Home » » Kupas Tuntas Al- Quran

Kupas Tuntas Al- Quran

Jumat, 02 April 2010

APAKAH SANG ISTRI AKAN BERTEMU KEMBALI DENGAN SUAMINYA DI SURGA..??

Ustadz kondang di Bandung, bp. Athian Ali, pernah menyampaikan dalam satu kesempatan ceramahnya, sering pertanyaan ini disampaikan oleh ibu-ibu majelis taklim :”Apakah saya bisa kembali bertemu dan hidup bersama suami saya di surga nanti..??”, sambil tertawa meledek pak ustadz lalu melanjutkan bahwa sudah puluhan tahun dia menjadi ustadz, belum pernah sekalipun ada pertanyaan yang sama datang dari bapak-bapak. Tentu saja hal ini kemudian mengundang ketawa para pendengarnya, terutama para bapak-bapak yang hanya bisa nyengir. Pertanyaan ini juga berkaitan dengan ‘serangan-serangan’ yang dilakukan oleh netters Kristen di forum ini :”Ketika laki-laki Muslim disediakan 72 bidadari di surga, lalu wanitanya bisa apa..??, apa cuma bengong melihat kaum laki-lakinya ‘berpesta-pora’..??. Terdapat kesamaan antara pertanyaan yang diajukan oleh ibu-ibu majelis taklim tersebut dengan apa yang digugat oleh netters Kristen, sekalipun dengan sudut-pandang yang berbeda. Persamaannya adalah : keduanya sama-sama menilai kondisi yang ada di akherat berdasarkan apa yang mereka alami di dunia, sedangkan perbedaannya, bagi ibu-ibu majelis taklim, pertanyaan didasari oleh kecintaan mereka kepada suami-suami mereka, sedangkan pertanyaan dari netters Kristen berdasarkan sikap dengki dan sinis terhadap ajaran Islam.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa hubungan antar manusia di akherat kelak berbeda dengan apa yang ada di dunia ini :

[23:101] Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.


Di dunia ini kita harus menjalani kehidupan dengan ikatan yang saling kait-berkait dengan individu lainnya, kita terlahir dari rahim seorang ibu yang mengandung karena dibuahi oleh seorang ayah, maka otomatis kita sudah terlahir mempunyai orang-tua, lalu dari hubungan anak dan orang-tua tersebut muncul hak dan kewajiban yang ditetapkan oleh ajaran agama. Demikian pula ketika kita beranjak dewasa dan sudah cukup umur, kita lalu menikah, maka hubungan pernikahan tersebut membuat kita terkait dengan individu lain yang juga memunculkan adanya hak dan kewajiban yang diatur oleh ajaran agama. Hubungan tersebut diciptakan Tuhan dengan dibungkus oleh perasaan : antara cinta dan benci, terpaksa dan sukarela, suka dan tidak suka, semuanya berproses silih berganti yang menjadi dasar adanya dinamika peradaban manusia. Lalu disaat Tuhan membangkitkan semua manusia diakherat untuk diminta pertanggung-jawabannya terhadap apa yang dilakukan mereka sehubungan dengan hak dan kewajiban dunia tersebut, maka semua ikatan termasuk perasaan yang melandasinya akan dihapus. Jangan anda kira ketika anda sebagai seorang ayah/ibu yang sedang dituntut atas segala perbuatan anda di dunia, lalu anak-anak anda akan melakukan pembelaan karena ‘tidak tega’ melihat anda diadili, demikian pula sebaliknya. Semua individu akan mempertanggung-jawabkan diri mereka sendiri :

[6:94] Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).


Bukan cuma manusia lain yang dulunya punya hubungan nasab dengan kita, bahkan sesuatu yang kita jadikan sandaran kita di dunia juga tidak bisa berbuat apa-apa, sandaran tersebut bisa berbentuk : Tuhan yang lain, atasan, penguasa, guru, kiyai, pendeta, dll, semuanya menghadap Allah mengurus diri sendiri. Bahkan bisa saja terjadi, seorang anak yang di dunia telah kita terlantarkan, atau seorang istri yang tidak pernah kita didik untuk patuh dan taat kepada Allah, bersaksi terhadap segala kezaliman kita tersebut, dan kesaksian mereka akan menyeret kita masuk neraka.

[16:111] (Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan).


Bagaimanakan cara kita menggambarkan perasaan dan ikatan kita satu sama lain nantinya di akherat..?? apakah kita bisa membayangkan perasaan kita terhadap anak kita yang saat ini kita sayangi, atau suami/istri yang kita kasihi, ketika nanti dikaherat semua perasaan tersebut sudah dihapus..??. Sebenarnya apa yang diinformasikan oleh Al-Qur’an ini bisa kita jelaskan melalui akal sehat kita. Kalaulah perasaan yang melandasi hubungan kita satu sama lain di dunia masih berlaku di akherat kelak, maka seorang ayah/ibu yang masuk surga tidak akan merasa nyaman dan tenteram disana ketika ternyata anaknya bernasib sial masuk neraka, demikian pula sebaliknya, bagaimana mungkin seorang istri yang sangat mencintai suaminya ‘sampai ke pojok surga’ bisa hidup bahagia ketika mengetahui ternyata si suami yang didambakan dijebloskan di neraka..??. Maka keputusan Allah untuk menghilangkan hubungan nasab dan perasaan yang melandasinya di akherat tersebut merupakan suatu keniscayaan dan bisa diterima akal sehat kita, karena memang demikianlah seharusnya. Allah menjelaskan bagaimana perasaan manusia nanti di surga :

[7:43] Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka;
[15:47] Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.


Tidak ada lagi perasaan tersinggung, cemburu, sakit hati terhadap perilaku penghuni surga yang lain.

Al-Qur’an menyuruh kita untuk berpikir soal ini dengan cara memperbandingkannya dengan kehidupan kita di dunia :

[56:60] Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan, [56:61] untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. [56:62] Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?


Ayat tersebut menginformasikan bahwa bagaimana persisnya keadaan kita di akherat kelak merupakan suatu yang tidak bisa kita bayangkan karena belum pernah ada bandingannya di dunia ini. Ibarat kita menyodorkan kalkulator kepada masyarakat primitif, mereka tentu saja punya alat untuk melakukan penghitungan seperti batu dan ranting kayu, lalu ketika diberikan kalkulator untuk melakukan penghitungan, maka pastilah mereka akan kebingungan karena buat kaum primitif, kalkulator merupakan benda ‘yang tidak pernah terbayangkan’ sebelumnya, sekalipun kalkulator merupakan penyempurnaan dari sarana berhitung yang ada pada mereka. Demikian juga dengan manusia, saat ini kita punya tubuh dan pranata/sistem yang kita kenal dalam menjalani kehidupan, apakah kita mampu membayangkan bagaimana persisnya bentuk tubuh dan sistem kehidupan yang merupakan penyempurnaan dari apa yang kita miliki saat ini..?? Namun secara cerdas, ayat Al-Qur’an tersebut menggiring kita untuk memikirkannya, ketika Allah menyatakan ‘Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran’, artinya Allah menyuruh kita untuk melihat perumpamaannya. Kita bisa membayangkan kalau seandainya kita dilahirkan kembali ke dunia, memulai lagi proses kelahiran dari rahim seorang wanita, lahir, menjadi bayi dan tumbuh dewasa, apakah kita akan berusaha mengulangi kembali kehidupan kita yang dahulu..?? apakah kita akan mencari-cari istri yang kita cintai pada kehidupan terdahulu..?? apakah kita akan berusaha kembali mengumpulkan anak-anak yang kita sayangi dulu..?? Apakah kita akan 'dibakar api cemburu' ketika tahu istri kita dahulu yang telah menitis kepada sosok yang lain ternyata menemukan jodohnya yang lain pula, atau marah-marah melihat anak kita di kehidupan terdahulu ternyata menitis menjadi anak orang lain..?? Anda juga bisa memakai perumpamaan ini untuk periode sebaliknya, jika kehidupan anda saat ini adalah titisan dari hidup anda sebelumnya, apakah saat ini anda sedang mencari-cari dimana istri anda dulu..?? atau berusaha menemukan ayah-ibu anda dahulu..??

Tentu saja tidak demikian, kita akan berproses sesuai jalur kehidupan yang sudah ditentukan, mencari jodoh sesuai takdir kita, melahirkan anak yang berbeda. Demikianlah desain hidup kita dahulu, maka itu juga yang berlaku bagi kita pada kehidupan selanjutnya.

Perintah untuk berpikir melalui perumpamaan tersebut sebenarnya sudah bisa memberikan gambaran bagaimana nantinya kita di akherat terkait hubungan antara manusia, bahwa kita akan menjalani kehidupan yang baru sebagai bentuk penyempurnaan kehidupan kita di dunia..

Jadi bagi ibu-ibu majelis taklim, jangan khawatir terhadap suami anda nantinya, apakah masih bersama anda atau sudah ‘dibajak’ oleh para bidadari. Yang sebaiknya anda lakukan adalah mendo’akan suami dan anak-anak agar mereka selalu dilindungi Allah dan mendapat kebaikan kelak di akherat, memastikan apakah suami dan anak-anak selalu bisa menjalankan apa yang diperintah oleh Allah, disamping tetap berusaha untuk memperbaiki diri terus-menerus, menjadi istri yang salehah. Suami dan keluarga adalah sarana anda untuk berbakti kepada Allah, menjadi ‘medan tempur’ yang bisa anda manfaatkan untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Mencintai suami sepenuh jiwa dan raga tentu saja merupakan sikap yang mulia, namun hal tersebut tetap harus dikaitkan dengan kecintaan anda kepada Allah semata. Bagi netters Kristen yang sinis dan dengki, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjawab dan menghapus penyakit yang ada dalam hati anda dalam melihat kebenaran dan keagungan ajaran Islam, bahwa pertanyaan yang selama ini anda ajukan, hanya datang dari kebekuan hati sehingga tidak mampu lagi menuntun pikiran anda melihat persoalan secara jernih.

Jumat, 19 Februari 2010

Metodologi Riset Ilmiah Mukjizat Alquran

Oleh Dr. Abdul Hafizh Al-Haddad Membuat penelitian dalam bidang mukjizat ilmiah membutuhkan pengalaman dan kepiawaian peneliti untuk mencapai hasil yang akurat. Pengalaman dan kepiawaian ini pada dasarnya bertumpu pada bekal yang cukup dalam bidang ilmu tafsir, serta memiliki fondasi yang kuat dalam memahami ilmu-ilmu alam. Dengan demikian, peneliti menjadi kompeten untuk menangani suatu masalah dalam bidang mukjizat ilmiah. Tetapi, apabila ia ingin menulis sebuah kajian yang bisa dipahami dalam bidang ini dan bisa diterima oleh para ilmuwan, maka ia harus melengkapi diri dengan metodologi riset, dan pada kelanjutnya menguasai dasar-dasar metodologis penulisan penelitian, baik yang bersifat umum atau khusus.
Pertama: Berbagai kaidah dan prinsip yang harus dipegang saat menafsirkan Al Qur’an Al Karim yang disebut dengan metodologi tafsir sebagai berikut:
  1. Wajib mengetahui setiap hal yang terkait dengan nash, baik dari segi tanda baca, korelasi, dan selainnya, seperti sababun-nuzul dan wajhul-qira’ah.
  2. Wajib mengetahui apakah ada nash dari Al Qur’an yang dapat dijadikan sebagai penafsir nash yang tengah kita teliti, karena ayat-ayat Al Qur’an itu saling menafsirkan satu sama lain. Penafsiran ini lebih dikedepankan daripada jenis-jenis penafsiran lainnya.
  3. Wajib meneliti apakah ada hadits yang bisa dijadikan penafsir ayat, karena Rasulullah SAW adalah orang yang paling mengetahui maksud Allah, karena kepada beliau-lah Al Qur’an diturunkan.
  4. Meneliti pendapat yang bersumber dari para sahabat karena mereka lebih mengetahui makna-makna Al Qur’an, dan karena dimungkinkan mereka mendengar informasi khusus dari Rasulullah SAW terkait ayat yang sedang dikaji.
  5. Memerhatikan makna bahasa yang berlaku pada saat turunnya Al Qur’an, bukan makna lain yang dikenal manusia sesudahnya.
  6. Memerhatikan kaidah I’rab dan kaitan-kaitannya yang menjelaskan makna yang sebenarnya dari nash Al Qur’an.
  7. Menerapkan kaidah Balaghah dan Bayan, karena ia membantu untuk mengungkapkan indikasi nash.
  8. Memerhatikan pula alur dan konteks nash, serta situasi dan kondisi yang melingkupi nash.
  9. Sebelum kita menetapkan makna nash, maka harus memastikan bahwa ada kalimat atau isyarat yang membantu untuk menetapkan makna yang kita inginkan, karena klarifikasi adalah tuntutan syari‘ah, terlebih lagi dalam penelitian mukjizat ilmiah Al Qur’an.
  10. Mengamati indikasi lafazh dan kalimat nash; apakah mengandung sesuatu yang menunjukkan makna-makna tambahan seperti batasan terhadap yang umum, pengkhususan terhadap yang mutlak, atau ada unsur majaz di dalamnya? Tujuan dari langkah ini adalah mengetahui pertimbangan prioritas untuk meletakkan nash pada tempat yang sesuai.
  11. Wajib menjadikan makna yang pertama sebagai pegangan. Karena itu, makna yang muhkam lebih kuat daripada makna tekstual; makna tekstual lebih kuat daripada makna yang disimpulkan melalui takwil ketika ada faktor takwil, tetapi harus tetap diperhatikan kriteria-kriteria takwil. Demikian pula, makna eksplisit lebih didahulukan daripada makna implisit. Bahkan di antara sesama makna implisit tersebut, sebagiannya lebih didahulukan daripada sebagian yang lain.
  12. Keharusan mengetahui kondisi terkaitnya dengan kemungkinan makna dengan nash. Pertama, terkait khusus dengan fakta syari‘ah. Kedua, terkait dengan fakta tradisi. Kita mendahulukan aspek syari‘ah di atas aspek tradisi. Dan demikian pula kita mendahulukan aspek tradisi di atas aspek bahasa, kecuali ada indikasi yang valid.
  13. Ada beberapa kalimat yang terdiri dari satu huruf dan ada yang lebih banyak, yang diistilahkan dengan huruf bermakna. Para ahli bahasa telah mengistilahkan makna-maknanya ketika kata tersebut berada dalam satu kalimat, dan itu harus dipertimbangkan.
  14. Ada beberapa kaidah ushuliyyah yang makna-maknanya juga dijadikan pegangan oleh para ahli tafsir. Karena itu, kaidah-kaidah tersebut harus diperhatikan dan diterapkan dalam menafsirkan ayat dan Sunnah. Di antaranya adalah: “Yang berlaku adalah sifat umum lafazh, bukan sebab khusus.” Juga seperti kaidah, “Dugaan yang tidak bersumber dari dalil itu tidak berlaku.”
  15. Tidak menyelami nash-nash mutasyabih, dan masalah-masalah yang disebut ulama dengan istilah sam’iyyat.
  16. Menghindari isra’iliyyat, serta tidak bersandar pada nash-nash yang lemah atau tidak valid ketika diteliti.
  17. Menghindari pernyataan negatif terhadap perkataan ulama salaf meskipun telah jelas kesalahan mereka. Sebaliknya, kita wajib bersikap santun dalam menolak kesalahan itu dengan mengambil inti pelajaran bahwa barangkali ada satu aspek yang membuat pernyataan mereka itu diterima. Betapa banyak orang mencela orang lain, padahal sebenarnya aib itu ada pada dirinya sendiri karena kurang memahami.
  18. Tidak boleh terlepas dari kita keyakinan akan kebenaran janji Allah dan berita-Nya bahwa Dia akan menunjukkan kebenaran ayat-ayatnya di alam semesta, tetapi pada waktu yang telah ditetapkan-Nya. Karena itu, tidak boleh mengedepankan sesuatu yang kita dengar di atas Kalam Allah, karena apa yang kita dengar itu tidak terlepas dari kekeliruan.
  19. Apabila kita tidak menemukan kemantapan setelah melakukan langkah-langkah di atas, dan kita terpaksa untuk menakwili nash, maka kita harus berpegang pada apa digariskan ulama salaf dalam bidang ini. Di antaranya adalah memastikan kebenaran indikasi yang kita simpulkan, dan bahwa kesimpulan ini tidak boleh keluar dari batas moderat dan menyimpang dari suatu hakikat agama. Sebaliknya, kita harus mendekatkan antara berbagai kosa kata nash, begitu juga natara nash dengan nash yang lain, karena tidak ada kesenjangan antara ayat-ayat Al Qur’an selama-lamanya.
  20. Tidak menyeret ayat ke arah makna yang diinginkan peneliti, dengan berpegang pada asumsi-asumsi yang lemah dan memaksakan. Kalamullah seyogianya dihindarkan dari hal-hal semacam ini.
  21. Untuk memahami metodologi penelitian lebih dalam, silakan baca kitab Al-Itqan karya as-Suyuthi (jld. IV, hlm. 200 dst.), kitab at-Tafsir wal-Mufassirun karya Adz-Dzahabi (jld. I, hlm. 265-284), dan kitab-kitab lain di bidang Ulumul Qur’an.
Dan yang kedua adalah memahami prinsip ilmiah yang harus menjadi patokan dalam melaporkan fakta-fakta ilmiah, sebagaimana yang digariskan oleh pakar spesialis di bidang masing-masing.

Minggu, 19 Juli 2009

BAGAIMANA MENILAI JIHADNYA PARA 'TERORIS' ISLAM..??

oleh :Archa

Boleh dikatakan hampir semua Muslim mengetahui tentang perang Uhud, salah satu perang yang dilakukan oleh Rasulullah dan pengikutnya setelah kemenangan gemilang perang sebelumnya, perang Badar. Pada awalnya, dengan strategi yang jitu menempatkan para pemanah di suatu bukit sehingga kelebihan jumlah pasukan musuh menjadi tidak berguna akibat bertempur pada front yang terbatas, membuat musuh mati kutu dan mengalami kekalahan. anda bisa membacanya disini :

http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Uhud

Namun kemenangan yang diperoleh pasukan Muslim hanyalah sementara karena para pemanah yang ditempatkan di bukit tidak mampu menahan dorongan hawa nafsunya untuk ikut merebut pampasan perang yang ditingggalkan musuh, mereka lalu meninggalkan posisi dan membuat area pertempuran kembali terbuka. Kita juga mengetahui kisah selanjutnya, ketika pasukan Quraisyi berbalik melewati jalur yang terbuka tersebut, menyerang pasukan Muslim yang sibuk memungut harta pampasan perang. Tercatat 70 tentara Muslim tewas dalam pertempuran, tentunya termasuk para pemanah yang telah meninggalkan pos mereka.


Pertanyaan muncul :”Apakah para pemanah yang telah lalai dan melanggar perintah Rasulullah tersebut bisa dikatakan mati syahid..?”. Boleh jadi ketika mereka berangkat dari Madinah dihati mereka tertanam kerelaan dan keikhlasan untuk berjuang dijalan Allah, sekalipun dengan resiko harus tewas di medan pertempuran. Semangat dan niat tersebut tentu masih ada ketika mereka menempatkan posisi sebagai pemanah. Namun kita bisa menduga bahwa ketika mereka meninggalkan pos mereka untuk ikut ‘cawe-cawe’ memungut harta pampasan perang, mungkin ada niat yang berubah dalam hati, dan pada saat itulah mereka kemudian ikut tewas dalam pertempuran. Lalu apakah kemudian Rasulullah memberikan statement bahwa mereka tidak mati syahid..?? bahwa mereka telah melakukan ‘jihad yang salah’..??, tidak ada catatan adanya pernyataan Rasulullah tersebut, yang ada justru hadist yang mengatakan Rasulullah memperlakukan jenazah mereka sebagai orang-orang yang mati syahid :

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. : bahwa Nabi Muhammad Saw mengumpulkan setiap dua orang yang mati syahid dalam perang Uhud di dalam selembar kain, kemudian bertanya, “siapa di antara mereka yang lebih mengetahui tentang Al Quran?” ketika salah seorang dari mereka ditunjukkan, Nabi Muhammad Saw memasukkan orang itu terlebih dahulu ke dalam kubur dan berkata, “aku akan bersaksi untuk mereka di hari kiamat”. Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk mengubur mereka tanpa membersihkan darah mereka lebih dahulu dan Nabi Muhammad Saw tidak memandikan maupun menshalatkan mereka.

Secara ‘kasat mata’ kita tentu bisa memberikan penilaian bahwa tindakan para pemanah yang meninggalkan pos mereka tersebut merupakan suatu kesalahan. Dari kisah tersebut kita bisa mencatat bahwa Rasulullah sendiri tidak menghakimi, apakah seseorang melakukan jihad atau tidak, apalagi memberikan penilaian tentang ‘jihad yang benar atau yang salah’. Kalaulah waktu itu Rasulullah memberikan penilaian soal jihad atau tidak, maka tentu akan ada suatu riwayat yang menceritakan prosesi pemakaman yang berbeda, minimal Rasulullah akan membagi dua model pemakanan, yang satu untuk para sahabat bukan pemanah yang syahid, dan yang satu lagi proses penguburan ‘model biasa’ untuk jenazah para pemanah karena dinilai tidak mati syahid. Jadi apa yang dilakukan Rasulullah terbatas kepada penilaian bahwa semua yang tewas dalam pertempuran tercakup kedalam suatu rombongan yang berangkat dari Madinah, dibawah komando Rasulullah dan berperang untuk membela agama Allah. Sebagai seorang manusia, Rasulullah hanya bisa menilai perbuatan orang dari BENTUKnya saja. Lalu apakah mereka dikatakan mati syahid dan masuk surga atau tidak..?? siapa yang tahu..??

Kata ‘jihad’ banyak terulang dalam Al-Qur’an mengesankan tentang adanya “perjuangan secara sungguh- sungguh mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan”, dan kalau didalami lebih lanjut, kata ini terkait dengan adanya pengorbanan atas suatu usaha yang kita lakukan.

[4:95] Tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.


Ayat tersebut menjelaskan bahwa perbedaan antara orang yang berjihad dan yang tidak berjihad terletak kepada ‘pengorbanan’ harta dan nyawa.

Biasanya, kata ‘jihad’ selalu disandingkan dengan ‘fii sabilillaah’ = di jalan Allah, menunjukkan bahwa ‘jihad’ tersebut sebenarnya adalah suatu yang netral. Salah atau benarnya suatu perbuatan tidak terkait dengan adanya ‘jihad’ atau tidak, tapi dinilai berdasarkan bentuk perbuatannya, dan penghakiman manusia terhadap bentuk perbuatan juga tidak berbanding lurus dengan nilai perbuatan tersebut adalah jihad atau tidak, keduanya merupakan hal yang sama sekali tidak berkaitan. Anda mengatakan perbuatan seseorang ‘tidak fii sabilillaah’, namun penilaian tersebut tidak menjelaskan apakah orang tersebut telah berjihad atau tidak, sebaliknya ketika anda mengatakan perbuatannya ‘fii sabilillaah’, anda juga tidak bisa memastikan apakah orang tersebut memang sedang berjihad sehingga ketika dia mati, anda bisa pastikan akan masuk surga.

Kata ‘jihad’ juga sering dikaitkan dengan perbuatan berperang, sekalipun dalam terminologi Islam, jihad tidak hanya terkait dengan hal tersebut. Ini disebabkan karena perang adalah satu bentuk perbuatan yang ‘sangat nyata’ dalam memberikan pengorbanan harta dan nyawa. Saya menulis di forum ini dengan niat berjihad di jalan Allah, namun pengorbanan yang saya berikan mungkin hanya terbatas kepada pengorbanan waktu dan duit buat bayar koneksi internet, bahkan hal tersebut sering ‘tidak terasa’ karena kebetulan saya memang lagi menganggur. Lain hal ketika saya ingin berjihad dengan mengasah pedang, hendak maju ke medan pertempuran melawan musuh yang ingin membunuh saya, maka pengorbanan yang akan saya berikan akan saya rasa sangat besar. Al-Qur'an banyak mengkaitkan kata 'jihad' dengan 'perang' karena bentuk perbuatan tersebutlah yang 'paling ekstrim' untuk menjelaskan soal pengorbanan.

Dalam Al-Qur’an kata ‘jihad’ ini tidak hanya disandingkan dengan suatu perbuatan di jalan Allah saja, tapi juga terkait dengan tindakan yang menyimpang dari jalan Allah, misalnya pada QS 29:8 dan QS 31:15,

wawashshaynaa al-insaana biwaalidayhi husnan wa-in jaahadaaka litusyrika
[29:8] Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu ,= berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempersekutukan Aku..

wa-in jaahadaaka 'alaa an tusyrika bii maa laysa laka bihi 'ilmun
[31:15] Dan jika keduanya memaksamu = berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,..


Setelah menempatkan istilah ‘jihad’ pada posisinya yang benar, maka kita bisa melanjutkan dengan mengkaitkannya dengan contoh-contoh perbuatan yang kita temukan di jaman sekarang ini. Pertanyaannya adalah : Bagaimana menilai suatu perbuatan sekelompok orang yang melakukan bom bunuh diri di tempat umum, seperti restoran, hotel, di jalanan, dll dengan tujuan ‘berjihad’ di jalan Allah..?? apakah mereka benar mati syahid atau tidak..??

Petama, ijinkanlah saya mengatakan bahwa atribut ‘jihad’ yang disematkan terhadap perbuatan orang-orang tersebut adalah datang dari mereka sendiri, dan keyakinan akan masuk surga karena tewas bersama bom yang mereka ledakkan di tempat umum juga datang dari mereka sendiri. Tentu saja kita tidak bisa memastikan apakah mereka memang masuk surga atau tidak, tidak ada seorangpun yang bisa memastikan :”Ooo..dia nggak bakalan masuk surga...”, atau sebaliknya :”Sudah pasti laah..bakal masuk surga..”, bahkan ketika hal tersebut datang dari ‘atasan’ mereka sendiri, yang telah melakukan ‘indoktrinasi’ sehingga mereka memiliki keyakinan yang kuat akan masuk surga.

Penilaian yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan benar atau salah BENTUK perbuatan mereka, apakah merupakan perbuatan ‘fii sabilillaah’ atau sebaliknya ‘bukan fii sabilillaah’. Sebuah bom yang sengaja diledakkan di tempat umum, pasti punya sasaran untuk mematikan semua orang yang kebetulan berada disana, tidak peduli siapa orangnya, apakah muslim atau bukan, kalau bukan Muslim, apakah memusuhi Islam atau tidak. Maka ketika bom tersebut menewaskan sesama saudara Muslim, kita bisa mengkategorikannya merupakan ‘pembunuhan yang disengaja’ oleh seorang Muslim terhadap Muslim yang lain, dalam hal ini berlaku aturan Al-Qur’an :

[4:93] Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.


Apakah masih perlu kita memelintir pengertian ayat ini..?? semuanya tertulis dengan jelas. Bahkan Al-Qur’an juga memberikan gambaran bahwa membunuh siapapun dengan alasan yang tidak jelas adalah suatu kedzaliman :

[5:32] Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya412. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.
412: Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.


Ketika bom JW Marriott dan Ritz Carlton, menewaskan beberapa orang non-Muslim (berdasarkan asumsi bahwa si pelaku memang sekelompok orang yang sedang memperjuangkan/membela Islam) , kita seharusnya bertanya kepada mereka sebelumnya :’Apakah anda memusuhi Islam..?? apakah anda melakukan tindakan-tindakan yang menyerang Islam..??”, bahkan pertanyaan ini terasa sangat sumir kalau kita tujukan kepada saudara-saudara kita yang Muslim, yang juga tewas dalam pengeboman tersebut.

Marilah kita berandai-andai, katakanlah saat ini Indonesia memberlakukan syari’at Islam dengan Amirul Mukminin yang terpercaya seperti para Khulafah Rasyidin, apakah yang akan diputuskan terhadap pelaku pembunuhan ini..?? menurut saya, mereka tentu akan memberlakukan hukum Islam juga :

[2:178] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.


Apakah mungkin seorang Khalifah yang berusaha menegakkan syari’at Islam akan memberikan ‘dispensasi’ terhadap peledakan bom yang dilakukan di tempat umum dan bertujuan untuk membunuh siapapun yang ada disitu, hanya karena pelakunya menyatakan perbuatan mereka adalah ‘jihad fi sabililaah’..?? tentu saja hukum Islam tidak akan mempedulikan pengakuan mereka soal jihad, berjihad atau tidak itu urusan mereka dengan Allah, hukum Islam akan dijatuhkan berdasarkan penilaian apakah perbuatan mereka merupakan ‘fii sabilillah’ atau bukan. Al-Qur’an menyatakan dengan jelas dilarang membunuh manusia tanpa alasan, dilarang membunuh sesama Muslim dengan sengaja, sedangkan BENTUK perbuatan yang ada : membunuh dengan sengaja dan tanpa alasan yang terkait dengan si korban, maka itu jelas bukan fii sabililaah.

Berikut ini saya ingin menyampaikan pikiran saya terkait dengan penyebab adanya se kelompok Muslim yang melakukan peledakan bom di tempat umum sebagai salah satu bentuk perjuangan mereka menegakkan ajaran Allah..

Terlihat adanya kesan ‘keputus-asaan’ terhadap pertolongan Allah dalam melakukan perjuangan. Saat ini dunia Islam memang menghadapi lawan yang ‘tidak berbentuk’, penyerangan terhadap Islam sering ‘dibungkus’ jargon-jargon yang sebaliknya : damai, kasih, hak azazi, demokrasi, kebebasan berpendapat dan disisi lain terlihat perbuatan mereka sedikit demi sedikit telah merusak tatanan masyarakat, sehingga makin jauh dari nilai-nilai Islam. Disamping kekuatan, teknologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki pihak musuh dinilai sangat besar untuk dilawan secara ‘berhadap-hadapan’. Saya sudah menjelaskannya dalam tulisan sebelumnya :

http://forum-swaramuslim.net/more.php?id=4263_0_15_0_M

Kondisi ini kelihatannya membuat sebagian Muslim merasa terpojok dan mencari segala cara untuk mengadakan perlawanan. Akibat musuh yang tidak jelas, maka segala sesuatu yang ‘berbau musuh’ akan dihabisi. Padahal Al-Qur'an menasehatkan bahwa bagaimanapun hebatnya tipu-daya musuh-musuh Islam, Allah tidak akan membiarkan mereka meraja-lela :

[3:120] Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

[4:76] Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

[8:18] Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir.

[8:30] Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

[9:48] Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.

[13:42] Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.

[27:70] Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan".


Serangan musuh yang licik dan pengecut seharusnya tetap harus dilawan dengan cara yang hati-hati dan mempetimbangakan SEMUA aturan Allah, baik yang terdapat dalam Al-Qur'an maupun hadist, bukan hanya mengambil dasar sebagian-sebagian saja. Mungkin kelihatannya kita telah berperang dengan cara yang dinilai 'terlalu naif' berdasarkan pandangan manusia, namun belum tentu 'naif' dalam pandangan Allah. Musuh-musuh Islam punya sumber daya yang luar biasa, namun Allah sudah menjanjikan hal tersebut tidak akan berarti untuk menghancurkan Islam. Allah sudah menjanjikannya dalam Al-Qur'an, tergantung tingkat keyakinan kita sehingga kita tetap bisa istiqomah/konsisten dalam melakukan bentuk perjuangan yang benar-benar mempertimbangan semua aturan Allah tersebut.

Pertanyaa sering muncul, baik dari umat Islam maupun pihak non-Muslim :”Apakah si pelaku pengeboman bisa dikatakan telah berjihad atau tidak..??”, atau pertanyaan yang lebih konyol :”Apakah yang dilakukan merupakan jihad yang benar atau jihad yang salah..??”. lalu pihak Islam terbawa untuk menjawab pertanyaan tersebut ‘menari dalam irama gendang yang dilakukan orang’, ada yang bilang itu jihad dan ada juga yang mengatakan itu bukan jihad, bahkan sebagian ulama perlu repot-repot mengeluarkan fakwa untuk itu, seolah-olah yang menjawab mengerti betul bagaimana nasib si pelaku pengeboman setelah mereka tewas. Umat Islam seharusnya tidak perlu menggubris soal ini, karena sebaiknya semua energi kita perlu kita pakai untuk menyadarkan umat, memberikan pengertian tentang mana suatu perbuatan dikategorikan sebagai ‘fii sabilillah’ dan mana yang bukan..

sumber : forum-swaramuslim.net

Senin, 08 Juni 2009

Kepemimpinan dalam Alquran (3)

Di dalam kitab Shahihain terdapat riwayat dari A’masy, “Ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik.”
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58-59)
Sesungguhnya hakimiyyah (otoritas legislasi) dalam kehidupan manusia itu milik Allah semata, baik kecil atau besar. Allah telah menetapkan aturan di dalam al-Qur’an, dan mengutus Rasul untuk menjelaskannya kepada manusia. Beliau tidak berbicara menurut inisiatif dirinya, karena Sunnah beliau merupakan ketetapan dari Allah.
Allah wajib ditaati. Di antara karakteristik uluhiyyah-Nya adalah menetapkan syariat. Jadi, syariat-Nya wajib dilaksanakan. Orang-orang yang beriman wajib menaati Allah secara primordial, dan menaati Rasulullah lantaran sifat yang dimilikinya ini. Yaitu sifat kerasulan dari Allah. Jadi, taat kepada Rasulullah merupakan bagian dari taat kepada Allah yang mengutusnya untuk membawa syari’at ini dan menjelaskannya kepada manusia dalam Sunnahnya. Sunnah dan keputusan Rasulullah—dengan demikian—merupakan bagian dari syari’at yang wajib dilaksanakan. Ada dan tiadanya iman itu tergantung pada ketaatan dan pelaksanaan syari’at, sesuai nash al-Qur’an:
“Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
Adapun Ulul Amr (pemegang otoritas), nash mendefinisikan siapa mereka. “Dan ulil amri di antara kamu..”
Maksudnya di antara orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang telah memenuhi syarat iman dan batasan Islam yang dijelaskan dalam ayat ini. Yaitu menaati Allah dan menaati Rasulullah, memonopolikan Allah sebagai pemilik hakimiyyah dan hak membuat aturan bagi manusia secara primordial, menerima perintah dari-Nya saja, dan kembali kepada-Nya dalam perkara-perkara yang diperselisihkan akal, faham, dan pendapat yang tidak ada teksnya, untuk menerapkan prinsip-prinsip umum yang diambil dari nash.
Nash menganggap ketaatan kepada Allah sebagai basis, dan begitu juga ketaatan kepada Rasul-Nya. Dan nash menjadikan ketaatan kepada Ulil Amri di antara kalian itu sebagai subordinan terhadap ketaatan kepada Allah dan ketatan kepada Rasul-Nya. Di sini nash tidak mengulang kata taat saat menyebut mereka, sebagaimana nash mengulangnya saat menyebut Rasul saw. Hal itu untuk menetapkan bahwa ketaatan terhadap mereka itu bersumber dari ketaatan terhadap Allah dan ketaatan terhadap Rasul-Nya, sesudah menetapkan bahwa Ulil Amri itu berasal dari kalangan kalian, yaitu dengan batasan dan syarat iman.
Taat kepada Ulil Amri di antara kalian itu diperintahkan sesudah ketetapan-ketetapan ini, dalam batas-batas perkara yang ma’ruf dan disyari’atkan, tidak diredaksikan keharamannya, dan tidak termasuk diharamkan ketika dikembalikan kepada prinsip-prinsip syari’at—pada waktu diperselisihkan. Sunnah telah menetapkan batasan-batasan ketaatan terhadap Ulil Amri secara tegas dan pasti.
Di dalam kitab Shahihain terdapat riwayat dari A’masy, “Ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik.”
Di dalam kitab Shahihain juga terdapat riwayat dari Yahya al-Qaththan, “Mendengar dan taat itu wajib bagi seorang muslim, baik dalam perkara yang disenanginya atau yang dibencinya, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat. Apabila ia diperintah berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat.”
Muslim meriwayatkan dari Ummu Hushain, “Seandainya seorang budak diangkat menjadi pemimpin kalian, dan dia memimpin kalian berdasarkan Kitab Allah, maka dengarlah dan taatilah dia.”
Dengan demikian, Islam menjadikan setiap individu sebagai pembawa amanah atas syari’at Allah dan Sunnah Rasul-Nya, pembawa amanah atas iman dan agamanya, pembawa amanah atas diri dan akalnya, dan pembawa amanah atas masa depannya di dunia dan akhirat. Islam tidak menganggap manusia sebagai gembala di ladang ternak, yang dihalau kesana kemari, lalu mereka mendengar dan taat! Karena manhajnya jelas, dan batasan-batasan taat juga jelas. Syari’at yang ditaati dan Sunnah yang diikuti itu satu, tidak berbilang, tidak terpecah belah, dan tidak mengombang-ambingkan individu di antara berbagai dugaan!
Semua ketentuan itu berlaku dalam hal yang ada nash eksplisitnya. Mengenai hal yang tidak ada nashnya, dan mengenai berbagai problematika dan perkara yang terjadi sering zaman, perkembangan kebutuhan, dan lingkungan yang berbeda-beda, sementara tidak ada nash yang pasti, atau tidak ada nash tentangnya sama sekali..padahal akal, pendapat, dan pemahaman berbeda dalam menilainya..mengenai semua ini, Allah juga tidak membiarkan manusia dalam keadaan bingung tanpa timbangan, dan tidak membiarkan mereka tanpa manhaj untuk membuat aturan dan hukum cabang. Allah menjadikan nash yang pendek ini sebagai manhaj dalam ijtihad seluruhnya, dan menetapkan batasan-batasannya. Allah telah mendirikan “pokok” yang mengatur manhaj ijtihad.
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya)..”
Kembalikanlah kepada nash-nash yang secara dengannya secara implisit. Jika tidak ada nash-nash yang sesuai sedemikian rupa, maka kembalikanlah masalah itu kepada prinsip-prinsip universal umum dalam manhaj dan syari’at Allah. Ini bukan sesuatu yang mengapung, bukan kekacauan, dan bukan termasuk terra incognita dimana akal tersesat di dalamnya, seperti yang coba dikatakan oleh sebagian penipu. Di dalam agama terdapat prinsip-prinsip dasar yang jelas sejelas-jelasnya. Ia meng-cover seluruh aspek pokok kehidupan, dan meletakkan satu pagar yang mudah ditembus hati seorang muslim yang terbentuk oleh timbangan agama ini.
baca sebelumnya
sumber : eramuslim.com

Minggu, 07 Juni 2009

Kepemimpinan dalam Alquran (2)

Allah meletakkan standar ini bagi manusia untuk amanah dan keadilan, untuk semua nilai, untuk semua keputusan, dan untuk semua bidang kegiatan, dalam setiap ranah kehidupan.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58-59)

Perintah menunaikan amanah kepada yang berhak dan memutuskan perkara di antara manusia dengan adil ini dikomentari dengan peringatan bahwa perintah tersebut merupakan sebagian dari nasihat dan arahan Allah, dan betapa bagusnya apa yang dinasihatkan dan diinstruksikan Allah.
“Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Mari kita merenung sejak ungkapan ini dari sisi gaya bahasanya. Karena pada mulanya susunan kalimat ini berbunyi: innahu ni’ma ma ya’izhukumullahu bihi (sesungguhnya ia adalah sebaik-baik yang dinasihatkan Allah kepada kalian).
Tetapi, ungkapan ini mendahulukan lafzhul Jalalah, dengan menjadikannya sebagai isim (kata benda) bagi partikel inna, dan menempatkan lafazh ni’imma dan kata-kata yang terkait itu pada kedudukan khabar bagi inna sesudah khabar-nya dihilangkan..Hal itu untuk menginspirasikan kuatnya hubungan antara Allah Subhanah dengan apa yang dinasihatkan-Nya kepada mereka ini.
Kemudian, sebenarnya itu bukan “nasihat”, melainkan “perintah..” Tetapi ungkapan ini menyebutnya nasihat, karena nasihat itu lebih menyentuh hati, lebih cepat merasuk ke dalam emosi, dan lebih memotivasi untuk melaksanakannya secara suka rela dan rasa malu!
Kemudian hadirlah komentar terakhir dalam ayat, yaitu perintah untuk merasa diawasi Allah (muraqabah), takut dan berharap kepada-Nya.
“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Korelasi antara tugas-tugas yang diperintahkan, yaitu menunaikan amanah dan memutuskan perkara di antara manusia dengan adil, (korelasinya) dengan sifat Allah sebagai Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, merupakan korelasi yang jelas sekaligus halus: Allah mendengar dan melihat masalah-masalah keadilan dan amanah. Selain itu, keadilan perlu didengar, dilihat, dan dihargai dengan baik, perlu diperhatikan hal-hal yang melingkupinya dan fenomena-fenomenanya, dan perlu didalami apa ada di balik situasi dan kondisi serta fenomena-fenomenanya. Dan yang terakhir, perintah menyampaikan amanah dan berbuat adil itu bersumber dari Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat segala perkara.
Selanjutnya, apa tolok ukur amanah dan keadilan? Apa metode untuk mempersepsi, mendefinisikan, dan melaksanakannya? Apakah ia berlaku dalam setiap aspek dan aktivitas kehidupan?
Apakah kita menyerahkan konsep amanah dan keadilan, media-media implementasi dan realisasinya kepada kebiasaan dan terminologi masyarakat? Apakah kita menyerahkannya kepada keputusan akal mereka—atau selera mereka?
Sesungguhnya akal manusia itu memiliki kriteria dan nilai sendiri dalam kapasitasnya sebagai salah satu alat untuk mengetahui dan mencari petunjuk dalam diri manusia. Hal ini memang benar, tetapi akal manusia itu adalah akal individu-individu dan kelompok-kelompok dalam suatu lingkungan yang sangat terpengaruh dengan berbagai stimulasi..Tidak ada yang disebut “akal manusia” dalam arti yang mutlak! Yang ada adalah akalku, akalmu, akal fulan, dan akal sekumpulan manusia, di suatu ruang atau waktu..Semua ini terjadi di bawah beragam pengaruh, menyayun-ayun seperti pendulum..
Harus ada kriteria baku yang menjadi referensi akal yang banyak ini, sehingga akal-akal tersebut mengetahui sejauh mana salah dan benarnya keputusan dan persepsi akal, sejauh mana akal melampaui batas dan kurang dari batas dalam membuat keputusan dan persepsi tersebut. Nilai akal manusia di sini adalah sebagai piranti yang disiapkan bagi manusia untuk mengetahui kriteria keputusan-keputusannya dalam kriteria ini, yaitu kriteria baku yang tidak mengikuti hawa nafsu dan tidak terpengaruh oleh berbagai stimulus.
Standar-standar yang diletakkan sendiri oleh manusia itu tidak berlaku. Karena terkadang ada cacat dalam standar-standar itu sendiri, sehingga semua nilai menjadi tumbang. Hal itu terjadi selama manusia tidak kembali kepada standar-standar yang baku dan lurus.
Allah meletakkan standar ini bagi manusia untuk amanah dan keadilan, untuk semua nilai, untuk semua keputusan, dan untuk semua bidang kegiatan, dalam setiap ranah kehidupan.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)
Di dalam nash yang pendek ini Allah Subhanah menjelaskan syarat iman dan batasan Islam. Pada waktu yang sama, Allah juga menjelaskan kaidah aturan pokok dalam jama’ah muslim, kaidah memerintah, dan sumber kekuasaan.
Seluruhnya berawal dan berakhir pada talaqqi (penerimaan titah) dari Allah semata, dan kembali kepada-Nya dalam hal-hal yang tidak diredaksikan-Nya, yaitu perkara-perkara parsial yang terjadi dalam kehidupan manusia di sepanjang sejarah, yang diperselisihkan oleh berbagai akal, pendapat, dan faham. Semua itu agar ada tolok ukur baku yang menjadi referensi semua akal, pendapat, dan faham
baca sebelumnya
baca selanjutnya
sumber : eramuslim.com

Minggu, 31 Mei 2009

Kepemimpinan Dalam Al-Qur'an (1)

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.


إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58-59)
Ini merupakan tema penting yang dikupas dalam pelajaran ini, selain penjelasan tentang tugas umat Islam di muka bumi. Tema tersebut adalah menetapkan prinsip-prinsip keadilan dan etika di atas dasar-dasar manhaj Allah yang lurus dan bersih.
Sebelumnya kami telah menjelaskannya secara global, maka mari kita memasuki nash-nash secara rinci.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisa: 58)
Inilah tugas-tugas komunitas muslim dan etika mereka: menyampaikan amanah kepada yang berhak dan memutuskan perkara di antara manusia dengan adil; sesuai manhaj dan instruksi Allah.
Berbagai amanah berawal dari amanah terbesar. Amanah yang disematkan Allah pada fitrah manusia. Langit, bumi dan gunung-gunung saja menolak amanah tersebt. Bahkan mereka gentar terhadapnya. Tetapi manusia berani memikulnya. Itulah amanah hidayah, ma’rifat dan iman kepada Allah atas dasar keinginan yang bebas, usaha dan orientasi. Inilah amanah fitrah insani secara khusus. Sedangkan segala sesuatu selain manusia itu diberi insting oleh Allah untuk beriman kepada-Nya, menemukan jalan-Nya, mengenal-Nya, beribadah dan menaati-Nya.
Allah meniscayaka untuk menaati aturan-Nya tanpa disertai jerih payah, tanpa ada maksud, kehendak, dan tujuan. Hanya manusia saja yang diserahi tugas untuk mendayagunakan fitrah, akal, pengetahuan, kehendak, orientasi, dan jerih payahnya untuk sampai kepada Allah, dan sudah barang tentu dengan bantuan dari Allah: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-’Ankabut: 29) Inilah amanah yang dipikul manusia, dan inilah amanah pertama yang harus ditunaikannya.
Dari amanah terbesar inilah lahir seluruh amanah yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan.
Di antara amanah-amanah tersebut adalah: amanah kesaksian terhadap agama ini. Kesaksian yang pertama adalah kesaksian dalam hati, dengan melakukan mujahadatun-nafs hingga mampu menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terjemah yang hidup dalam perasaan dan perilakunya, hingga manusia dapat melihat bentuk iman di dalam jiwa, lalu mereka mengatakan, “Betapa indah dan bersihnya iman ketika ia mewarnai jiwa seseorang dengan akhlak dan kesempurnaan seperti ini!” Dengan demikian, kesaksian terhadap agama di dalam diri itu memengaruhi orang lain.
Yang kedua adalah kesaksian dengan mengajak orang lain untuk mengikuti Islam, menjelaskan keutamaan dan keistimewaannya—setelah mengejawantahkan keutamaan dan keistimewaan ini dalam diri dai. Karena seorang mukmin tidak cukup menyampaikan kesaksian terhadap iman dalam dirinya, apabila ia tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Ia belum menjalankan amanah dakwah, tabhligh, dan penyampaikan informasi, yang merupakan salah satu dari sekian banyak amanah. Di susul dengan kesaksian terhadap agama dengan berusaha menancapkannya di bumi sebagai manhaj bagi komunitas yang beriman dan manhaj bagi seluruh umat manusia. Yaitu usaha dengan segenap sarana yang dimiliki individu dan jama’ah. Karena mengaplikasikan manhaj ini dalam kehidupan manusia merupakan amanah terbesar, sesudah amanah iman itu sendiri..Tidak ada satu individu atau kelompok pun yang terbebas dari beban amanah ini. Dari sini, “jihad itu terus berlangsung hingga hari Kiamat”, untuk menunaikan salah satu amanah..
Di antara amanah-amanah tersebut adalah amanah interaksi dengan sesama manusia dan mengembalikan amanah kepada mereka: amanah mu’amalah dan titipan materi, amanah nasihat kepada pemimpin dan rakyat, amanah membangun generasi, amanah memelihara kehormatan dan harta benda jama’ah, serta hal-hal yang dijadikan manhaj robbani sebagai kewajiban dan tugas dalam setiap ruang kehidupan secara keseluruhan..Inilah amanah-amanah yang Allah perintahkan untuk dilaksanakan, dan dikemukakan nash secara global tersebut.
Mengenai memutuskan perkara di antara manusia dengan adil, nash menyebut keadilan yang menjangkau semua manusia, bukan keadilan di antara sesama orang Islam, dan bukan keadilan di antara sesama Ahli Kitab. Keadilan adalah hak setiap manusia dalam kapasitasnya sebagai “manusia”. Label “manusia” inilah yang mengimplikasikan hak keadilan dalam manhaj Robbani, dan label inilah yang mempertemukan semua manusia: baik mukmin atau kafir, kawan atau lawan, hitam atau putih, Arab atau non-Arab.
Umat Islam berdiri membuat keputusan di antara manusia dengan adil—ketika ia memegang otoritas atas urusan mereka. Keadilan inilah yang belum pernah dikenal umat manusia sama sekali—dalam bentuknya yang demikian—kecuali di tangan Islam, kecuali dalam pemerintahan umat Islam, dan kecuali pada masa kepemimpinan Islam. Keadilan ini hilang sebelum dan sesudah kepemimpinan tersebut. Umat manusia sama sekali tidak merasakan keadilan dalam bentuk mulia seperti ini, yang diberikan kepada semua manusia karena mereka adalah “manusia”, bukan karena label tambahan lain di luar label yang menjadi milik bersama umat manusia ini!
Itulah dasar pemerintahan dalam Islam. Sebagaimana amanah—dengan setiap indikasinya—merupakan dasar kehidupan dalam masyarakat Islami.

baca selanjutnya
sumber : eramuslim.com

Jumat, 29 Mei 2009

KAJIAN PROBLEMATIKA AL QURAN

oleh :Bpermana

PENGANTAR

Sering sekali saya menemukan posting dari teman2 non muslim dengan mengkutip Al Quran untuk mendukung klaim2 mereka. Karena itu saya berfikir alangkah baiknya jika ada thread khusus utk membahas ayat2 Al Quran yg dianggap problematik agar kita semua dapat mendiskusikan maksud sebenarnya dari ayat tersebut.

Saya sendiri bukan ahli tafsir atau kajian Al Quran, saya hanya seorang pembelajar yang merasa perlu untuk menguatkan pemahaman ttg Al Quran melalui diskusi dengan teman2 di Forum ini. Karena itu, teman2 baik muslim maupun non muslim dipersilahkan untuk sumbang sarannya dengan menjawab permasalahan yg ditampilkan atau menampilkan ayat2 yg dianggap problematik tersebut.

Saya berharap thread ini menjadi thread yg positif, jauh dari saling hujat dan cemooh serta terhindar dari pembicaraan yg melenceng ke luar topik. Oleh sebab itu saya mohon bantuan Bang Moderator untuk mengedit atau bahkan mendelete posting2 yang bertentangan dgn tujuan tersebut.

Perlu saya ingatkan juga bahwa yg dibahas dalam thread ini adalah Al Quran, BUKAN HADIST, namun tentu hadist boleh ditampilkan dalam rangkan menjelaskan makna ayat Al Quran yg menjadi permasalahan.

-------------------------------------------

KASUS #01 ROH, ROH KUDUS DAN KEJADIAN ISA ALAIHISALAM

An Nisa 171
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Al Anbiya 91
Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh) nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.

At Tahrim 12
dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

Ketiga ayat di atas semuanya membicarakan tentang proses kejadian Nabi Isa Alaihisalam atau yang oleh teman2 nasrani disebut YESUS KRISTUS. Yang menjadi pokok permasalahan di sini adalah bagian yang menyatakan bahwa Isa diciptakan dengan TIUPAN RUH DARI ALLAH.

"RUH DARI ALLAH" dalam An Nisa 171 merupakan terjemahan dari "WA RUUHU MIN HU", sementara dalam Al Anbiya 91 dan At Tahrim 12 adalah "MIN RUUHINA"

Perlu dipahami bahwa akhiran "-NA" yang ditambahkan ke kata benda menunjukkan milik, dalam hal ini "milik kami". Kesalahan tafsir yg sering dikemukakan adalah bahwa "RUUHINA" itu berarti ALLAH itu sendiri. Hal ini timbul karena ayat Al Quran ditafsirkan dengan terminologi Alkitab. Dalam Alkitab ALLAH memang digambarkan sebagai ROH yg dapat merasuki atau berinkarnasi kepada siapa saja. Tapi dalam terminologi Al Quran, ALLAH BUKAN ROH tetapi PENCIPTA dan PEMILIK SEMUA ROH.

Karena itu, ketika dikatakan bahwa Isa Putra Maryam dijadikan-Nya dengan Tiupan Roh dari-NYa, maka hal itu bermakna bahwa ISa dijadikan dari SALAH SATU ROH KEPUNYAAN ALLAH.

Pada dasarnya, proses tersebut tidak berbeda dgn proses kejadian Adam sebagaimana dinyatakan dalam ayat2 berikut:

Al-Hijr 28-29
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."

Dan bahkan tidak beda dengan kejadian manusia keturunan Adam di dalam kandungan ibu mereka:

As Sajadah 8-9
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Lihatlah, dalam kejadian Adam dan manusia lainnya, Allah juga meniupkan Ruh dari-Nya sama seprti DIa meniupkan Ruh-Nya dalam proses kejadian Isa Putra Maryam.

Bagaimana dengan ayat2 berikut?

Al Baqarah
(87) Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada `Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?
(253) Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Al Maidah 110
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."

RUHUL KUDUS dalam terminologi AL QURAN adalah malaikat Jibril, salah seorang malaikat ciptaan Allah yang ditugaskan menjadi penghubung antara manusia dengan Allah. Adalah RUHUL KUDUS alias JIBRIL inilah yg menyampaikan Al Quran kepada Muhammad SAW:

An Nahl 102
Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

As Syuara 13
Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun.

Segala mukjizat yg dilakukan para Nabi adalah bentuk pertolongan Allah yg disampaikan melalui RUHUL KUDUS alias JIBRIL. Memang dalam kasus Isa Putra Maryam, Allah menganugerahkan banyak mukjizat kepada beliau yang melebihi mukjizat yg diberikan kepada sebagian nabi2 lainnya. Hal ini dimungkinkan karena Allah telah menugaskan JIBRIL untuk secara khusus mem-back up Isa pada saat itu. Inilah Makna dari "DIPERKUAT DENGAN RUHUL KUDUS" dalam ayat2 di atas.

Kesimpulan #01

ISA PUTRA MARYAM SEBAGAIMANA ADAM DAN MANUSIA LAINNYA DIJADIKAN DENGAN ROH YG DICIPTAKAN DAN DIMILIKI OLEH ALLAH SWT. PARA NABI DALAM MELAKUKAN MUKJIZAT2NYA DIBANTU OLEH ALLAH SWT DENGAN PERANTARAAN RUHUL KUDUS (MALAIKAT JIBRIL). JADI MENURUT AL QURAN, TIDAK BENAR ISA ITU INKARNASI ROH TUHAN KARENA TUHAN BUKANLAH ROH TAPI PENCIPTA DAN PEMILIK SEMUA ROH.

KASUS #2 APAKAH AL QURAN MEMERINTAHKAN BUNUH DIRI?

4:65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

4:66. Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),

ASBABUN NUZUL dari kedua ayat di atas adalah sebagai berikut:

Sebagaimana kita ketahui, setelah Muhammad SAW memegang tampuk pemerintahan di Makkah, Madinah dan daerah sekitarnya, orang2 Yahudi dan Nasrani yg ada di wilayah kekuasaan Islam dibiarkan hidup dgn Hukum dan Tatacara mereka sendiri dengan kewajiban untuk membayar jizya. Dalam suatu kejadian, ada sepasang laki2 dan perempuan Yahudi yg tertangkap basah berzina. Semestinya dalam hukum Taurat, keduanya harus dirajam sampai mati. Karena tidak tega, lalu pemuka Yahudi membawa keduanya ke hadapan Rasulullah dgn permintaan agar diadili berdasarkan hukum Al Quran (dalam Al Quran keduanya akan dihukum dera lalu dibuang, bukan dirajam sampai mati). Namun kemudian turun Firman Allah kepada Muhammad:

5:43. Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman.

Berdasarkan ayat di atas, Muhammad SAW memutuskan bahwa kedua pasangan Yahudi tsb tetap harus diadili berdasarkan Hukum Taurat. Tentu saja para pemuka yahudi itu menjadi kecewa dan mengatakan yg tidak2 ttg Muhammad. Tindakan mereka ini kemudian dikecam oleh Allah dalam kedua ayat di atas dengan cara mengingatkan mereka ttg kejadian di Zaman Musa ketika Kaum Yahudi yg ditinggalkan Musa melakukan penyembahan berhala. Musa yg mendapati penyimpangan tersebut memerintahkan kepada siapa saja di kalangan Yahudi yg telah melakukan penyembahan berhala utk melakukan bunuh diri sebagai tanda pertobatan. Namun ternyata yg mau melakukannya hanya segelintir.

PEMBAHASAN MAKNA kedua ayat di atas sebagai berikut:

Harus dipahami bahwa Al Quran diturunkan tidak hanya untuk kaum muslimin tetapi utk seluruh ummat manusia. Karena itu di dalamnya banyak sekali ayat yg ditujukan kepada seluruh manusia. Di samping itu, banyak pula ayat yang ditujukan untuk Kaum Yahudi dan Nasrani. Ayat 4:66-65 adalah ayat yg ditujukan kepada kaum Yahudi dimana Allah mengecam perilaku mereka yg secara tidak tulus mengangkat Muhammad sebagai Hakim (sekedar utk menghindari hukum rajam) dengan meninggalkan Hukum Taurat yg sebenarnya adalah hukum Allah juga, dengan demikian mengadu-domba antara Muhammad dgn Hukum Allah. Terbukti ketika Muhammad yg diberitahu Allah ttg niat mereka yg tidak tulus memutuskan agar perkara diselesaikan menurut Hukum Taurat, orang2 Yahudi tsb berpaling dari Muhammad.

Inti ajaran dalam kedua ayat ini: LAKSANAKANLAH HUKUM ALLAH SECARA TULUS, JANGAN MENGGUNAKAN SATU HUKUM ALLAH UTK MEMBATALKAN (MENGAKALI) HUKUM ALLAH YG LAIN.

Jumat, 08 Mei 2009

Tafsir Al Azhar Qs Ali Imron ayat 52-58

oleh : Buya Hamka

Kaum Isa Tidak Mau Percaya

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
audio[3:52] Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
audio[3:53] Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)".
وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
audio[3:54] Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
audio[3:55] (Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".
فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ
audio[3:56] Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.
وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
audio[3:57] Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.
ذَلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
audio[3:58] Demikianlah (kisah 'Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Qur'an yang penuh hikmah.



فَلَمَّا أَحَسَّ عيسى‏ مِنْهُمُ الْكُفْرَ
"Maka tatkala telah terasa oleh Isa kekafiran mereka." (pangkal ayat 52).
Segala seruannya dibantah dan ditolak, segala mu'jizat yang telah beliau perlihatkan hanya menambah keingkaran mereka belaka.
قالَ مَنْ أَنْصاري إِلَى اللهِ
"Berkatakan dia: siapakah yang akan menolongku pada Allah?"
Yaitu siapakah kiranya yang akan sudi menolong dan membelaku di dalam menegakkan Jalan Allah ini ?
قالَ الْحَوارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصارُ اللهِ
`Menjawablah Hawariyun: Kamilah penalong-penolong Allah!"
Artinya, kamilah yang akan berdiri di samping engkau, wahai Almasih, membela engkau di dalam menegakkan Jalan Allah itu.
آمَنَّا بِاللهِ وَ اشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
"Kami percaya kepada Allah dan kami naik saksi bahwa kami ini adalah menyerahkan diri:" (ujung ayat 52).
Siapakah yang akan sudi berkorban, meninggalkan kepentingan lain untuk menegakkan kehendak Allah? Siapa yang sudi menderita karena menegakkan kebenaran? Kadang-kadang terpisah dari keluarga yang dikasihi, kampung halaman dan kesukaan-kesukaan yang lain? Hawari telah menjawab bahwa mereka telah menyediakan diri untuk itu. Hawari ialah gelar kemuliaan yang diberikan kepada pemuda-pemuda yang telah menyediakan jiwa raga untuk membela Almasih karena kesucian ajarannya. Menurut cara sekarangnya ialah kader-kader pilihan yang telah tahan ditempa. Al-Qur'an tidak menjelaskan berapa bilangan mereka. Yang mengatakan bahwa bilangan mereka adalah 12 orang, 13 orang dengan Yudas yang mengkhianati beliau, lalu diganti dengan yang lain, adalah Injil-injil catatan orang Kristen. Hawari itu telah menyatakan iman kepada Allah dan telah menyerahkan diri, dan taat kepada Isa, walaupun apa penderitaan yang akan mereka tangguhkan. Sebagaimana diketahui bagi penyerahan diri yang sungguh-sungguh itu tidak ada kata lain melainkan Islam dan orang-orangnya ialah Muslimin.
رَبَّنا آمَنَّا بِما أَنْزَلْتَ
" Ya Tuhan kami! Kami telah percaya kepada apa yang Engkau turunkan." (pangkal ayat 53)
Kami telah percaya kepada wahyu­wahyu itu ataupun mu'jizat-mu'jizat itu. Satu pun tidak ada yang kami bantah atau mungkiri lagi.
وَ اتَّبَعْنَا الرَّسُولَ
"Dan kami pun telah mengikut Rasul itu."
Yaitu Isa Almasih. Segala jejak-langkahnya telah kami ikuti, perintah Engkau yang disampaikannya telah kami junjung tinggi:
فَاكْتُبْنا مَعَ الشَّاهِدينَ
"Sebab itu tuliskanlah kiranya kami bersama-sama orang­orang yang telah menyaksikan." (ujung ayat 53).
Masukkanlah kami dalam dafrar orang-orang yang setia kepada Engkau, ya Ilahi. Karena segenap kehidupan kami ini telah kami sediakan buat Engkau, untuk mennegakkan jalan Engkau.
Demikianlah tiap-tiap Nabi mempunyai pembela, di samping orang-orang yang menolak dan menentang dia. Seperti pada Nabi Muhammad saw. dan para sahabat Muhajirin dan Anshar, bahkan ada yang bergelar Hawaii pula, yaitu Zubair bin Awwam, termasuk dalam sepuluh sahabat yang istimewa, maka Nabi Isa Almasih mempunyai Hawari seperti tersebut itu. Nabi Isa Almasih tidak sanggup menyusun kekuatan bersenjata seperti Nabi Muhammad saw. karena beliau menghadapi dua kekuatan, pertama pemerintahan yang dipegang oleh Bangsa Romawi yang kuat di masa itu, kedua kaumnya sendiri Bani Israil, yang kadang­kadang lebih suka mengambil-ambil muka kepada penguasa bangsa Romawi itu daripada menerima seruan Isa. Di saat yang begitulah amat penting pengikut setia yang sudi mengorbankan segala­galanya, walau jiwa sekalipun.
وَمَكَرُوا
"Dan mereka telah membuat tipudaya." (pangkal ayat 54).
Yaitu kaum Nabi Isa as, yang tidak mau percaya kepada risalat beliau itu, kaum Bani Israil. Mereka telah mengatur siasat-siasat yang buruk hendak menyingkirkan Nabi Isa Almasih dari muka bumi, tegasnya hendak membunuh beliau.
وَ مَكَرَ اللهُ
"Tetapi Allahpun telah menipudaya pula."
Artinya tipudaya mereka yang busuk itu, hendak membunuh seorang Utusan Allah telah dibalas oleh Allah dengan tipudayaNya pula. Tipudaya si kafir dengan jalan yang jahat dan maksud yang jahat, sedang tipudaya Allah tidak lain daripada jalan yang baik dan maksud yang baik, sehingga Nabi Isa Almasih terlepaslah dari bahaya tipudaya mereka itu. Itu sebabnya maka tersebut di ujung ayat:
وَ اللهُ خَيْرُ الْماكِرينَ
"dan Allah adalah sepandai pandai (pembalas) tipudaya." (ujung ayat 54).
Kalau manusia yang mempunyai maksud buruk mengadakan tipudaya agar maksud buruknya itu tercapai, maka Tuhan pun lebih pandai mengadakan tipudaya dengan maksudNya yang baik, sehingga kalahlah maksud tipudaya mereka itu oleh tipudaya Tuhan. Dengan ini nyatalah kalau di dalam al-Qur'an tersebut Tuhan membalas tipudaya manusia yang salah, bukanlah berarti Tuhan mengadakan tipudaya yang buruk seperti manusia yang bermaksud jahat itu.
Pada ayat selanjutnya diterangkan Tuhanlah bagaimana pandainya Dia menjawab tipudaya manusia yang jahat itu terhadap Nabi Isa Almasih Alaihis Salam, sehingga beliau terlepas dari bahaya maut yang telah mereka atur, yaitu supaya Nabi Isa hendaknya mati disalib.
إِذْ قالَ اللهُ يا عيسى‏ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَ رافِعُكَ إِلَيَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذينَ كَفَرُوا
"(Ingadah) tatkala Allah berkata: Wahai lsa,sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu, dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir " (pangkal ayat 55).
Artinya yang tepat dari ayat ini ialah bahwa maksud orang-orang kafir itu hendak menjadikan Isa Almasih mati dihukum bunuh, seperti yang dikenal yaitu dipalangkan dengan kayu, tidaklah akan berhasil. Tetapi Nabi Isa Almasih akan wafat dengan sewajarnya dan sesudah beliau wafat, beliau akan diangkat Tuhan ke tempat yang mulia di sisiNya, dan bersihlah diri beliau dari gangguan orang yang kafir-kafir itu.
Kata mutawwafika telah kita artikan menurut logatnya yang terpakai arti asal itu diambillah arti mematikan, sehingga wafat berarti mati, mewafatkan ialah mematikan. Apatah lagi bertambah kuat arti wafat ialah mati, mewafatkan ialah mematikan itu karena banyaknya bertemu dalam al-Qur'an ayat-ayat, yang disana disebutkan tawaffa, tawaffahumul-malaikatu, yang semuanya itu bukan menurut arti asal yaitu mengambil sempurna ambil, melainkan berati mati. Sehingga sampai kepada pemakaian bahasa yang umum jarang sekali diartikan wafat dengan ambil, tetapi pada umumnya diartikan mati juga.
Maka dari itu arti yang lebih dahulu dapat langsung difahamkan, apabila kita membaca ayat ini ialah: "Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada tipudaya orang yang kafir."
Dia akan diangkat ke sisi Tuhan, ialah sebagai Nabi Idris yang diangkat derajatnya ke tempat yag tinggi, sebagai tersebut di dalam Surat Maryam (Surat 19 ayat 53). Seperti juga orang yang mati syahid di dalam Surat ali Imran ini juga ayat 169, dikatakan bahwa dia tetap hidup.
Tetapi meskipun demikian arti ayat ini yang mula-mula masuk langsung ke dalam pikiran setelah membacanya, namun dalam penafsirannya telah terjadi perselisihan pendapat atau khilafiyah yang panjang di antara ahli-ahli tafsir. Satu golongan besar ahli tafsir mengatakan bahwa arti ayat bukanlah sebagai yang mula-mula difahamkan itu. Tetapi inni mutawaffika artinya ialah sesungguhnya Aku akan mengambil engkau, jadi bukan berarti sesungguhnya Aku akan mematikan engkau. Tegasnya Nabi Isa Alaihis-Salam, tubuh dan rohnya dalam hidup-hidup diambil Tuhan dari alam ini warafi'uka ilayya dan mengangkat engkau kepadaKu, artinya sesudah beliau diambil dari dunia ini lalu diangkat ke langit hidup-hidup. Di langit itulah beliau sampai sekarang ini, dan di akhir zaman akan turun kembali ke dunia membunuh Dajjal.
Golongan ini menafsirkan demikian karena memang bertemu beberapa Hadits yang menerangkan bahwa di akhir Zaman Nabi Isa akan turun ke dunia kembali. Malahan mereka mengeluarkan pendapat bahwasanya ulama-ulama sejak zaman dahulu telah ijma mengatakan bahwa Nabi Isa telah diangkat ke langit, dan kelak dekat-dekat akan kiamat dia akan turun ke dunia membunuh babi dan menghancurkan salib.
Dan alasan mereka pula, ketika Nabi Muhammad saw. mi'raj, beliau bertemu Nabi Isa bersama Nabi Yahya. Tetapi oleh karena di dalam Agama Islam benar-benar ada kebebasan pikiran di dalam menafsirkan ayat-ayat Tuhan, meskipun yang menafsirkan demikian itu golongan besar yang disebut dalam istilah berita dengan jumhur; (hanya sekali) dan ada yang mengatakan bahwa faham menafsirkan itu telah ijma', telah sama pendapat seluruh ulama, namun yang mengeluarkan pendapat berbeda sangat dengan tafsiran itu telah timbul pula.
Al-Alusi di dalam tafsirnya yang terkenal Ruhul Ma'ani, setelah memberikan keterangan beberapa pendapat tentang arti mutawwafika, akhirnya menyatakan pendapatnya sendiri bahwa artinya telah mematikan engkau, yaitu menyempurnakan ajal engkau (mustaufi ajalika) dan mematikan engkau menurut jalan biasa, tidak sampai dapat dikuasai oleh musuh yang hendak membunuh engkau.Dan beliau menjelaskan lagi bahwa arti warafi'uka ilayya, dan mengangkat engkau kepadaKu , telah mengangkat derajat beliau , memuliakan beliau, mendudukkan beliau, di tempat yang tinggi, yaitu roh beliau sesudah mati. Bukan mengangkat badannya.
Lalu al-Alusi mengemukakan beberapa kata rafa'a yang berarti "angkat" itu terdapat pula dalam beberapa ayat dalam al-Qur'an yang tiada lain artinya daripada mengangkat kemuliaan rohani sesudah meninggal.
Syaikh Muhammad Abduh menerangkan tentang tafsir ayat ini demikian: Ulama di dalam menafsirkan ayat ini menempuh dua jalan. Yang pertama dan yang masyhur ialah bahwa dia diangkat Allah dengan tubuhnya dalam keadaan hidup, dan nanti dia akan turun kembali di akhir zaman dan menghukum di antara manusia dengan syariat kita. Dan kata beliau seterusnya: " .......Dan jalan penafsiran yang kedua ialah memahamkan ayat menurut asli yang tertulis, mengambil arti tawaffa dengan maknanya yang nyata, yaitu mati seperti biasa, dan rafa'a(angkat), ialah rohnya diangkat sesudah beliau mati.
Dan kata beliau pula: " Golongan yang mengambil tafsir cara yang kedua ini terhadap hadits-hadits yang menyatakan Nabi Isa telah naik ke langit dan akan turun kembali, mereka mengeluarkan dua kesimpulan (takhrij). Kesimpulan pertama: Hadits-hadits itu ialah hadits-hadits ahad yang bersangkut-paut dengan soal i'tikad (kepercayaan) sedang soal-soal yang bersangkutan dengan kepercayaan tidaklah dapat diambil kalau tidak qath'i (tegas). Padahal dalam perkara ini tidak ada sama sekali hadits yang mutawatir."
Kemudian beliau terangkan pula takhrij golongan kedua ini tentang nuzul Isa (akan turun Nabi Isa di akhir zaman) itu. Menurut golongan ini kata beliau turunnya Isa bukanlah turun tubuhnya, tetapi akan datang masanya pengajaran Isa yang asli , bahwa intisari pelajaran beliau yang penuh rahmat, cinta dan damai dan mengambil maksud pokok dari syariat, bukan hanya semata-mata menang kulit, yang sangat beliau cela pada perbuatan kaum Yahudi seketika beliau datang dahulu, akan bangkit kembali." Demikianlah keterangan Syaikh Muhammad Abduh. (Tafsiral-Manar, jilid III, 317, cet. ke 3.)
Sayid Rasyid Ridha pernah menjawab pertanyaan dari Tunisia. Bunyi pertanyaan: "Bagaimana keadaan Nabi Isa sekarang? Di mana tubuh dan nyawanya? Bagaimana pendapat tuan tentang ayat inni mutawwaffika wa rafi'uka ? Kalau memang dia sekarang masih hidup, seperti di dunia ini, dari mana dia mendapat makanan yang amat diperlukan bagi tubuh jasmani ­haiwani itu ? Sebagaimana yang telah menjadi Sunnatullah atas makhlukNya ? "
Sayid Rasyid Ridha, sesudah menguraikan pendapat-­pendapat ahli tafsir tentang ayat yang ditanyakan ini, mengambil kesimpulan: "Jumlah kata, tidaklah ada nash yang sharih (tegas) di dalam al-Qur'an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawa ke langit dan hidup di sana seperti di dunia ini, sehingga perlu menurut sunnatullah tentang makan dan minum, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang makan beliau sehari-hari.
Dan tidak pula ada nash yang sharih menyatakan beliau akan turun dari langit. Itu hanyalah akidah dari kebanyakan orang Nasrani, sedang mereka itu telah berusaha sejak lahirnya Islam menyebarkan kepercayaan ini dalam kalangan kaum Muslimin."
Lalu beliau teruskan lagi: "Masalah ini adalah masalah khilafiyah sampaipun tentang masih diangkat ke langit dengan roh dan badannya itu."
Dan berkata pula Syaikh Mustafa al-Maraghi, Syaikh Jami al-Azhar yang terkenal sebelum Perang Dunia ke-2, menjawab pertanyaan orang tentang ayat ini: "Tidak ada dalam al-Qur'an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa as. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya.
Adapun sabda Tuhan mengatakan: "Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada orang-or­ang yang kafir itu!" Jelaslah bahwa Allah mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zahirlah (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Allah, sebagaimana Idris as. dikatakan Tuhan: "dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi." Dan inipun jelas pula, yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Allah, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka diapun hiduplah dalam kehidupan rohani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan Nabi-nabi yang lain juga.
Tetapi jumhur Ulama menafsirkan bahwa beliau diangkat Allah dengan tubuh dan nyawanya, sehingga dia sekarang ini hidup dengan tubuh dan nyawa, karena berpegang kepada hadits yang memperkatakan ini, lalu mereka tafsirkan al-Qur'an disejalankan dengan maksud hadits-hadits itu.
Lalu kata beliau: "Tetapi hadits-hadits ini tidaklah sampai kepada derajat hadits-hadits yang mutawatir, yang wajib diterima sebagai akidah. Sebab akidah tidaklah wajib melainkan dengan nash al-Qur'an dan hadits-hadits yang mutawatir. Oleh karena itu maka tidaklah wajib seorang Muslim beri'tikad bahwa Isa Almasih hidup sekarang dengan tubuh dan nyawanya, dan orang yang menjalani akidah itu tidaklah kafir dari Syariat Islam."
Berkata pula Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Jami' Al-Azhar (meninggal tahun 1963), tentang hadits-hadits bahwa Nabi sa akan turun Demikian kata beliau: "Riwayat-riwayat itu adalah kacau balau, berlain-lain saja lafaznya dan maknanya yang tidak dapat dipertemukan. Kekacau-balauan ini dijelaskan benar-benar oleh Ulama Hadits. Dan di atas dari itu semua, yang membawa riwayat ini ialah Wahab bin Munabbih dan Ka'ab al-Ahbar, keduanya itu ialah ahlul-kitab yang kemudian memeluk Islam, dan sudahlah dikenal derajat keduanya dalam penilaian ahli-ahli jarh dan ta di/(ahli penyelidik nilai Hadits).
Meskipun Hadits yang dirawikan Abu Hurairah tentang Nabi Isa akan turun ada pula, apabila Hadits itu shahih, namun dia adalah Had its Ahad. Dan Ulama telah ijma' bahwasanya hadits ahad tidak berfaedah untuk dijadikan dasar akidah dan tidak sah dipegang dalam urusan-urusan yang ghaib.
Tentang Nabi Muhammad s.a.w bertemu Nabi Isa dan Yahya ketika Mi'raj, bukanlah alasan yang kuat buat membuktikan bahwa Isa as. hidup di langit, tetapi itu hanyalah pertemuan kerohanian belaka, bukan pertemuan tubuh. Keterangan tentang ini dapat dilihat dalam kitab Fathul-Bari dan Zadul Ma ad.
Akhirnya Syaikh Syaltout menutup fatwanya demikian:
01 - Tidak ada dalam al-Qur'an yang mulia dan tidak pula dalam Sunnah yang suci suatu alasan yang jitu, yang baik untuk dijadikan dasar akidah, yang dapat menimbulkan ketenteraman dalam hati bahwasanya Isa diangkat ke langit dengan tubuhnya, dan sampai sekarang dia masih hidup di langit dan bahwa dia akan turun ke bumi di akhir zaman.
02 - Kesimpulan yang diperdapat daripada ayat yang berkenaan dengan soal ini ialah bahwa Allah menjanjikan kepada Isa bahwa Dia akan mewafatkannya menurut ajalnya, dan mengangkatnya daripada tipudaya orang yang kafir, dan bahwa janji Tuhan ini memang telah terjadi, maka tidaklah dia mati dibunuh oleh musuh-musuhnya dan tidaklah dia disalibkan, tetapi disempurnakan Allah ajalnya dan diangkat derajatnya.
03 - Barangsiapa yang tidak percaya bahwa Isa telah diangkat dengan tubuhnya ke langit dan bahwa dia mengingkari dalil yang qath'i (jelas dan nyata), maka tidaklah dia keluar dari Islam dan Iman, dan tidaklah boleh dia dihukum murtad, bahkan dia Mus­lim dan Mu'min, disembahyangkan seperti menyembahyangkan orang beriman yang lain, dikuburkan di pekuburan orang mu'min, dan tidak rusak imannya di sisi Allah. Dan Allah terhadap hambaNya adalah,Maha Tahu, lagi memandang.
Sekian kita salinkan pendapat Syaikh Syaltout dalam kitab al-Fatawa beliau (cetakan AI-Azhar tahun 1959).
Adapun ulama Indonesia yang menganut faham seperti demikian dan menyatakan pula faham itu dengan karangan ialah guru dan ayah hamba Dr. Syaikh Abdul Karim Amrullah di dalam bukunya al-Qaulush-Shahih, pada tahun 1924. Beliaupun menyatakan faham beliau bahwa Nabi Isa meninggal dunia menurut ajalnya dan diangkat derajat beliau di sisi Allah, jadi bukan tubuhnya yang dibawa ke langit.
Demkianlah, oleh karena al-Qur'an selalu terbuka buat difahamkan, meskipun golongan yang menafsirkan ayat ini bahwa Nabi Isa diangkat dengan tubuhnya ke langit disebutkan jumhur, tidaklah tertutup pintu buat menilai pokok pendirian orang yang menafsirkan ayat menurut lahirnya itu, sehingga mungkin di satu waktu, tafsiran jumhur itu hanyalah sebagai catatan saja, bahwa pernah banyak orang menafsirkan demikian, tetapi tafsir yang kedua diterima oleh pendapat umum.
Kaum Ahmadiyah untuk menguatkan pendiriannya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi, dan dialah Nabi Isa Almasih yang dijanjikan akan turun di akhir zaman itu, maka merekapun menguatkan pendapat bahwa Nabi Isa telah mati. Mereka mau berdebat bertukar fikiran berhari-hari bermalam-malam untuk mempertahankan pendirian bahwa Nabi Isa Almasih telah mati dan bukanlah diangkat ke langit dengan tubuhnya dan nyawanya.
Maka jika ada orang yang berpendapat bahwa Nabi Isa Almasih telah mati, bukan tubuh dan nyawanya yang diangkat ke langit, bukanlah berarti bahwa orang itu telah menganut faham Ahmadiyah. Syaikh Muhammad Abduh, Sayid Rasyid Ridha, Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi dan Syaikh Mahmud Syaltout dan guru serta ayah saya Dr, Syaikh Abdul Karim Amrullah bukanlah orang Ahmadiyah, malahan mereka itu menolak keras akidah Ahmadiyah yang mematikan Al-masih untuk melapangkan jalan bagi menghidupkan Mirza Ghulam Ahmad buat menggantikan tempat Nabi Isa menjadi Almasih.Kemudian datanglah lanjutan ayat:
وَ جاعِلُ الَّذينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذينَ كَفَرُوا إِلى‏ يَوْمِ الْقِيامَةِ
"Dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau lebih atas dan orang-orang yang kafir itu sampai hari kiamat"
Artinya, bahwasanya orang-orang yang teguh memegang ajaran Nabi Isa Almasih yang asli, yaitu tauhid, akan tetap lebih atas karena kebenarannya tidak dapat dijatuhkan, dan kepercayaan-kepercayaan yang kuat itu kian lama kian hilang pasarannya dari muka bumi ini. Pengetahuan manusia akan bertambah maju. Kemajuan pengetahuan akhir-kelaknya tidaklah akan sampai kepada mengatakan bahwa Allah itu bertiga dalam satu dan satu dalam tiga. Bertambah orang menyelidiki kebenaran dan suka membebaskan dirinya dari paksaan taqlid kepada pemimpin agama dan pendeta, bertambahlah akan nampak kemenangan orang-orang yang benar-benar mencari kebenaran dalam dunia ini. Sebab Allah itu sendiri adalah kebenaran: Al-Haq.
ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ
"Maka kepada Akulah tempat kamu kembali."
Artinya, meskipun betapa perselisihan dan pertengkaran, yang satu mengatakan dia saja yang benar dan yang lain tidak mau menerima jika semuanya akan kembali kepadaNya, untuk mempertanggungjawabkan segala keyakinan dan anutan kita pada masa hidup di dunia yang fana ini:
فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فيما كُنْتُمْ فيهِ تَخْتَلِفُونَ
"Maka akan Aku putuskan nanti antara kamu, dari hal apa-apa yang telah kamu perselisihkan padanya itu." (ujung ayat 55).
Ujung ayat ini sangatlah dalam artinya bagi mendidik kita di dalam menempuh pergolakan hidup. Adalah satu kenyataan bahwa kita telah terdiri dari berbagai golongan. Kadang-kadang kita bertengkar dan bertukar fikiran, kadang-kadang berebut pasaran dan pengaruh. Sehingga lantaran bertengkar kadang-kadang kita lupa akan kewajiban kita yang sebenarnya, yaitu mengabdikan diri kepada Tuhan. Lupa bahwa hidup di dunia fana yang pendek ini hendaklah diisi dengan amal yang baik, jasa yang berguna, ilmu yang berfaedah. Ujung ayat memberi ingat, janganlah terlalu banyak berselisih di antara kamu.
Kalau kamu merasa bahwa agamamulah atau ajaran kamulah yang paling benar, cobalah kerjakan dan amalkan dengan baik. Kalau waktu hanya kamu habiskan dengan bertengkar, niscaya amalan akan terbengkalai dan umurmu habis percuma, sedang yang kamu banggakan dengan mulutmu tidak membekas dalam amalmu. Di muka Allah nanti, di hadapan Qadhi Yang Maha Adil, segala yang kamu perselisihkan akan diselesaikan sendiri oleh Allah.
فَأَمَّا الَّذينَ كَفَرُوا فَأُعَذِّبُهُمْ عَذاباً شَديداً فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ
" Maka adapun orang-orang yang kafir itu , maka akan Aku siksalah mereka dengan siksaan yang sangat di dunia dan di akhirat" (pangkal ayat 56).
Di dalam ayat ini nampak bahwasanya ajaran agama bukanlah semata-mata untuk keselamatan akhirat saja. Bahkan terlebih dahulu siksaan dunia akan dirasainya. Di dalam Ilmu Akhlak diterangkan betapa hidup yang lurus di dunia ini, dengan kebersihan akhlak, moral dan mental. Tanggungjawab kepada Allah dan tanggungjawab kepada sesama manusia. Kufur, tidak mau percaya kepada Allah sebagai unit, sebagai pusat dan pokok pangkal tempat bertolak di dalam hidup, akan menyebabkan hidup itu sendiri penuh dengan siksaan. Kekayaan, pangkat danjabatan yang tinggi, harta-benda yang melimpah-limpah dan kekuasaan yang dirasai tidak berbatas, tidaklah akan dapat menolong menyelubungi siksaan batin karena tadinya memilih jalan yang sesat.
Di ayat ini terlebih dahulu diterangkan betapa hebatnya siksaan dunia, baik mengenai diri pribadi atau mengenai kelompok masyarakat. Meskipun yang mula-mula diceritakan ialah kejahatan orang Yahudi yang hendak membunuh Nabi Isa Almasih, dan mereka digagalkan oleh Tuhan, namun dia tidak menjadi pedoman bagi seluruh manusia, bahwasanya menolak kebenaran Allah adalah siksaan, baik siksaan ketika hidup di dunia, ataupun siksaan sesudah mati dalam akfrrat.
وَ ما لَهُمْ مِنْ ناصِرينَ
"Dan tidaklah ada bagi mereka or­ang-orang yang akan menolong." (ujung ayat 56).
Cobalah kita fikirkan baik-baik, siapakah yang akan dapat menolong kita kalau sekiranya kita sendiri yang dari semula telah memilih jalan salah ? Kita telah menentang Al-Haq (kebenaran), sedang kebenaran itu hanya satu, Allah itu sendiri bernama Kebenaran. Maka siapakah orang lain yang akan sudi menolong kita di dalam menempuh jalan yang di luar kebenaran itu? Padahal kebenaran itu hanya satu? Maka orang kufur menolak kebenaran, akan sepilah jiwanya sendirian dan tidak akan ada orang yang membela dia. Siapa yang akan tampil ke muka membela orang yang salah? , Apatah lagi di akhirat kelak, di tempat yang sega:a sesuatu terpulang kepada Allah.
وَأَمَّا الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ
Dan adapun orang-orang yang beriman dan mengamalkan perbuatan perbuatan yang shalih, maka akan Dia sempurnakan ganjaran-ganjaran mereka." (pangkal ayat 57).
Kalau pada ayat yang terdahulu dikatakan bahwa orang yang menolak ajaran Allah akan mendapat siksaan di dunia dan di akhirat, maka orang-orang yang mengerjakan perbuatan­perbuatan yang shalihpun akan diberi Allah ganjaran dengan sempurna, sejak dari dunia sampai ke akhirat. Bila iman telah tumbuh di dalamjiwa, belumlah mereka akan puas kalau itu belum dibuktikan dengan amal. Bilamana satu amal sudah selesai dengan baik, sebab kewajiban yang timbul dari dalam seruan batin telah dilaksanakan. Amal usaha yang banyak memberikan kepuasan di dalam diri sendiri, sebab hidup telah bernilai. Dan kelak di akhirat akan mendapat bahagia lipat-ganda lagi.
Inilah didikan kepada manusia seterusnya, selama alam ini masih terkembang dan selama manusia masih di dalamnya, yaitu supaya manusia lebih banyak menuruti suara hati nuraninya. Jangan memperturutkan hawanafsu. Kalau di zaman dahulunya jangan membunuh nabi-nabi dan jangan menganiaya, baik aniaya terhadap orang lain ataupun terhadap diri sendiri.
وَ اللهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمينَ
"Dan Allah tidaklah suka kepada orang-orang yang aniaya." (ujung ayat 57).
Sebesar-besar aniaya ialah mendustai diri sendiri. Beriman dan beramal shalih sebanyak-banyaknya adalah suara dari hati ­nurani. Hawa nafsu manusia menyebabkan suara hati suci-murni itu mereka bantah atau mereka tekankan saja. Lalu mereka menempuh jalan yang salah, susahlah membebaskan diri dari pengaruhnya. Di situlah timbul aniaya kepada diri sendiri.
Di sini Tuhan memperingatkan bahwa Dia tidak suka kepada orang-or­ang yang aniaya. Ayat ini menjelaskan bahwa kalau kita menganiaya diri, adalah itu di luar kesukaan Allah. Melainkan pilihan kita sendiri. Kalau Tuhan telah menyatakan tidak menyukainya, tandanya kita dilarang mendekat kepada sikap aniaya. Sebab itu tidaklah layak kita berkata bahwa saya ini menjadi orang yang aniaya, karena takdir Tuhan. Mengapa Tuhan akan mentakdirkan perkara yang dilarangNya? Sebab itu kita sendirilah yang hendaknya berusaha menjauhi aniaya.
ذلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ
Demikianlah telah kami bacakan dia kepada engkau .” (pangkal ayat 58).
Yaitu telah diceritakan betapa Bani Israil, tegasnya Yahudi mencoba segala tipudaya mereka hendak menjerumuskan Isa Almasih ke dalam lembah kesengsaraan, bahkan hendak membunuhnya sekali, karena mereka telah kafir tidak mau menerima Risalat Nabi Isa. Maksud mereka hendak menghinakan beliau tidak tercapai; bahkan Almasih bertambah dimuliakan Tuhan. Mereka hendak membunuh beliau, namun Allah memeliharanya. Dan si penolak kebenaran itu, tidaklah berdaya dalam usahanya, melainkan mendapat kegagalan total. Yang dikisahkan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw ini adalah;
مِنَ الْآياتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكيمِ
"Sebahagian dari ayat-ayat dan peringatan yang amat bijaksana." (ujung ayat 58).
Dijelaskan di ujung ayat ini bahwasanya kisah kemuliaan ini barulah sebahagian kecil saja dari ayat-ayat Allah, yaitu tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Isinyapun ialah satu peringatan bahwasanya kecurangan pasti gagal dan seorang yang dimuliakan 0leh Allah, tidak ada makhluk yang sanggup menghinakannya. Lalu ditekankan di ujung ayat tentang hal bijaksana. Yaitu, kalau kita pelajari dari hanya sebahagian ayat yang dikisahkan Tuhan ini dan kita bandingkan pula kepada kejadian-kcjadian yang lain, akan selalu kelihatan betapa kebijaksanaan Ilahi di dalam mengatur siasatNya. Dan semuanya ini telah disampaikan Tuhan dengan amat halus dan penuh hikmat kebijaksanaan, sehingga terbuka pulalah jalan seluas-luasnya bagi barangsiapa yang hendak menyelidiki jalan sejarah hidup manusia dalam alam dunia ini

sumber : Tafsir Al Azhar
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi