Home » » Kumpulan Kristology

Kumpulan Kristology

Minggu, 18 Juli 2010

Mengenal Kitab Wahyu (Apocalypse)

Penulis Kitab Wahyu (Apocalypse) mungkin merupakan Kitab satu-satunya yang mengakui dengan jelas peran inspiratif dalam penulisannya, Namun Kitab terakhir Perjanjian Baru ini masih saja menyisakan berbagai persoalan.
Secara tradisional penulisan Kitab ini dinisbatkan kepada Johannes, walaupun perdebatan masih terjadi merujuk kepada identitas Johannes yangdimaksud. Konon Kitab ini ditulis berdasarkan Mimpi-mimpi Johannes saat diasingkan di pulau Patmos. Mimpi-mimpi yang diasumsikan sebagai inspirasi Ilahiah terhadap Johannes berisi simbol-simbol aneh, yang tampaknya sangat menarik bagi penduduk di masa itu.
mimpiJohannes berisikan nubuat-nubuat apokalips dan kisah-kisah simbolis akhir jaman yang kebenarannya tidak dapat terbukti kecuali setelah terjadi. Untuk menguji kebenarannya, kita perlu meninjau petunjuk Perjanjian Lama :

Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.
Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? --
apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya." (Ulangan 18:20-22)

Melihat peringatan ayat tersebut, tampaknya penulis Kitab ini harus mempertaruhkan nyawanya di tangan Allah. Sebab, bila ia menulisnya tanpa dasar wahyu yang sesungguhnya, ia telah melakukan dosa yang sangat besar. Ayat di atas dapat pula diterapkan pada pernyataan-pernyataan Paulus dalam berbagai suratnya, yang mengatasnamakan ajaran atau ucapan Yesus.
Sebenarnya tiada yang istimewa dari nubuat Johannes, Seorang awam dapat saja meramalkan terjadinya peperangan, bencana alam, kelaparan, wabah penyakit di masa depan tanpa perlu menjadi rasul atau peramal. Tidak lain karena hal-hal tersebut (peperangan, bencana, wabah) merupakan suatu kepastian yang mesti terjadi tanpa perlu diramalkan, peristiwa-persitiwa itu sudah terjadi bahkan sejak manusia menginjakan kakinya di dunia. Satu-satunya taruhan besar yang dilakukan penulis Wayhu adalah saat mengatakan bahwa akhir jaman telah dekat.
Pernyataan akan kedatangan akhir jaman memang selalu menjadi favorit pemuka Agama yang ingin mendapatkan banyak penganut secara instan. Entah telah berapa ribu orang yang memproklamirkankan kedatangan akhir jaman, tetapi pada akhirnya perhitungan mereka semua yang mengaggukan tersebut terhempas ke tanah dan terkubur oleh waktu.
Kaum Yahudi (atau kristen) saat itu memang sangat menyukai kisah-kisah nubuat kehancuran jaman, dimana kaumnya akan memenangkan peperangan melawan kafir, dan sungguh mereka tidak sabar atas kedatangan peristiwa tersebut. Yesus sendiri, mendapatkan banyak dukungan ketika ia mengikrarkan kedatangan akhir jaman, para pendukungnya mengira Yesus sendiri yang akan memimpin perlawanan terhadap kekaisaran Romawi, sayangnya harapan tersebut tidak terjadi dan Yesus akhirnya tidak melakukan perlawanan apapun terhadap kekaisaran.
Tetapi tetap saja, umat Yahudi pasca kematian Yesus tetap menantikan akhir jaman tersebut. Berbagai kisah apokalips palsu disusun atas kemauan mereka sendiri dan menisbatkan penulisannya terhadap orang-orang terpandang seperti Petrus dan tokoh penting lain. Salah satunya adalah Kitab Apocalypse of Peter merupakan salah satu Kitab apokrip yang ditulis sekitar tahun 100-150 M., seratus tahun setelah kematian Petrus yang asli ! Selain itu dikenal juga Kitab kisah apokaliptik atas nama Yakobus dan Paulus, keotentikan keduanya sangatlah diragukan.
Kaum Yahudi sebelum masa Yesus juga gemar membuat Kitab serupa yang penulisannya diatributkan kepada nabi-nabi mereka, seperti Musa, Nuh dan Henokh. Semua itu demi memenuhi ketidaksabaran mereka atas kedatangan messias yang akan membawa mereka keluar dari penderitaan selama berabad-abad. Sedih melihat kenyataan bahwa ketika mesias tersebut benar-benar datang, mereka menyangkalnya. Saat para penulis Perjanjian Baru menyusun karyanya pun, mereka meyakini dekatnya akhir jaman. Termasuk penulis Kitab mimpi ini, ia mengatakan :

“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.”(wah 1:3)

Mereka bertambah yakin atas dekatnya akhir jaman setelah melihat kaumnya dibantai penguasa Romawi yang mereka anggap sebagai perwujudan sang setan. Mereka tidak mengetahui perkembangan masa depan dimana “sang setan” akan berteman dengan kaumnya sendiri, yaitu saat Konstantin memproklamirkan agama Kristen tirinitas sebagai agama negara. Akhir jaman tampaknya harus tertunda beberapa abad lagi.
mimpi Johannes berbentuk analogi-analogi atau simbol-simbol yang tidak masuk akal. Kisahnya harus diartikan secara khusus atau Kitab ini tidak berharga sama sekali. Bagaimanapun seluruh isi Kitab ini merupakan mimpi seorang Johannes, patut kita pertanyakan mengapa Yesus tidak sempat memberikan kisah-kisah atau pernyataan-pernyataan ini selagi hidup agar dapat diketahui seluruh muridnya, mengapa tidak ada suatu Kitab tersendiri berjudul “The apocalypse of Yesus” yang ditulis oleh Yesus sendiri ? Dan mengapa ia harus menyatakannya dalam mimpi Johannes yang tidak dikenal. Pengakuan keotentikan dari para Bapak Gereja awal juga beragam, sebagian menolak dan lainnya menerima. Marilah kita menyimak sejarah penerimaan Kitab ini sebagai anggota Kitab suci.

Sejarah Penerimaan

Secara tradisional penulis Kitab ini adalah rasul Johannes, tanpa memperdulikan berbagai persoalan yang diakibatkan keputusan ini. Tradisi menyebutkan Johannes sempat menulis beberapa karya lain dalam Perjanjian Baru, yaitu Injil, surat-surat dan Kitab wahyu ini. Sayangnya sampai saat ini kita masih belum menemukan bukti kuat untuk mendukung pandangan tersebut. Dukungan teori ini memang muncul melalui pernyataan beberapa bapak gereja awal, khususnya Iranaeus. Menurutnya Johannes mendapatkan visi saat diasingkan di pulau Patmos oleh rejim Dominitian, sekitar tahun 95 M.. Sedangkan sarjana modern yang menyangkal kepenulisannya turut mendapat dukungan dari karya-karya bapak Gereja awal seperti Dyonisius, Papias, dan Eusebius.
Marcion yang mencium aroma Yahudi yang kuat pada Kitab ini tidak ketinggalan menolak keotentikannya. Para Alogi dan Dynosius menganggap baik Injil maupunKitab wahyu sebagai karya heretis Cerinthus. Pandangan mereka cukup mempengaruhi pandangan Gereja Timur secara umum, sehingga tidak serta merta menerima kanonitas Kitab ini. Dalam riwayat lain, Kitab ini absen dari Kitab sinopsis Athanasius, daftar tujuh puluh Kitab, Pesshita (Bible Syria) dan berbagai catatan penting lainnya. Kelompok Nestorian dan Jakobian turut menolak otoritas Kitab ini. Kaum Kristen Syria hingga saat ini menolak karena melihat penggunaan Kitab ini dalam kalangan heretis Montanis. Sebaliknya Gereja barat secara umum menerima otoritas Kitab ini, kecuali Jerome yang menempatkanya dalam status diragukan, berada di antara status canonikal dan apokripa.
Pada dasarnya penolakan didasarkan atas perbedaan penggunaan bahasa Yunani dalam Kitab ini yang berbeda apabila dibandingkan dengan teks Injil Johannes yang dianggap ditulis oleh orang yang sama. Bagaimanapun kita tidak boleh menganggap ringan pandangan ini. Perbandingan gaya penulisan merupakan satu bentuk pengujian keotentikan yang cukup akurat. Bila kita dapat menerapkan pengujian tersebut terhadap tulisan-tulisan Paulus, mengapa kita tidak dapat menerapkan ujian yang sama pada karya-karya yang dianggap ditulis oleh Johannes ?
Tom Harpur dalam "America obsessed with future apocalypse” hal 57 menyebutkan bahwa penulis Kitab wahyu menggunakan bahasa Yunani kasar, sedangkan Injil Johannes terkenal atas bahasa Yunani halusnya. Bila menggunakan pertimbangan tersebut, tampaknya rasul Johannes lebih memungkinkan untuk menulis Kitab ini daripada Injil. Dengan asumsi rasul Johannes Hanyalah seorang nelayan galilea yang berbicara dengan bahasa Aramia dalam kehidupan sehari-harinya. Atas dasar itulah ia tentunya tidak akan menulis suatu karya dengan bahasa Yunani yang sempurna. Dyonisius bahkan mempertimbangkan nama Johannes Markus sebagai penulis Kitab ini, dengan dasar kesamaan penggunaan bahasa kasar dalam Injil Markus.
Perbandingan bahasa bukan satu-satunya alat penguji keotentikan Kitab ini. Ada dua ujian lagi yang harus dilewati. Tidak lain adalah kesulitan waktu. Dengan anggapan rasul Johannes menulis Kitab ini di akhir abad pertama di pulau Patmos, akan bertentangan dengan pandangan bahwa Johannes yang sama menulis Injinya pada waktu yang sama di Efesus atau daerah lain diluar Patmos. Selain itu ia pastilah telah berumur sangat tua saat menulis Kitab ini. Dengan perkiraan ia menjadi murid Yesus saat berumur 20 tahun-an (ia merupakan murid termuda), ia telah berumur seabad lebih saat menulis Kitab ini. Mampukah seseorang berumur seabad lebih menulis beberapa Kitab sekaligus ? Beberapa riwayat bahkan menyebutkan waktu kematian yang lebih awal bagi Johannes. Kesulitan selanjutnya adalah perbedaan dari sisi teologi. Perbandingan Injil Johannes dan Kitab wahyu menunjukan muatan teologi yang berbeda, Dyonisius turut menyadari hal ini sehingga tekadnya untuk menolak otoritas rasul Johannes atas Kitab ini menguat.
Perbedaan lain yang dianggap kadang terlewatkan adalah frase favorit Injil Johannes, “murid terkasih”, yang tidak pernah disebutkan dalam Kitab ini. Dibandingkan dengan surat Johannes (I, II dan III Johannes), Penulis Kitab ini juga tidak malu membubuhkan namanya, berbeda saat ia menulis surat-surat Johannes yang miskin identitas. Masih dari segi bahasa, saat Injil Johannes membicarakan Kristus sebagai “domba”, ia mengggunakan kata”amnos”, sedangkan Kitab wahyu menggunakan kata “arnion”. Selajutnya dalam penyebutan kata Jerusallem, Penulis Injil menyebutnya sebagai “ierosoluma”, sedangkan Kitab wahyu menggunakan kata “ierousalem”. Penulis Kitab wahyu tampaknya masih terpengaruh bahasa Ibrani yang kuat, sedangkan Injil Johannes menunjukan penguasaan bahasa Yunani lebih sempurna.

Waktu Penulisan

Sesuai dengan riwayat Iranaeus yang menyebutkan bahwa Johannes menperoleh visinya pada masa akhir kekuasaan Dominitian, maka penentuan masa yang lebih awal menjadi semakin mustahil. Tradisi menyebutkan bahwa Iranaeus merupakan kawan dari Polycarp, yang pernah menjadi murid Johannes di Efesus. Masalahnya, dengan perkiraan masa Dominitian sebagai waktu penulisan Injil ini, maka Johannes pastilah telah berumur sekurangnya seratus tahun saat menulisnya ! Selain itu nubuat mengenai kehancuran Jerusalem akan menjadi sia-sia karena telah terjadi. Itulah sebabnya para sarjana konservatif terus berusaha mencari alasan untuk menempatkan waktu penulisan Kitab ini sebelum kehancuran kuil Jerusallem, dalam jangka waktu tahun 60-69 M. atau sebelum rejim Nero. Keputusan ini meninggalkan pertanyaan tempat penulisan karena Johannes mengaku penulisan Kitab ini dilakukan di pulau Patmos (1:9). Tidak ada riwayat yang pernah menyebutkan bahwa Johannes diasingkan di pulau tersebut oleh Nero atau kaisar sebelumnya.
Pandangan mengenai waktu penulisan Kitab yang lebih awal (60-69 M.) memiliki dasar-dasar sebagai berikut, dan sebagai pembantahan saya menggunakan argumen E.B. Horae Elliott :

  • Sarjana konservatif akan mengacu pada nubuat Johannes mengenai kehancuran kuil, yang mengindikasikan bahwa Kitab ini ditulis sebelum peristiwa tersebut. Tetapi kenyataanya nubuat ini tidak harus ditujukan terhadap kuil Jerusallem, perumpamaan mengenai kuil biasa dilakukan oleh penulis-penulis Yahudi lainnya seperti Ezeliel, Daniel, Zakaria, dll.. Elliot melihatnya dari sisi yang tidak jauh berbeda, ia menganggap nubuat mengenai kehancuran kuil hendaknya tidak diartikan secara literal atau fisik, tetapi harus ditafsirkan secara lebih luas seperti simbol-simbol lain yang Johannes berikan dalam Kitab ini.
  • Beberapa sarjana konservatif menuduh Iranaeus telah memberikan riwayat yang ambigu atau bahkan keliru saat menyebutkan bahwa Johannes memperoleh visinya di masa akhir Dominitian. Riwayat Iranaeus merupakan batu sandungan utama bagi penentuan waktu penulisan yang lebih awal. Dengan kata lain, Seorang sarjana konservatif mau tidak mau harus menolak kredibilitas pencatatan sejarah oleh Iranaeus. Apabila hal tersebut benar terjadi, Sesungguhnya para sarjana tersebut telah melakukan keputusan yang sangat subjektif, mereka hanya menerima pandangan yang sesuai dengan pendapat pribadi mereka, yang senantiasa melekat dengan dogma-dogma dan pandangan tradisional. Elliot dalam hal ini berusaha mempertahankan kredibilitas Iranaeus. Menurutnya Iranaeus merupakan salah satu sarjana Kristen awal yang paling terkemuka, ia mendapat ajaran langsung dari Polycarp yang merupakan murid langsung Johannes.
  • Meurut para sarjana tradisional, riwayat Iranaeus merupakan satu-satunya dukungan terhadap penentuan waktu penulisan yang lebih akhir, sebaliknya terdapat lebih banyak dukungan terhadap penetuan waktu yang lebih awal. Kita akan melihat bahwa pandangan ini tidaklah tepat, Elliot akan menunjukan fakta yang berkebalikan. Ia mencatat setidaknya beberapa nama bapak Gereja awal yang mendukung pandangan Iranaeus, pribadi-pribadi tersebut turut memiliki kredibilitas yang tinggi. Mereka adalah Tertullian, Clement dari Alexandria, Cvictorinus, Eusebius dan Jerome. Sebaliknya dukungan terhadap waktu awal sangatlah sulit untuk ditemukan dan kadang berasal dari sarjana yang kredibilitasnya diragukan.
  • Penulisan Kitab ini dilakukan pada masa umat Kristen diburu dan dibantai, oleh karena itu rejim Nero merupakan waktu yang paling tepat. Pandangan ini, tentu saja, menyisakan berbagai pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Penyiksaan yang terjadi terhadap umat Kristen diketahui terjadi pada tiga masa pemerintahan Romawi, yaitu Nero, Dominitian dan Trajan. Ketiga rejim tersebut memiliki cara yang berbeda dalam menyiksa umat Kristen, dan Nero merupakan pengguna metode yang paling keras dan kejam berupa pembakaran dan pembantaian. Dominitian diketahui hanya mengasingkan umat Kristen dan menghindari pembantaian. Tentu saja ini akan menjadi dukungan bagi pandangan bahwa Johannes menulis kitab ini di pulau Patmos saat diasingkan rejim Dominitian. Bila Johannes menulis kitab atau Injilnya pada masa Nero, ia mungkin akan menerima perlakuan yang sama seperti yang dialami oleh Petrus dan Paulus, tidak lain adalah hukuman mati ! Kekejaman Nero diketahui hanya meliputi daerah sekitar Roma, sedangkan Dominitian mencapai daerah asia Minor. Oleh karena itu dapat dipahami adanya peringatan Johannes terhadap tujuh gereja di Asia Minor (Wah 1:11).

Beberapa pertanyaan lain akan muncul dengan asumsi kesamaan identitas penulis kitab wahyu dan Injil Johannes, apakah Johannes menulis kitab wahyu sebelum Injil, atau sebaliknya ? Mengacu pada kesimpulan tersebut, maka penentuan waktu penulisan akan dilihat dari perbedaan bahasanya karena perkembangan bahasa kedua kitab diperkirakan memerlukan waktu berpuluh tahun. Pertanyaan kedua kemudian muncul, bila Johannes menulis kitab wahyu terlebih dahulu di pulau Patmos, lalu dimanakah ia menulis Injilnya ? Johannes diyakini mengakhiri hidupnya tidak lama setelah kembali dari pengasingan di pulau Patmos, sedangkan penulisan Injil diyakini dilakukan di Efesus. Tidak ada tradisi yang menyebutkan bahwa Johannes yang tua renta melakukan perjalanan dari Patmos ke Efesus.
Selain itu perbedaan penggunaan gaya bahasa cukup menyulitkan para sarjana untuk merekonstruksi sejarah penulisan dua karya seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Masalah lain, sangatlah sulit untuk membayangkan Johannes menulis Injilnya pada umur yang sangat tua. Seorang normal berumur seabad bahkan penglihatannya sudah kabur, dan kemampuannya untuk menulis sangat rendah.
Pada akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa, siapapun penulis kitab ini sebenarnya, ia menulisnya pada masa Dominitian atau sekitar tahun 96 M.. Selanjutnya beberapa sarjana menganggap kitab wahyu sebagai penutup turunnya wahyu, sehingga karya-karya yang ditulis setelahnya tidak sempat mendapat “inspirasi” Roh Kudus. Pandangan ini menimbulkan akibat yang lebih serius lagi, bila Johannes menulis kitab wahyu sebelum kehancuran kuil Jerusallem tahun 70 M., mau tidak mau kita harus membantah kebanyakan kitab Perjanjian baru yang ditulis paska masa tersebut, termasuk beberapa Injil.

Metode Penafsiran

Seperti diketahui bahwa Johannes menggunakan simbol-simbol dalam pemaparannya mengenai hari akhir. Saya tidak akan berusaha untuk menafsirkan simbol-simbol tersebut, tetapi lebih membicarakan metode-metode penafsiran simbol-simbol tersebut oleh para sarjana. Dalam hal ini para sarjana terbagi atas empat golongan penafsiran.

  • Pendekatan para Praeteris
  • Dengan kata lain menganggap kitab wahyu hanya menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi di abad pertama, tentu saja dengan dasar Johannes menulisnya beberapa saat setelah kehancuran Jerusallem. Karena menceritakan hal yang telah terjadi, istilah “nubuat” perlu diganti dengan “mengisahkan”. Selain mempertimbangkan bahwa sudah menjadi gaya sastra saat itu untuk mengisahkan kejadian yang telah terjadi seolah-olah kejadian tersebut belum terjadi dan diramalkan akan terjadi. Pemaparan Johannes yang mencakup kehancuran kuil, beberapa kekejaman yang terjadi atas umat Kristen, wabah, dan lain-lain, memang pernah terjadi di abad pertama.
  • Pendekatan para Futuris
  • Pendekatan ini dilakukan oleh sebagian umat Kristen, mempercayai bahwa kitab wahyu berisikan nubuat-nubuat kejadian yang menyertai kedatangan kedua Yesus. Tanda-tanda akhir jaman memang sudah terjadi, tetapi beberapa belum terpenuhi. Salah satu tanda yang akan menyertai akhir jaman maupun kedatangan kedua Kristus adalah jatuhnya Jerusallem ke tangan anti-Kristus. Walaupun banyak yang membaca anti-Kritus disini sebagai pasukan setan, banyak juga yang menafsirkan anti-Kristus sebagai kaum Yahudi atau Muslim. Para Kristen fundamentalis Amerika umumnya memilih pemikiran terakhir tersebut, menurut mereka dukungan terhadap Israel akan mempercepat turunnya sang Yesus. Disebutkan pula bahwa kaum Yahudi yang membantu perebutan Jerusallem dari tangan Muslim akan kebagian “keselamatan”, dan pada akhirnya menjadi Kristen. Pemikiran semancam ini sangat dipengaruhi oleh iklim politik Amerika-Israel dan Timur tengah yang berbau propagandis.
  • Pendekatan Historis
  • Tidak jauh berbeda dari pendekatan yang dilakukan para Futuris, golongan ini beranggapan bahwa sebagian besar kejadian atau nubuat dalam kitab wahyu telah terjadi, sejak penyiksaan yang dilakukan terhadap umat Kriten oleh Nero. Salah satu kejadian penting yang belum sepenuhnya terjadi adalah kejatuhan Jerusallem ke tangan anti-Kristus. Dalam hal ini saya perlu meluruskan pandangan kebanyakan umat Kristen bahwa sang anti-Kristus adalah kaum Muslim. Bila benar Muslim adalah sang anti-Kristus, akhir jaman pastilah telah terjadi beberapa abad lalu, saat kaum Muslim berhasil menduduki Jerusallem di perang salib.
  • Pendekatan Idealis
  • Penafsiran kitab wahyu yang dilakukan secara idealis berarti tidak mengartikan simbol-simbol didalamnya secara khusus, melainkan secara umum. Seluruh materi didalamnya hanya diartikan sebagai simbol pertempuran abadi antara kebaikan melawan kejahatan. Simbol tersebut dapat diterapkan terhadap kejadian apapun, yang tidak spesifik dan berlaku sepanjang jaman.

Empat pendekatan di atas dilakukan dengan dasar kepercayaan bahwa rasul Johannes benar-benar menulis kitab ini berdasarkan visi atau inspirasi dari Tuhan. Bila kita menyangkal keempat pandangan tersebut, kita bisa memilih pendekatan kelima, yaitu pendekatan “omong kosong”. Menurut metode ini, kita harus melihat segala kisah aneh dan simbol-simbol dalam kitab ini sebatas halusinasi atau mimpi buruk yang di alami si penulis dalam tidurnya, entah apapun penyebab timbulnya keadaan tersebut. Beberapa jenis tetumbuhan atau jamur terbukti dapat menimbulkan halusinasi. Kontemplasi yang berat juga dapat menyebabkan keadaan tersebut. Tapi marilah kita tidak terburu-buru mempercayai pendekatan ini.
Perkembangan penafsiran kitab wahyu yang dilakukan kaum futuris-historis selalu berkembang seiring jaman, berbagai peristiwa penting seperti peperangan dan bencana seakan-akan menandakan dekatnya akhir jaman. Setiap penafsir memiliki pandangan tersendiri dalam mengartikan simbol-simbol, dan ini sangatlah relatif. Sebagai contoh, seorang sarjana konservatif Protestan akan menafsirkan “Babylon” atau “kerajaan anti-Kristus” sebagai gabungan dari negara-negara Eropa yang dimotori Inggris dan Roma akan bangkit melawan Israel dalam Armageddon, tentu saja perang ini akan dimenangi kaum Israel dengan bantuan Tuhan. Selajutnya kaum Yahudi akan memeluk agama Kristen. Versi yang berbeda akan kita temukan apabila seorang Katolik Roma (Eropa) menafsirkan “Babylon”. Mereka akan menuduh Amerika sebagai kerajaan “Anti-Kristus” tersebut. Setiap sekte Kristen akan memiliki pandangan tersendiri dalam menafsirkan simbol akhir dunia, dan pada akhirnya hanya Tuhanlah yang akan membuktikan kebenaran.

Sumber :ttp://bibleblog.multiply.com/journal/item/1.

Senin, 15 Februari 2010

THE STAR OF THE MESSIAH

Oleh:Althaf Musa .A.
Kamus leksikon Ibrani-Caldea Gesenius dalam Perjanjian Lama menyatakan :


Kata Ibrani Ish menurut definisinya adalah sebuah bintang utara yang terang atau bintang bintang pada rasi bintang utara ‘Ursa Major’. Ursa Major diterjemahkan sebagai rasi “Beruang besar”. Lebih terperinci memperhatikan catatan tepi sebelah kanan. “‘ish” juga mengacu pada “rasi beruang” yang juga sama dengan rasi bintang Utara yang disebutkan tadi.
H.W.F. Gesenius terus menggambarkan hubungan kolaboratif di antara kata Ibrani Ish dan kata Arab ‘Aasa dan ‘Issa dan didefinisikan sebagai “pengintai malam”. Dan ini berkolaborasi dengan detil besar dalam Qur’an. Dalam surat Ath Thariiq yang artinya “Yang datang di malam hari” pada ayat 1-3 :
Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus.” (At-Thaariq:1-3]
Mengenai ayat ke-3 Surat ini, Imam Suyuti berkata pada kitabnya “Ad Durul Mantsur fi Tafsir al Ma’tsur:
“telah diriwayatkankan bahwa Ibnu Jarir berkata, dari Mujahid, tentang ayat ini: “Ini adalah bintang yang menembus cahaya” bahwa ini berarti bintang dari Ats Tsurayya.” (Ad Durul Mantsur fi Tafsir al Ma’tsur, Jalaluddin As Suyuti)
“Ibnu Zaid berkata, Bahwasanya, ini adalah bintang dari At tsurayya.” (Imam Qurtubi, tafsir al-Qurtubi)
Dengan demikian, Qur’an juga merefer pada bintang Tsaur Ats Tsurayyah sebagai At Thariq. Korelasinya jelas dan keselarasan antara Qur’an dan pemikiran nubuatan pra-biblical, 2000 tahun sebelum penyusunannya.
Tapi apa hubungannya “Bintang” dengan Yesus?
Terutama sekali, mungkin ini merupakan salah satu yang paling berpengaruh nyata secara historis tentang tanda dari ramalan Mesias.
*Bilangan 24:17
אֶרְאֶנּוּ וְלֹא עַתָּה אֲשׁוּרֶנּוּ וְלֹא קָרוֺב דָּרַךְ כּוֺכָב מִיַּעֲקֹב וְקָם שֵׁבֶט מִיִּשְׂרָאֵל וּמָחַץ פַּאֲתֵי מוֺאָב וְקַרְקַר כָּל-בְּנֵי-שֵׁת:
Translit Interlinear, ERWNU {aku melihat}VELO{tetapi bukan } ATA{sekarang} ASHURANU{aku memandang dia} VELO KAROV{tetapi bukan dari dekat} DARAKHH KOKHAV{bintang terbit}MIYAAKOV {dari yakub}VEKAM SHEVET{tongkat kerajaan} MIYISRAEL{dari israel}…
I shall see him, but not now: I shall behold him, but not nigh: there shall come a Star out of Jacob, and a Sceptre shall rise out of Israel…”
“Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel,”
*Matius2:2
“Saying, Where is he that is born King of the Jews? for we have seen his star in the east, and are come to worship him.”
“dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Pasal 2 Matthew merinci tentang tiga orang Majus yang mengikuti Bintang Utara dalam pencarian Mesias Yahudi. Ini adalah tanda Mesias yang paling terkenal.
Kata Ibrani di ayat ini untuk “Bintang” adalah “Kokab” . Dari kata “Kokab” ini muncul gelar “Kokhba” Yang diberikan atas Simeon bar Koziba ketika dia disahkan sebagai Mesias oleh Rabbi Revolusioner Yahudi, Akiba ben Yosef.
“Rabbi Akiba ben Joseph, a highly esteemed teacher of the period, enthusiastically supported the rebels and conferred the name Bar Kokhba (Son of the Star) upon their leader. Akiba also hailed him as the Messiah.” [Encyclopedia Britannica, Reference Index V, page 872]
Saat Bar-Kokhba di-salahasumsi-kan sebagai Mesias, dia terbunuh dalam pertempuran melawan Romawi pada tahun 135 A.D. Mengenai “Bintang” menjadi tanda dari Mesias:
Kamus kata teologis Perjanjian Lama yang merupakan sebuah kompilasi dari Brown-Driver-Briggs dan Gesenius mendefinisikan “Kokab” sebagai:
“1. star – a. of Messiah, brothers, youth, numerous progeny, personification, God’s omniscience.”
[Theological Word Book of the Old Testament, Brown-Driver-Briggs, H.W.F. Gesenius]
Nabi dinamai menurut kejadian di sekitar kelahiran mereka
Adam אדמ /Aadam – berarti ‘merah’; dimungkinkan berasal dari דמ /Dum – artinya ‘darah’; Juga terkait dengan אדמה / Adamah – tanah garapan, darimana manusia pertama, Adam, diciptakan.
Sebelumnya, diterangkan nama Adam berasal dari דמ / dam (darah). Meskipun informasi tersebut adalah valid, setelah diteliti, yang lebih benar adalah dari אדמה / adamah (tanah)
*Kejadian 2:7
וַיִּיצֶר יְהוָה אֱלֹהִים אֶת-הָאָדָם עָפָר מִן-הָאֲדָמָה וַיִּפַּח בְּאַפָּיו נִשְׁמַת חַיִּים וַיְהִי הָאָדָם לְנֶפֶשׁ חַיָּה:
Translit Interlinear,VAYITER {ketika itulah}YAHWEH{YEHOVAH dibaca adonai}ELOHIM{Allah} ET HAADAM{membentuk manusia}AFAR{itu}MIN{dari} HAADAMA{debu tanah} VAYIPAHH{dan menghembuskan } BEAPAV{kedalam hidungnya} NISHMAT{ nafas} HHAYIM{hidup} VAYIHI {demikianlah}HAADAM{manusia} LENEFES{menjadi makhluk} HHAYAA{yang hidup}
“ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”
Nuh נח /Noach dari נוח /Nuch – beristirahat. maksudnya “istirahat” pada saat kelahirannya pada ayat kejadian 5:29
*Kejadian 5:29
וַיִּקְרָא אֶת-שְׁמוֺ נֹחַ לֵאמֹר זֶה יְנַחֲמֵנוּ מִמַּעֲשֵׂנוּ וּמֵעִצְּבוֺן יָדֵינוּ מִן-הָאֲדָמָה אֲשֶׁר אֵרְרָהּ יְהוָה:
Translit Interlinear,VAYIKRA{dan dia dipanggil}ET-SHEMO{nama darinya}NOAHH{Nuh}LAMOR ZE{dan berkata kepadanya}YENAHHAMENU{anak ini akan memberikan kita}MIMAASENUH{penghiburan}UMEITZEVON{dalam pekerjaanya}YADENU{yang penuh susah payah}MIN{di}HAADAMA{tanah}ASHER{yang dikutuk}ERERA{oleh}YAHWEH{YEHOVAH dibaca adonai}
Ishak יצחק /Yitzhaq – dari צחק /Tzahaq – tertawa .
*Kejadian 17:16-19
“Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.”
Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak? Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”
Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak,”
Lihat pada esensi konteks ayat tersebut pada ayat 17
וַיִּפֹּל אַבְרָהָם עַל-פָּנָיו וַיִּצְחָק וַיֹּאמֶר בְּלִבּוֺ הַלְּבֶן מֵאָה-שָׁנָה יִוָּלֵד וְאִם-שָׂרָה הֲבַת-תִּשְׁעִים שָׁנָה תֵּלֵד:
Translit Interlinear,VAYIPOL{lalu tertudukah}AVRAHAM{Abraham}Al-PANAV{dalam raut mukanya}VAYITZHHAK{tertawa} VAYOMER{dan berkata}BELIBO{dalam hatinya}HALEVEN{mungkinkah seorang anak} MEA SHANA{dari umur seratus tahun} YIVALED{dan lahir}VEIM SARA{dari Sara } HAVAT{yang berumur} TISHIM SHANA TELED{Sembilan puluh tahun}
Ismail ישׂמעל /Yishmaael – dari שׂמ /shama – mendengar dan על / El – Tuhan”
Kejadian 16:11
“Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.”
וַיֹּאמֶר לָהּ מַלְאַךְ יְהוָה הִנָּךְ הָרָה וְיֹלַדְתְּ בֵּן וְקָרָאת שְׁמוֺ יִשְׁמָעֵאל כִּי-שָׁמַע יְהוָה אֶל-עָנְיֵךְ:
VAYOMER{dan berkatalah}LA MALAKH{malaikat}YAHWEH{YEHOVAH dibaca adonai}HINAKH {kepadanya} HARA{engkau mengandung} VEYOLADT BEN{seorang anak laki-laki} VEKARAT {yang kamu beri nama}SHEMO{untuknya} YISHMAEL{ismael} KI{sebab} SHAMAD YAHWEH(YEHOVAH dibaca adonai telah mendengar} ELL ONYEKH{tentang penindasan atasmu itu}
Musa משׂה /Mosheh – menarik
“Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: “Karena aku telah menariknya dari air.” [Keluaran 2:10]
Tiap-tiap Nabi dinamai dengan cara ini. Namun, ketika kita melihat kelahiran Yesus kita menemukan sebuah kontradiksi yang membingungkan dan suatu manipulasi pada Injil yang terungkap.
Kelahiran Yesus: Kontradiksi dan Nubuat Tak Terpenuhi
Kelahirannya yesus disebutkan dua kali pada Injil dalam dua catatan yang berbeda dan berlawanan. Sekali pada Injil Matius dan yang lain pada Injil Lukas. Sedangkang Injil Markus dan Yohanes memulai dengan kedatangannya Yohanes Pembaptis saat Yesus dewasa. Di antara catatan kelahiran dari Matius dan Lukas, kita temukan satu benturan kontradiksi .
KELAHIRAN YESUS MENURUT MATIUS:
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” —yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:21-23)
Pertama-tama, ini aneh. Bahwa tak seorangpun pernah memanggil Yesus dengan “Immanuel” dimanapun pada Bible. Ini merupakan suatu usaha untuk mencocok-cocokan Yesus dengan suatu nubuat yang dimaksud dalam Yesaya 7:14. Faktanya, ayat tersebut adalah sama sekali bukan merupakan nubuat kedatangan Yesus dan anak yang dipanggil Immanuel itu telah lahir dan menunjuk pada ayat setelahnya. Mari kita lihat konteksnya:
“Dalam zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, maka Rezin, raja Aram, dengan Pekah bin Remalya, raja Israel, maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu, namun mereka tidak dapat mengalahkannya.” [yesaya 7:1]
TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.” Tetapi Ahas menjawab: “Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN.” Lalu berkatalah nabi Yesaya: “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7 10-14)
Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Ambillah sebuah batu tulis besar dan tuliskanlah di atasnya dengan tulisan biasa: Maher-Syalal Hash-Bas.” Maka aku memanggil dua saksi yang dapat dipercaya, yaitu imam Uria dan Zakharia bin Yeberekhya. Kemudian aku menghampiri isteriku; ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Namailah dia: Maher-Syalal Hash-Bas, sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur.” TUHAN melanjutkan lagi firman-Nya kepadaku: “Oleh karena bangsa ini telah menolak air Syiloah yang mengalir lamban, dan telah tawar hati terhadap Rezin dan anak Remalya, sebab itu, sesungguhnya, Tuhan akan membuat air sungai Efrat yang kuat dan besar, meluap-luap atas mereka, yaitu raja Asyur dengan segala kemuliaannya; air ini akan meluap melampaui segenap salurannya dan akan mengalir melampaui segenap tebingnya, serta menerobos masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga sampai ke leher; dan sayap-sayapnya yang dikembangkan akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!” (Yesaya 8:1-8)
Kita tidak perlu menjadi sarjana bibel untuk melihat bahwa, figur dari immanuel adalah satu tanda yang dijanjikan kepada Raja Ahaz, kemudian pada pasal selanjutnya anak tersebut lahir, kemudian akhirnya kita lihat anak itu nantinya dipanggil “immanuel”. Yesus tidak pernah dipanggil “immanuel” oleh siapapun semasa hidupnya. Silahkan baca Yesaya 7 – 8 untuk melihat hubungan kalimat dari peristiwa ini. Ini tidak mempunyai hubungan apapun dengan Yesus.
Fakta ini telah membuktikan bahwa Matius tidak menulis “Injil Matius”. Apakah kita akan percaya bahwa Matius, seorang Rasul yang dekat dengan Yesus, salah informasi tentang Nubuatan Perjanjian Lama? Penelitian historis dengan cermat membuktikan, bahwa ini adalah usaha memanipulasi manuskrip oleh mereka yang tidak akrab dengan manuskrip, budaya, ataupun nubuatan Yahudi.
KELAHIRAN YESUS MENURUT LUKAS:
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Lukas 1:31-33)
Perhatikan catatan “keturunan yakub” yang merefer pada Bilangan 24:17 “bintang terbit dari Yakub”. Ini sejalan dengan nubuatan Perjanjian Lama dan bersesuaian dengan sedikit dokumentasi historis kecil yang kita punya berkenaan dengan kelahiran dari Yesus.
Catatan paling awal dari “Bintang dari Bethlehem” dibuat oleh Uskup dari Gereja dari Antiochia, Ignatius, pada awal abad ke-2 A.D. Dalam suratnya kepada orang orang efesus dia menulis:
“How was he revealed to the world? A star shone forth high above all the stars in the skies, whose brilliance cannot be described and which was of a completely new type so that it aroused an amazement.” [Ignatius, Ad Ephesios, Chapter 19:7]
Kesimpulan
Dengan demikian, menunjukkan dengan jelas bahwa nama Yesus, yang menjadi ‘Isa dari akar Arab ‘Assa dan akar kata Ibrani ‘Ish yang artinya “Bintang utara”, jauh lebih kredibel dibandingkan referensi ke sebuah nama yang mana sama sekali tidak ada kesesuaian dengan nubuat alkitab atau bukti historis. Dengan bergantung pada nama yang salah untuk Yesus, “Yeshua ” dan “Yahushuwa ‘”, untuk memaksakan ide ‘Seorang Juru Selamat Manusia-Tuhan’, Kristen telah meletakkan keraguan atas keberadaan Yesus. Dia lahir sebagai Mesias, dan merupakan Bintang yang terbit dari keturunan Yakub, dan dengan demikian dia dinamai ‘Isa dari ‘Bintang Mesias’. “Yeshua “, “Yahushuwa “, “Immanuel”, adalah semua hasil dari belitan tangan Kristen dari Tanakh untuk memaksakannya demi mengatakan sesuatu yang tidak bersesuaian dengan Nubuatan Mesias Israel.
Referensi:
http://shibli.zaman.net/eesa/
lecixon Hebrew-Caldea Gesenius
Ad Durul Mantsur fi Tafsir al Ma’tsur, Jalaluddin As Suyuti
Jami’ Ahkamil Qur’an Imam Qurtubi, tafsir al-Qurtubi
Encyclopedia Britannica
Theological Word Book of the Old Testament, Brown-Driver-Briggs, H.W.F. Gesenius
Ignatius, Ad Ephesios
Dan beberapa sumber lain
Yerussalem,1 Muharam 1431 H
Wahdatul_wjd@mig33.com


sumber : musagreen.wordpress.com

Minggu, 20 Desember 2009

Yesus dan Allah adalah satu?

Oleh:Althaf Musa .A.

"Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30) Tidak ada bukti baik disisi manapun ayat itu dijadikan bukti bahwa yesus adalah tuhan. Ayat ini bermula ketika yesus berjalan jalan di serambi salomo. Lalu orang-orang yahudi mencegat dan mengintrogasi seputar bukti bahwa yesus adalah mesias yang dijanjikan.
10:25 Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku,
10:26 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.
10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,
selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.
10:29 Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.
Esensinya yesus mengatakan bahwa dirinya sudah membuktikannya dengan keajaiban dan mukjizat yang dilakukan beliau atas nama Bapa, namun Yahudi tetap saja tidak percaya karena pada dasarnya kaum Yahudi tersebut sama sekali tidak mau mengakui Yesus, untuk itu Yesus menyatakan bahwa memang mereka adalah penentangnya, menentang ajaran yang disampaikannya sambil menyatakan bahwa orang yang mengikutinya akan selamat dunia dan akherat, terakhir beliau menegaskan bahwa keselamatan dunia akherat tersebut merupakan kekuasaan Bapa, yang lebih besar dari siapapun.
Maka cerita ini dipertegas dengan kalimat ἐγὼ καὶ ὁ πατὴρ ἕν ἐσμεν
egô {Aku} ka i{dan} ho patêr {Bapa itu} hen {satu} esmen{kami adalah}
Bahasa Yunani Perjanjian Baru menggunakan tiga kata yang diterjemahkan dengan satu yaitu εις – HEIS (maskulin), μια – MIA ( feminim), dan εν – HEN. Kata heis diartikan sebagai kata maskulin yang digunakan untuk angka secara berurutan.
Contoh ayat:
ἀρξαμένου δὲ αὐτοῦ συναίρειν προσήχθη / προσηνέχθη εἷς (Matius 18:24)
KJV- And when he had begun to reckon, one was brought unto him, wich owed him ten thousand talens(Matthew 18:24)
LAI- Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya satu orang yang berutang sepuluh ribu talenta (Matius 18:24)
tetapi kata MIA tidak digunakan untuk menghitung secara berurutan, melainkan menerangkan kuantitas nomina
contoh ayat:
ὥστε οὐκέτι εἰσὶν δύο ἀλλὰ σὰρξ μία. ὃ οὖν ὁ θεὸς συνέζευξεν ἄνθρωπος μὴ χωριζέτω. (Matius 19:6)
KJV- wherefore they are no more twain but one flesh. What therefore God hath joined together, let not man put asunder(Matthew 19:6)
LAI-Demikian pula mereka bukan lagi dua , melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia(Matius 19:6)
Jadi kedua kata ini digunakan untuk nomina, hanya perbedaanya adalah kata MIA tidak digunakan untuk menghitung, kedua kata ini dapat dibandingkan dengan kata ibrani יחיד – YAKHID atau kata arab واحد
WAHID.
Sedangkan kata en berarti netral senantiasa berhubungan dengan hakekat, natura, tidak pernah merujuk kepada satu oknum atau satu pribadi. Strong G1722
Dalam alih bahasa yunani-Ibrani sebagian besar orang Kristen mengkaitkan kata hen dengan kata אחד – ‘EKHAD hanya karena arti ekhad adalah satu dalam konteks ketuhanan .
Dilihat dari obyeknya kata ekhad terbagi menjadi 2:
1. Hanya satu obyek(only)
Contoh ayat:
* Ulangan 6:4
שמע ישראל יהוה אלהינו יהוה אחד
Translit interlinear, SYEMA’ {dengarlah} YISRA’EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} ‘ELOHEINÛ {Allah kita} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} EKHAD {esa}
• King James Version, “Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:”
• New International Version, “Hear, O Israel: The LORD our God, the LORD is one.”
• The Living Torah, “Shma Yisra’el Adonay Eloheynu Adonay Echad.” – “Listen, Israel, God is our Lord, God is One.”
• Tanach Stone Edition, “Hear, O Israel: HASHEM is our God, HASHEM is the One and Only.”
Kata YEHOVAH sebagai obyek/ satu obyek saja menunjukan ke tunggalan.
2. Dua obyek atau lebih dalam kesatuan(unity)
Contoh ayat:
*
Kejadian 1:9
ויאמר אלהים יקוו המים מתחת השמים אל מקום אחד ותראה היבשה ויהי כן׃
And God said, Let the water under the heaven be gathered together unto one place, and let the dry land appear and it was so.
Translit Interlinear,VAYOMER{berfirmanlah}ELOHIM{Allah}YIKAVU’{hendaklah}HAMAYIM{air}MITTAHAT’{dibawah}HASHAMAYIM{langit}EL{berkumpul}MAKOM{tempat }EKHAD{satu} VETERAE {sehingga terlihat}HAYABASHA{kering} VAYIHI{dan jadilah} KEN{demikian}
*Pengkotbah 7:27
רְאֵה זֶה מָצָאתִי אָמְרָה קֹהֶלֶת אַחַת לְאַחַת לִמְצֹא חֶשְׁבֹּון׃
Behold, this have I found, said the preacher, counting one by one, to find out the account:
Translit interlinear,REE{lihatlah} ZE{ini} MATZATI{yang kudapati} AMERA{kata pengkotbah} KOHELET{sementara } AHHAT{menyatukan} LE AHHAT{yang satu} LIMTZO{dengan} HHESHBON{yang lain}
*Kejadian 2:21
וַיַּפֵּל יְהוָה אֱלֹהִים ׀ תַּרְדֵּמָה עַל־הָאָדָם וַיִּישָׁן וַיִּקַּח אַחַת מִצַּלְעֹתָיו וַיִּסְגֹּר בָּשָׂר תַּחְתֶּנָּה
And the Lord God caused a deep sleep to fall upon adam, and he slept: and took one of his ribs, and closed up the flesh instead thereof
Translit Interlinear,VAYAPEL{lalu} YEHOVAH{dibaca Adonai} ELOHIM{allah} TARDEMA{membuat} AL HAADAM{adam} VAYISHAN{tertidur nyenyak} VAYIKAHH{lalu Dia mengambil} AHHAT {satu}MITZALOTAV{dari rusuknya} VAYISGHOR{lalu menutup} BASYAR{daging} TAHHTENA{tempat itu}
Salah satu rusuk berarti satu dari kumpulan atau kesatuan.
Jika kata ekhad dikorelasikan dengan kata hen maka arti hen adalah sebuah kesatuan,
*Yohanes 10:30
ἐγὼ καὶ ὁ πατὴρ ἕν ἐσμεν.
Interlinear, egô {Aku} ka i{dan} ho patêr {Bapa itu} hen {satu} esmen{kami adalah}
Dua obyek menjadi satu atau kesatuan.
*Matius 6:29
λέγω δὲ ὑμῖν ὅτι οὐδὲ Σολομὼν ἐν πάσῃ τῇ δόξῃ αὐτοῦ περιεβάλετο ὡς ἓν τούτων.
Interlinear, lego{aku berkata} de umin{kamu} hoti{kepada} oude Solomon{salomon} en{di} pash{setiap} ho doxh{setiap kemegahan} autou{darinya} periebaleto{tidak berpakaian}hos{seperti}en {satu}touton{dari bunga itu}
LAI-namun Aku berkata kepadamu: salomo dalam segala kemegahnyapun tidak berpakain seindah salah satu dari bunga itu
Satu dari beberapa obyek atau kesatuan.
*Matius 5:29
εἰ δὲ ὁ ὀφθαλμός σου ὁ δεξιὸς σκανδαλίζει σε ἔξελε αὐτὸν καὶ βάλε ἀπὸ σοῦ· συμφέρει γάρ σοι ἵνα ἀπόληται ἓν τῶν μελῶν σου καὶ μὴ ὅλον τὸ σῶμά σου βληθῇ εἰς γέενναν.
Translit interlinear, ei{jika}de o ophtalmos sou{matamu} o dexios{yang kanan} skandalizei{menyesatkan} se{kamu} atin auton{buanglah itu} kai{dan} bale{buanglah} apo sou {darimu}sumpherei{itu lebih baik}gar{bagi} soi{kamu} ina{itu} apolhtai{hancur} en{satu} ton{dari} melon{anggota tubuh} sou{kamu} kai{dan} mh{jika tidak}holon{seluruh} to soma sou{tubuhmu} blehthe{masuk}eis{dalam} geennan{neraka}
jadi kata hen adalah satu yang bermakna” kesatuan”
Apa Arti dari Kesatuan?
Untuk menghindari kesalah pahaman arti dari kesatuan dalam konteks ayat ini atau malah inkonsisten antar statement yesus maka simak korelasi ayat berikut ini:
*kejadian 2:24
על כן יעזב איש את אביו ואת אמו ודבק באשתו והיו לבשר אחד׃
KJV-Therefore shall a man leave his father and his mother, and shall cleave unto his wife: and they shall be one flesh.
Translit interlinear AL KEN{sebab itu}YAAZZAV-EISH{seorang laki-laki meninggalkan}ETH-AVIV{ayahnya}VEET{dan}AMIOU{ibunya}VEDAVAK{dan bersatu}BEISTHOU{dengan istrinya}VEHAYYU{sehingga mereka}LEVASHAR{menjadi daging} EKHAD{satu}
Jika kata ekhad atau satu atau hen(dalam konteks PB) dalam ayat ini diartikan satu dalam arti monistik berarti seorang laki-laki=perempuan. Dengan kata lain seorang suami adalah seorang istri juga(co-equal)?
Tidak! Melainkan eksistensi kedekatan seorang suami dengan istri.
Begitu pula dengan ayat yohanes 10:30 , arti satu/kesatuan tidak boleh diartikan dalam pengertian monistik,panteism,atau panenteism. Apabila kata satu/kesatuan dalam konteks yoh 10:30 diartikan dalam pengertian monistik,panteistik maupun penenteistik maka yang terjadi adalah inkonsisten antar statement yesus atau interpolasi yang tendensius.
Yesus berkata:
Yohanes 17:11
και ουκ ετι ειμι εν τω κοσμω και ουτοι εν τω κοσμω εισιν και εγω προς σε ερχομαι πατερ αγιε τηρησον αυτους εν τω ονοματι σου ους δεδωκας μοι ινα ωσιν εν καθως ημεις
“Holy Father, protect them in your name that you have given me, so that they may be one, as we are one.”
Translit Interlinear- kai {adapun} ouk {tidak} eti {lama} eimi {Aku ada} hen {di dalam} tô kosmô {dunia} kai {tetapi} outoi {mereka} hen {didalam} tô kosmô {dunia} eisin {masih ada} kai {dan} egô {Aku} pros {kepada} se {Engkau} erkhomai {pergi} pater {ya Bapa} hagie {Yang Kudus} têrêson {peliharakanlah} autous {mereka} hen {dengan} tô onomati {Nama} sou {Mu} hous {yang} dedôkas {Engkau telah memberikan} moi {kepada-Ku} hina {supaya} ôsin {mereka} hen {satu} kathôs {sama} hêmeis {seperti kita}
* Yohanes 17:22
εγω εν αυτοις και συ εν εμοι ινα ωσιν τετελειωμενοι εις εν και ινα γινωσκη ο κοσμος οτι συ με απεστειλας και ηγαπησας αυτους καθως εμε ηγαπησας
And the glory which thou gavest me have given them that they may be one, even as we are one
Interlinear, kai {dan} egô {Aku} tên doxan {kemuliaan} hên {yang} dedôkas {Engkau telah memberikan} moi {kepadaKu} dedôka {telah memberikan} autois {kepada mereka} hina {supaya} ôsin {mereka menjadi} hen {satu} kathôs {sama seperti} hêmeis {kita} hen {satu} esmen{kita adalah}
dari kedua ayat itu terdapat kata “hina ôsin hen” dan “hêmeis hen esmen yang merupakan kata subkunjunktif/probabilitas, akan tetapi tidak menafikkan jika ayat ini diartikan secara monistik, maka dengan begitu, bisa diartikan murid dan yesus dan bapa adalah satu sehingga murid,yesus dan bapa sama dalam subtansi kedudukanya (co-equal)? Sekali lagi tentu saja tidak.
Ayat pendukung:
* Yohanes 17:21,23
ινα παντες εν ωσιν καθως συ πατερ εν εμοι καγω εν σοι ινα και αυτοι εν ημιν εν ωσιν ινα ο κοσμος πιστευση οτι συ με απεστειλας
Translit interlinear, hina {supaya} pantes {semua} hen {satu} ôsin {menjadi} kathôs {sama seperti} su {Engkau} pater {ya Bapa} hen {didalam} emoi {Aku} kagô {dan Aku} hen {didalam} soi {Engkau} ina {supaya} kai {juga} autoi {mereka} hen {didalam} êmin {kita} hen {satu} ôsin {berada} hina {supaya} ho kosmos {dunia} pisteusê {percaya} hoti {bahwa} su {Engkau} me {Aku} apesteilas {telah mengutus}
LAI-Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
εγω εν αυτοις και συ εν εμοι ινα ωσιν τετελειωμενοι εις εν και ινα γινωσκη ο κοσμος οτι συ με απεστειλας και ηγαπησας αυτους καθως εμε ηγαπησας
Translit interlinear, egô {Aku} hen {didalam} autois {mereka} kai {dan} su {Engkau} hen {didalam} emoi {Aku} hina {supaya} ôsin teteleiômenoi {mereka (boleh) dengan sempurna} eis {menjadi} hen {satu} kai {dan} ina {supaya} ginôskê {tahu} ho kosmos {dunia} hoti {bahwa} su {Engkau} me {Aku} apesteilas {telah mengutus} kai {dan} êgapêsas {Engkau telah mengasihi} autous {mereka} kathôs {sama seperti} eme {Aku} êgapêsas {Engkau telah mengasihi}
LAI-Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
Kata hen emoi kago hen soi, Engkau didalam aku dan aku didalam engkau bermakna kesatuan. diperjelas pada ayat 23, pada kata ego hen autois kais u emoi dijelaskan dengan kata ina/supaya yang notabene merupakan perluasan frasa nomina dengan unsur penjelas, berarti kata kata itu bermakna
’Sesuatu’ dalam diri yesus sendiri, yang dipahami oleh yesus dalam keterpisahannya dari Realitas, bukanlah sesuatu dalam yang ber-ada, karena yesus adalah sesuatu yang(pasti) musnah/mati.
Apa yang sebenarnya ’didalam’ adalah aktualisasi dari salah satu mode dari Realitas. Jadi, Eksistensilah yang merupakan ’esensi’ sebenarnya dari sesuatu; dan apa yang selama ini dipersepsi orang kristiani sebagai esensi (mahiyyah){meminjam istilah sufistik dalam islam} sesuatu tidak lain merupakan aksiden untuk eksistensi
Kesimpulan
Statement yesus yang nengemukakan dirinya dengan bapa adalah satu bukan berarti kebersambungan substansial (substantial continuity) atau lebih sering disebut (co-equal)antara Tuhan dan ciptaan atau yesus dengan bapa, melainkan berarti kesatuan eksistensialisasi dan persepsi terhadapnya/kedekatan yesus dengan bapa. Sebab beberapa kali yesus mengatakan dirinya lebih rendah subtansi kedudukanya dengan bapa.
*Yohanes 14:28
ἠκούσατε ὅτι ἐγὼ εἶπον ὑμῖν· ὑπάγω καὶ ἔρχομαι πρὸς ὑμᾶς. εἰ ἠγαπᾶτέ με ἐχάρητε ἄν ὅτι πορεύομαι πρὸς τὸν πατέρα, ὅτι ὁ πατὴρ μείζων μού ἐστιν.
Ye have heard how said unto you, I go away, and come again unto you. If ye loved me ye would rejoice, because I said, I go unto the Father for my Father is greater than I.
Kamu telah mendengar, bahwa aku telah berkata kepadamu: aku pergi, teapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi aku, kamu tentu bersuka cita karena aku pergi kepada bapaku, sebab bapa lebih besar dari pada aku.
Yerussalem,25,Dzul’qoidah ,1430 H
Wahdatul_wjd@mig33.com

Rabu, 15 Juli 2009

Kristen dan Sejarah Lama (1)

Oleh: Dr. Zainab Abdul Aziz
Philo of Alexandria (13-20 SM – 54 M)
Di antara komentar yang paling sengit dan kritis yang dialamatkan kepada sejarah Kristen adalah hilangnya naskah dan sumber asli mereka. Sangat disayangkan, tidak ada yang tersimpan selain salinan yang dipenuhi dengan sabotase manusia, dan itu mencakup Injil, buku dan warisan patriarki lama. Kami akan meniliti poin ini melalui studi sejarahwan Yahudi klasik di masa-masa Kristen.
Philo adalah seorang filsuf terampil, lahir di masa rezim Herodit I, dan memahami dengan baik informasi tentang bangsa Yahudi. Dia menulis sekitar lima puluh tujuh buku yang di antaranya adalah The Age of Pilatus. Dalam buku ini, jika dia ingin memasukkan sesuatu tentang Yesus, maka kita akan menemukan banyak hal, namun dia tidak menyebut Yesus sama sekali.
Ia berasal dari kalangan elit berpendidikan dan paling dihormati di antara orang-orang seusianya. Ia dikenal subyektif dan jujur, dan ia tidak pernah mengabaikan suatu kejadian, besar atau kecil, penting atau tidak penting, berkaitan dengan apa yang ditulisnya. Dan itulah metodenya ketika ia menulis tentang berbagai agama yang ada pada waktu itu.
Yang jadi pertanyaan adalah, jika dia seperti ini, mengapa ia tidak menyebutkan hal apapun tentang Yesus dan para rasul, terutama ketika kita tahu, sebagaimana dinyatakan sumber resmi, bahwa Yesus dikenal secara luas dan bahkan pernah mengembara hingga perbatasan Syria. Berita tentang Yesus tersebar luas dimana mereka membawa orang-orang sakit kepadanya untuk diobatinya.
Dia juga tidak menyebutkan apapun tentang penyalibannya, tidak menyebutkan kebangkitannya dari kematian, dan tidak pula menyebutkan sesuatu tentang orang mati yang datang kembali ke dunia dan berkeliaran di sekitar kota. Sungguh, semua kejadian itu seharusnya disebutkan oleh sejarawan kolosal yang cermat seperti Philo, yang tidak pernah diam terhadap segala kejadian, baik kecil atau besar.
Telah diketahui dengan baik bahwa dia sebagai orang yang pemberani melakukan perjalanan ke Roma untuk bertemu dengan raja untuk berargumentasi mengenai orang-orang Yahudi yang menjadi korban dalam penganiayaan berdarah di Alexandria (39). Dia diterima dengan hangat walaupun permintaannya ditolak.
Sekembalinya ke Alexandria, kemudian ia menulis bahwa ia, cukup aneh, tidak menyebutkan Yesus maupun denominasi kaum Kristen yang tinggal di masa Abollonuis Altwany, yang dikatakan sebagai orang yang penting dan sangat berpengaruh seperti Yesus.
Ia adalah murid Plato, yang mengeluarkan teori Logos atau yang secara theologis dikenal sebagai ‘The Word’. Jadi, nanyak tentang ditulis hal ini dan juga teori tentang hubungan Allah dengan dunia dengan semua ketidak-sempurnaannya. Jadi, ia telah membuat entitas independen kalimat yang menciptakan segala sesuatu dengannya, sebagaimana hal tersebut diklaim, yang mencakup semua sifat-sifat ilahi dan bahwa semua makhluk telah bersumber darinya dan Jesus sendiri berasal dari Tuhan—sebuah konsep yang lebih milik permulaan Injil Yohanes ‘ (1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (1:1)
Konsep ‘The Word’ dikenal dalam filsafat dan ia tidak menambahkan apapun selain konsep inkarnasi yang diterima pada abad kedua.
Selain itu, imam Italia Legoy Katchiloly, yang akhirnya meninggalkan keimaman, berkomentar tentang ini dengan berkata, ‘Philon merupakan salah satu orang-orang Essene, meskipun ia tidak menyebutkan sesuatu tentang Yesus dan Kristen, dan bahkan ia mengecualikan mereka sepenuhnya dari sejarah pada periode antara 50 M. sampai 60 M. Sebagai tambahan, bahkan ia tertarik terhadap Logos yang kemudian mengambil bentuk spiritual, sehingga ia menolak ide penjelmaan kedua kedatangan Yesus. (hlm 109)
Flavius Joseph (37-100 M)





Dia dilahirkan di 73 M. dalam keluarga Yahudi yang kaya dan ditunjuk sebagai Gubernur di wiayah yang sekarang dikenal dengan nama Galilea pada awal Revolusi 66. Ia memimpin perang melawan Roma, dan ditangkap oleh Flavius Vespasian. Untuk menyelamatkan hidupnya, ia berbelok untuk bekerja bagi kepentingan Roma dan menjadi intelijen mereka untuk mengamati perang yang sedang berlangsung. Hal ini membantunya untuk mendapatkan kewarganegaraan Roma, dan dengan ini dia tetap menjadi salah satu sejarawan yang paling penting di masa itu.
Dengan jumlah yang begitu besat orang-orang Yahudi lama yang menceritakan peristiwa masa Kejadian hingga ke waktu perang antara Romawi dan Yahudi (66 M), kami hanya menemukan paragraf kecil yang mengatakan, ‘Sekarang, Yesus telah muncul, manusia yang bijaksana, jika memang dibenarkan untuk memanggilnya manusia, karena dia adalah seorang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mulia, guru bagi banyak orang, sebagaimana ia menerima kebenaran dengan senang hati. Dia memikat banyak orang, baik orang-orang Yahudi atau orang-orang Gentiles. Dia adalah Kristus. Dan ketika Pilatus, sesuai usulan dari tetua di antara kami, mengutuknya ke salib, maka orang-orang yang mencintainya sejak awal tidak meninggalkannya, sebab ia akan muncul kepada mereka dalam keadaan hidup kembali pada hari yang ketiga, sebagaimana yang diramalkan oleh para utusan. Dan umat Kristen, yang nama mereka diambil dari namanya, tidak punah pada hari itu.’
Namun dipastikan para ilmuwan menyepakati suatu fakta bahwa ini hanyalah sebuah tambahan distorsif yang kemudian disisipkan, karena ia tidak terdapat pada naskah terkuno buku ‘The Antiquities of Jews ‘ karya Aourgeen di awal abad ketiga, di mana dia yakin bahwa Joseph menolak untuk percaya kepada Yesus. Diketahui dengan baik bahwa dia sangat setia kepada Yudaisme, dan ini terlihat jelas dalam autobiografi dan buku yang ditulis Apion.
Imam Gelieh, yang juga pustakawan Santo Genfeif dan penerjemah karya-karyanya (1756), mengatakan kontradiksi dan distorsi tersebut sangat gamblang. Saya harus mengakui bahwa tulisan-tulisan tersebut diubah dan dimodifikasi sehingga sebagiannya kontradiksi dengan sebagian yang lain.
Roger Peytrignet mengafirmasi bahwa umat Kristen lebih dahulu mendapati karya-karyanya setelah ia bergabung dengan Roma dan mereka mendistorsinya sesuai dengan kemauan mereka (Jesus-Myth or Historical person, hlm. 29)
Alfarek dan Koushou dalam bukunya ‘ The problem of Jesus and the origin of Christianity ‘ menegaskan kemustahilan bahwa Joseph menulis paragraf di atas karena jika dia berkata demikian, maka dia pasti telah menjadi orang Kristen, tetapi diketahui bahwa dia adalah Yahudi Persia dan itu sudah jelas.
Ada konsensus dari para penulis bahwa tambahan-tambahan ini secara sengaja disisipkan dan, paragraf ini tidak selaras dengan seluruh konteks yang berbicara tentang penderitaan-penderitaan yang dialami masyarakat selama rezim Pelate. Jika paragraf ini dihapus, maka aliran pembicaraan akan menjadi serasi.
Andre Vautier, dalam bukunya yang Mitos Yesus, mengatakan bahwa Josephus menulis jumlah terjemahan tentang perang orang-orang Yahudi, baik terjemahan dalam bahasa Aramaik atau translation. Tanggal terjemahan Yunani kembali ke 79 M. dan tidak mempunyai referensi dalam bagian pertama dan juga dari bagian no. 300 hingga no. 700. Konteks mengalir dengan begitu lancar dan harmonis, dan dengan kata-kata yang begitu sempurna. Sedangkan bagian yang kedua yang berkaitan dan menceritakan peristiwa yang bertepatan dengan masa di mana Yesus hidup berisi ungkapan-ungkapan yang sangat buruk. Bahkan isinya tidak konsisten dan tidak harmonis. Ini merupakan bukti yang pasti bahwa bagian ini telah tercemah oleh tulisan-tulisan orang Kristen.
Katanya, kita seharusnya tidak lupa bahwa para imam pada waktu itu adalah orang yang bisa membaca dan menulis dan bahwa bagian-bagian yang berbicara tentang Yesus dan Yohanes sang pembaptis itu telah diedit dari salinan yang dibuat dari bahasa Yunani.
Jadi, Andre Vautier menyatakan secara tegas bahwa buku The war of the Jews dan bagian ke-18 dalam buku Ancient Antiquities of the Jews yang mencatat peristiwa abad pertama masehi termasuk bukti yang tak diragukan lagi dan jelas mengenai perubahan dan sisipan, dan mengenai halaman yang disispkan dan yang dihapus.
Pada bab ketiga dalam bukunya, Andre Vautier mengatakan bahwa kata pengantar buku The Jews wars was against the Romans berisi out-line Artikel buku. Sekarang buku, jika kita menelitinya, mengalami penyimpangan secara massif dari rezim Augustus hingga tahun 12 rezim Neiron. Misalnya, ada masa enam puluh tahun hilang, dan itu adalah periode aktivitas Yesus dan Johanes sang pembaptis.
Benar-benar jelas bagi pembaca bahwa seorang laki-laki yang begitu berhati-hati dan teliti seperti Josephus tidak bisa diam terhadap jeda sejarah manusia ini, padahal ia merupakan periode yang mencakup berbagai peristiwa konsekuensial historis. Sarjana yang jujur pasti akan mencaci gereja yang sejak awalnya itu didasarkan pada kebijakan kecurangan, sabotase, interpolasi dan distorsi.
Jadi Loegy Katxhyoly mengatakan: Gereja telah mengubah banyak paragraf dalam karya-karya Josephus, dan menskenario pembakaran Roma kebakaran di masa Neiron, hanya untuk menciptakan orang-orang yang rela berkorban demi Essense dan Kristen. Cukup bagi kami untuk merujuk kepada banyak distorsi yang dibuat Eusebius untuk bergeluar dengan keanehan dari sumber sejarah Kristen dalam Kitab Suci, yang telah dicemari oleh para sejarahwan sebagai penipu.
Guy Fau juga mengatakan dalam bukunya yang The Myth of Jesus bahwa paragraf tentang Yesus pertama kali muncul di abad keempat dalam karya Euseus, dan ia belum ditemukan namun dalam buku The Hebrew Antiquities in the Age of Aourgene (185-254).
sumber: eramuslim.com

Senin, 06 Juli 2009

Injil Membantah Ketuhanan Yesus:

PENDAHULUAN


Islam adalah satu-satunya agama yang menyatakan dan meyakini adanya Tuhan yang sempurna. Artinya, bahwa Dia tiada memiliki sekutu baik dalam tabiat maupun sifat-sifat-Nya. Seperti dalam firman-Nya:

"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlash: 1-4)

Baru-baru ini di Benoni, Afrika Selatan, ada seorang penginjil yang kurang mahir dalam ilmu agama, tapi ia suka mengagung-agungkan waham pribadinya. Dia menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Al Masih, yang ditugaskan Allah untuk mengkristenkan kaum Muslimin. Karena ia seorang advokat, tentu saja ia memiliki kemahiran dalam bersilat lidah. Ia malah berani menggunakan Al-Qur'anul Karim sebagai dalil khotbahnya, meskipun menyimpang dari tujuan dan pengertian yang sebenarnya.

Ia memang sama sekali tidak memahami sepatah katapun bahasa Arab. Ia ingin agar kaum muslimin mengimani bahwa Isa As adalah Tuhan juga, padahal ini suatu akidah yang amat buruk bagi kita, kaum muslimin. Akidah ini amat bertentangan dengan kesempurnaan Allah Ta'ala yang mutlak.

Dengan berbagai cara orang ini berupaya memutar-balikkan jalan kebenaran. Namun Allah Swt berfirman:

"Katakanlah (Muhammad): "Telah datang kebenaran (Islam) dan telah hancur kebatilan. Sesungguhnya yang batil Itu pasti akan hancur." (A1-Isra: 81)

Dengan demikian jelaslah, segala daya upaya orang tidak akan berhasil, karena jalur kebenaran itu tidak dapat diputar-balikkan dan ini sesuai dengan janji Allah dalam firman-Nya.

Dua Alasan
Dalam memutar-balikkan ayat-ayat Allah, penginjil itu mengemukakan dua alasan mengenai pernyataannya tentang Isa Alaihissalam adalah Allah, yaitu:

1. Ketika kita mengatakan bahwa Isa itu Tuhan ( atau meskipun Dia adalah Allah yang sebenarnya), namun kita tidak akan menjadikan-Nya Tuhan Bapak! Ia adalah satu dengan Tuhan Bapak, karena itulah Dia bersekutu dalam tabiat-Nya.

2. Dia (Isa Alaihissalam) ditinjau dari berbagai sisi seperti Tuhan Bapak, tapi bukan Tuhan Bapak itu sendiri.

Alhasil, berdasarkan keterangan si advokat itu, Isa Alaihissalam adalah Allah, karena Dia bersekutu dalam tabiat Allah dan dari berbagai sisi seperti Allah.

Demikianlah ia mengemukakan kedua alasannya itu untuk membuktikan ketuhanan Isa Alaihissalam. Suatu alasan yang dangkal dan tidak layak dikemukakan oleh orang yang berprofesi sebagai advokat.

Di bawah ini akan kami paparkan beberapa bukti dari kitab sucinya sendiri untuk meyakinkan bahwa Isa As tidak bersekutu dengan tabiat Allah dan dilihat dari segala sisinya, ia tidak menyerupai Allah. Karena itulah Allah tidak mungkin diperilahkan.

Kami akan memberikan contoh-contohnya dari kitab suci mereka sendiri tanpa banyak komentar karena menurut anggapan umat Nasrani kitab itu merupakan bukti kebenaran dirinya!

Sesungguhnya perkataan yang mengatakan bahwa Isa Alaihissalam Itu adalah Allah, bukan hanya merupakan cemooh terhadap (salah satu) ketuhanan, tetapi merupakan bentuk terendah dari kekafiran, sekaligus penghinaan terhadap kecerdasan akal manusia!

Semua kutipan ayat-ayat dipetik dari kitab suci yang berlaku dan dinyatakan sah. Pada tiap kepala karangan dan isinya, sebutan nama Isa Alaihissalam sengaja kami beri lafdhul jalalah. Nama kebesaran Allah dalam kurung sebagai berikut (Allah), untuk lebih menarik perhatian orang yang sudi berpikir lebih jauh dan mendalam. Alangkah dangkalnya kotbah si advokat itu yang menyatakan bahwa Isa Alaihissalam adalah Allah!

MUKADDIMAH


Alhamdulillah Robbil 'Alamin. Salawat dan salam kepada Rasul dan Nabi Allah terakhir, Muhammad SAW yang diserahi amanat mengemban agama yang sebenarnya. Yang memenangkan seluruh agama sebagai rahmat bagi umat manusia semuanya, terutama bagi yang beriman dengan risalah dan kerasulannya.

Buku ini tidak menyuguhkan suatu pendapat baru atau pikiran khusus tentang ketuhanan Isa Almasih. Tetapi hanya mengetengahkan nas-nas yang jelas dari kitab suci mereka sendiri, yang diterima dengan baik dan diakui kesahannya oleh umat Nasrani sendiri. Buku ini hanya menyuguhkan pengertian yang sebenarnya dari suatu masalah, dan meyakinkan adanya ketidak-samaan antara Almasih dengan Allah Ta'ala, baik dalam sifat-sifat Ketuhanan-Nya maupun tabiat-Nya.

Akhirnya kami mohon kepada Allah Ta'ala, mudah-mudahan pekerjaan kami ini diterima sebagai amal kebajikan yang seikhlas-ikhlasnya, semata-mata mengharap ridha-Nya. Amin.

Al Mukhtarul Islami (Penerbit)

ISI BUKU
Mukaddimah
Pendahuluan
Bagian Satu: Hari Milad Allah
Bagian Dua: Al Masih Bukan Nama
Bagian Tiga: Masalah Kebangkitan Al-Masih
A. Tidak ada 'Tanda' Hanya Satu Tanda Untuk Yahudi!
B. Yunus Melarikan Diri Dari Tugas Da'wah
C. Hidup atau Matikah, Yunus?
D. Persepsi Kaum Masehi Terhadap Yesus, Bertentangan Dengan Peristiwa Yunus
E. Kapan Yesus Disalib?
F. Siapa Yang Menyesatkan Kaum Masehi?
Bagian Empat: Dialog Antara Ahmed Deedat dan Pendeta Rev. Roberts (Direktur Lembaga Al-Kitab Afrika Selatan)
Bagian Lima: Siapa Ahmed Deedat, Seorang Da'I Besar Dunia?
Bagian Enam: Wawancara Ahmed Deedat Dengan Wartawan 'Arab News'
A. Ahmed Deedat Bicara Tentang Peran "Wanita Dalam Islam"
B. Palestina Menurut Ahmed Deedat
C.Salman Rusydi di Mata Ahmed Deedat

Baca Buku tsb di : http://mcb.swaramuslim.net/index.php?section=11&page=-1



sumber :swaramuslim.net

Minggu, 17 Mei 2009

POKOK-POKOK AJARAN KRISTEN

Kristen, putri Sion, banyak menyerap tradisi Yahudi dan menerõma sepenuhnya Kitab Perjanjian Lama. Pendiri Agama Kristen, Yesus Kristus, adalah seorang Yahudi dan tidak pernah mengingkari Iman dan ajaran Yahudinya, bahkan dia selalu mematuhi upacara-upacara keagamaan dan pesta-pesta Yahudi dengan tekun. Dia juga pergi ke Yerusalem untuk menghadiri. pesta-pesta besar sebagaimana yang disyaratkan sebagai seorang Yahudi Ortodoks. Tetapi orang-orang Yahudi dan orang Kristen berbeda pendapat mengenai sifat (hakikat) Yesus; orang-orang Yahudi yakin bahwa dia adalah seorang manusia yang baik, atau barangkali seorang nabi dengan suatu pesan dari Tuhan, tetapi tidak lebih dari itu; sebaliknya, orang Kristen menganggap bahwa Yesus adalan Kristus (orang yang diurapi), Mesias Tuhan sebagaimana dijanjikan dalam Kitab Perjanjian Lama. Bukan saja dia merupakan utusan Tuhan, tetapi dia adalah anak Tuhan, dan oleh karena itu menempati suatu hubungan yang unik dengan Tuhan. Dia mempunyai hakikat yang sama dengan Tuhan, dari sejak permulaan waktu telah ada bersama-sama dengan Tuhan, dan diutus ke bumi oleh Tuhan; lihat Injil yang ditulis oleh Santo Yahya dalam Yahya 1:1-2, 14: "Pada mulanya, Firman itu (Kristus) telah ada. Firman itu bersama-sama dengan Tuhan, dan Tuhan itu sendirilah Firman itu. Maka Firman itu telah sejak semula bersama-sama dengan Tuhan ... Maka Firman itu telah menjadi daging (manusia); Dia datang untuk tinggal bersama-sama dengan kita, dan kita melihat kemuliaannya, seperti kemuliaan yang diperoleh sebagai anak tunggal bapak, penuh dengan anugerah dan kebenaran." Dia dianggap dikandung dari seorang dara (perawan), yakni Perawan Maria, melalui kekuasaan Tuhan, dan oleh karena itu Dia sekaligus sebagai manusia dan sebagai Tuhan, suatu keberadaan yang menurut keyakinan orang Kristen tidak dapat dipahami secara logika, tetapi merupakan sesuatu yang harus diterima dengan iman dan dengan menyadari bahwa bagi Tuhan segala sesuatunya adalah mungkin, walaupun di luar jangkauan pengertian manusia. Iman Kristen menerima bahwa melalui kematiannya di kayu salib, Yesus mati untuk semua orang, dan bahwa semua orang dapat mencapai keselamatan melalui dia, suatu doktrin yang dijelaskan untuk pertama kalinya dan selengkapnya oleh Santo Paulus. Bagaimana ini dapat dimengerti? Pertama-tama kita harus menelusuri kembali iman Yahudi, karena tanpa memahami pemikiran orang atau bangsa Yahudi, maka argumen Kristen tidak akan dapat dimengerti. Menurut ajaran Yahudi, jalan satu-satunya untuk berdamai dengan Tuhan dan untuk mencapai keselamatan dari Tuhan adalah dengan menaati semua aturan-aturan hukum (hukum Tuhan), selain juga mematuhi tafsiran dan penjelasan dari hukum tersebut yang telah dikembangkan secara lisan selama berabad-abad. Jika seseorang tidak mematuhi semua ketentuan hukum (Taurat) tersebut, maka dia dihukum -lihat ulangan (Musa 5) 27:26- "Suatu kutukan bagi orang yang tidak memenuhi hukum dengan melakukan semua yang telah ditentukan dalam hukum itu." Tetapi Paulus menyadari bahwa hal tersebut tidaklah mungkin, karena tidaklah ada manusia yang mampu memelihara semua kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut, dan akibatnya semua orang menjadi akan dihukum. Adakah jalan keluarnya? Ya. Yesus diutus oleh Tuhan, yang suci dan tidak berdosa, merupakan satu-satunya orang yang dapat bersatu dengan Tuhan melalui kesempurnaan hidupnya. Namun, walaupun tidak ada kesalahan dalam dirinya (ketidakbersalahan Yesus dinyatakan berulang-ulang oleh penulis-penulis Injil), tetapi dia disalibkan, yang berarti bahwa dia seperti semua orang, dihukum sesuai (menurut) hukum. Hal ini dijelaskan berdasarkan Kitab Ulangan 21:22-23: "Bila seseorang didakwa melakukan kejahatan besar dan dijatuhi hukuman mati, maka kamu harus menggantung dia pada sebuah kayu; tetapi tubuhnya jangan dibiarkan tergantung sampai bermalam; kamu harus menguburnya pada hari itu juga, karena seorang manusia yang digantung adalah terkutuk di hadapan Tuhan ..." Namun demikian, Yesus berdamai dengan Tuhan, dia telah mematahkan rintangan hukum melalui kebangkitannya. Jadi bila seorang manusia, walaupun dikutuk berdasarkan hukum, akan dapat didamaikan dengan Tuhan, maka semua orang melalui iman dan melalui pengidentifikasian (peniruan) orang yang satu tersebut (Yesus) dapat didamaikan dengan Tuhan sebagaimana Yesus adanya. Oleh karena itu apa yang penting bagi keselamatan bukanlah sepenuhnya terletak pada ketaatan pada hukum secara kaku dan mutlak (walaupun Paulus menegaskan bahwa hukum atau Taurat itu baik, yang telah diturunkan oleh Tuhan, dan harus ditaati sebisa mungkin -Roma 7:12) tetapi lebih dari itu adalah iman terhadap Kristus yang menjadi intinya, karena melalui iman dalam Yesus, orang Kristen yakin bahwa mereka akan diarahkan pada Tuhan sebagaimana Yesus Kristus itu sendiri. Dengan demikian maka kiranya jelaslah apa yang menjadi perbedaan antara agama Yahudi dan agama Kristen. Agama Kristen, sebagaimana juga agama Yahudi, adalah merupakan suatu kepercayaan monoteis, yang menganggap bahwa Tuhan adalah Maha Pencipta dan Penopang dunia, yang memelihara, mencintai, dan melindungi umat manusia. Tetapi kepercayaan Kristen ini adalah suatu bentuk monoteisme yang berbeda: Kristen menerima suatu "Trinitas," di mana bersama Tuhan dan Yesus Kristus ada suatu pihak ketiga yang seperti Kristus yang inti (esensi)nya sama dengan Tuhan tetapi terpisah, yakni Rohul Kudus. Roh Kudus inilah yang bekerja, dan demi kebaikan manusia. Dalam kamus Kecil Oxford mengenai Gereja Kristen (ed. E.A. Livingstone) Rohul Kudus didefinisikan sebagai berikut: "Rohul Kudus. Dalam Teologi Kristen, pribadi ketiga dalam Trinitas, berbeda dari bapak dan anak, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan mempunyai sifat yang sama dan merupakan pelengkap dari sifat keilahian." Dengan demikian, maka Rohul Kudus itulah yang menuntun nabi-nabi, rasul, dan para penyebar ajaran Tuhan dalam melaksanakan missinya. Walaupun bukan termasuk bagian dari Trinitas, tetapi Perawan Maria menempati suatu kedudukan yang sangat penting dalam iman banyak orang Kristen, khususnya yang beragama Katolik. Dia dipandang sebagai seorang perantara antara umat dengan Kristus. Orang Kristen menganggap atau menerima Perjanjian Baru sebagai sumber pengetahuan mereka mengenai kehidupan dan pengajaran Kristus. Ada empat Injil. Masing-masing dari keempat Injil ini menyoroti kehidupan Yesus dari sudut pandang yang berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab kenapa sepertinya ada ketidakcocokan di antara keempat uraian Injil tersebut. Perjanjian Baru adalah merupakan bagian kedua dari Alkitab, dan bagian ini tidak diterima oleh agama Yahudi. Selain keempat Injil tersebut, Perjanjian Baru juga memuat Kitab Kisah Rasul-Rasul, Surat-surat Apostel Paulus, dll., serta diakhiri dengan wahyu, yakni suatu cerita yang bersifat visi mengenai Hari Penghakiman dan Kedatangan Kedua Kristus. Ide kedatangan kedua (Parousia) ini sangat penting dalam Gereja yang pertama, karena jemaat (pengikut Kristus) pada saat itu menganggap bahwa Kristus akan segera kembali lagi dalam bentuk jasmaniah dan waktunya tidak akan lama, yakni semasa pengikut-pengikut awalnya masih hidup. Ketika dia kembali lagi, pikir mereka, dia akan mengumandangkan akhir zaman dan Hari Kiamat, dimana semua akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing. Yang baik ke surga, yang jahat ke neraka.

selesai...

The History of Christian Doctrine
Sejarah Perkembangan Ajaran Trinitas
L. Berkhof
Penerbit CV. Sinar Baru
Cetakan pertama: 1992

sumber :media.isnet.org
Bandung

baca sebelumnya 

ASAL USUL DAN SEJARAH KRISTEN

Pendiri agama Kristen adalah seorang Yahudi bernama Yesus, yang lahir di Betlehem, Palestina, antara tahun 8 hingga 4 SM. Tradisi biasanya menyebutkan bahwa dia lahir dalam bulan Desember tahun pertama era Kristen yaitu, tahun 1 M, akan tetapi telah diketahui sekarang bahwa hal ini salah. Dalam catatan-catatan yang menyangkut Yesus -yakni Injil, empat di antaranya terdapat dalam perjanjian baru yang ditulis Matius, Markus, Lukas, dan Yahya- kita diberi tahu bahwa dia lahir selama berkuasanya Raja Herodes dan pada saat Kerajaan Romawi melaksanakan sensus penduduk. Kerajaan Romawi melaksanakan sensus penduduk empat belas tahun sekali. Sensus pertama berlangsung tahun 6 M; ini berarti bahwa sensus sebelumnya dimulai tahun 8 SM, selama pemerintahan Kaisar Augustus dan tanah Judea diperõntah Kerenius yang dapat kita baca dalam Lukas 2:1-5. Kita juga diberi tahu tentang bintang yang menuntun orang Majus ke tempat Yesus berada, dan astronom Keppler, menghitung bahwa timbul konjungsi antara Saturnus, Jupiter, dan Mars kira-kira tahun 7 SM yang menampakkan kesan sebagai bintang baru yang terang benderang. Semua data ini mendukung kesimpulan bahwa Yesus lahir antara tahun 8 hingga 4 SM. Kita juga dapat menentang pendapat bahwa Yesus lahir bulan Desembers karena dalam Injil Lukas terdapat gembala yang menggembalakan ternaknya pada malam hari (2:8). Namun di Palestina pun cuaca dingin dan turun sadju, jadi saat kelahiran itu pastilah di luar musim dingin karena para gembala tidak akan keluar pada saat tersebut. Musim yang lebih mungkin adalah musim semõ atau musim rontok. Penganut ajaran Kristen percaya bahwa ibu Yesus, yakni Maria, melahirkan Yesus dalam keadaan masih perawan dan belum bersetubuh dengan suaminya yaitu Yusuf. Anak tersebut lahir karena kekuasaan Tuhan melalui roh kudus. Kaum Katolik bahkan berkeyakinan bahwa Maria tetap perawan setelah kelahiran Yesus. Saudara laki-laki dan perempuan Yesus yang disebutkan dalam Markus 6:1-6 adalah anak-anak Yusuf dari perkawinannya yang terdahulu. Tidak banyak yang kita ketahui tentang Yesus di masa kanak-kanak; kisahnya mulai banyak diungkapkan untuk perjalanan hidupnya setelah berusia tigapuluhan, saat dibaptis oleh Yahya. Yahya membaptis manusia sebagai persiapan mereka untuk menerima kedatangan "juru selamat;" pada waktu Yesus datang, dia menolak membaptis Yesus dengan menyatakan bahwa Yahya tidak pantas membaptis Yesus, bahkan sebaliknya dialah yang pantas dibaptis. Namun Yesus tetap meminta Yahya membaptis dirinya; setelah dibaptis dia mengasingkan diri selama 40 hari dan memikirkan "juru selamat" yang bagaimanakah sebenarnya. Selama itu iblis menggoda dia, membujuk Yesus agar menjadi pahlawan bagi bangsa Yahudi, atau memenangkan dukungan bangsanya lewat perbuatan kegaiban atau dengan memenuhi kepuasan material bangsa Yahudi. Yesus menolak godaan ini, karena Dia sadar bahwa Dia haruslah "juru selamat" yang menderita, yang akan mati demi bangsanya. Setelah meninggalkan gurun, dia memilih dua belas orang sebagai teman dan muridnya. Murid-murid ini mempunyai latar belakang yang beragam: Petrus dan Andreas adalah bersaudara dan nelayan miskin; Yacob dan Yahya, juga bersaudara, adalah nelayan juga, namun lebih makmur; Matius (atau Levi) adalah pengumpul pajak yang bekerja bagi orang Romawi; ada anggota kelompok Zealot yang fanatik; dan Yudas Iskariot, orang yang pada akhirnya mengkhianati Yesus dan menyerahkannya kepada musuhnya. Dari kedua belas muridnya, Petrus, Yacob dan Yahya merupakan teman Yesus yang paling dekat. Dalam Markus 6:1-6 Yesus disebut "tukang kayu," dan dari sini diasumsikan bahwa sebelum terkenal, Yesus meneruskan profesi ayahnya sebagai tukang kayu. Kita tidak mengetahui latar belakang pendidikannya walaupun mungkin dia memperoleh pendidikan dari cendekiawan monastik Yahudi, yakni kaum Essenes, yang ajarannya banyak mirip dengan ajaran Kristen. Namun dari kitab-kitab Injil dapat kita lihat bahwa dia adalah manusia yang cerdas, arif dan penuh humor. Ajarannya dia sampaikan lewat perumpamaan, dongeng, kisah-kisah pendek yang mengandung makna mendalam. Teknik pengajaran seperti inilah yang ditempuh para rabbi karena lebih mudah menangkap makna lewat kisah-kisah pendek dibandingkan lewat kisah-kisah panjang, atau lewat diskusi formal yang panjang. Kisah-kisah atau perumpamaan Yesus adalah sederhana dan langsung kena, kisah yang mudah disimak oleh siapa pun. Akan tetapi, dia juga menggunakan kotbah, dan kotbah yang terkenal adalah kotbah bukit (kotbah ini bukanlah satu kotbah panjang, melainkan adalah intisari yang diambil dari ucapan-ucapan Yesus dalam berbagai kejadian). Di samping memberikan ajaran, Yesus juga menyembuhkan banyak penyakit dan bahkan menghidupkan kembali orang mati. Perlahan-lahan namanya termasyhur ke seluruh negeri dan orang mulai berbisik-bisik mempersoalkan siapakah dia. Pertama kali Yesus mengaku sebagai "juru selamat" yang telah lama dinanti-nantikan di Caesarea Phillippi. Setelah dia menanyakan kepada murid-muridnya tentang siapakah dia disebut khalayak ramai, dia bertanya tentang siapakah dia di mata para muridnya? Petrus, yang merupakan orang pemberani, menjawab, "Engkau adalah juru selamat." Semenjak itu Yesus mulai memperkenalkan ajaran-ajaran dan perintah-perintahnya kepada kedua belas muridnya tentang tujuan kedatangannya. Lalu dia diberi nama Kristus yang berarti "orang yang diurapi." Segera setelah pengakuan oleh Petrus tentang dia (Yesus) sebagai "juru selamat," dia mengajak Petrus, Yahya dan Yacob ke suatu bukit, di mana pakaian dan wajah Yesus menjadi bercahaya putih mengkilap dan dia berkomune dengan Nabi Elisa dan Musa. Peristiwa ini disebut Transfigurasi (perubahan tubuh). Namun selama tiga tahun misi Yesus, tantangan terhadap ajarannya meningkat terutama dari pihak Parisi dan Saduki. Kaum Saduki adalah kelompok kecil aristokrat yang sangat berpengaruh yang mengaku sebagai keturunan Sulaiman. Kelompok Parisi terbentuk pada saat Kekaisaran Yunani ingin menanamkan pengaruhnya di Palestina, dan Kaum Parisilah yang sangat menentang pengaruh (Helenisasi) ini. Kedua kelompok ini, dengan alasan yang berbeda, memusuhi Yesus; kaum Parisi menolak karena ajaran-ajaran Yesus menentang sikap kaum Parisi. Kita tahu orang Yahudi sangat berpegang erat kepada 10 perintah Allah, sementara Yesus memperbaharui penafsiran tentang makna kesepuluh perintah tersebut. Selama bertahun-tahun hukum itu berubah menjadi doktrin yang mendasari ajaran Yudaisme, yang menjadi dasar bagi orang Yahudi untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya. Bagi kebanyakan orang Parisi, tradisi lebih penting daripada hukum, dan Yesus sangat lantang menentang sikap orang Parisi ini. Kaum Saduki menentang Yesus karena mereka bekerja sama dengan bangsa Romawi, dan karena itu mereka sangat berpengaruh dan menikmati hak-hak istimewa. Mereka khawatir Yesus bisa menimbulkan kesulitan yang berakhir pada situasi yang mengancam pada prestise dan kekuasaan mereka. Setelah kira-kira tiga tahun, Yesus pergi ke Yerusalem menunggang keledai dan disambut sebagai pembebas dan "juru selamat," karena saat itu bertepatan dengan berlangsungnya pesta paskah dan Yerusalem dipadati oleh banyak manusia. Paskah adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi kedatangan "juru selamat" bangsa Yahudi, sehingga suasana saat Yesus memasuki kota amatlah eksplosif. Lalu dia masuk ke Bait Allah dan mengusir semua pedagang, pembunga uang dan orang-orang lain yang dia anggap mengotori tempat suci tersebut. Penduduk menunggu tindakannya yang selanjutnya, yakni hal mengumumkan dirinya sebagai Raja yang akan mengusir penjajah Romawi; namun tindakan yang ditunggu-tunggu itu tidak pernah muncul. Sebaliknya Yesus mengadakan perjamuan dengan murid-muridnya, yang dinamakan perjamuan terakhir (sebagian cendekiawan menyebutnya perjamuan paskah), sesudah itu dia pergi ke Taman Getsemane. Di sana dia ditangkap serdadu yang dipimpin oleh Yudas Iskariot. Pertama kali setelah ditangkap, Yesus diajukan ke hadapan para imam dan dituduh menghujat Allah, suatu kejahatan besar dalam hukum Yahudi, namun karena mereka tidak dapat menjatuhkan hukuman mati, keputusan mereka harus disahkan oleh penguasa Romawi. Lalu Yesus dihadapkan kepada penguasa, Pontius Pilatus, dan dituduh melakukan pemberontakan subversi dan menghindari pajak; Pilatus tidak ingin menghukum orang yang tidak bersalah, namun disebabkan tekanan para imam dan amarah bangsa Yahudi -yang merasa tertipu kalau Yesus tidak memperlihatkan dirinya sebagai "juru selamat" dalam arti penuh kemenangan dalam peperangan- dia terpaksa membuat keputusan yang tidak menyenangkan dan Yesus dihukum dengan penyaliban. Putusan itu dilaksanakan, dan Yesus mati setelah penuh penderitaan selama tiga jam di kayu salib. Akan tetapi, bagi Gereja Kristen, itu bukanlah akhir, melainkan adalah awal. Tiga hari kemudian Yesus bangkit dari kematian (tiga hari berdasarkan perhitungan Yahudi -Yesus meninggal hari Jumat dan bangkit hari Minggu). Para wanita yang pergi ke makamnya pada Minggu pagi menemukan makamnya sudah kosong, namun pakaiannya masih terlipat di dalam kubur. Kemudian Yesus sendiri menampakkan dirinya kepada mereka; kemudian mereka berlari untuk memberitahukan hal itu kepada murid-murid Yesus yang sebelumnya meragukan kebangkitan Yesus; namun kemudian mempercayainya. Beberapa saat kemudian Yesus mengajak mereka ke suatu bukit, memberkati mereka lalu mereka terangkat ke surga. Semenjak itu Yesus tidak pernah menampakkan diri lagi di bumi ini. Sementara itu murid-murid Yesus tidak bisa menentukan langkah-langkah mereka seterusnya. Namun pada hari Pantekosta, pada saat mereka semua berkumpul di Yerusalem, Roh Kudus turun dari surga dan hinggap pada masing-masing mereka. Sejak itu mereka diubahkan, tidak lagi cemas dan takut, melainkan sudah menjadi rasul-rasul yang berani yang menjelajahi dunia ini untuk menyampaikan kabar gembira tentang Tuhan Yesus Kristus. Pada awalnya mereka berharap Yesus segera muncul kembali, namun hal itu tidak terjadi demikian. Iman baru ini segera menyebar di seluruh dunia lama. Hebatnya, misi penyebaran Injil yang paling spektakuler bukanlah oleh salah satu murid Yesus melainkan adalah oleh Saul (Paulus) dari Tarsus, yang mengalami pertobatan pada saat dia dalam perjalanan ke Damascus untuk menangkapi orang-orang Kristen; sebagai hasil pertobatan ini, dia banyak melakukan perjalanan untuk pekabaran Injil, mengalami penderitaan yang berat, bahkan mati martir demi imannya Dia menuliskan banyak surat nasihat dan penguatan iman kepada gereja-gereja baru yang dia dirikan, dan dokumen-dokumen ini, yang terdapat dalam PerjanJian Baru, sangat penting karena merupakan salah satu tulisan Kristen pertama yang kita miliki. Pada tahun-tahun awal tersebut, ajaran baru ini masih dianut orang Yahudi, namun ternyata agama baru ini segera menghilang dari antara orang-orang Yahudi dan dianut oleh orang-orang di luar Yahudi. Pemisahan antara ajaran Yahudi dan Kristen mulai nyata dan akhirnya tak dapat dihindarkan; para penganut Kristen tidak lagi merayakan hari-hari besar Yahudi serta tidak mempertahankan tradisi dan budaya Yahudi. Pemisahan ini diakui pada Dewan Yerusalem pada tahun 48 M, pada saat pembatasan-pembatasan Yudaistis terhadap orang-orang Kristen yang bukan Yahudi diberlakukan. Mula-mula dengan enggan diberi toleransi oleh Kerajaan Romawi, faham Kristen di bawah masa pemerintahan Kaisar Nero yang sangat membenci ajaran Kristen. Nero berusaha memojokkan orang Kristen dengan menuduh bahwa kebakaran besar kota Roma disebabkan oleh orang Kristen (64 M), serta membunuh orang-orang Kristen, di antaranya Petrus dan Paulus. Banyak orang Kristen berkeyakinan bahwa dengan kematian rasul-rasul ini, dan kematian orang-orang yang secara pribadi mengenai Kristus, perlu dibuat rekaman tertulis tentang kehidupan Kristus. Selama empat puluh tahun berikutnya masih banyak tulisan tentang Yesus, namun hanya empat di antaranya diakui dalam Perjanjian Baru. Akan tetapi tindakan pembunuhan ini bukanlah yang terakhir, bahkan meningkat selama pemerintahan Kaisar Domitian (81-96 M). Selama dua ratus tahun ajaran Kristen merupakan doktrin yang ilegal hingga akhirnya Kaisar Konstantin, setelah melihat cahaya terang di malam hari sebelum melakukan suatu pertempuran, yang meliputi salib dengan tulisan "dengan tanda ini kamu ditaklukkan," memberikan hak legal kepada orang-orang Kristen pada tahun 313 M dan menjadikan agama Kristen sebagai agama negara Kekaisaran Romawi. Apa yang terjadi kepada gereja muda ini selama masa yang penuh kesulitan tersebut? Tantangan muncul dari berbagai arah, namun penyebarannya makin pesat. Walaupun pada mulanya Yerusalem dianggap sebagai pusat suci, namun sikap permusuhan yang diperlihatkan orang-orang Yahudi yang menguasai Yerusalem mendorong pemindahan pusat Kristen; mula-mula ke Antiokia, bergeser ke Roma. Selama periode Konstantine, Agama Kristen makin kuat dan melembaga. Salah satu masalah pertama yang harus dipecahkan adalah masalah Trinitas, keyakinan umat Kristen akan Bapak, Anak, dan Roh Kudus, yang pada hakikatnya identik namun terpisah satu sama lain. Banyak pendapat yang berbeda diajukan untuk menjawab masalah Trinitas, dan tahun 325 Konstantin meminta Dewan Pertama Nicaea untuk membahas masalah ini dengan saksama, yakni 'Aryan Heresy' yang menyatakan bahwa Kristus diciptakan Tuhan untuk membantu dalam penciptaan dunia ini, dan menerima status ketuhanan dari Tuhan, jadi tidak sama esensinya dengan Tuhan. Status ketuhanannya dapat dicabut Tuhan. Dewan ini melahirkan Nicene Creed suatu bentuk yang digunakan hingga dewasa ini dan mencakup kata-kata: - Kami percaya akan satu Tuhan, Tuhan Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. - Kami percaya akan Yesus Kristus, anak tunggal Allah, yang diturunkan oleh Allah Bapak, bukan diciptakan, yang satu dengan Allah Bapak. - Kami percaya akan Roh Kudus, Tuhan, pemberi kehidupan, yang diturunkan dari Allah Bapak dan anak. Lalu gereja dihadapkan dengan sekumpulan masalah, terutama masalah intern. Romawi Barat dan Timur mulai terpisah semakin jauh dan akhirnya benar-benar terpisah. Memang sebab pemisahan ini bukan hanya hal di atas, karena masih banyak titik-titik perpecahan antara Barat dan Timur. Dibandingkan dengan Kristen Barat, Kristen Timur lebih menekankan ikon-ikon. Ikon merupakan gambar flat pada kayu, gading atau bahan-bahan lain, yang memperlihatkan Yesus, Perawan Maria, atau orang suci yang lain dan melembaga dalam Gereja Yunani. Selama abad kedelapan, ikon-ikon dilarang oleh Kaisar Leo III, namun protes keras menyebabkan larangan ini dicabut pada Sidang Umum ketujuh yang berlangsung di Nicaea tahun 787. Ini tampaknya merupakan kemenangan Gereja Timur. Namun perpecahan di antara keduanya tidak akan diatasi oleh sidang tersebut dan masalah ini mengemuka pada abad ke 11 pada waktu Roma menerima pemberian suatu tambahan ke dalam Nicene Creed, suatu hal yang tidak disetujui Gereja Timur. Tambahan itu adalah "dan anak" setelah frasa "kami percaya dalam Roh Kudus, Tuhan pemberi kehidupan, yang diturunkan dari Allah Bapak ..." Jadi, Gereja-gereja Timur tidak menerima bahwa Roh Kudus diturunkan dari Allah Bapak dan Anak, melainkan hanya dari Allah Bapak. Tentang masalah ini Timur dan Barat sama sekali tidak mempunyai titik temu dan menimbulkan pemisahan tahun 1054, karena wakil Paus menempatkan surat-surat ekskomunikasi pada altar St. Sophia di Konstantinopel. Sejak itulah muncul Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Yunani. Unsur-unsur doktrinal membuat mereka tetap terpisah: Gereja Katolik dipimpin oleh satu tampuk pimpinan yang disebut Paus, sementara Gereja Ortodoks menyerahkan kepemimpinan di tangan para bishop atau patriark; pandangan tentang Roh Kudus juga berbeda, Gereja Ortodoks tetap memberikan kedudukan penting bagi ikon-ikon dalam pemujaan, para pelayan gerejanya dibolehkan menikah, dan lain-lain. Segera kemudian, yakni tahun 1096, Paus Urbanus II mengorganisasi Gereja Katolik ke dalam satu pola seragam yang bertahan selama hampir 200 tahun -tentara salib. Mula-mula dibentuk untuk dua tujuan, yakni mengurangi tekanan Turki atas Kekaisaran Timur dan untuk menjamin keamanan para peziarah yang berkunjung ke Yerusalem, tentara salib segera mengalami degradasi cita-cita; mereka ingin membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Muslim. Gereja Katolik tetap berperan penting hingga abad pertengahan. Berpusat di Roma, Paus memegang kekuasaan tertinggi, yang melampaui kekuasaan raja dan ratu. Namun sejak akhir abad keempat belas mulailah timbul tantangan terhadap kekuasaan Paus yang begitu besar. Timbullah gerakan reformasi yang dimulai Lollards dan Hussites; gerakan ini berubah menjadi ancaman serius terhadap supremasi Gereja Katolik ketika tahun 1617, seorang imam bernama Martin Luther menentang keras penjualan surat aflat oleh gereja. Dia lalu menolak supremasi Paus, menyangkal transubstantiation, serta mendorong para bangsawan Jerman untuk memberontak dan memisahkan kekuasaan mereka. Para bangsawan, yang sebelumnya terdisilusi dengan kontrol oleh Gereja dan Paus, membutuhkan sedikit dorongan dan banyak di antara mereka segera bergabung dengan Martin Luther. Tindakan Luther merupakan awal tumbuhnya berbagai sekte yang didasari kepada doktrin pokok Luther namun berkembang sesuai dengan jalan yang ditempuh masing-masing sekte. Pandangan Luther mendapat formalisasi dalam Gereja Lutheran yang tumbuh subur di Jerman, Skandinavia dan Amerika. Namun Luther pun bertentangan dengan bekas sekutunya menentang Paus. Salah satu bekas pendukungnya, Zwingli, mengembangkan pandangan Eukaristi yang menyebabkan Luther dan Zwingli berpisah. Pengaruh Reformasi menyebar ke seluruh Eropa. Pembaharu yang lain, John Calvin, memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma tahun 1533. Pandangannya hampir sama dengan Luther, namun dia yakin akan adanya karunia tertentu untuk kelompok tertentu. Pengikut Calvin menyebar di Jerman, Negeri Belanda, Skotlandia, Swiss, Amerika Utara dan cukup berpengaruh di Inggris. Inggris juga mengikuti anjuran para pembaharu namun dengan motif yang agak berbeda. Tahun 1521 Raja Henry VIII telah mengeluarkan suatu traktat yang menyerang Luther yang menyebabkan dia mendapat titel 'Pembela Iman" dari Paus. Akan tetapi Raja Henry VIII sangat ingin menikahi putri Anne Boleyn namun sebelum bisa menikahi Anne, dia harus menceraikan Catherine of Aragon. Sayangnya Paus tidak merestui perceraian itu (Roma dipengaruhi oleh saudara-saudara Catherine yang ada di Spanyol, negeri asal Catherine) dan Henry terpaksa mengabaikan kekuasaan Paus pada tahun 1534. Lalu dia menyatakan dirinya sebagai kepala Gereja Inggris, dan dapat membatalkan perkawinannya dengan Catherine. Ajaran "Tiga puluh sembilan pasal," yang menyangkut hal-hal yang kontroversial serta mengungkapkan bagaimana kedudukan Gereja Inggris mengenai masalah perceraian tersebut, dikeluarkan tahun 1571 selama pemerintahan Ratu Elizabeth I, anak perempuan Henry. Gereja Inggris mengakui kerajaan sebagai kepala gereja, bukan Paus, juga menolak transubstantiation, meniadakan biara serta menggantikan bahasa Latin dengan bahasa Inggris untuk dipakai di Gereja. Tetapi reaksi terhadap Roma masih belum mencapai bentuknya yang paling ekstrim. Dalam abad ketujuh belas, George Fox, dari Leicestershire (Inggris), mulai menyebarkan ajaran bahwa manusia dapat berhubungan dengan Tuhan tanpa melakukan suatu 'hiasan' (upacara) ritualis yang ditetapkan oleh gereja-gereja Katolik, dan bahwa gereja-gereja yang telah diperbaharui belum cukup jauh melangkah dalam penolakan mereka terhadap upacara dan hierarki gerejawi. Seorang kristen, menurut George Fox tidak membutuhkan imam atau pendeta/pastor, dan juga tidak membutuhkan bait suci. Tidak ada gunanya ketujuh sakramen Gereja Katolik; tidak dibutuhkan suatu sakramen apa pun. Fox lalu mulai menyebarkan ajarannya dan melakukan berbagai perjalanan ke daerah-daerah pedalaman. Pada umumnya, saat berdirinya gerakan Fox ini dianggap terjadi pada tahun 1652, yakni saat terjadinya kebaktiannya yang sangat berhasil untuk pertama kalinya. Pengikutnya disebut "Quakers," atau "Perkumpulan Sahabat-sahabat." Sampai sekarang juga mereka tidak mempunyai bait suci kecuali rumah-rumah kebaktian, dan dalam kebaktian mereka tidak ada liturgy, tetapi sebaliknya, setiap orang dapat berbicara bila mereka merasa bahwa mereka mempunyai sesuatu yang bermanfaat untuk diutarakan, tanpa memperhatikan atau mempedulikan berapa usia yang mau berbicara tersebut dan apa kedudukannya dalam masyarakat. Berbagai perkembangan baru telah terjadi di Inggris pada periode setelah Perang Saudara. Banyak orang merasa tidak senang dengan penyatuan gereja dan negara yang dilakukan oleh Henry VIII, tetapi selama periode persemakmuran (Commonwealth period) di Inggris, mereka menjadi lega melihat bahwa kedua hal tersebut (gereja dan negara) telah dipisahkan kembali. Akan tetapi, dengan naiknya Charles II menjadi pangeran, Undang-undang Uniformitas dikeluarkan pada tahun 1662 yang memulihkan status quo tersebut dan memerintahkan semua pastor untuk menerima "Buku Doa Bersama." Imam-imam yang menolak untuk menerima (oleh karena itu disebut Non-Conformis) ketentuan-ketentuan Undang-undang ini akan dikeluarkan dari Jemaah mereka dan dianiaya. Hal ini berlangsung sampai dengan keluarnya Undang-undang Toleransi pada tahun 1689 yang memberikan mereka beberapa hak hukum (legal). Akibatnya, perkembangan Gereja Baptis dan Gereja Reformasi bersatu mengalami perkembangan cepat. Gereja Baptis, yang didirikan oleh John Smith, menganggap bahwa pembaptisan bayi adalah melawan perintah Alkitab. Hanya orang dewasa yang telah mengerti makna sumpah yang diucapkannyalah yang dapat dibaptis. Mereka juga mencoba untuk meyakinkan bahwa jemaat ikut aktif dalam perjalanan Gereja, dan mencontoh Kisah rasul-rasul dengan mengangkat deakonis dari antara jemaatnya (lihat Kisah Rasul-Rasul 6: 1-6) untuk membantu mengarahkan dan menuntun gereja tersebut. Gereja Reformasi Bersama adalah suatu koalisi dari GereJa Presbiterian Inggris (yang dikembangkan dari ajaran Calvin) dan gereja-gereja Jemaat Inggris dan Wales yang didasarkan pada ajaran-ajaran dari tokoh pembaharu lainnya yang telah menyebarkan ajarannya pada zaman Calvin, yakni Robert Browne (1550-1633). Terlepas dari pandangan-pandangan mereka yang sangat sama, tetapi usaha-usaha untuk menyatukan kelompok-kelompok ini barulah berhasil pada tahun 1972 dengan pembentukan Gereja Reformasi Bersatu. Gereja Metodis pada mulanya adalah merupakan suatu gerakan dalam Gereja Inggris. Pendirinya, John Wesley (1703-1791), tetap menolak untuk berpisah dari gereja induknya. Akan tetapi, setelah kematiannya, disadari bahwa Gereja Metodis tidak dapat lagi dimasukkan dalam Gereja Inggris, dan lalu memisahkan diri pada tahun 1795. John Wesley dan saudaranya Charles, melalui studi mereka yang ketat dan metodis terhadap InJil (sehingga mereka disebut dengan nama Metodis), merasa bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih dan karunia Tuhan, bukan karena suatu perbuatan atau kebaikan manusia. Menjelang akhir abad kesembilan belas, ada gelombang atau kegairahan lain mengenai perhatian keagamaan. Hal ini sebagian disebabkan penemuan-penemuan ilmiah dalam abad tersebut yang mengancam berbagai keyakinan yang hingga waktu itu telah diterima sebagai kebenaran religius yang tidak dapat dibantah (misalnya, mengenai taman firdaus dan masalah penciptaan). Dalam hal ini, reaksi dari Pencerahan (Enlightement) dalam tahun-tahun sebelumnya turut berperan. Akibatnya adalah bermunculannya banyak sekte yang memisahkan diri dari gereja induk mereka, sebagaimana yang terjadi dalam Reformasi yang memunculkan gereja-gereja yang diperbaharui yang memisahkan diri dari iman Katolik. Di Inggris, Bala Keselamatan berkembang sebagai suatu kekuatan besar, bukan saja karena ketaatan beragamanya, tetapi juga karena reformasi dan bantuan sosialnya. Di bawah kepemimpinan William Booth (1829-1912), Bala Keselamatan tersebut memisahkan diri dari gereja Metodis dalam tahun 1865 dan membentuk sendiri suatu organisasi yang bergaya militer karena kelompok tersebut menganggap dirinya sebagai laskar perang Tuhan dan memerangi ketidakadilan sosial. Dibandingkan dengan kebanyakan sekte Gereja, mereka sangat sedikit memperhatikan sakramen, walaupun mereka menerima bahwa beberapa orang Kristen mungkin melihat sakramen itu merupakan pertolongan dan bantuan. Di Amerika juga terjadi suatu gejolak keagamaan yang demikian. Pada tahun 1830, Mormon, atau Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Hari Terakhir, dibentuk oleh Joseph Smith (1805-1844) yang mengklaim telah mengalami suatu wahyu Tuhan, menemukan tablet-tablet emas yang tertulis dalam Buku Mormon, yakni yang merupakan kitab suci penganut Mormon. Pada mulanya ajaran Mormon ini terlarang karena pandangan-pandangan mereka yang menyimpang dari ajaran Kristen dan praktek poligami mereka, tetapi Mormon ini merayap ke seluruh Amerika dan akhirnya menetap di Salt Lake City, tempat markas mereka terletak hingga kini. Aliran spiritual mulai ada tahun 1848 ketika dua orang perempuan, yakni saudara perempuan Fox yang berumur dua belas dan lima belas tahun, menyebabkan suatu kegemparan di antara, penduduk kota mereka, Arcadia, New York State, dengan mengklaim bahwa mereka telah dapat berkomunikasi dengan roh-roh. Walaupun ada yang menyatakan bahwa suara-suara gaduh tersebut adalah suara gabungan dari suara kedua anak perempuan tersebut, tetapi mereka (penduduk kota tersebut) berkumpul sedemikian banyak mendukung supaya Gereja Spiritual didirikan. Penganut aliran Spiritual yakin, selain pada pandangan-pandangan Kristen biasa, bahwa, melalui mereka, nasihat dan tuntunan dapat diperoleh. Advent Hari Ketujuh juga mulai ada di Amerika, yang membangun reputasinya dalam tahun 1860, dan setelah itu sekte ini cepat menyebar ke seluruh dunia. Berbeda dengan sekte-sekte Kristen lainnya, mereka membuat hari ketujuh sebagai Sabat (yaitu, mereka menjalankannya seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi, dimulai dari saat matahari terbenam pada hari Jumat sampai matahari terbenam hari Sabtu). Sama seperti Gereja Baptis, mereka hanya membaptis orang-orang dewasa, dan juga membuat pembatasan-pembatasan mengenai apa yang dapat dimakan dan diminum oleh jemaatnya. Misalnya, mereka tidak boleh minum alkohol dan memakan makanan kerang-kerangan. Sebelum mengakhiri ulasan ini, tiga kelompok Kristen lainnya harus disebut yakni: Christian Science, Saksi Jehova, dan gerakan Pantekosta. Christian Science didirikan oleh Mrs. Mary Baker Eddy pada tahun 1879, yang mempertahankan bahwa satu-satunya realitas hanyalah pikiran dan semua yang lainnya adalah illusi. Oleh karena itu penyakit jangan dirawat dengan obat, tetapi harus disembuhkan dengan mempraktekkan pemikiran yang benar. Saksi Jehova, yang didirikan oleh C.T. Russell, yakin bahwa kedatangan kedua kalinya Yesus serta akhir dunia ini akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi, dan bila hal itu terjadi maka hanya suatu kelompok elit saja yang selamat, yaitu kelompok Saksi Jehova itu sendiri. Mereka mempunyai Al-Kitab dengan terjemahan mereka sendiri dan mereka menyisihkan banyak waktu, usaha, dan uang untuk kegiatan-kegiatan missionaris. Yang terakhir, yakni gerakan Pantekosta, yang bermula dari suatu missi di Los Angeles dalam tahun 1906 yang dilakukan oleh W.J. Seymour, mengajarkan bahwa setiap orang Kristen dapat mengalami kehadiran Rohul Kudus dalam diri mereka sendiri dan menerima hadiah-hadiah roh. Oleh karena itu kebaktian Pantekosta adalah merupakan upacara yang sangat emosional, di mana jemaatnya menjadi dirasuki oleh Rohul Kudus dan tampak berbicara dalam lidah (berbahasa roh), sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid Yesus yang pertama. Walaupun gerakan Pantekosta telah mempunyai gereja sendiri, tetapi gerakan ini telah juga mempengaruhi aspek-aspek lain dari Gereja (Kristen), dan dalam GereJa Katolik gerakan tersebut juga berpengaruh dengan munculnya apa yang disebut gerakan Karismatik, orang-orang Katolik bermaksud menerima Rohul Kudus dalam diri mereka sendiri. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas secara mendalam sekte-sekte Kristen, bahkan tulisan ini tidak menyebut semua sekte yang ada, karena ada banyak gerakan-gerakan dan aliran-aliran pemikiran yang berbeda dalam Gereja Kristen. Penulis hanya mencoba untuk menempatkan dalam latar belakang historis dan teologis sekte yang paling menyebar.

The History of Christian Doctrine
Sejarah Perkembangan Ajaran Trinitas
L. Berkhof
Penerbit CV. Sinar Baru
Cetakan pertama: 1992
Bandung


sumber :media.isnet.org
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi