare dan Thomas G. Long (Reformed), D.A Carson, Herman Ridderbos, Caig Blomberg, Craig Keener (Evangelis Protestan), R. T France (Anglikan). Cullmann menuliskan, “Tapi apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika mengatakan: “Di atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku?” Ide para Reformer bahwa Ia [Yesus] mengacu kepada iman Petrus adalah sangat tidak terbayangkan (inconceivable)…. Sebab tidak ada referensi yang mengacu kepada iman Petrus. Yang ada, paralel/ perbandingan antara “Kamu adalah Batu Karang” dan “di atas Batu Karang ini Aku akan membangun” menunjukkan bahwa Batu Karang yang kedua adalah sama dengan Batu Karang yang pertama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Yesus mengacu kepada Petrus, yang kepadanya Ia telah memberi nama Batu Karang. Ia telah menunjuk Petrus… Dalam hal ini exegesis Gereja Katolik benar, dan semua usaha gereja Protestan untuk menghapuskan interpretasi ini harus ditolak. (lihat Oscar Cullmann, dalam artikel “Rock̶1; (petros, petra) trans. and ed. by Geoffrey W. Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (Eerdmans Publishing, 1968), volume 6, p. 108).”
4. Hanya Tuhan saja yang dapat disebut “Batu Karang”?
Argumen lainnya dari umat Protestan adalah bahwa hanya Tuhan-lah yang layak disebut sebagai ‘Gunung Batu/ batu karang’, seperti yang ditulis dalam Yes 44:8, “Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!” dan 1 Kor 10:4, “sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.”
Memang Tuhan disebut sebagai ‘Gunung Batu’/ ‘the Rock‘ di Yes 44:8, dan bahkan di banyak ayat lainnya. Namun juga di tujuh bab kemudian dalam kitab Yesaya, yaitu Yes 51: 1-2, dikatakan Abraham adalah gunung batu yang daripadanya bangsa Israel terpahat. Serupa dengan hal ini adalah: Yesus disebut sebagai dasar Gereja (1 Kor 3:11) tetapi dalam Why 21:14 dan Ef 2:20, dikatakan bahwa dasar Gereja adalah para rasul. Atau dikatakan bahwa Yesus adalah Terang Dunia (Yoh 9:5) tetapi Kitab Suci juga mengatakan bahwa kita sebagai murid- murid Kristus adalah terang dunia (Mat 5:14). Juga, Yesus adalah Sang Rabi/ guru pengajar, namun ada banyak pengajar di dalam Tubuh Kristus (Ef 4:11; Yak 3:1).
Maka bukanlah suatu kontradiksi untuk mengatakan jika dasar Gereja adalah para rasul, sebab mereka dapat menjadi dasar Gereja karena mereka ada di dalam Kristus, Sang Dasar/ Pondasi. Demikian juga, Gereja dapat menjadi terang dunia karena ia berada di dalam Kristus yang adalah Terang Dunia. Seorang guru pengajar dapat mengajar karena ia ada di dalam Kristus Sang Guru. Dengan pengertian ini kita mengartikan Petrus sebagai ‘batu karang’. Keberadaannya sebagai ‘batu karang’ tidak mengurangi makna Kristus sebagai ‘Batu Karang/ Gunung Batu’ sebab karakternya sebagai batu karang tersebut diperoleh dari Kristus.
5. Mari mengikuti ajaran St. Agustinus
Di komentar di atas, sang penjawab mengatakan agar kita kembali kepada ajaran St. Agustinus:
For on this very account the Lord said, ‘On this rock will I build my Church,’ because Peter had said, “Thou art the Christ, the son of the living God.’ On this rock, therefore, He said, which thou hast confessed, I will build my church. For the Rock (petra) was Christ; and on this foundation was Peter himself also built. For other foundation no man lay that this is laid, which is Christ Jesus.” (Augustine, Homilies on the Gospel of John).
Tentu saja Gereja Katolik juga setuju dengan ajaran ini, bahwa memang Kristus adalah Sang Batu Karang. Namun mengatakan bahwa Petrus adalah “batu karang” juga tidaklah bertentangan dengan ajaran ini, karena ‘batu karang’ yang dimaksudkan di sini juga tidak untuk diartikan terpisah dari Kristus. Maka Petrus sebagai ‘batu karang’ itu bukan untuk dianggap ’saingan’ Kristus, seolah- olah Petrus adalah batu karang yang lain dengan Kristus. Petrus hanya menerima karakter batu karang dari Kristus Sang Batu Karang; sama seperti kita sebagai murid- murid Kristus menjadi terang dunia karena mengambil sumbernya dari Kristus Sang Terang Dunia.
Selanjutnya, jika mau konsisten, seharusnya sang penjawab surat di atas juga menerima ajaran St. Agustinus berikutnya tentang keutamaan Paus. Tentang ayat Mat 16:18, St. Agustinus menjelaskan kembali dalam bukunya Retractationes, 1, 20,1, demikian:
“…. Tetapi aku mengetahui hal itu sangat sering pada saat- saat berikutnya, sehingga aku menjelaskan apa yang Tuhan katakan: “Kamu adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku’, bahwa itu harus dimengerti sebagai dibangun di atas Dia yang kepada-Nya Petrus mengaku: “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup,” dan oleh karena itu, Petrus, yang dipanggil ‘batu karang’ ini, mewakili Gereja yang didirikan di atas batu karang ini, dan telah menerima ‘kunci-kunci Kerajaan Surga‘….” (lihat St. Augustine: The Retractions, trans. Sister Mary Inez Bogan (Washington, D.C.: Catholic University of America Press, 1968) 60:90-91).
Maka, St. Agustinus mengajarkan bahwa Sang Batu Karang adalah Kristus, di mana Petrus juga membangun di atasnya, namun itu tidak mengubah ajarannya tentang keutamaan Petrus [yang mewakili seluruh Gereja] dan para penerusnya. Ia bahkan menunjukkan pentingnya jalur apostolik ini untuk membuktikan Gereja sejati; untuk menolak ajaran sesat Donatism yang uskup- uskupnya tidak mempunyai jalur apostolik. Sayangnya Luther dan Calvin, yang sama- sama mempelajari St. Agustinus, rupanya ‘menganggap sepi’ ajaran ini, atau hanya memilih sebagian dari ajaran St. Agustinus yang mereka pandang mendukung pandangan mereka.
Berikut ini adalah ajaran St. Agustinus:
“Jika urutan episkopal secara turun temurun adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan, adalah lebih lagi dalam hal kepastian, kebenaran dan keamanan, kita mengurutkannya dari Petrus sendiri, yang kepadanya, sebagai seorang yang mewakili seluruh Gereja, Tuhan Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Petrus digantikan oleh Linus, Linus oleh Klemens, Klemens oleh Anacletus, Anacletus oleh Evaristus, Evaristus oleh Sixtus, Sixtus oleh Telesforus, Telesforus oleh Hyginus, Hyginus oleh Anicetus, Anicetus oleh Pius, Pius oleh Soter. Soter oleh, Alexander, Alexander oleh Victor, Victor oleh Zephyrinus oleh Callistus, Callistus oleh Urban, Urban oleh Pontianus, Pontianus oleh Anterus, Anterus oleh Fabian, Fabian oleh Cornelius, Cornelius oleh Lucius, Lucius oleh Stephen, Stephen oleh Sixtus, Sixtus oleh Dionisius, Dionisius oleh Felix, Felix oleh Eutychian, Eutychian oleh Caius, Caius oleh Marcellus, Marcellus oleh Eusebius, Eusebius oleh Melchiades, Melchiades oleh Sylvester oleh Markus, Markus oleh Julius, Julius oleh Liberius, Liberius oleh Damasus, Damasus oleh Siricius, Siricius oleh Anastasius. Dalam urutan ini tidak ada satupun uskup Donatist ditemukan.”(St. Augustinus, To Generosus, Letter 53, 2 Jurgens, Faith of the Early Fathers, 3:2)
Akhirnya, mari kita melihat argumen masing- masing dan menilai manakah yang lebih masuk akal dan sesuai dengan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Walaupun rangkaian artikel Keutamaan Paus yang ada di situs ini belum lengkap (baru sampai bagian ke-4) namun saya percaya, jika kita mau membacanya dengan hati yang terbuka tanpa prasangka, maka sebenarnya kita semua dapat memahami bahwa ajaran Gereja Katolik tentang keutamaan Paus ini sungguh sangat berdasar, dan bukan sekedar ‘argumen yang kosong’, seperti yang dituduhkan di atas. Keutamaan Paus dan kepemimpinannya atas Gereja tidak hanya didasarkan atas Mat 16:18 saja, tetapi juga sudah dibuktikan dengan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci,  dalam Tradisi Suci para rasul dan ajaran Bapa Gereja.
Perlu diketahui, bahwa banyak dari antara para Apologist Katolik sebelum menjadi Katolik adalah seorang Protestan yang sangat mempelajari Kitab Suci, dan bahkan banyak di antara mereka adalah bekas pendeta. Mereka adalah para ahli Kitab Suci yang selain menguasai bahasa aslinya (Yunani dan Ibrani) juga menguasai sejarah. Beruntunglah kita yang dapat belajar dari para Apologist tersebut yang membangun Gereja Katolik, justru dengan latar belakang mereka sebagai seorang Protestan. Ini justru merupakan bukti yang sangat kuat bahwa jika seseorang sungguh dengan tulus mencari kebenaran, maka ia akan sampai kepada Gereja Katolik. Kepindahan mereka ke Gereja Katolik merupakan bukti bahwa mereka mengasihi Allah, Sang Kebenaran itu, melebihi segala- galanya.
Demikian, yang dapat saya sampaikan untuk pertanyaan anda. Semoga berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati- katolisitas.org
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi