Home » » Perbandingan Agama Islam - Kristen

Perbandingan Agama Islam - Kristen

Jumat, 02 April 2010

Siapa Sebenarnya Yang Mengajarkan Kekerasan dan Radikalisme?

Alhamdulillah seluruh agama yang mau melihat dan mempelajari Islam dari sumbernya maka sungguh pasti akan mendapatkan bahwa Islam adalah agama yang menyebar kasih sayang dan agama yang mengajarkan keteraturan serta kedisiplinan. Apa yang dimaksud dengan sumbernya? sumber agama Islam adalah AlQur’an dan Sunnah Yang Mulia Nabi Besar Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam.

Bahkan para pemeluk islampun apabila kita perhatikan, maka kita akan dapati mereka adalah cermin AlQur’an dan Sunnah, mereka adalah manusia-manusia yang mengenal kasih dan sayang, manusia-manusia yang mengenal keteraturan dan kedisiplinan, mereka adalah orang yang terbaik dari segala suku bangsa dan agama. Kami kaum muslim tidak meminum minuman keras yang dampak akibatnya sangat berbahaya bagi suatu masyarakat. Mengapa? karena agama kami melarang kami untuk mengkomsumsinya. Kami kaum muslim tidak berzina. Mengapa? karena agama kami yang dibawa oleh Yang Mulia Baginda Besar Nabi Muhammad melarang kami, bahkan melarang kami untuk mendekati segala yang menjurus kepada perzinaan. Kami adalah orang santun, orang yang sopan, orang yang sangat toleran, dan tidak pernah mengenal kekerasan, serta tidak pernah memaksakan agama kepada yang lain. Ketika kami menjadi mayoritas suatu masyarakat, kenyataan menyatakan bahwa minoritas terayomi dan terlindungi. Anda dapat membuktikan di seluruh negara yang mayoritasnya umat Islam.

Tapi sungguh tidak sebaliknya, belum tentu ketika kami menjadi minoritas suatu masyarakat kami akan terayomi oleh mayoritas. Lihat Spanyol, Italia, Roma, Vatican, Thailand, Cina, Amerika, Singapura dsb. Betapa banyak tekanan-tekanan yang dilancarkan oleh pemerintah negara-negara tersebut terhadap umat Islam yang minoritas di negara mereka. Anda dapat buktikan hal ini jika anda melihat keadaan dan sejarah pada masa lalu hingga kini. Bahkan selama berabad-abad islam berjaya di bumi indonesia, agama kristen dll tetap berkembang. Mengapa? karena kami tidak pernah memaksakan kehendak dan agama. Bahkan di berbagai penjuru negeri yang dahulu dipimpin oleh pemerintahan Islam, sejak saat itu sampai sekarang masih banyak di dalamnya orang-orang non muslim. Mengapa? sebab kami tidak pernah memaksakan kehendak dan kami tidak bersifat radikal.

Mungkin anda akan membantah perkataan ini karena anda melihat bahwa teror bom dan kekerasan yang terjadi belakang ini di Indonesia tidak lain karena orang-orang islam. Kami katakan bahwa sebaiknya anda tidak menghukum dan menghujat Islam dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan kita semua menyaksikan bahwa sebagian besar mereka yang dituduh sebagai pelaku, sampai saat ini tidak ada bukti yang akurat. Dan beberapa yang memang terbukti bersalah, tidak lain hanyalah sekelompok oknum yang tidak memahami Islam yang dari sumbernya. Walaupun demikian, lantas apakah betul menilai kebobrokan suatu masyarakat karena keberadaan 0,1% orang yang bobrok? Saya yakin setiap orang yang terpelajar akan berpendapat sama dengan saya. Sebab kalau memang penilaian yang demikian dapat dijadikan titik ukur, maka saya katakan bahwa betapa banyak teroris kelas kakap internasional di Italia, Meksiko, Amerika, bahkan di Roma dan Inggris adalah orang yang beragama Kristen? Tanyakan kepada seluruh dunia dan tanyakan kepada orang-orang Yahudi, Siapa Hitler? Apakah ia seorang Muslim? Hindu? Budha? Ataukah ia seorang Kristiani? betul, ia adalah seorng Kristiani yang pidatonya dapat meluluhkan gunung yang keras. Dan semua mengetahui bahwa Hitler di dalam pidatonya sering kali menyebut tentang Yesus, pengabdiannya untuk Yesus, dsb. Dia adalah seorang Kristiani yang berpegang teguh kepada keyakinannya. Tetapi lihat, berapa puluh juta yang telah dibunuh oleh Hitler? Apakah oleh karenanya kita akan menilai seluruh orang Kristen adalah teroris? Tentu tidak. Dan saya yakin anda akan setuju dengan hal itu. Akan tetapi nilailah mereka dari sumber agama mereka. Apakah agama mereka mengajar kekerasan? apakah agama mereka mengajar sikap radikal? apakah agama mereka mengajar sikap terorisme? dan saya menyerukan kepada seluruh kaum kristiani apabila anda mengatakan bahwa Islam agama yang mengajarkan kekerasan, radikal, memaksakan, maka buktikan dari sumbernya, yaitu dari AlQur’an dan Sunnah. 1400 tahun seruan yang sama telah diserukan oleh kaum Muslim kepada umat Kristiani. Dan sampai saat ini kami masih tetap menunggu jawaban.

Tantangan yang sama apabila kaum Kristiani menujukannya kepada kaum Muslim, yaitu membuktikan apakah agama Kristen adalah agama yang mengajarkan kekerasan? maka kami akan menjawab dari sumber Kristen sendiri. Dan kami katakan bahwa agama Kristen memang mengajarkan kekerasan di dalam agamanya bahkan mengajarkan pemaksaan di dalam memeluk agamanya. Dari mana kami dapat menyatakan hal ini? Tentu saja dari Bible umat Kristiani. Dari awal kitab Perjanjian Lama yaitu kitab Kejadian sampai akhir dari Perjanjian Lama, anda akan mendapati dua hal yang banyak dibahas oleh Perjanjian Lama dan bahkan merupakan kebanggaan yang terbesar.

1. Peperangan
2. Seks bebas yang fulgar

Tentang peperangan, anda akan dapati para pahlawan-pahlawan Tuhan, yang diabadikan oleh Tuhan nama mereka dalam Kitab SuciNya, adalah orang-orang yang sangat luar biasa dalam peperangan, mengatur strategi, memimpin dsb. Sehingga mereka dipuji, dimuliakan, dan diabadikan oleh Tuhan nama mereka.

Sebelum saya meneruskan, saya bertanya kepada setiap manusia yang berakal, khususnya “Anak-anak Tuhan” yaitu orang kristiani. Mengapa nama mereka diabadikan oleh Tuhan? Sejarah mereka diabadikan oleh TUHAN? Apakah hanya untuk sekedar dongeng? Omong kosong? Komik? Atau dibalik itu terdapat suatu pelajaran dari Tuhan yang sangat-sangat berharga? Di balik setiap huruf dan kata terdapat pelajaran dari Tuhan yang sangat-sangat berharga? Saya mengatakan bahwa di balik apa yang dinyatakan Tuhan dalam Kitab SuciNya dari sejarah mereka para orang-orang pilihan, terdapat suatu pelajaran dari Tuhan yang amat sangat berharga. Bahkan di balik setiap huruf dan kata terdapat pelajaran dari Tuhan yang sangat berharga. Dan saya yakin setiap orang berakal akan sependapat dengan saya dalam hal ini, walau saya tidak tahu dogma apa yang telah ditanam di hati umat Kristiani akan hal ini. Kemudian apakah pelajaran tersebut hanya sebatas untuk diketahui dan selesai, tidak lebih dari itu? Atau pelajaran yang dapat dijadikan pedoman hidup? Pelajaran yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari? Tentu saja adalah pelajaran yang untuk dijadikan pedoman hidup dan untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekarang kita akan kembali membahas tentang para pahlawan perang yang dimuliakan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama Tuhan menceritakan tentang peperangan yang dipimpin oleh para pahlawanNya. Tetapi anda dan setiap orang yang berakal dan mau berfikir, akan mendapati kekejaman-kekejaman yang sangat-sangat tidak manusiawi yang dilakukan oleh para pahlawan Tuhan. Kekejaman yang tidak pernah dilakukan oleh pemimpin kejam manapun, bahkan Hitler teroris besar Kristen pun tidak sampai melakukan apa yang dilakukan oleh para pahlawan Tuhan. Saya akan mengutip 3 kejadian kejam yang dilakukan oleh Tuhan dan oleh para pahlawan pilihan tuhan yang diabadikan Tuhan dalam Kitab Sucinya. Dan saya mampu memberikan 20 cuplikan yang sangat kejam yang dilakukan oleh Tuhan dan para pahlawan Tuhan yang di puji oleh tuhan, Insya Allah dalam tulisan yang lebih luas dari ini.

1. Kitab 1 Samuel pasal 15 ayat 1 s/d ayat 3

Berkatalah Samuel kepada Saul: “Aku telah diutus oleh Tuhan untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman Tuhan. Beginilah firman Tuhan alam semesta: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan jangan ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai. (1Samuel 15:1-3)
Lihatlah kekejaman yang diajarkan Tuhan Umat Kristiani, Tuhan Trinitas yang Yesus termasuk salah satu dari ketiga oknumnya. Sangat tidak mengenal kasih. Mungkin laki-laki dan perempuan bersalah, tapi apa kesalahan dari kanak-kanak dan anak-anak yang menyusui? Bahkan binatangpun tidak mendapatkan bagian dari kasih sayang Tuhan umat Kristiani. Bahkan yang aneh Saul lebih mengenal kasih daripada Tuhan umat Kristiani. Dalam pasal yang sama dari 1Samuel dijelaskan pada ayat 9 bahwa Saul tidak membunuh hewan dan lembu. Rupanya Saul masih lebih mengenal kasih dan HAB (Hak Asasi Binatang) dari pada Tuhan Trinitas. Oleh karena Tuhan menyesal menjadikan Saul sebagai raja karena tidak mejalankan perintah Tuhan sabagaimana dalam ayat 10 dinyatakan penyesalan Tuhan.

2. Kitab Hosea pasal 14 ayat 1

“Samaria harus dihukum karena memberontak melawan Aku. Rakyatnya akan tewas dalam pertempuran; anak-anak bayinya akan digilas, dan wanita-wanita hamil dibelah perutnya.” Diseluruh Alkitab kita mendapati Tuhan menghancurkan mereka yang tidak percaya kepadaNya dan tidak mengikuti perintahNya. Di sini kita mendapatkan gambaran yang sangat fantastis tentang bayi-bayi yang digilas dan perempuan hamil yang dibelah perutnya. Mungkin seorang ayah dan ibu yang membangkang pantas mendapat hukuman. Tapi alangkah kejamnya Tuhan Trinitas umat Kristiani yang sampai harus menggilas bayi-bayi yang tidak berdosa. Bukankah Yesus membawa kasih? Dan bukankah menurut pendapat umat kristiani bahwa Yesus adalah salah satu dari oknum Trinitas? sungguh Hitler atau Jenkiskhan lebih mengenal kasih dari Tuhan Trinitas dan dari agama umat Kristiani. Bahkan sebejat apapun seorang wanita apakah harus kita belah perut mereka ketika hamil? Katakan mereka wanita-wanita sundal, akan tetapi bukankah menurut Kitab Suci anda Yesus seorang keturunan sundal. Bukan saya yang menyatakan, akan tetapi alkitab sendiri menyatakannya. Di dalam Kitab Matius pasal 1 ayat 3 tentang silsilah Yesus dinyatakan bahwa Yesus adalah keturunan Peres. Ayat tersebut berbunyi: “Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram”. Kemudian dalam Kitab Kejadian pasal 38 ayat 1 s/d 30, anda dapat membaca dan membuktikan bahwa Zerah dan Peres dilahirkan oleh ibu mereka yang bernama Tamar karena hasil dari persundalan (pelacuran) antara Tamar dengan mertuanya sendiri yaitu Yehuda. Anda dan seluruh umat Kristiani dan seluruh dunia berhak untuk membuktikan. Dan kalau memang anda dan agama yang anda anut adalah agama yang benar, mengapa anda tidak memberitakan kabar gembira dan kebenaran itu kepada dunia? Khususnya kepada para pelacur? Dan mengapa perut Tamar yang sedang hamil karena pembangkangan dan pelacuran tidak dibelah? dan mengapa Peres yang menjadi anak haram dan moyang dari pada Yesus keturunan sundal tidak digilas? bahkan dimuliakan untuk menjadi moyang dari pada Tuhan Yesus salah satu dari tiga oknum Trinitas. Sungguh ini adalah lelucon yang sangat menjijikkan ketika kita dapati Tuhan Trinitas yang mencipta alam semesta adalah keturunan pelacur. Dan alangkah kejam dan hinanya agama kristen yang mengajarkan kekejaman.

3. Kitab Lukas pasal 19 ayat 11 s/d ayat 27

Anda dapat membaca ayat-ayat tersebut yang merupakan perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus. Dalam ayat 27, Yesus mengungkapkan suatu ungkapan yang sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh umat Kristiani tentang pribadi Yesus yang diutus untuk menebar kasih. Ayat tersebut berbunyi: “Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka di depan mataku”. Ungkapan demikian secara jelas mengajarkan kekerasan dan pembunuhan. Bukankah Yesus mengajarkan kasih dan cinta? Tetapi mengapa ungkapannya berbeda dengan apa yang selama ini disampaikan oleh orang Kristen? Mungkin anda akan mengatakan bahwa Yesus tidak mengatakan demikian. Yang disampaikan oleh Yesus adalah suatu perumpamaan. Saya katakan apa yang diungkapkan oleh Yesus adalah apa yang terpendam dalam benaknya. Pepatah Arab mengatakan “Ma fika yadzhar ‘ala fika” artinya “Apa yang terpendam dibenakmu terlihat dalam ucapanmu”. Sebagai contoh lukisan yang indah apabila dilihat oleh seorang seniman maka sudah barang tentu sang seniman akan berbicara tentang lukisan dan keindahannya. Berbeda dengan seorang tukang kayu, seorang tukang kayu tidak akan pernah berbicara tentang lukisannya, tetapi ia pasti akan melihat dan berbicara tentang bingkai kayunya. Demikian pula seorang penata ruangan ketika melihat lukisan itu, ia tidak akan berbicara tentang lukisan atau bingkai kayunya, tetapi ia akan berbicara tentang posisinya dan penempatannya. Dan apa yang diungkapkan Yesus tidak lain adalah apa yang terpendam dibenaknya. Dan Yesus adalah raja yang tidak pernah diterima oleh bangsanya sebagaimana yang diungkapkan dalam Injil Yohanes pasal 1, dan sebagaimana yang Kahlil Gibran katakan dalam judul bukunya “Raja yang terpenjara”. Anda pasti tidak akan pernah setuju dengan hal ini. Tetapi apakah pantas bagi seorang Yesus penebar kasih, yang selalu berusaha mengasihi segalanya bahkan berusaha agar debu yang di hadapannya mendapatkan bagian dari kasihnya, memberikan perumpamaan yang menggambarkan suatu kekerasan dan kekejaman? Bahkan ia pun pernah menyatakan secara jelas dan pasti bahwa ia datang dengan membawa perpecahan, perselisihan, kekerasan, pedang, sikap radikal dan terorisme. Di dalam Kitab Matius pasal 10 ayat 34,35,36 Yesus berkata:
“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya. Dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya”. Lihatlah apabila ajaran Yesus dengan orang-orang yang satu atap adalah demikian, yaitu perselisihan, permusuhan, pertentangan bahkan pedang. Maka bagaimana dengan orang-orang yang beda atap? Tetangga? Berbeda kampung? Berbeda negara serta berbeda bangsa?

Apakah ini ajaran kasih atau ajaran terorisme dan kekerasan? Apakah ini agama cinta atau agama pedang dan kejahatan? Inikah agama yang mengaku mengenal toleran atau agama yang memaksakan? Mungkin apabila umat Kristiani sekarang ini memiliki kemampuan dan kebebasan untuk berbuat kejam, Maka kami yakin mereka akan membunuh semua orang yang tidak mengakui Yesus sebagai raja dan tuhan sebagaimana yang diungkapkan yesus dalam perumpamaannya. Dan Sungguh sejarah telah mencatat ribuan manusia yang mati disiksa, dianiaya, wanita-wanita yang diperkosa bahkan anak-anak yang ditindas, bahkan ribuan manusia yang dibakar hidup-hidup oleh pendeta dan penguasa Kristen, padahal mereka tidak memiliki dosa melainkan hanya dosa menggunakan akal sehat mereka ketika tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan. Silahkan anda dan seluruh umat Kristiani dan seluruh manusia di dunia ini melihat sejarah. Dan saya yakin setiap yang berakal akan setuju dengan saya. Para ilmuanpun setuju dengan pendapat ini. Dan sampai saat ini mereka masih dendam dengan apa yang dilakukan oleh umat Kristiani terhadap tokoh-tokoh ilmuan besar. Tanyakan kepada dunia kemana Galileo? Apakah ia mati karena acungan pedang orang Islam atau karena orang-orang Kristen yang tidak pernah mau menggunakan akal yang dianugrahkan Tuhan?

Saya menyerukan kepada seluruh dunia agar mau berfikir, bukan hanya menelan mentah-mentah dogma-dogma yang hanya bisa dicerna oleh orang gila. Kita manusia yang berakal bukan binatang atau orang gila. Yang membedakan kita dengan binatang dan orang gila adalah akal yang kita gunakan untuk berfikir. Sekali lagi saya menyerukan kepada seluruh dunia untuk mengkaji agama Kristen dengan akal sehat, dan hendaknya selalu berani menyatakan kebenaran. Ini yang dapat saya sampaikan dan insya Allah pembahasan tentang Trinitas dan Penyaliban yang anda permasalahkan akan saya bicarakan dalam tulisan saya yang lain. Dan semoga kebenaran tetap tinggi.. Semoga kedamaian selalu menyertai mereka yang mengikuti petunjuk Allah alam semesta.. Dan semoga Allah membalas kebaikan, jasa, didikan, ajaran, serta kasih dan pengorbanan Baginda Besar Yang Mulia, Manusia Pilihan, yang mengajarkan kedamaian dan kecintaan, mengajarkan cara menghormati para utusan Allah, manusia yang mengajarkan akhlak dan budi pekerti, Raja Damai dan Penghibur serta Nabi Yang dijanjikan, kunci dari kerajaan Allah yang dinanti-nanti, Baginda Besar Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam.. Dan semoga Allah selalu membimbing kita kepada seluruh kebenaran, Amin Ya Rabbal Alamin. (Habib Ahmad bin Novel/hotarticle.org)

sumber :forum-swaramuslim.net

KEHAMILAN PERAWAN MARIA; VERSI ALKITAB DAN AL-QUR’AN

Oleh : Archa (forum swaramuslim)

Dari diskusi dengan netters Kristen di forum ini tentang proses kehamilan Maria dan kelahiran Yesus, ada pernyataan standard yang selalu dikemukakan, bahwa julukan ‘anak Tuhan’ kepada Yesus bukanlah seperti halnya yang terjadi pada manusia biasa, contoh terakhir dari pernyataan tersebut misalnya diajukan :

mulai dari zaman para rasul sampai kiamat, orang2 Kristen tak pernah percaya dan beriman bahwa Allah beranak seperti halnya perempuan melahirkan...
kalau al quran menuliskan bahwa orang2 Nasrani mengatakan "Tuhan beranak", maka, maaf saja, al quran salah duga.


http://forum-swaramuslim.net/threads.php?id=43763_45_15_0

lalu biasanya dilanjutkan dengan tuduhan balik, bahwa apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an karena ajaran Islam sudah salah mengartikan apa yang dimaksud dengan istilah ‘anak Tuhan’ tersebut, ayat yang dimaksud adalah :

[2:116] Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.

[10:68] Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

[19:35] Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.

[23:91] Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,

[37:152] "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.


Dari rentetan ayat tersebut, jelas Al-Qur’an menyatakan penyangkalan tentang status ‘anak Tuhan’, termasuk seperti yang terdapat dalam ajaran Kristen, karena status ‘anak Tuhan’ memang merujuk kepada ‘Tuhan beranak’ seperti halnya manusia atau binatang beranak. Lalu apakah bisa dikatakan Al-Qur’an telah salah tafsir terhadap apa yang yang dimaksud dengan ‘Yesus anak Tuhan’..?? Satu-satunya jalan untuk mengujinya adalah dengan melihat penjelasan alkitab tentang proses kelahiran Yesus, lalu kita akan kemukakan bagaimana Al-Qur’an yang turun sesudahnya berusaha ‘membersihkan’ cerita tersebut dari nuansa-nuansa yang terkesan sangat merendahkan Tuhan, karena dalam alkitab Tuhan digambarkan telah melakukan ‘sesuatu’ tindakan untuk menghamili Maria.

Cerita disekitar kehamilan Maria dimulai dengan penggambaran yang seolah-olah hampir sama sama antara alkitab dan Al-Qur’an, kisahnya dimulai ketika malaikat datang kepada Maria lalu memberikan informasi :

Luk 1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Luk 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.


Disitu jelas dikatakan bahwa Maria akan ‘mengandung’ dan ‘melahirkan’ anak laki-laki dan kehamilan Maria tersebut disebabkan oleh ‘kasih karunia’ Tuhan, suatu pernyataan yang merujuk kepada proses biologis seperti yang terjadi pada makhluk biasa, hewan dan manusia, bahwa kehamilan seorang wanita dan kelahiran anak disebabkan oleh kasih karunia dari pasangannya. Lalu penjelasan malaikat selanjutnya makin memperkuat bagaimana hubungan antara anak yang akan dilahirkan dengan Tuhan yang telah memberikan ‘kasih karunia’ nya kepada Maria :

Luk 1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.

Dari sumber Al-Qur’an, pernyataan malaikat tersebut adalah :

idz qaalati almalaa-ikatu yaa maryamu inna allaaha yubasysyiruki bikalimatin minhu
[3:45] (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya,


idz = ketika
qaalati = berkata
almalaaikatu = para malaikat
yaa maryamu = wahai Maryam
inna = sungguh
Allaaha = Allah
yubasysyiruki = menghibur kamu
bikalimatin = dengan kalimat
minhu = dari-Nya

Atau dalam ayat yang lain :

qaala innamaa anaa rasuulu rabbiki li-ahaba laki ghulaaman zakiyyaan
[19:19] Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci".


qaala = dia berkata
innamaa = sungguh hanyalah
anaa = aku
rasuulu = utusan
rabbika = Tuhan kamu
li-ahaba = untuk aku memberi
laki = kepada kamu
ghulaaman = seorang anak laki-laki
zakiyyan = yang suci

Kedua ayat ini menyimpulkan bahwa terjadinya kehamilan Maryam karena kalimat dari Allah yang diberikan oleh sesuatu yang mengaku utusan dari Allah. Sekalipun kita mau menafsirkan secara 'nyeleneh' atas kata 'li-ahaba = memberikan', katakanlah kita mau tafsirkan dengan suatu kegiatan seksual, maka tetap saja kegiatan tersebut tidak merujuk kepada Allah, melainkan kepada utusan yang telah diutus. Menurut saya, ini merupakan sinyal ilmu pengetahuan tentang proses kelahiran nabi 'Isa Almasih, bagaimana detailnya suatu 'kalimah' dari Allah yang diberikan oleh 'sesuatu' yang disebut sebagai 'ruh yang diutus Allah yang menyerupai manusia yang sebenarnya' [QS 19:17]. Tapi jawaban Maryam terhadap kata 'li-ahaba' ini kelihatannya jauh dari kesan si utusan akan melakukan kegiatan seksual terhadap dirinya, karena Maryam menyatakan :

[19:20] Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"


Tanggapan ini serupa dengan ucapan Maryam ketika diberitahukan oleh para malaikat bahwa Allah akan menghibur dia dengan kalimat-Nya pada QS 3:45 :

[3:47] Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun."


Kedua informasi ini mengindikasikan bahwa apa reaksi Maryam tidaklah terkait dengan persoalan 'kalimat Allah' ataupun 'utusan yang akan memberikan', tapi merupakan reaksi manusia biasa yang mendengar bahwa dia akan hamil dan melahirkan anak secara manusiawi, bahwa kehamilan dan kelahiran anak hanya bisa terjadi kalau dia melakukan hubungan seksual dengan seorang laki-laki. Kalaulah Maryam beranggapan si utusan akan melakukan suatu aktifitas seksual terhadapnya sudah pasti jawabannya tidak demikian.

Apa yang diceritakan dalam alkitab kelihatannya persis sama :

Luk 1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"

Ketika kita kaitkan dengan perkataan malaikat sebelumnya yang memberikan informasi kehamilan Maria dengan nuansa seksual, maka reaksi Maria terlihat bukan datang dari 'pengetahuan standard' seorang manusia tentang kehamilan, tapi sedikit-banyak dipengaruhi oleh ucapan malaikat yang memang mengarah kepada adanya suatu aktifitas seksual.

Kisah selanjutnya memberikan garis batas yang jelas buat kita, bagaimana Al-Qur'an kemudian 'bersimpang-jalan' dengan alkitab :

Luk 1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Menanggapi ayat alktab ini, Ahmad Deedat dalam bukunya 'The Real Truth, Meruntuhkan Pilar-pilar Iman Kristiani' menyatakan :

"Dengan demikian, tahukan anda jika ini bisa menjadi tongkat pemukul yang bisa digunakan oleh orang atheis, skeptis dan antagonis untuk bisa menyerang anda. Mengenai hal ini, orang-orang tersebut pasti akan bertanya-tanya :"Bagaimana cara Roh Kudus turun atas Maria..?? bagaimana cara Allah Yang Mahatinggi melindunginya..?", Padahal kita tahu secara literal, ini tidak berarti bahwa merupakan satu konsepsi yang sempurna, tetapi bahasa yang digunakan tersebut hambar..".

Sebaliknya Al-Qur'an memberikan jawaban :

[3:47]...Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.


atau dalam ayat lainnya :

[19:21] Jibril berkata: "Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan".


Terdapat satu hal penting dari kedua penjelasan ini, alkitab terlihat memposisikan Tuhan sebagai 'substitusi' dari kegiatan seksual yang disangkakan oleh Maria, bahwa Tuhan dan Roh Kudus melakukan 'kerjasama' yang mengakibatkan Maria hamil. Alkitab sama sekali tidak menyangkal atau menyalahkan persangkaan Maria bahwa terjadinya kehamilan seorang wanita semata-mata hanya karena adanya aktifitas seksual dari laki-laki, Tuhan seperti yang diceritakan alkitab telah 'mengambil-alih' perbuatan tersebut dengan 'turun diatas Maria dan menaunginya'. Sebaliknya Al-Qur'an terlihat memberikan sanggahan terhadap apa yang dipersangkakan Maryam, bahwa kehamilan tidak harus terjadi karena seorang wanita didekati dan disentuh oleh laki-laki, malaikat ataupun utusan (oleh sebagian besar ahli tafsir dikatakan adalah malaikat Jibril) menyatakan bahwa dengan kehendak dan kuasa Allah, seorang wanita bisa saja hamil tanpa disentuh laki-laki, lebih lanjut Al-Qur'an menjelaskan pada ayat lainnya :

[3:59] Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.


Al-Qur'an yang turun ratusan tahun setelah alkitab memposisikan dirinya sebagai sesuatu yang 'membersihkan' gambaran Tuhan disekitar peristiwa ini, alkitab jelas telah 'kurang-ajar' menghina Tuhan karena menggambarkan-Nya telah melakukan suatu aktifitas 'seperti manusia' sehingga menyebabkan Maria hamil, Al-Qur'an meluruskan ke-sembrono-an ini dengan kembali menempatkan Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, Dia bisa melakukan apapun yang diinginkan-Nya sekalipun keluar dari yang hal semestinya terjadi.

Apakah alkitab berhenti sampai disini..?? kelihatannya kekurang-ajaran ini masih berlanjut, dalam ayat lain dikatakan :

1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

Matius, si penulis alkitab yang diakui mendapat wangsit dari Roh Kudus menjelaskan soal asal-usul Yesus Kristus, setelah pada ayat sebelumnya berkali-kali menyampaikan soal 'anak yang diperanakkan', suatu penjelasan tentang kelahiran manusia yang terkait dengan proses hubungan seksual, lalu akhirnya menyatakan bahwa Yesus lahir karena ibunya 'mengandung DARI Roh Kudus'. Apa maksud Matius menempatkan kalimat tersebut dalam konteks silsilah yang penuh nuansa 'anak yang diperanakkan'..?? Apa yang ada dalam pikiran anda ketika kita sedang bicara soal anak keturunan yang lahir dari si anu dengan bapak dan ibunya si anu, lalu diakhiri dengan pernyataan bahwa si anu lahir karena ibunya mengandung DARI bapaknya..?? Tidak heran kalau kemudian Billy Graham, seorang evangelis terkenal di Amerika Serikat pernah menggambarkan :

"Billy Graham dari Amerika Serikat mendramatisir ayat ini di depan 40.000 orang di King Park, Durban dengan menggunakan gerakan tangan untuk meyakinkan pendengarnya, dia berkata :"Roh Kudus telah datang dan menghamili Maria..".

(The Real Truth, Meruntuhkan Pilar-pilar Iman Kristiani - Ahmed Deedad), selanjutnya Ahmed Deedad memberikan argumentasi yang 'memerahkan telinga' setiap penganut Kristen :

"Yesus adalah satu-satunya anak yang diperanakkan Tuhan, diperanakkan bukan diciptakan", kata-kata ini adalah sebuah tambahan dari katekismus ortodoks yang mendapat sedikit dukungan dalam ayat ini :

Yoh 3:16 : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak yang diperanakkan-Nya yang tunggal, supaya setiap orang percaya pada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (terjemahan Bahasa Indonesia dari Authorized Version)

Tidak seorang pendetapun yang mengutip kalimat 'satu-satunya anak yang diperanakkan' ketika mengajar calon pemeluk agamanya. Akan tetapi penulisan 'diperanakkan' sekarang telah dihilangkan oleh para perevisi alkitab, tanpa permintaan maaf. Mereka diam dan tidak menarik perhatian pembacanya terhadap penghilangan kata secara sembunyi-sembunyi yang mereka lakukan".


Armansyah, dalam satu tulisannya menyatakan :

Ketika kemudian ada pihak Kristen menyangkal bahwa penunjukan Allah dalam al-Qur'an terhadap adanya makna anak biologis terhadap Yesus oleh kaum Kristiani adalah sesuatu yang salah, maka secara otomatis orang-orang seperti ini telah mengingkari akan konsepsi ketuhanan dalam wujud daging yang diperanakkan oleh manusia (artinya daging diperanakkan oleh daging) yang lalu dagingnya itu sendiri kekal (tidak menjadi binasa).

Kisah Para Rasul 2:31 : "Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan".


http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/nov08/favo/armansyah/07.htm

Alkitab telah menggiring pembacanya untuk berpikiran bahwa Yesus memang lahir akibat adanya hubungan 'yang mirip dengan hubungan seksual' antara Maria dengan Tuhan sehingga Yesus Kristus dikatakan 'Tuhan yang berbentuk/menjelma menjadi daging', sekalipun daging Yesus dikatakan berbeda dengan daging manusia biasa, namun tetap saja itu adalah merupakan daging, suatu benda yang melekat sifat-sifat biologis dan terlahir akibat adanya suatu kegiatan yang bernuansa biologis juga.

Penyangkalan netters Kristen tentang proses kehamilan Maria dan status 'anak Tuhan' yang disematkan pada diri Yesus Kristus menunjukkan adanya sikap 'dibawah sadar' bahwa sebenarnya penganut Kristen merasa malu menerima ajaran tentang 'Tuhan yang berproses menjadi daging', mereka lalu berusaha mencari penghalusan-penghalusan untuk menutupinya, lalu lahirlah pernyataan yang 'jauh panggang dari api' terhadap ayat alkitab, lain yang disampaikan alkitab, lain pula yang diungkapkan dalam pernyataan yang disampaikan..

Jadi pernyataan Al-Qur'an terhadap alkitab tidaklah meleset, Al-Qur'an seolah-oleh 'menguliti' hati nurani setiap pemeluk Kristen terhadap ajaran mereka sendiri, sekalipun mulut mereka menyangkalnya..

Senin, 15 Februari 2010

HARAMNYA DAGING BABI; ANTARA AJARAN ISLAM DAN KRISTEN

Oleh : Archa (swaramuslim)

Ini merupakan topik hangat yang sering kita temukan dalam diskusi lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen, jawaban yang diberikan juga sangat menarik karena setiap jawaban menimbulkan pertanyaan lanjutan yang tidak pernah berhenti kepada suatu kesimpulan yang memuaskan pihak yang bertanya. Kristen biasanya memulai bertanya :”Mengapa ajaran Islam mengharamkan makan babi..??”, kebanyakan pihak kaum Muslim mencoba menjawabnya dari sudut pandang kelimuan, karena jawaban bernuansa keimanan jelas tidak akan diterima, seperti misalnya :”karena memang dilarang oleh Allah..”, pihak Muslim lalu menguraikan kajian ilmiah yang menyatakan bahwa babi merupakan binatang yang kotor dan banyak mengandung penyakit. Jawaban ini ditimpali lagi oleh Kristen :”Khan sekarang dunia ilmu pengetahuan sudah maju, segala kandungan penyakit yang ada pada daging babi bisa diolah dan dihilangkan unsur penyakitnya..”. Lalu pihak Kristen memperkuat lagi dengan pertanyaan yang menggelitik :”Mengapa Tuhan menciptakan babi, kalau memakan dagingnya diharamkan..??”. Tulisan ini merupakan salah satu keinginan untuk menjelaskan pokok permasalahan disekitar pengharaman memakan babi oleh Islam dan pandangan saya terhadap aturan Kristen yang membolehkan makan babi, padahal sebelumnya ajaran Taurat mengharamkannya. Tentu saja penjelasan ini dilihat dari perspektif saya sebagai pemeluk Islam yang mencoba melihat permasalahan berdasarkan informasi yang diberikan Allah lewat Al-Qur’an, termasuk ketika melihat informasi yang diceritakan dalam alkitab disekitar proses membolehkan makan babi ini.

Alasan mengapa umat Islam haram memakan babi tercantum secara jelas pada ayat ini :
qul laa ajidu fiimaa uuhiya ilayya muharraman 'alaa thaa'imin yath'amuhu illaa an yakuuna maytatan aw daman masfuuhan aw lahma khinziirin fa-innahu rijsun
[6:145] Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor..


Al-Qur’an mengatakan bahwa babi adalah ‘rijs/rijsun’ yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : kotor. Ternyata terdapat 10 kali pengulangan kata ini dalam Al-Qur’an, yaitu pada ayat [6:125], [10:100], [22:30], [33:33], [5:90], [6:145], [7:71], [9:95], [9:125 – sebanyak 2 kali], misalnya ketika Al-Qur’an bicara soal kaum munafik :
sayahlifuuna biallaahi lakum idzaa inqalabtum ilayhim litu'ridhuu 'anhum fa-a'ridhuu 'anhum innahum rijsun wama/waahum jahannamu jazaa-an bimaa kaanuu yaksibuuna
[9:95] Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.


Dari pemakaian kata ini, maka pengertian ‘kotor’ tidak bisa dimaknai hanya kotor secara fisik saja, misalnya karena babi selalu memakan makanan yang kotor, suka hidup ditempat kotor, mengandung bibit penyakit, dll tapi bisa juga berarti kotor secara maknawi. Orang munafik yang digolongkan Al-Qur’an sebagai ‘rijs’ tersebut tentunya termasuk juga mereka yang bersih, selalu mandi, memiliki kesehatan prima, suka merawat diri, cantik dan tampan, namun sepanjang mereka memelihara sifat munafiknya, maka Allah menyebut mereka kotor/rijs. Pertanyaan yang menyebut bahwa kekotoran yang dikandung babi bisa dihapus melalui perkembangan ilmu pengetahuan, karena bisa menghilangkan bibit penyakit ataupun menetralisir kolesterolnya tidak melenyapkan ‘status’ rijs yang telah disematkan Al-Qur’an kepada babi. Kenajisan babi karena dinajiskan oleh Allah.

Ayat ini diturunkan dan dunia ilmu pengetahuan mengkonfirmasikannya melalui perkembangan yang terjadi. Ketika dulu, pada saat ayat ini diturunkan, ilmu pengetahuan belum sampai menemukan bahwa dalam daging babi terkandung cacing pita, namun ‘status’ yang dimiliki babi tetap merupakan binatang yang kotor. Ketika ditemukan kandungan cacing pita, lalu ilmu pengetahuan mampu untuk menghilangkan unsur tersebut, apakah kemudian daging babi berubah status menjadi bersih..?? ternyata tidak, karena kemudian ditemukan kolesterol yang berlebihan didalamnya, dan ini juga bisa merupakan unsur yang merusak manusia. Lalu kolesterol bisa dikendalikan, katakanlah kemudian dunia ilmu pengetahuan menemukan cara untuk menetralisir kolesterol dalam daging babi, apakah lalu babi menjadi aman untuk dimakan..?? ternyata tidak, yang paling up-to-date adalah soal flu babi.. Maka ketika Allah mengharamkan babi karena rijs/kotor, kita menemukan fakta-fakta yang mendukung hal tersebut, hilangnya satu kekotoran tidak membuat masalahnya selesai karena muncul kekotoran yang lain. Umat Islam diselamatkan dengan aturan yang melarang mereka untuk memakan babi. Ternyata Allah memang lebih mengetahui mengapa Dia menetapkan suatu aturan, itu semata-mata demi keselamatan dan kebaikan bagi manusia juga, kepatuhan terhadap apa yang diatur oleh Allah akan menimbulkan kebaikan sekalipun mungkin ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia belum mampu untuk menjelaskannya secara ilmiah.

Terdapat pertanyaan dari kalangan Kristen :”Mengapa babi harus diharamkan..?? bukankah bagi sebagian orang daging babi enak, bahkan lebih enak dari daging hewan yang lainnya seperti sapi, domba, ayam..?? Lalu mengapa Tuhan menciptakan babi yang enak tersebut kalau kemudian malah mengharamkannya..??”. Soal enak atau tidak enaknya suatu makanan sifatnya relatif dan tidak sama bagi semua orang, bahkan bisa terjadi bagi seorang yang dulunya merasa enak dan menikmati suatu jenis makanan, dimasa yang lain malah mual dan muntah ketika makanan tersebut disodorkan kepadanya. Seorang netters Muslim disini menceritakan tentang istrinya yang mualaf, ketika dulunya waktu masih memeluk agamanya yang lama, biasa memakan babi, tapi ketika beralih memeluk Islam berbalik menjadi jijik. Saya misalnya sangat suka sama makan pete, bagi saya pete malah jauh lebih enak dibandingkan jenis makanan lain seperti : daging dan ikan, namun istri saya langsung menjauh begitu melihat saya lagi makan pete. Jadi mengkaitkan pengharaman suatu makanan dengan enak atau nikmatnya makanan tersebut jelas tidak relevan, rasa jijik bisa muncul karena adanya pengharaman. Mengkaitkan pengharaman suatu makanan yang terkait dengan penciptaan makanan tersebut juga sama tidak relevannya, tidak semua hewan yang diciptakan Allah bisa/harus dimakan hanya karena alasannya sudah diciptakan, sekalipun mungkin secara biologis tubuh kita mampu untuk mencerna makanan tersebut.

Dalam soal pengharaman memakan babi, umat Islam terlihat punya landasan yang sederhana dan tidak berbelit-belit, Allah mengharamkan babi karena Dia Maha Mengetahui apa mudhoratnya hewan tersebut kalau dimakan. Umat manusia kemudian mengembangkan ilmu pengetahuan dan ternyata arahnya menkonfirmasi pengharaman tersebut, lalu umat Islam sudah terselamatkan dari dulunya karena kepatuhan yang mereka miliki sekalipun misalnya pengetahuan mereka belum sampai dan belum mampu menjelaskan mengapa babi dilarang. Sebaliknya umat Kristen punya cerita yang berbelit-belit ketika mereka harus menjelaskan mengapa membolehkan memakan babi padahal sebelumnya Tuhan mereka telah mengharamkannya. Pelarangan makan babi terdapat pada kitab Imamat 11, ternyata begitu banyak jenis binatang yang diharamkan oleh Tuhan kepada kaum Yahudi sehingga yang seharusnya ditanyakan mereka adalah ‘apa yang boleh dimakan’ ketimbang bertanya ‘apa saja yang tidak boleh dimakan’, karena terlalu banyak jenis makanan yang diharamkan bagi mereka. Al-Qur’an memberikan penjelasan mengapa Allah membuat aturan yang sedemikian ketat bagi kaum Yahudi ini :
[4:160] Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,


Jadi alasan pengharaman banyaknya jenis makanan buat kaum Yahudi merupakan hukuman atas kedurhakaan mereka terhadap Allah. Disini memang tidak dijelaskan apakah babi termasuk jenis makanan yang sebelumnya dihalalkan, atau memang sudah haram dari ‘sononya’, namun yang pasti semua orang Yahudi harus mematuhi aturan ini sampai ada aturan berikutnya yang diturunkan Allah untuk merubahnya, dan sampai kedatangan Yesus Kristus hal ini tetap berjalan, sehingga Yesus-pun sebagai orang Yahudi menjalankan ketentuan Allah yang tercantum dalam Taurat tersebut. Lalu kapan dan dimana ditemukan aturan baru yang dijadikan dasar bagi umat Kristen untuk membolehkan makan babi..?? Dasar yang pertama tentunya mereka ajukan dari apa yang diucapkan oleh Yesus sendiri :

Mat. 15:11 "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."


Terus-terang, ini sudah menjadi kelakuan ‘khas’ dari pemeluk Kristen dalam memperlakukan kitab suci mereka, suka memotong-motong ayat, tidak melihat konteks, lalu menafsirkannya agar sesuai kemauan sendiri. Sekarang mari kita lihat konteks omongan Yesus tersebut :

Matius 15 dimulai dengan gugatan kaum Farisi yang menyampaikan keberatan mereka terhadap kelakuan murid-murid Yesus yang tidak membasuh tangan ketika mau makan, padahal itu sudah menjadi tradisi mereka sejak dulu (Mat 15:2), Yesus menjawab dengan melakukan gugatan balik dengan bertanya mengapa Yahudi juga melakukan pelanggaran adat istiadat mereka karena suka mengeluarkan omongan yang menghina dan melukai perasaan orangtua mereka (Mat 15:3-6) lalu memperkuat serangannya itu dengan mengutip nubuat Yesaya (Mat 15:7-9). Lalu Yesus menyampaikan ajaran yang sering dikaitkan umat Kristen untuk membolehkan makan babi yang dulunya diharamkan Tuhan tersebut (Mat 15:11).

Jelas sekali bahwa konteks omongan Yesus tersebut bukan soal adanya aturan baru, merubah haramnya makan babi menjadi halal, Yesus seolah-olah mau mengatakan :”Hei Farisi.., kamu telah lancang menghakimi murid-muridku karena mereka tidak mencuci tangan sebelum makan, bukan CARA MAKAN mereka yang akan menjadikan murid-muridku menjadi hina, tapi kehinaan seorang manusia terkait dengan apa yang diucapkannya. Tidak mencuci tangan ketika makan adalah soal kecil, tapi yang kalian lakukan terhadap orangtua kalian melalui ucapan-ucapan yang menyakitkan hati mereka, itulah yang membuat kalian menjadi hina, kalian menganggap mereka hina karena telah melanggar adat istiadat, apa yang kalian lakukan justru lebih hina juga karena telah melanggar adat istiadat”.

Selanjutnya ajaran Yesus ini dijelaskan lagi olehnya karena Petrus bertanya, Yesus lalu berkata :”Semua yang dimakan manusia akan menjadi kotoran, tidak peduli apakah dia sebelumnya telah mencuci-tangan atau tidak, tidak peduli apakah dia makan dengan mematuhi adat istiadat atau tidak, bagaimana cara makan tidak menentukan kehinaan diri seorang manusia, tapi rendahnya nilai manusia tergantung dari apa yang diucapkannya, karena ucapan datangnya dari hati, kotornya hati akan menghasilkan kelakuan yang kotor pula, termasuk ucapan-ucapan yang dikeluarkannya”. Lalu Yesus menutup ajarannya dengan mengucapkan :

15:20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang."


Omongan Yesus ini bukan terkait soal merubah ajaran pengharaman makan babi menjadi halal, itu soal tata-cara makan yang dikaitkan dengan adat istiadat Yahudi. Lalu bagaimana bisa umat Kristen menjadikan ayat ini sebagai dasar yang menyatakan bahwa makan babi yang diharamkan Tuhan berubah menjadi halal..??

Dalam alkitab Perjanjian Baru, kita tidak menemukan lagi adanya omomgan Yesus yang lain, yang ‘menyentuh’ soal perubahan status halal-haramnya daging babi selain Matius 15:11 yang telah dipelintir, dipotong-potong, dilepas dari konteksnya, lalu ditafsirkan sesuka hati untuk mendukung kegemaran Kristen akan ‘enaknya’ daging babi.

Pihak Kristen lalu mencari-cari dasar ayat yang lain, lalu ketemu ajaran Petrus yang terdapat pada Kisah Para Rasul 10. Lagi-lagi terjadi pelintiran ayat tersebut dengan ‘jurus’ yang sama, memotong ayat, melepaskannya dari konteks lalu menafsirkannya sesuai keinginan sendiri. Cerita dimulai dengan seorang non-Yahudi (yang dianggap najis oleh ajaran Yahudi) bernama Kornelius yang didatangi malaikat dan menyuruh dia menemui Petrus di Yope (Kis 10:1-8). Ketika utusannya sampai di Yope, Petrus mendapat suatu isyarat dari Tuhan berupa turunnya makanan dari langit berupa : binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung (Kis 10:12). Waktu itu Petrus memang sedang lapar dan sedang menunggu makanan disiapkan (Kis 10:10) jadi Petrus bukan dalam kondisi darurat karena tidak mempunyai makanan. Lalu terdapat suara menyuruhnya untuk menyembelih dan memakan makanan tersebut (Kis 10:11) dan Petrus mengatakan menolak memakan makanan tersebut karena dia menyatakan makanan tersebut haram dan tidak tahir (Kis 10:14).

Mengapa Petrus menyatakan makanan tersebut haram..?? disitu memang disebut adanya binatang berkaki empat, namun tidak jelas disebut nama binatangnya. Jawaban Petrus mungkin menunjukan bahwa jenis hewan yang ‘disodorkan dari langit’ tersebut memang berisi hewan yang dikategorikan haram untuk dimakan, makanya Petrus mengatakan bahwa dia tidak mau memakan makanan yang diharamkan tersebut, lalu terdengar suara Tuhan yang menyatakan bahwa ‘Apa yang dinyatakan halal oleh Tuhan tidak boleh diharamkan oleh Petrus’. Bagaimana reaksi Petrus terhadap peristiwa aneh ini..?? apakah dia kemudian menyimpulkan ;”Wah..kalau begini saya sudah boleh donk pesta-pora memakan babi..??". Ternyata Petrus malah berpikir tentang sesuatu yang lain :

10:16 Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.
10:17 Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan yang telah dilihatnya itu. Sementara itu telah sampai di muka pintu orang-orang yang disuruh oleh Kornelius dan yang berusaha mengetahui di mana rumah Petrus.


Ternyata ayat tersebut menyatakan bahwa kejadian turunnya makanan dari langit, MERUPAKAN ISYARAT tentang kejadian yang akan dialami Petrus, jadi bukan dalam arti harfiah bahwa Tuhan menyodorkan hewan yang selama ini diharamkan seperti babi, untuk mulai saat itu dihalalkan. Tidak ada bukti bahwa setelah kejadian tersebut kaum Yahudi (terutama Yahudi pengikut murid-murid Yesus) berpesta-pora memakan babi. Tidak ada juga penjelasan bahwa Petrus memakan hewan yang disebutkannya haram tersebut karena makanan itu kembali terangkat ke langit, lagipula diceritakan kalau pada saat itu Petrus bukan dalam keadaan tidak punya makanan, tapi sedang menunggu makanan disiapkan.

Ternyata kejadian ghaib tersebut merupakan isyarat dari Tuhan terkait dengan Kornelius yang ingin bertemu dengan Petrus. Bahwa kaum non-Yahudi yang selama ini dikatakan najis dan tidak tahir, dibolehkan untuk dibaptis. Lihat apa penjelasan Petrus ketika dia menafsirkan soal makanan yang turun dari langit :

10:28 Ia berkata kepada mereka: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.


Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa yang dimaksud memang bukan soal makanan halal atau haram, itu hanyalah merupakan isyarat yang telah dibayangkan Tuhan kepada Petrus tentang peristiwa berimannya Kornelius menjadi pengikut Yesus sekalipun dia bukan orang Yahudi :

10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
10:35 Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
10:44 Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.
10:45 Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga,


Memang terdapat ‘peluang’ yang bisa mengarahkan bahwa kejadian aneh yang dialami Petrus tersebut terkait dengan soal makanan, yaitu berdasarkan pernyataan kaum Farisi yang bertanya kepada Petrus :

11:3 Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."


Pernyataan ini bisa menunjukkan adanya keterkaitan peristiwa tersebut dengan soal halal-haramnya makanan yang dimakan Petrus dirumah kaum Romawi yang memang terkenal suka makan babi, namun argumentasi ini terlihat sangat lemah, karena ternyata Petrus kemudian menjawabnya dalam konteks najis atau tidaknya kaum ‘gentile’ yang selama ini memang telah dinajiskan dalam ajaran Yahudi. Setelah mengulang kembali peristiwa ghaib yang dia alami sampai ketika Petrus mendatangi rumah Kornelius, Petrus lalu menjelaskan :

11:16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.??
11:17 Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"
11:18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."


Mengkaitkan peristiwa tersebut dengan aturan baru untuk menghalalkan makan babi yang sebelumnya diharamkan merupakan kesimpulan yang ‘jauh panggang dari api’, selain hanya berasal dari dugaan dan tuduhan kaum Farisi saja, Petrus juga sama sekali tidak mengkaitkan penjelasannya kepada soal tersebut.

Sekarang sudah dijelaskan bahwa ayat-ayat yang mendasari perubahan aturan makan babi dari Yesus maupun Petrus ternyata lemah dan hanya hasil dari pelintiran orang-orang Kristen yang memang menggemari daging babi. Kalau begitu siapa lagi yang harus dijadikan sandaran agar nafsu dan kegemaran terhadap babi tersebut bisa punya landasan ‘alkitabiah’..?? Maka mau tidak mau umat Kristen kembali menyodorkan Paulus.

Paulus sendiri punya ‘agenda sendiri’ dalam menyebarkan ajaran Kristen yang dicantelkannya kepada ajaran Yesus, bahwa ‘target market’ Paulus adalah kaum Romawi dan Yunani non-Yahudi yang memang punya kegemaran makan babi. ‘Promosi’ ajaran Yesus dengan membawa-bawa aturan Yahudi akan membuat ‘dagangan’ Paulus tidak bakalan laku di masyarakat yang ditujunya. Paulus lalu ‘memodifikasi’ ajaran Yahudi yang dijalankan oleh Yesus dengan cara membuang aturan-aturan yang dianggapnya bisa jadi penghalang diterimanya ajaran tersebut. Secara umum Paulus mulai dengan menyerang hukum Taurat dan mengalihkannya dengan cara mengangkat Yesus sebagai ‘pengganti’ aturan Taurat :

Kol 3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.
Gal 5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Khusus soal makanan, Paulus menyampaikan ajarannya :

1 Kor10:25-26 ”Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.

Kol 2:16-17 “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru atau pun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”.


Dari rangkaian ayat-ayat alkitab yang dijelaskan ‘melalui kacamata’ seorang Muslim ini, maka sebenarnya sandaran penghalalan makan babi yang sebelumnya diharamkan oleh Tuhan kepada kaum Yahudi memang hanya berdasarkan ajaran Paulus, dan hal tersebut didasari oleh motivasi Paulus untuk menyebarkan ajaran yang dicantelkannya kepada ajaran Yesus, untuk bisa diterima kamu non-Yahudi. Dalam menanggapi kelakuan Paulus ini tercatat adanya pertentangan dan konflik antara Paulus dengan para murid Yesus, saya sudah menyampaikan ceritanya pada :

http://forum-swaramuslim.net/more.php?id=43765_0_15_0_M

Sebenarnya sikap para murid Yesus tentang persoalan apakah aturan Taurat yang sangat ketat tersebut juga diberlakukan bagi pihak non-Yahudi yang telah mendapat pencerahan, tergambar dari kelonggaran yang mereka berikan, bahwa aturan yang berlaku dalam hukum Taurat memang hanya diberikan khusus bagi kaum Yahudi, karena salah satu penyebabnya adalah sebagai hukuman Tuhan atas kedurhakaan mereka dahulunya (Lihat QS 4:160). Para murid kelihatannya beranggapan aturan tersebut tidak bisa diterapkan bagi kaum non-Yahudi karena mereka sama sekali tidak ikut ‘cawe-cawe’ dalam kesalahan kolektif Yahudi terhadap Tuhan. Namun pada saat itu mereka juga belum menerima adanya aturan baru yang bisa diterapkan secara universal baik untuk mereka sendiri maupun pihak non-Yahudi yang mempunyai iman yang sama dengan mereka. Pendapat mereka ini tercatat dalam alkitab :

15:10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?

15:19 Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah,


Lalu mereka melakukan ‘ijtihad’ terhadap fenomena baru yang belum pernah mereka temukan dimasa sebelumnya ini. Untuk menolak minat kaum non-Yahudi yang telah tercerahkan ini dengan alasan ajaran yang dimiliki tersebut berlaku hanya bagi kaum Yahudi saja tentulah tidak bijaksana, namun sebaliknya menerima mereka dengan menerapkan semua aturan yang diberlakukan bagi kaum Yahudi juga sama tidak bijaksananya. Menanggapi masalah ini para murid Yesus kemudian menerapkan ‘aturan peralihan’, prinsipnya ‘menjalankan prinsip-prinsip aturan Yahudi sesanggup mungkin’ terhadap kaum non-Yahudi :

15:20 tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.

Intinya adalah : tinggalkan penyembahan terhadap berhala, jauhi diri dari kemaksiatan dan jangan memakan makanan yang haram. Namun pada ayat selanjutnya terlihat ada kebimbangan mereka terhadap keputusan yang mereka bikin, kemungkinan karena mereka takut ‘ijtihad’ tersebut disalah-gunakan sehingga jauh menyimpang dari apa yang sebenarnya mereka maksudkan :

15:21 Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."


Kondisi ini juga diperkuat dengan reaksi mereka ketika mendengar Paulus ‘terlalu kreatif’ menyampaikan aturan yang mereka bikin tersebut :

21:21 Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita.


Lalu para murid menyuruh Paulus untuk bertobat (mengenai kelanjutannya bisa anda baca pada link yang saya sampaikan tentang : Pertentangan antara para murid Yesus dengan Paulus)

Ada kesan yang kuat bahwa setelah kepergian Yesus Kristus, para murid yang setia terhadap ajarannya dalam posisi menunggu datangnya utusan berikutnya yang membenarkan apa yang disampaikan Yesus dan memberikan aturan baru yang berlaku secara universal. Keadaan ini dicatat dalam Al-Qur’an :
[61:6] Dan (ingatlah) ketika 'Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."


Al-Qur’an mencatat bahwa pada saat terakhir keberadaan Yesus ditengah murid-muridnya, dia menyampaikan bahwa akan datang seorang utusan yang akan membawa risalah baru yang berlaku bagi mereka, maka ketika mereka menemukan kenyataan banyaknya pihak non-Yahudi yang berminat untuk mengikuti ajaran yang mereka anut, mereka tidak berani untuk menyatakan aturan yang khusus diterapkan bagi kaum Yahudi juga berlaku bagi non-Yahudi. Kalaupun mereka menerapkan aturan baru, itu dimaksudkan sebagai aturan 'sementara' menjelang datangnya utusan yang telah diinformasikan oleh Yesus itu. Khususnya soal membolehkan makan babi, saya tidak menemukan adanya indikasi yang mengarah kesana, kemungkinan inilah yang kemudian ‘disambar’ oleh Paulus untu dimasukkan kepada ajarannya.

Sekarang semuanya berpulang kepada umat Kristen sendiri, apakah mereka mau ‘lebih cerdas’ mensikapi ajaran makan babi ini. Perkembangan ilmu pengetahuan terlihat mengkonfirmasi dan memberikan dukungan terhadap pengharaman dengan munculnya temuan penyakit baru yang silih berganti terkait dengan babi, umat Kristen tetap mengkonsumsi babi hanya dengan alasan sepele, karena enak. Sementara ketika umat Kristen ‘ melirik ke tetangga sebelah’, kepada umat Islam, mereka menemukan kenyataan bahwa umat Islam yang taat sudah terselamatkan oleh ajaran mereka tanpa harus menderita, karena akibat pengharaman makan babi maka muncul rasa jijik dan tidak memakan babi bukanlah suatu perbuatan yang menimbulkan ‘penderitaan’.

sumber :forum-swaramuslim.net
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi