Home » » Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah

Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah


Pendahuluan

Dewasa ini, dengan adanya aliran Modernisme dan Liberalisme, ada banyak orang yang mempertanyakan ke-Tuhanan Yesus. Mereka berpendapat, jika Kitab Suci tidak dapat dibuktikan secara historis, maka berarti isinya belum tentu benar. Akibatnya, mereka memisahkan Yesus sebagai Yesus yang sesungguhnya menurut sejarah (the Jesus of History), dan Yesus yang diimani oleh orang Kristen (the Christ of Faith), dan mengatakan bahwa Yesus yang diimani orang Kristen itu tidak sama dengan Yesus yang sesungguhnya ada dalam sejarah. Contohnya adalah the Five Gospels of the Jesus’ Seminar dan buku karangan Dan Brown, Da Vinci Code, yang intinya menyatakan bahwa seolah Yesus ‘dijadikan’ Tuhan oleh para pengikutNya, dan ke-Tuhanan Yesus baru diresmikan oleh Kaisar Konstantin sekitar tahun 325!

The Jesus of History= the Christ of Faith

Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.
Demikianlah, kita tidak dapat memisahkan Yesus menurut sejarah dan menurut iman, karena memang keduanya adalah satu dan sama, dan Yesus yang sama itu menyatakan Diri-Nya sendiri sebagai Tuhan dengan berbagai cara di hampir semua bagian Injil. Pernyataan Yesus ini kemudian dinyatakan kembali oleh para rasul, sehingga para rasul bukannya mengada-ada, atau mengarang sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Gereja Katolik menurut Vatikan II kembali menegaskan hal tersebut.
Orang Kristen yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan sesungguhnya hampir mengingkari iman Kristen-nya sendiri. Rasul Paulus pernah berkata, jika Kristus tidak sungguh-sungguh bangkit, (dan karenanya bukan Tuhan), maka sia-sialah iman kita (lih. 1 Kor 15:14). Jadi iman kita didasari oleh penjelmaan Tuhan sebagai manusia di dalam diri Yesus Kristus yang bangkit dari mati. Inilah kebenaran sejarah yang kita imani, dan yang kita amini setiap kali kita mengucapkan Syahadat Aku Percaya: “Aku Percaya akan Allah, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati…” Secara historis, Pontius Pilatus adalah nama gubernur pada jaman Yesus, sehingga dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan masuk dalam sejarah manusia.

Pemisahan the Jesus of history dan the Christ of Faith

Sesungguhnya, ide memisahkan Yesus menurut sejarah dan Kristus menurut yang diimani berakar dari jaman Pencerahan (Enlightenment) pada pertengahan abad ke- 19, di mana banyak para pakar Kitab Suci berpendapat bahwa Tuhan itu sepertinya hanya ‘penonton’ serupa ‘pembuat jam’ yang mengamati saja, tanpa dapat campur tangan di dalam sejarah manusia, kecuali dengan menetapkan hukum alam. Sehingga, mereka melucuti Injil dari pernyataan ke-Tuhanan Yesus dan keberadaan mukjizat-mukjizat, termasuk kelahiran Yesus dari Perawan Maria, dan kebangkitan badan, secara khusus kebangkitan Kristus sendiri. Salah seorang pelopor yang mengembangkan teori ini adalah David Friedrich Strauss in 1835[1] yang mengatakan bahwa Kristus yang diimani oleh orang Krsiten berbeda dengan Yesus yang sesungguhnya dalam sejarah. Ide ini dinyatakan kembali oleh Albert Schweitzer dan kemudian oleh Rudolf Bultmann, yang menyimpulkan bahwa Yesus menurut sejarah hanyalah seorang Yahudi di Palestina yang mati di salib.[2] Namun demikian, Bultmann menyimpulkan lebih jauh, dengan mengatakan hal ini memberikan ‘kebebasan’ bagi setiap orang Kristen untuk membentuk gambaran Yesus sendiri menurut iman yang sesuai dengan kebutuhannya. Ini adalah pemikiran Teologi Liberal yang melucuti Alkitab dan menyusun sendiri gambaran Yesus sesuai dengan keinginan manusia secara pribadi. Ini adalah ‘Relativism’: sebab Yesus digambarkan sesuai dengan kehendak pribadi dan bukannya sesuai dengan kebenaran yang sungguh terjadi. Pendapat seperti ini dikecam dengan keras oleh Paus Pius X dalam surat ensikliknya Pascendi Dominici gregis, yang menyebutkan ajaran yang sedemikian sebagai puncak dari segala ajaran sesat, “the synthesis of all heresies”, sebab ajaran tersebut menolak seluruh kebenaran objektif di dalam iman Kristiani.
Namun demikian, ajaran yang kita kenal sebagai ‘Modernism’ ini terus berlanjut sampai dengan abad ke 20, seperti yang kita lihat dalam the Five Gospels, hasil dari the Jesus Seminar. Dasar ajaran mereka: mereka tidak percaya bahwa ada Tuhan yang dapat menjadi manusia. Maka dengan ajaran ini, mereka ingin menghancurkan kebenaran Injil sebagai Sabda Tuhan.
Jika kita perhatikan, ajaran Modernism sesungguhnya ingin mengganti Trilemma tentang kemungkinan identitas Yesus menurut C.S. Lewis, yang sungguh terdengar sangat ‘keras’ di telinga orang Kristen (baca: Mengapa Orang Kristen percaya bahwa Yesus itu Tuhan?), yaitu: bahwa Kristus sungguh-sungguh Tuhan, atau Ia hanyalah seorang yang tidak waras ‘a lunatic’, atau Ia seorang yang lebih buruk daripada penipu ‘a liar’. Mereka menawarkan pendapat baru: bahwa Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan. Dengan demikian, para Modernist sesungguhnya lebih ‘parah’ daripada yang menuduh Yesus sebagai ‘a lunatic/ a liar’ sebab kelompok yang terakhir ini setidak-tidaknya mengakui bahwa Yesus pernah menyatakan DiriNya sebagai Tuhan, hanya saja mereka tidak percaya; sedangkan para Modernist ini mengabaikan semuanya, dan menggeserkan tuduhan kepada para murid Yesus abad pertama, dengan mengatakan bahwa mereka (para murid) itu bersekongkol untuk mengarang suatu mitos/ legenda terbesar sepanjang sejarah, yaitu untuk mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan.

Para murid Yesus tidak mungkin ‘mengarang’ mitos ke-Tuhanan Yesus

Namun, sesungguhnya, akal sehat sendiri dapat membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak mungkin benar, dan bahwa tidak mungkin para rasul adalah pembohong. Berikut ini adalah alasannya:
1) Sebuah mitos tidak mungkin dapat dibuat dalam jangka waktu yang terlalu dekat dengan kejadian aslinya, yaitu pada saat banyak saksi mata kejadian yang masih hidup dan dapat ditanyakan konfirmasinya. Injil ditulis pada generasi yang sama dengan para saksi mata tersebut. Injil Matius pada tahun 50 AD, Lukas dan Markus sekitar 62-68 AD, dan Yohanes tahun 90 AD.[3] Juga penting diketahui, bahwa para pengarang Injil adalah saksi Kristus yang terdekat: Matius dan Yohanes adalah Rasul Yesus, Markus adalah pembantu terdekat Rasul Petrus, dan Lukas adalah pembantu terdekat Rasul Paulus. Jadi, kita dapat mempercayai keaslian dan kebenaran tulisan mereka. Seandainya isi keempat Injil tersebut tidak benar, harusnya terdapat bukti sejarah dari abad pertama yang menyangkal kebenaran Injil (terutama soal kebangkitan Yesus). Namun kenyataannya, tidak ada satupun klaim pada abad awal yang menyangkal kebenaran tersebut yang dapat ditemukan dalam sejarah.[4] Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (55-56 AD) secara jelas menyebutkan Kebangkitan Kristus yang pada suatu kesempatan disaksikan lebih dari 500 orang, dan banyak dari antara mereka masih hidup dan dapat ditanya konfirmasinya (lih. 1 Kor 15:3-8).
2) Sangat tidak mungkin jika kita berpikir bahwa para rasul dapat membuat kebohongan yang konsisten, sebab manusia pada dasarnya lemah dan mudah ‘jatuh’ oleh tawaran suap. Satu kesempatan tawaran saja dapat mengubah semuanya, namun demikian, tidak satupun dari mereka mengubah kesaksian mereka tentang Yesus, walaupun mereka dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh sebagai martir karena kesaksian tersebut. Ini membuktikan bahwa yang mereka katakan tentang Yesus adalah kebenaran, sebab sangat tidak mungkin orang rela mati untuk membela sebuah kebohongan.
3) Sangat tidak mungkin bahwa serangkaian mitos dapat dibuat pada jaman sejarah (di mana segala sesuatu dapat dibuktikan benar atau tidaknya) dan mitos tersebut mendapatkan penghormatan dari banyak orang.
4) Joseph Ratzinger/ Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth mengatakan bahwa tidak mungkin bahwa sekelompok orang yang tidak terkenal ini (para rasul yang mayoritas hanya nelayan) dapat begitu kreatif dan begitu meyakinkan dan dapat mempengaruhi seluruh dunia. Menjadi lebih logis jika kesaksian yang mereka sampaikan sungguh-sungguh terjadi.[5]
5) Pertumbuhan jemaat Kristen yang begitu pesat pada abad pertama hanya dapat dijelaskan oleh kesaksian hidup para murid yang mencerminkan kekudusan, jumlah para murid yang dibunuh sebagai martir untuk membela iman mereka, termasuk di dalamnya hampir semua rasul Yesus, dan kekempat tanda Gereja yang terbentuk pada saat itu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Mitos atau legenda tidak akan mungkin pernah mempengaruhi banyak orang untuk percaya, apalagi sampai menyerahkan hidup mereka.
Maka kesimpulannya: apa yang dikatakan oleh para rasul itu adalah benar. Sebab ke-empat Injil sendiri dipenuhi oleh pernyataan ke-Tuhanan Yesus yang dikatakan oleh Yesus dengan berbagai cara.

Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dengan berbagai cara

Marilah kita lihat beberapa contohnya, seperti berikut:
1) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
2) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
3) Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
4) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi[6], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
5) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,[7] mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
6) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
7) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
8) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
9) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
10) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
11) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
a) Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
b) Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
c) Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
d) Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
e) Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
f) Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8] h) Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
12) Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
13) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
14) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
15) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
16) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

Para Rasul hanya meneruskan kesaksian ini

Jelaslah, bahwa dengan menyaksikan Yesus yang mereka kenal secara nyata dalam sejarah, maka para Rasul dapat dengan penuh keyakinan, menyatakan ke-Tuhanan Yesus. Rasul Petrus menyatakan Yesus Kristus sebagai Allah, dan bahwa ia dan rasul-rasul yang lain mendengar bagaimana pernyataan tersebut dinyatakan dari langit pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. 2 Pet1:16-19). Rasul Paulus, dengan mengalami sendiri Yesus yang bangkit, menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan sebanyak sekitar 230 kali di dalam surat-suratnya kepada jemaat pertama. Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa ia ‘mengingat’ akan apa yang dikatakan Yesus sebelumnya, pada ketiga kejadian yang cukup penting dalam sejarah hidup Yesus: pada saat Yesus menyucikan Bait Allah (Yoh 2:22), pada waktu Minggu Palma (Yoh 12:16),dan Kebangkitan Yesus (Yoh 20:8-9). Hal ini menyatakan bahwa yang ditulisnya benar-benar terjadi. Dari semua ini, kita melihat bahwa pernyataan para rasul adalah sangat jelas dan sederhana, yaitu: kesaksian tentang Yesus sebagai Tuhan adalah kebenaran, dan mereka adalah saksinya. Dengan demikian, tidak mungkin ada pemisahan antara Yesus menurut sejarah dan Yesus yang diimani.

Jadi Ke-Tuhanan Yesus bukan baru diresmikan di awal abad ke- 4!

Dengan uraian di atas, sesungguhnya jelas bahwa Ke-Tuhanan Yesus bukan rekayasa para murid, atau bahkan seperti yang dituduhkan banyak orang, ‘baru diresmikan’ di tahun 325 oleh Kaisar Konstantin. Yang benar adalah: Yesus sebagai Tuhan sudah menjadi kepercayaan jemaat Kristiani sejak zaman para rasul, namun kemudian sekitar tahun 319, terdapat ajaran sesat dari Arius, yang mengatakan bahwa Yesus adalah bukan Tuhan dan tidak sejajar dengan Allah Bapa. Untuk menolak ajaran sesat ini, maka Gereja Katolik, yang waktu itu disponsori oleh pemerintah Konstantin, mengadakan Konsili Nicea (325), yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup yang hampir semua serentak menolak ajaran sesat Arianisme ini.[9] Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu substansi (con-substantial) dengan Allah Bapa. Dengan demikian, Konsili Nicea bertujuan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja tentang ke-Tuhanan Yesus, dan bukan baru meresmikan ke- Tuhanan Yesus!

Penegasan dari Gereja Katolik dewasa ini

Vatikan II melalui Dei Verbum menolak pendapat kaum Modernist ini. Gereja menegaskan kembali asal Injil ini dari para Rasul sendiri yang menjadi saksi hidup Yesus, dan dengan demikian mengkonfirmasi kebenaran pesan Injil (lih. DV 18).[10] Selanjutnya, Gereja menegaskan nilai historis Injil, dengan menyebutkan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah yang sungguh-sungguh Yesus perbuat dan ajarkan untuk keselamatan kekal (lih. DV 19).[11]
Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Novo Millineo Ineunte, mengulangi DV 18 dan DV 19, bahwa Injil dituliskan berdasarkan kesaksian historis/ sejarah. Walaupun demikian, kita tidak menganggap Injil sebagai buku biografi Yesus dalam urutan kronologis. Perhatian pada urutan kronologis dapat membuat seseorang menjadi seperti para Modernist, yang melihat Injil sebagai buku cerita, dan menganggap Injil Yohanes sebagai hanya puisi tentang Yesus, yang ditulis oleh para murid Rasul Yohanes, dan kemudian ditulis seolah-olah dikatakan oleh Yesus!
Mengenai hal ini, Paus Benediktus XVI melalui Jesus of Nazareth mengatakan bahwa memang Injil Yohanes tidak dituliskan dengan urutan historis yang kaku seperti dalam transkrip rekaman, tetapi dalam hal isi, merupakan pernyataan-pernyataan yang berasal dari Yesus sendiri, sehingga pesan Injil tersebut menunjuk kepada Yesus yang sesungguhnya. Segala gambaran dalam Injil Yohanes (air, roti, anggur, Gembala) seperti halnya perumpamaan- perumpamaan yang tertulis dalam Injil Matius, Lukas, dan Markus, dimaksudkan untuk menggambarkan Yesus dan rencana keselamatan-Nya.
Katekismus Gereja Katolik juga sangat jelas menegaskan kembali sikap Gereja dalam hal ini[12] : bahwa Kristus yang tertulis dalam Injil adalah Kristus yang sama dengan Kristus yang ada di dalam sejarah. Injil membantu kita untuk mengalami Yesus yang sungguh hadir dalam sejarah, dan mengimani-Nya. Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa segala gambaran Yesus yang dihasilkan oleh metoda historis modern janganlah sampai membuat kita menciptakan sendiri gambaran Yesus, dan kemudian menyebutnya sebagai Yesus menurut sejarah, lalu menuduh bahwa Injil hanya rekaan jemaat abad pertama. Sekali lagi, hal ini tidak mungkin terjadi, sebab cara sedemikian pasti menimbulkan kontradiksi yang tidak memungkinkan berkembangnya Iman Kristiani sampai sekarang, yang sudah mengubah dunia.[13]

Penutup

Pada akhirnya, kita harus mengakui soal menerima ke-Tuhanan Yesus adalah soal iman. Bagi mereka yang percaya, memang bukti sejarah sampai sedetail-detail-nya tidak diperlukan. Tapi bagi mereka yang tidak percaya, bahkan bukti yang sudah nyata dan detail sekalipun tidak dirasa cukup. Akhirnya, kita meyakini bahwa iman adalah karunia. Kita percaya akan janji Tuhan Yesus, “… Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:40). Dan karena Tuhan Yesuslah yang menghakimi semua orang di akhir zaman nanti, patutlah kita memegang janjiNya ini, dan dengan iman yang teguh kepada-Nya, kita percaya Dia akan memenuhi janji-Nya. Terpujilah Tuhan Yesus!

CATATAN KAKI:
  1. David Friedrich Strauss adalah tokoh Biblical Rationalism yang memakai filosofi Hegel untuk meneliti hidup Yesus. Buku karangannya adalah, Life of Jesus Critically Examined, dan ia berkesimpulan bahwa alkitab adalah mitos dan bukan sejarah. []
  2. Rudolf Bultmann, The History of the Synoptic Tradition, 1921, diterjemahkan oleh J Marsh, (Oxford, Blackwell, 1963) dan essaynya “The New Testament and Mythology”, dalam In Kerygma and Myth: A Theological Debate, vol.1, diterjemahkan oleh R.H. Fuller (London, 1953). []
  3. Dalam hal urutan keempat Injil ini memang terdapat beberapa pendapat. Namun yang di sini dipakai adalah yang berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, yang dapat dikatakan mengamati langsung penurunan Injil. Saksi utama adalah Papias (70-155 AD) seorang uskup Syria dan murid Rasul Yohanes, dan St. Irenaeus (180 AD) yang mengatakan urutan Injil adalah Rasul Matius, yang pertama menuliskan Injil dalam bahasa Ibrani, kemudian Markus yang adalah murid Rasul Petrus yang menuliskan Injil berdasarkan khotbah Petrus; lalu Lukas yang adalah murid Rasul Paulus, yang menulis berdasarkan khotbah Rasul Paulus, dan Rasul Yohanes, yang menulis Injil saat ia hidup di Efesus, Asia Minor. Namun demikian, pada jaman Kulturkampf (1871-1878), mulai dikatakan bahwa Injil pertama adalah Markus, baru kemudian Matius, Lukas dan Yohanes. Alasannya antara lain karena, Injil Markus tidak dituliskan dengan urutan yang baik, dan kisah Injil Markus banyak terdapat di-Injil sinoptik lainnya, seolah Injil yang lain ‘mengutip’ Markus. Mengenai hal ini Papias mengatakan, bahwa Injil Markus dituliskan tidak berurutan secara historis, karena dituliskan berdasarkan urutan khotbah Petrus. Sedangkan kenyataan bahwa Injil Markus seolah ‘menggabungkan’ kisah dari Injil sinoptik lainnya semakin memperkuat keilahian pesannya, sebab meskipun Injil ditulis oleh beberapa orang, namun dapat menunjukkan kesamaan inti dan isi ajaran Yesus.
    []
  4. Klaim yang menolak kebangkitan Yesus hanya datang di abad-abad berikut, yang pada dasarnya tidak mempercayai kebangkitan, dan bukannya dikatakan dari saksi mata pada jaman Yesus sendiri. []
  5. Lihat Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (Double Day, New York, 2007), p. 229 []
  6. Lihat misalnya para nabi mengatakan “Beginilah firman Allah, …” (Yeh 30:1; 33:1;34:1; Yer 6:22; 16:1; 32:6; Hos 1:1; Yoel 1:1, atau “demikianlah firman Tuhan”, (Yes 1:24; Yeh 30:10, dst), atau “beginilah firman Tuhan Allah ….”, (Yeh 43:11; Yer 15:19; 19:1; 25:32; 31:15, 16,23,35,37, Am 1:6); atau “Tuhan berfirman kepadaku,” (Yer 14:11). []
  7. Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, Ibid., p. 108-109, mengutip Rabbi Neusner (Jacob Neusner, A Rabbi Talks with Jesus (Montreal: McGill- Queen’s University Press, 2000), membayangkan suatu dialogue antara dirinya dengan seorang Rabbi kuno Yahudi tentang ajaran Yesus. Ia membandingkan ajaran Yesus dengan teks Talmud Babilonia untuk mencari kebenaran Hukum Tuhan. Rabbi itu bertanya kepada Neusner:He: ”So, is this what the sage, Jesus, had to say?” (Jadi inikah yang dikatakan Yesus, sang saga?)
    I: “Not exactly, but close.” (Tidak persis, tapi hampir mendekati)
    He: “What did He leave out?” (Apa yang tidak disebutkan-Nya?)
    I: “Nothing.” (Tidak ada)
    He: “Then what did He add?” (Jadi, apa yang ditambahkan-Nya?)
    I: “Himself”… (Diri-Nya sendiri)
    He: “Well, why so troubled this evening?” (Lalu, kenapa engkau gundah sore ini?).
    I: “Because I really believe there is a difference between “You shall be holy, for the Lord your God am holy” and “If you would be perfect, go, sell all you have and come, follow me.” (Sebab saya percaya ada perbedaan antara “Engkau harus menjadi kudus, sebab Aku Tuhanmu adalah kudus” dengan “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan datanglah, ikutlah aku.)
    He: “I guess then, it really depends on who the ‘me’ is.” (Saya pikir, itu tergantung dari siapa sang ‘aku’ itu). []
  8. Ungkapan “kamu mengatakan demikian….” Adalah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang menyatakan konfirmasi dari apa yang dikatakan. []
  9. Ada kebohongan besar dalam buku Da Vinci Code yang menyatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus hanya dilihat sebagai Nabi dan manusia biasa, dan bahwa diadakan voting pada Konsili tersebut yang hanya berselisih tipis antara uskup yang menerima dengan yang menolak . Kenyataan sejarah yang benar adalah, dari 300 uskup yang hadir, hanya dua orang uskup yang setuju dengan pendapat Arius, (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/First_Council_of_Nicaea) yaitu, Arius sendiri dan Eusebius dari Nicomedia! []
  10. Vatikan II, Dei Verbum, 18, mengatakan, “Selalu dan di mana-mana Gereja mempertahankan dan tetap berpandangan, bahwa keempat Injil berasal dari para rasul. Sebab apa yang atas perintah Kristus diwartakan oleh para rasul, kemudian dengan ilham Roh ilahi diteruskan secara tertulis kepada kita oleh mereka dan orang-orang kerasulan, sebagai dasar iman, yakni Injil dalam keempat bentuknya menurut Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes.” []
  11. Vatikan II, Dei Verbum 19, “…bahwa keempat Injil tersebut, yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidupnya diantara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis1:1-2). Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran.” []
  12. Lihat Katekismus Gereja Katolik 512- 682 []
  13. Lihat Joseph Ratzinger, Gospel, Catechesis, Catechism: Sidelights on the Catechism of the Catholic Church, p. 64-66. []
Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 18 09 08 Disimpan dalam Artikel, Fundamental Teologi, Kristologi. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

24 komentar untuk “Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah”

  1. 13
    serly says:
    shalom…
    saya mau tanya knp grja katolik mengakui adanya keselamatan di agama lain.. ini tercantum dalam konsili vatikan 2, padahal kita tahu dalam injil mengatakan bahwa “Akulah jalan kebenaran dan hidup tidak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. gereja protestan sendiri pun tidak mengakui adanya keselamatan diluar kristus..
    makasi.. GBU
  2. 12
    Yanto says:
    The Jesus of History= the Christ of Faith
    Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.
    saya mengambil cuplikan kata2 diatas, kita harus ingat saat para Rasul diturunkan ke suatu kaum/bangsa dia akan memperkenalkan dirinya siapa dia dan apa tujuannya karena memang kalo tidak diberitau semua orang tidak akan tau siapa dia dan apa tujuannya,begitu juga Tuhan dengan melalui para Rasul sebagai perantara untuk menyampaikan siapa Tuhan dan apa tujuannya dengan mengambil kitab suci sebagai panduan untuk memperkenalkan diriNYA karena Tuhan adalah zat yg Maha Dahsyat dan Maha Suci dan Maha Besar sehingga tidak mungkin memperkenalkan diriNYA secara langsung. Dari cerita diatas bagaimana seseorang kalau tidak pernah mendengar beritanya atau mendengar namanya misalnya saja anda tinggal di hutan yg tidak terhubung dengan dunia luar apakah anda akan mengenal Bill Gates. Jadi tidak mungkin kita langsung mengenal siapa si anu tanpa pernah mendengar/mempelajari tentang si anu.
    Seperti cerita Nabi Musa : Suatu ketika, Nabi Musa pernah ingin melihat Tuhan, agar hatinya semakin yakin. Tuhan sudah mengatakan bahwa Musa tidak akan mampu melihat Tuhan. Tetapi beliau ‘ngotot’ untuk bisa melihatNya. Maka, Tuhan pun memenuhi keinginan Nabi Musa. Tapi apa yg terjadi ? Tuhan baru menampakkan cahayaNya saja, Gunung Sinai tempat berpijak Nabi Musa mengalami gempa vulkanik yg luar biasa dahsyat. Sehingga Musa pun terpental dan pingsan.
    Setelah siuman beliau baru menyadari bahwa manusia tidak mungkin melihat Tuhan dengan panca indera. Jangankan manusia, alam semesta pun tidak mampu menerima Eksistensi Zat Yang Maha Besar dan Maha Agung itu.
    “Dan ketika Musa datang untuk (bermunajat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa : Ya Tuhanku, nampakkanlah (DiriMu) kepadaku agar aku dapat melihatMu. Tuhan berfirman : Kamu sama sekali tidak akan mampu melihatKu, tapi lihatlah gunung itu, jika ia tetap ditempatnya, maka kamu akan mampu melihatKu. Ketika Tuhan menampakkan Diri kepada gunung itu, maka hancurlah gunung itu, dan Musa pun pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata : Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
    Dan firman berikut :
    “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata denganNya kecuali dengan perantara wahyu atau dibelakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadaNya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Bijaksana.”
    Kalau kita simak saat Yesus hidup, waktu itu bangsanya dalam kekuasaan/jajahan bangsa romawi dan Yesus hanya mempunyai 12 murid yang artinya dia hanya mempunyai 12 pengikut, saat kejadian penangkapan Yesus disebabkan karena Pemerintahan romawi menghawatirkan tentang keberadaan Yesus dan pengikutnya yg dapat mempengaruhi rakyat lain untuk tujuan pemberontakan ke Kaisar Romawi saat itu, sehingga Yesus ditangkap dan diadili dengan menyalibnya. Dengan sedikit cerita itu bagaimana mungkin Yesus dianggap “Penebus Dosa Manusia”, dan tugas Yesus adalah menyampaikan wahyu kepada bangsa/kaum saat itu. makanya didalam injil lebih banyak kata2 “hai bani israel” atau “hai Israel” karena saat itu injil hanya untuk kaum/bangsa israel aja.
    • 12.1
      Shalom Yanto,
      Terima kasih atas pertanyaanya tentang Yesus Kristus.
      1) Yanto mengatakan "saya mengambil cuplikan kata2 diatas, kita harus ingat saat para Rasul diturunkan ke suatu kaum/bangsa dia akan memperkenalkan dirinya siapa dia dan apa tujuannya karena memang kalo tidak diberitau semua orang tidak akan tau siapa dia dan apa tujuannya." Saya memakai contoh yang diberikan, yaitu tentang Bill Gates dengan segala kekayaannya, untuk menyanggah begitu banyak saudara dari agama yang lain, yang menuntut ke-Allahan Yesus dengan syarat yang dibuatnya sendiri, yaitu bahwa Yesus harus mengatakan "Aku adalah Tuhan dan sembahlah Aku". Dalam beberapa artikel saya ingin menegaskan bahwa Yesus memperkenalkan siapa diri-Nya, tujuan Dia datang, dengan begitu banyak cara, termasuk membuktikan bahwa diri-Nya adalah Tuhan dan bukan hanya sekedar rasul. Kalau saja, Yanto membaca beberapa artikel Kristologi berikut ini, maka Yanto akan dapat melihatnya. Silakan membaca artikel-artikel ini:
      Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia.
      Pada salah satu artikel tersebut, Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dengan begitu banyak cara, seperti:
      a) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
      b) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
      c) Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
      d) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi[6], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
      e) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,[7] mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
      f) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
      g) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
      h) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
      i) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
      j) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
      k) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
      1) Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
      2) Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
      3) Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
      4) Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
      5) Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
      6) Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.
      7) Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8]
      8) Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
      l) Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
      m) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
      n) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
      o) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
      p) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.
      Karena Yesus menyatakan bahwa Diri-Nya Allah dalam berbagai kesempatan dengan cara yang berbeda-beda maka orang juga tahu bahwa Yesus mengklaim bahwa Diri-Nya adalah Allah, sehingga orang-orang mengatakan:
      a) Ketika Yesus berkata kepada orang yang lumpuh "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (Mk 2:5), maka orang-orang berkata "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" (Mk 2:7; Lk 5:21).
      b) Ketika Yesus mengatakan "Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30), maka orang-orang Yahudi hendak melempari Dia dan berkata "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yoh 10:33).
      Orang-orang juga tahu, bahwa Yesus ingin memberikan kehidupan yang kekal kepada manusia dengan memberikan pengampunan dosa, mengadili orang hidup dan mati, dan Dia akan datang lagi dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja, seperti yang dikatakan-Nya dalam ayat-ayat berikut ini:
      a) Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa, sehingga Dia berkata "Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" –lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" (Mt 9:6). Dengan demikian, Yesus menunjukkan bahwa pengampunan dosa hanyalah mungkin melalui nama-Nya.
      b) Yesus tahu dan memberitakan bahwa Dia akan menderita, sehingga Dia mengatakan "Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.
      Mat 13:42  Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
      " (Mt 17:12). Dan kembali Dia mengatakan "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia" (Mt 17:22), yaitu kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli hukum taurat (Mt 20:18).
      c) Yesus memberitakan bahwa Dia datang untuk melayani dan mati untuk menebus dosa, sehingga Dia mengatakan "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mt 20:28).
      d) Yesus mempunyai kuasa dalam pengadilan terakhir sehingga Dia berkata "41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. 42  Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi." (Mt 13:41-42).
      e) Yesus akan datang lagi dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja, sehingga Dia mengatakan "Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya." (Mt 16:27; lih. juga Mt 16;18; Mt 19:28; Mt 25:31). Lebih lanjut Dia mengatakan "Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya." (Mk 24:30).
      Masih begitu banyak ayat-ayat lain yang mendukung Ke-Allahan Yesus Kristus. Silakan membaca beberapa artikle Kristologi di atas.
      2) Bagi umat Kristen, Tuhan bukanlah suatu zat, namun sebuah pribadi. Tentu saja umat Kristen setuju dengan pertanyaan Yanto, bahwa Tuhan adalah Maha Suci dan Maha Besar. Namun di satu sisi Tuhan juga Maha Kasih. Dan kasih-Nya kepada umat manusia dibuktikan dengan mengirimkan Putera-Nya untuk menebus dosa umat manusia, sehingga manusia dapat bersatu dengan Pencipta-Nya. Dengan Yesus Tuhan menjadi manusia, maka derajat Tuhan bukan direndahkan, namun justru ditinggikan, karena Dia telah membuktikan kasih-Nya kepada umat manusia secara luar biasa dan sempurna. Dengan inkarnasi, Tuhan membuktikan bahwa Dia bukan hanya Maha Besar, namun juga Maha Kasih. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha dalam segalanya dan tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, maka tidak ada yang melarang Tuhan kalau di dalam kebijaksanaan-Nya, Dia memilih untuk datang ke dunia secara langsung, dalam rupa Yesus Kristus. Jadi, Tuhan yang menjadi manusia tidaklah bertentangan dengan hakekat Tuhan.
      3) Yanto mengatakan "Dari cerita diatas bagaimana seseorang kalau tidak pernah mendengar beritanya atau mendengar namanya misalnya saja anda tinggal di hutan yg tidak terhubung dengan dunia luar apakah anda akan mengenal Bill Gates. Jadi tidak mungkin kita langsung mengenal siapa si anu tanpa pernah mendengar/mempelajari tentang si anu."
      a) Dari beberapa point di atas, jelas sekali bahwa Yesus telah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dengan berbagai cara, baik dengan perkataan dan juga dalam perbuatan. Bahkan, para nabi berabad-abad sebelumnya telah memberitakan kedatangan-Nya. Tentu saja iman timbul dari pendengaran atau dari pengertian. Tanpa mendengar tentang Yesus, maka seseorang tidak mungkin beriman kepada-Nya, sama seperti orang tidak mungkin percaya bahwa nabi Muhammad sebagai nabi kalau orang di pedalaman tidak pernah mendengar namanya. Namun, jangan melupakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi penciptanya, walaupun mungkin tidak sampai pada pengertian inkarnasi atau Tuhan yang menjelma menjadi manusia.
      b) Inilah sebabnya, para missionaris Katolik dengan bertekun memberitakan Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia. Dan missionaris Katolik tidak bingung dengan apa yang harus mereka beritakan, karena pokok iman Katolik adalah pada sosok Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.
      4) Yanto mengatakan "Seperti cerita Nabi Musa : Suatu ketika, Nabi Musa pernah ingin melihat Tuhan, agar hatinya semakin yakin. Tuhan sudah mengatakan bahwa Musa tidak akan mampu melihat Tuhan. Tetapi beliau ‘ngotot’ untuk bisa melihatNya. Maka, Tuhan pun memenuhi keinginan Nabi Musa. Tapi apa yg terjadi ? Tuhan baru menampakkan cahayaNya saja, Gunung Sinai tempat berpijak Nabi Musa mengalami gempa vulkanik yg luar biasa dahsyat. Sehingga Musa pun terpental dan pingsan.
      Setelah siuman beliau baru menyadari bahwa manusia tidak mungkin melihat Tuhan dengan panca indera. Jangankan manusia, alam semesta pun tidak mampu menerima Eksistensi Zat Yang Maha Besar dan Maha Agung itu.
      "
      a) Memang benar, seperti yang diceritakan di dalam Perjanjian Lama, bahwa ketika Musa ingin melihat muka Tuhan, maka Tuhan mengatakan "20 "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup." 21  Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; 22  apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. 23  Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan." (Kel 33:20-23).
      Hal ini terjadi, karena memang belum saatnya bagi Tuhan untuk menampakkan diri-Nya. Namun, di dalam Perjanjian Baru, diceritakan bagaimana Tuhan menjelma menjadi manusia. Dengan Yesus yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, yang mengambil rupa sebagai manusia seperti kita, membuat manusia dapat berinteraksi, berbicara, dan melihat-Nya. Dengan demikian Firman Allah yang diberikan kepada Musa dalam wujud dua lot batu, bukan hanya sekedar perintah dan Firman, namun telah menjadi Manusia, dalam diri Yesus. Dengan menjadi manusia, maka Yesus menunjukkan kepada manusia bagaimana seharusnya hidup menjadi manusia yang utuh, menunjukkan cara untuk sampai kepada Tuhan – yaitu melalui Yesus, memberikan kekuatan kepada manusia untuk hidup kudus – yaitu dengan mencurahkan Roh Kudus-Nya. Oleh karena itu, dengan Yesus menjadi manusia, Tuhan bukan hanya memberikan peraturan, namun Dia memberikan Diri-Nya sendiri bagi manusia. Dan inilah pernyataan kasih yang tertinggi.
      b) Alasan lengkap tentang Inkarnasi dapat dibaca di artikle ini (silakan klik).
      5) Yanto mengatakan "Kalau kita simak saat Yesus hidup, waktu itu bangsanya dalam kekuasaan/jajahan bangsa romawi dan Yesus hanya mempunyai 12 murid yang artinya dia hanya mempunyai 12 pengikut, saat kejadian penangkapan Yesus disebabkan karena Pemerintahan romawi menghawatirkan tentang keberadaan Yesus dan pengikutnya yg dapat mempengaruhi rakyat lain untuk tujuan pemberontakan ke Kaisar Romawi saat itu, sehingga Yesus ditangkap dan diadili dengan menyalibnya. Dengan sedikit cerita itu bagaimana mungkin Yesus dianggap “Penebus Dosa Manusia”, dan tugas Yesus adalah menyampaikan wahyu kepada bangsa/kaum saat itu. makanya didalam injil lebih banyak kata2 “hai bani israel” atau “hai Israel” karena saat itu injil hanya untuk kaum/bangsa israel aja."
      a) Pada waktu Yesus hidup, Yesus mempunyai 12 rasul (alasanya, silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik) dan mempunyai begitu banyak pengikut. Mungkin perlu dibedakan antara rasul dan pengikut. Yanto hanya mengutip bagian yang begitu kecil dari begitu banyak yang diceritakan di dalam Injil. Kalau Yanto ingin menangkap pesan Injil, silakan Yanto membaca ke-empat Injil, terutama Injil Yohanes.
      b) Untuk mengerti konsep penebusan dosa, silakan Yanto membaca artikel "Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah" (silakan klik). Ceritanya tidaklah sedikit dan sesederhana yang dipaparkan oleh Yanto.
      c) Tentang apakah misi Kristus hanyalah menyampaikan wahyu pada bangsa dan pada waktu itu, silakan melihat tanya jawab ini (silakan klik), dimana saya menuliskan:
      Berikut ini adalah alasan-alasan yang membuktikan bahwa Yesus sebenarnya mengutus para murid untuk mewartakan ajaran-Nya ke seluruh bangsa:
      St. Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theology, III, q.42, a.1, mengatakan bahwa sudah selayaknya bahwa Yesus pada awalnya melakukan karya publik-Nya (public ministry) kepada orang Yahudi, dengan alasan keadilan (justice) dan perantara (mediation).
      1) Konsep keadilan: Adalah adil, kalau Yesus mewartakan kepada orang Yahudi, karena Tuhan sendiri telah menjanjikan kepada orang Yahudi seorang Mesias yang akan menjadi Raja bagi seluruh bangsa dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir. Dengan cara ini, sebetulnya tidak ada alasan bagi bangsa Yahudi untuk memprotes Tuhan, karena Tuhan sendiri telah memenuhi janji-Nya kepada bangsa Yahudi, yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Untuk itu, silakan melihat artikel ini (silakan klik).
      2) Konsep Mediation: Menjadi layak bahwa Yesus datang terlebih dahulu untuk bangsa yang telah dipersiapkan 2000 tahun sebelumnya, dan kemudian kepada orang-orang di luar bangsa Yahudi. Dan hal ini menjadi benar, karena keselamatan dari seluruh bangsa disebabkan oleh penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Oleh karena itu, setelah Yesus bangkit, Dia mengutus para rasul dan murid untuk mewartakan Kristus ke seluruh dunia, dimana Yesus berkata:
      Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:18-20; Lihat juga Mk 16:15-18).
      Dari pemaparan di atas, maka Inkarnasi tidak menyalahi hakekat Tuhan yang maha Besar, karena Dia menunjukkan kebesaran-Nya dengan kemulian dan juga dengan kasih, yang dimanifestasikan secara sempurna dalam pengorbanan Yesus di kayu salib. Bukti kasih Allah apakah yang lebih sempurna dari kematian Yesus yang mengorbankan Diri-Nya untuk keselamatan umat manusia? Cara apakah yang lebih sempurna daripada melihat contoh bagaimana Yesus, yang sungguh manusia dan sungguh Allah hidup di tengah-tengah manusia, untuk menunjukkan bagaimana seharusnya manusia hidup secara penuh? Cara apakah yang lebih sempurna untuk menguatkan iman, pengharapan dan kasih daripada Inkarnasi? Yesus, yang adalah Tuhan dari tempat yang maha tinggi, telah turun menjadi manusia, sehingga Yesus dapat membawa manusia yang berada di tempat yang rendah untuk naik menjadi anak-anak Allah, sehingga pada akhirnya akan bersatu dengan Tuhan dalam Kerajaan Allah. Saya mengusulkan agar Yanto dapat membaca beberapa link yang saya berikan. Semoga kita semua diberikan rahmat Allah untuk sampai kepada kebenaran. Dan bagi orang Kristen, kebenaran itu ada dalam diri Yesus yang mengatakan "Akulah jalan dan kebenaran, dan kehidupan" (Yoh 14:6).
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org
  3. 11
    V.P.Kusnadi Sutedjo says:
    Pak Stef & Ibu Ingrid yg terkasih.
    Beberapa waktu yg lalu saya baca jawaban pertanyaan di Web. anda ttg jangan merokok yg anda ambilkan dari Katekismus/Kitab Hukum Kanonik.Waktu itu saya tak sempat catat dgn baik,sewaktu saya akan catat saya tak dpt menemukannya kembali.Sudikah Pak Stef & Ibu Ingrid menirimkan copy jawaban itu ke saya.Terima kasih atas bantuannya.
    Syalom
    kusnadi.
  4. 10
    giant says:
    Syalom.. sy salut banget dgn website ini.menjadi tempat untuk mencari jawab2an yg bisa dipertangaung jwb kan atas pertanyaan2 yg umum,tapi sangat sulit memuaskan. thanks banget atas waktu yg udah diberikan dalam pelayanan dgn website ini. sy berharap bisa segera bertemu dgn bpk stef n ibu ingrid untuk mendapatkan pengajaran lbh lanjut diPDKK GOLGOTA. GBU
  5. 9
    andryhart says:
    Shallom,
    Semoga Pak Stefanus berkenan menjawab dua pertanyaan berikut ini:
    (1) Saya pernah membaca nubuat bahwa Yesus sebagai Mesias akan melewati gerbang timur Bait Allah dengan menunggang keledai (Minggu palma) dan sesudah itu, gerbang timur tidak akan dilewati oleh siapa pun. Selanjutnya gerbang timur ditembok oleh Kaisar Romawi pada jaman tersebut dan Bait Allah kemudian diruntuhkan sehingga nubuat tersebut memang terpenuhi. Apakah Pak Stefanus dapat menjelaskan lebih lanjut mengapa gerbang timur Bait Allah dianggap begitu penting sehingga dinubuatkan? Mengapa Yesus memilih keledai sebagai tunggangan-Nya? Apakah hal ini dilakukan-Nya untuk menggenapi nubuat tersebut?
    (2) Saya masih ingin bertanya lebih lanjut tentang sola fide yang merupakan keyakinan saudara kita yang beragama Protestan dan pernah dibahas sebelumnya dalam kaitan tentang artikel bahwa Paus Benedictus juga mengakui kebenaran sola fide Martin Luther. Dalam Roma 3:27-28 terdapat ayat yang bunyinya, “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Saudara kita yang beragama Kristen Protestan mengatakan bahwa ayat inilah yang digunakan oleh Martin Luther untuk melandasi azas sola fide sebagai syarat keselamatan jiwa, namun ajaran Gereja Katolik menjatuhkan kutuk (ananthema) terhadap azas sola fide ini melalui keputusan Konsili Trente kanon 9 dan 14? Apakah memang benar demikian dan apakah kata ananthema berarti kutukan; bagaimana menjawab pertanyaan yang diajukan oleh saudara kita yang beragama Protestan? Terima kasih.
    • 9.1
      Shalom Andryhart,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Maaf, saya baru dapat menjawabnya sekarang karena kesibukan kuliah. Mari kita melihat pertanyaan Andryhart satu-persatu.
      A. GERBANG TIMUR (GOLDEN GATE):

      (1) Beberapa fakta tentang Gerbang Timur:
      (a) Gerbang Timur ini memang disebutkan sebagai gerbang yang sangat penting, seperti yang tertulis di Yehezkiel 44:1-3 mengatakan "1. Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu gerbang luar dari tempat kudus, yang menghadap ke timur; gerbang ini tertutup. 2. Lalu TUHAN berfirman kepadaku: "Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab TUHAN, Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup. 3. Hanya raja itu, oleh karena ia raja boleh duduk di sana makan santapan di hadapan TUHAN. Raja itu akan masuk melalui balai gerbang dan akan keluar dari situ."
      Gerbang Timur juga disebut gerbang raja (2 Raj 15:35).
      (b) Pada waktu Yesus masih hidup di dunia, Dia melalui pintu gerbang ini beberapa kali, dalam perjalanan dari bukit Zaitun ke Yerusalem.
      (c) Pada waktu Yesus terangkat ke Surga, seperti yang diceritakan di Kis 1:9-12, terjadinya di bukit Zaitun, dekat dengan gerbang timur. Dan dua orang malaikat mengatakan bahwa Yesus akan kembali dengan cara yang sama seperti ketika Yesus naik ke Surga (Kis 1:11). Dan dikatakan "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia." (M 24:27).
      (d) Sambil menghadap gerbang Timur inilah, Yesus menangisi Yerusalem (Lk 19:42-44).
      (e) Dan Yesus dengan menunggang keledai memasuki Yerusalem melalui pintu gerbang ini dengan diiringi sorak-sorai (Yoh 12:12-19).
      (2) Pada tahun 70 AD, kerajaan Roma menghancurkan Yerusalem, termasuk gerbang ini. Dan kemudian sekitar abad 6-7, Byzantine membangun kembali tembok tersebut, namun kemudian ditutup oleh Sultan Suleiman I sekitar abad 16, yang kemungkinan alasannya adalah untuk menghalangi kedatangan Sang Mesias yang ke-dua, yang akan melalui gerbang utama. Lebih jauh di depan pintu gerbang timur menjadi daerah kuburan orang Muslim, karena dipercaya bahwa orang Yahudi tidak akan mau untuk melewati kuburan orang Muslim.
      (3) Jadi memang sampai saat ini, gerbang Timur ini masih tertutup. Apakah memang ini adalah bukti dari nubuat Yehezkiel? Saya tidak tahu persis. Yang jelas, kita harus percaya bahwa Yesus akan datang kedua kali, perkara Dia akan datang di mana dan apakah melalui pintu gerbang Timur, tidaklah terlalu penting. Yang terpenting adalah kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk Kristus yang datang kedua , saat Dia akan datang dalam kemuliaan, seperti yang ditegaskan dalam KGK "Di dalam Yesus, Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus meminta supaya kita bertobat dan percaya, tetapi juga supaya berjaga-jaga. Dalam doa, murid menantikan dengan penuh perhatian Dia yang ada dan yang datang, sambil mengingat kedatangan pertama dalam kerendahan daging dan berharap akan kedatangan-Nya yang kedua dalam kemuliaan. Doa murid-murid adalah satu perjuangan, yang dimenangkan dalam persekutuan dengan Guru: siapa yang berkanjang dalam doa, tidak masuk ke dalam percobaan" (KGK, 2612).
      (4) Beberapa bapa gereja mengartikan bahwa Yehezkiel 44 menghubungkan gerbang ini dengan gerbang kesucian dari Bunda Maria, dimana hanya Kristus sendiri yang lewat. (lih. Ochard, Dom Bernard, A Catholic Commentary on Holy Scripture, hal. 619).
      B. MENGAPA YESUS MEMILIH KELEDAI?
      Kristus masuk ke kota Yerusalem dengan menunggang keledai, seperti yang diceritakan di Lk 19:28-40; Mt 21:1-9; Mk 11:1-10; Yoh 12:12-19. Dan ini memang mempunyai beberapa alasan:
      (1) Merupakan pemenuhan dari nubuat Zakharia yang mengatakan "9. Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. 10  Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi." (Za 9:9-10).
      Inilah sebabnya Alkitab dapat dipercaya, karena nubuat yang dibuat sekitar tahun 520-518 SM terpenuhi dalam diri Yesus, sekitar tahun 33 AD. (lih. Mt 21:5; Yoh 12:15).
      (2). Keledai juga menjadi suatu simbol kelemah-lembutan. Dan nabi Zakharia memberikan kontras antara Mesias yang lemah lembut dan mengendari seekor keledai, akan melenyapkan segala kekuatan dari dunia ini yang dilambangkan dengan kereta, kuda, busur perang, dll. Yesus menjadi raja, dengan cara meraja di hati manusia, tidak dengan peperangan atau pedang, namun dengan kasih, seperti yang diajarkan dan dilakukan-Nya.
      B. SOLA FIDE (ROMA 3:27-28):
      Memang saudara kita, Kristen Protestan mempercayai sola fide. Dan ini telah dibahas disini (silakan klik) dan tentang konsep keselamatan telah dibahas disini (silakan klik).
      Dan Kristen-non Katolik memang mengambil ayat Rm 3:27-28 " 27. Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!  28.Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat." Karena Ingrid dan saya telah menjawab dalam beberapa pertanyaan tentang ini, maka saya akan mencoba memberikan jawaban dari Rm 3:27-28.
      (1) Memang tidak ada dasarnya kita untuk bermegah terhadap keselamatan kita, karena keselamatan kita adalah benar-benar berkat dari Tuhan. Hal ini dikarenakan, setelah dosa manusia pertama, maka manusia jatuh ke dalam dosa, sehingga kodrat manusia yang dahulu mempunyai hubungan yang begitu erat dengan Allah menjadi terputus. Dan antara "nature" (kodrat) dan "grace" adalah benar-benar tidak terjembatani. Untuk menjembatani jurang yang begitu dalam, maka Allah Bapa mengutus Putera-Nya Yesus menjadi manusia untuk menebus dosa manusia, sebab manusia tidak dapat mengandalkan "nature"/ kodratnya sendiri untuk sampai kepada Allah. Inilah sebabnya kita mengatakan, bukan karena perbuatan kita diselamatkan.
      (2) Ochard, Dom Bernard, A Catholic Commentary on Holy Scripture, hal. 1055 mengatakan bahwa, Rasul Paulus di ayat ke 28 ini tidak menekankan akan kehidupan seorang Kristen setelah dibenarkan, karena ia di sini ingin menekankan bagaimana seseorang dibenarkan, yaitu melalui iman. Maka, Tuhan memberikan rahmat yang membantu (actual grace), sehingga seseorang dapat sampai kepada pertobatan, yang memuntunnya pada iman kepada Kristus yang dimanifestasikan dalam Sakramen Pembaptisan. Namun hal ini juga tidak terlepas dari kehendak bebas dari orang tersebut untuk menjawab rahmat Tuhan. Mengatakan bahwa hanya rahmat Tuhan semata tanpa campur tangan orang yang bersangkutan menyebabkan Tuhan seolah-olah tidak adil, karena terhadap seseorang Dia seolah-olah memberikan rahmat yang lebih dan kepada yang lain, rahmat yang diberikan kurang.
      (3) Namun, setelah seseorang dibenarkan melalui iman, dan dibaptis, maka orang tersebut harus tetap meneruskan hukum cinta kasih. Oleh karena itu Rasul Paulus mengatakan bahwa orang yang telah dibenarkan harus terus berjuang dalam kasih sehingga memperoleh keselamatan (1 Kor 9:27; Fil 2:12). Lihat juga : Mt 25:34; 1 Kor 3:8; 2 Kor 11:15; Gal 5:6; Yak 2:14, 17, 24-26. Bernard Orchard menegaskan bahwa Rasul Paulus mengatakan bahwa semuanya itu adalah perbuatan iman (the works of faith) bukan perbuatan untuk mengikuti hukum (the works of law). Jadi tidak ada pertentangan antara iman dan perbuatan kasih untuk memperoleh keselamatan, karena iman tidak terpisah dari perbuatan kasih, seperti yang ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI.
      (4) Hukum Taurat, seperti yang pernah saya jelaskan ada 3, yaitu: moral law, ceremonial law, dan judicial law. Keterangan tentang hal ini ada di sini (silakan klik). Di Rm 3:28, Rasul Paulus mengatakan bahwa bukan karena ia melakukan hukum taurat. Hukum Taurat yang dimaksud disini adalah "ceremonial law" dan "judicial law". Yang terkait dalam hal ini misalnya "sunat", karena sunat adalah menjadi suatu perjanjian (covenant) di dalam Perjanjian Lama. Namun di dalam Perjanjian Baru, covenant ini diperbaharui dengan Pembaptisan yang bersumber pada pengorbanan Kristus di kayu salib. Korban Kristus inilah yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus di dalam setiap perayaan Ekaristi.
      C. ANATHEMA
      (1) Pengertian anathema secara lengkap dapat dilihat di New Advent (silakan klik), yang dapat ditelusuri perkembangannya di dalam Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Rasul Paulus mengatakan anathema di Rm 9:3 "Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. " dan juga Gal 1:9 "Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia".
      (2) Dan selanjutnya mengalami perkembangan, dan pada Decree of Gratian (c. III, q. V, c. XII) dikatakan bahwa eks-komunikasi adalah terpisah dari kelompok persaudaraan, namun anathema mengacu kepada pemisahan dengan tubuh Kristus, yaitu Gereja.
      Untuk menegakkan kebenaran dan agar umat tidak bingung dengan berbagai macam doktrin dan pengajaran yang tidak sesuai dengan pengajaran Katolik, maka Gereja harus menyatakan secara tegas bahwa orang tersebut telah melanggar suatu kebenaran. Dan diharapkan dengan anathema dan juga eks-komunikasi, orang tersebut akan sadar dan dapat kembali setia terhadap Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik Kristus, beserta dengan seluruh pengajarannya. Lebih lanjut tentang makna eks-komunikasi dapat dibaca pada jawaban ini (silakan klik).
      (3) Yesus sendiri menegaskan di Mat 18:15-17 "15  "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. 16  Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. 17  Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat (Gereja). Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat (Gereja), pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai."
      Itulah yang dapat saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan Andryhart. Semoga dapat membantu.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef
  6. 8
    andryhart says:
    Ada sebuah kisah menarik yang patut direnungkan dalam kaitannya dengan perbedaan iman antara penganut agama Kristen dan non-Kristen. Kisahnya adalah sebagai berikut:
    Pada suatu hari, seorang pangeran Arab, Abd-ed-Kader, berjalan bersama seorang pejabat Negara Perancis di sepanjang jalan Marseille, Perancis. Tiba-tiba mereka berdua berpapasan dengan seorang pastor yang sedang membawa piala berisi hosti untuk diberikan kepada seseorang yang sedang berada di ambang ajalnya. Pejabat Perancis itu segera berhenti, menundukkan kepalanya dan berlutut seraya membuat tanda salib. Sahabatnya, pangeran Arab itu, bertanya mengapa dia bertingkah seperti itu.
    “Saya sangat memuja Tuhanku yang tengah dibawa oleh pastor itu kepada orang sakit,” jawab sang pejabat Perancis.
    “Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi,” sang panggeran bertanya, “Mengapa anda begitu merendahkan Tuhan yang anda imani sebagai Allah yang Mahakuasa dengan membiarkan Tuhan anda mendatangi rumah orang yang miskin? Jadi, berbeda dengan agama anda, kami menganut agama yang sangat memuliakan Tuhan.”
    Pejabat itu menjawab, “Ya, itu bisa saja terjadi karena anda hanya memahami sifat Tuhan yang mahakuasa tetapi tidak memahami kasih-Nya yang begitu besar.”
    Jadi, mengapa Allah bersedia menjadi manusia untuk dilecehkan, dianiaya dan disalib. Jawabnya hanya satu: karena kasih Allah yang mahabesar kepada umat manusia ciptaannya. Keadaan ini sama seperti seorang pematung yang akan melakukan pengorbanan apa saja untuk menyelamatkan patung ciptaannya yang sangat disayanginya.
    Tuhan memberkati.
  7. 7
    Fredy says:
    Terpujilah Engkau Allah, Tuhan Yesus Kristus. Khalik Langit dan Bumi..
    Saya adalah seorang Kristen Protestan yang sedang bertumbuh dalam iman. Jujur, saya senang sekali adanya website ini, apalagi dalam hal tanya jawab terutama kepada saudara2 kita yang Muslim, bagaimana menjawab setiap pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan (seperti meragukan Ketuhanan Yesus Kristus). Tetapi dengan segala hormat, jika saya boleh bertanya apakah Paus yang hidup di jaman pertengahan, walaupun ia adalah wakil Kristus dengan tradisi Rasul Petrus (menurut Doktrin katolik) berdosa dan masuk neraka, karena ia telah melakukan penyelewengan terhadap Alkitab (misal dalam Ilmu Pengetahuan), menjadikan diri lebih berkuasa dan mentasbihkan diri in affabilities (tidak ada salah)serta membunuh orang karena alasan heretik. yang kedua, apakah orang di luar Katolik walaupun ia Kristen bisa masuk sorga (katakanlah jika ada 2 orang, Kristen Katolik dan Kristen Protestan yang sama baik, apakah kedua – duanya akan ada di Rumah Bapa)dan yang ketiga, apakah Muhammad masuk neraka!
    Tuhan Yesus Kristus memberkati
    • 7.1
      Shalom Fredy, Terima kasih atas kunjungan dan dukungannya terhadap website ini. Berikut ini adalah jawaban dari saya:
      (I) Pertanyaan dari orang Muslim: memang bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan, maka pertanyaan tentang ke-Tuhanan Yesus Kristus tidak perlu lagi dipertanyakan. Namun bagi saudara kita kaum Muslim, ini adalah pertanyaan yang wajar, karena mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Tentu saja kita harus menghargai pertanyaan mereka dan kita berharap bahwa mereka bertanya dengan niat yang baik. Kita percaya bahwa pencarian kebenaran yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menuntun semua orang kepada Kebenaran itu sendiri, dimana sebagai umat Kristen, kita mempercayai bahwa Kebenaran dapat ditemukan di dalam diri Yesus Kristus (Yoh 14:6).
      (II) Mari kita sekarang melihat pertanyaan yang lain dari Fredy, yaitu tentang konsep keselamatan dari Gereja Katolik.
      A) Mungkin Fredy dapat melihat artikel tentang "Mengapa kita memilih Gereja Katolik" (silakan klik).
      B) Beberapa pertanyaan tentang hal ini telah saya jawab di sini (silakan klik).
      C) Paus yang hidup di abad pertengahan apakah masuk neraka?
      1) Penyelewengan oleh Paus? Mungkin kami akan mencoba untuk menuliskan tentang sejarah di abad pertengahan, yang memang dianggap abad kegelapan bagi banyak orang, yang sebenarnya di abad tersebut kita dapat melihat bahwa begitu banyak prinsip-prinsip kekristenan diterapkan dalam kehidupan bernegara. Apakah ada penyelewengan dari beberapa Paus? Memang ada, dan Gereja Katolik mengakui hal ini. Apakah kemudian konsep Paus sebagai perwakilan Kristus di dunia ini adalah suatu karangan belaka dan tidak perlu dipercayai? Tentu saja tidak, karena semua itu ada dasarnya. Silakan membaca jawaban ini (silakan klik). Bahkan kenyataan bahwa walaupun ada penyelewengan dari faktor manusia, namun Gereja tetap berdiri, ini adalah suatu bukti bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, di mana Dia menjanjikan bahwa alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:18). Fakta menunjukkan bahwa Gereja Katolik tetap eksis sampai sekarang, dengan memberikan pengajaran yang sama dengan berakar pada masa Gereja awal.
      2) Penyelewengan terhadap ilmu pengetahuan? Kalau ditelusuri di dalam sejarah, Gereja Katolik sampai sekarangpun sangat terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan Gereja Katolik yang mempromosikan ilmu pengetahuan. Banyak manuskrip tentang ilmu pengetahuan yang eksis sampai sekarang adalah hasil penyalinan para rahib Benediktus di abad pertengahan. Ide Universitas juga dipelopori oleh Gereja Katolik. Dan masih banyak bukti lain yang menunjukkan bahwa Gereja Katolik sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, sejauh itu diterapkan untuk kesejahteraan umat manusia untuk mendukung umat manusia bersatu dengan Tuhan. Untuk beberapa hal yang dianggap penyelewengan, misalkan tentang kasus Galileo Galilee, silakan membaca jawab disini (silakan klik).
      3) Gereja meminta maaf: Dan terhadap beberapa penyimpangan yang dilakukan oleh putera/i Gereja, Paus Yohanes Paulus atas nama Gereja telah meminta maaf, dimana saya pernah memberikan jawaban berikut ini: Mari sekarang kita melihat bagaimana sikap Gereja Katolik. Paus Yohanes Paulus II, telah meminta maaf kepada dunia akan sikap dari sebagian putera dan puteri Gereja Katolik dalam sejarah Gereja Katolik yang menyebabkan penderitaan. Saya menganjurkan agar Fredy dapat membaca buku "Luigi Accattoli, and Jordan Aumann, When a Pope Asks Forgiveness, 1st ed. (Alba House, 1998)", dimana Luigi Accattoli mencatat ada sekitar 94 kali, Paus Yohanes Paulus II meminta maaf dalam berbagai kesempatan, dan yang memuncak pada tanggal 12 Maret 2000, Minggu Pertama Prapaskah. Keterangan lengkap dapat dibaca disini ( silakan klik) dan juga di sini (silakan klik). Ini adalah suatu sikap nyata akan kesadaran bahwa walaupun Gereja Katolik adalah kudus, karena Kristus adalah Kepala-Nya, namun terdiri dari para pendosa, sehingga Gereja harus senantiasa memeriksa batin dan mengadakan pertobatan yang terus menerus. Permintaan maaf dan memaafkan adalah suatu tindakan kasih yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Cobalah melihat dari sisi yang lain, apakah ada tindakan serupa yang dilakukan oleh agama lain?
      4) Tentang infallibility: Doktrin ini bukanlah karangan Paus di abad pertengahan. Saya pernah menjawabnya disini (silakan klik).
      5) Jadi kesimpulannya, bagi Paus yang menyelewengkan jabatannya (bukan karena alasan-alasan di atas), maka jawabannya adalah kita tidak tahu secara persis akan keadaannya, sehingga lebih baik kita tidak menghakiminya. Kita tidak tahu apakah pada saat akhir hidupnya, Paus tersebut bertobat atau tidak. Bahwa Paus tersebut membahayakan dirinya sendiri untuk masuk dalam hukuman abadi, itu benar. Namun kita tidak dapat mengatakan bahwa dia pasti masuk neraka. Ini adalah tantangan bagi kita semua, karena kalau kita tidak berjuang untuk hidup kudus, kita juga dapat masuk ke dalam hukuman abadi di neraka. Hanya Tuhan yang tahu. Gereja mengatakan dalam Lumen Gentium 14, bahwa sangat penting bagi kita untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mempraktekkan kasih kepada Tuhan dan sesama. Jika orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmani, namun tidak secara rohani, maka ia tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini disebabkan karena ia sudah mengetahui hal yang benar, namun ia tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).
      D) Apakah orang Kristen non-Katolik yang hidupnya baik dapat masuk surga? Sekarang kita masuk ke kategori yang lain, yaitu: umat Kristen Non Katolik: Dokumen Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja-gereja yang lain, seperti misalnya mereka memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup dengan kasih, dll. Bahkan gereja Katolik mengakui pembaptisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.” Dalam hal ini, Gereja Katolik menyatakan suatu kondisi bahwa orang dapat kehilangan keselamatan. Namun Gereja tidak pernah tahu secara persis apakah masing-masing pribadi "benar-benar tahu" bahwa Gereja Katolik adalah Sakramen Keselamatan. Kalau seseorang tahu tapi tidak melakukannya, berarti orang tersebut menempatkan kepentingan pribadi di atas Tuhan sendiri, dan ini adalah berdosa. Jawaban apakah ada keselamatan di luar Gereja Katolik, dapat dilihat di sini (silakan klik) dan disini (silakan klik). Jika Fredy ingin mengetahui lebih lanjut tentang konsep keselamatan menurut Gereja Katolik, silakan klik di artikel ini: Sudahkah kita diselamatkan?
      E) Apakah Muhammad atau umat non-Kristen dapat diselamatkan? Bagi bangsa-bangsa lain sebelum kedatangan Kristus dan juga orang-orang yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus: Dua kategori orang-orang ini terikat oleh hukum yang dituliskan oleh Tuhan sendiri di dalam hati mereka masing-masing, atau yang disebut "natural law" atau hukum kodrat. 10 perintah Allah adalah manifestasi yang sempurna dari hukum kodrat sehingga dengan demikian mengikat seluruh manusia, tanpa memandang suku, bahasa, maupun kebudayaan, karena prinsip 10 Perintah Allah ini sebenarnya ada di dalam hati semua orang. Semua suku dan bangsa yang tidak mengenal Tuhan, melihat bahwa seorang anak yang tidak menghormati orangtuanya adalah berdosa, seorang yang membalas kebaikan dengan kejahatan adalah salah. Hukum kodrat ini adalah sebagai akibat dari hakikat manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah, yang mampu untuk menangkap konsep sesuatu yang "baik", mampu untuk mencari kebenaran, mampu untuk menemukan Pencipta-Nya, mampu untuk bersosialisasi, dll. Dan hukum alam ini mengikat manusia, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus di Rom 2:15 "Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela." Bagaimana mereka dapat diselamatkan? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]
      Sebagai contoh dari "bukan karena kesalahan mereka sendiri" adalah orang-orang yang hidup sebelum Kristus, dan juga orang-orang yang tidak terjangkau oleh pemberitaan tentang Kristus. Namun kita juga dapat memasukkan disini adalah orang-orang dari agama lain, yang walaupun telah dijangkau oleh pemberitaan Kristus namun pemberitaan ini tidak memberikan "motive of credibility" (penjelasan dasar yang meyakinkan) yang baik terhadap kekristenan, sehingga orang dari agama lain, bukan karena kesalahannya, tidak dapat percaya akan pesan Kristus. Namun saya ingin menegaskan disini, bahwa kuncinya adalah apakah orang tersebut tidak mau menjadi Kristen karena "invincible ignorance" (ketidaktahuan yang tidak dapat dihindari) ataukah karena memang kepentingan pribadi, misalkan untuk mendapatkan pangkat, dll. Di sini perlu dipertanyakan apakah orang tersebut benar-benar mencari kebenaran di atas segalanya. Maksudnya adalah apakah orang tersebut di dalam kapasitasnya benar-benar mencari kebenaran atau Tuhan dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap kekuatan. Dan dalam hal ini hanya Tuhan yang tahu secara persis apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Untuk itulah, maka Gereja tidak akan pernah berkata bahwa seseorang pasti masuk neraka, namun Gereja dapat berkata orang tersebut mempunyai risiko kehilangan keselamatannya. Di sinilah pentingnya bagi orang yang telah mengenal Kristus untuk hidup kudus, sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang tidak mengenal Kristus.
      Jadi kesimpulannya, setiap manusia, baik sebelum kedatangan Kristus, pada waktu Kristus hidup, dan setelah kebangkitan Kristus, juga setiap penganut agama apapun diberikan rahmat yang cukup oleh Tuhan untuk bersatu dengan Tuhan di Surga. Kalau sampai kita masuk neraka, itu karena kita tidak bekerjasama dengan rahmat Tuhan dengan baik. Mungkin ada baiknya kalau Fredy juga dapat merenungkan tentang konsep keselamatan menurut gereja yang Fredy anut. Semoga jawaban ini dapat membantu. Dan mari kita bersama-sama berjuang agar kita dapat mencapai garis akhir, sehingga kita dapat bersatu dengan Tuhan selamanya (1 Kor 9:24).
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef
  8. 6
    andryhart says:
    Shalom,
    Ada dua hal yang membuat saya tetap memeluk agama Katolik (karena saya tidak terlahir dalam keluarga yang beragama Katolik):
    (1) Ajaran Yesus seperti Khotbah di Bukit kelihatannya tidak masuk di akal manusia sekalipun mengandung kebenaran Ilahi. Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman, mengatakan bahwa Khotbah di Bukit menunjukkan mentalitas budak dan gaya hidup sang pencundang. Albert Schweitzer mengatakan bahwa manusia kebanyakan tidak mungkin melaksanakan ajaran Kristus tersebut. Hanya orang-orang suci dan Mahatma Gandhi yang kelihatannya bisa mengamalkan ajaran ini. Ajaran Yesus lainnya seperti mengampuni musuh yang telah menganiaya kita dan bahkan berdoa baginya juga tidak masuk di akal manusia sekalipun ampuh untuk menghilangkan dendam dan permusuhan yang merugikan kesehatan dan keselamatan diri kita sendiri.
    (2) Teladan yang diperlihatkan oleh para pengikut Kristus dalam 300 tahun pertama. Mereka telah dianiaya dan dibunuh secara kejam oleh para Kaisar Romawi di jaman itu, seperti Nero, yang membakar tubuh orang Kristen dan menjadikannya obor penerang jalan, atau menjadikan para pengikut Kristus termasuk wanita dan anak-anak sebagai mangsa singa. Namun, sekalipun mengalami berbagai kekejaman, para pengikut Kristus di jaman gereja perdana tetap setia kepada Yesus. Jika tidak menyaksikan sendiri bahwa Yesus itu benar-benar Allah, mungkin mereka tidak akan rela mengorbankan diri.
    Jadi, pertanyaan apakah Yesus tidak mati disalib tetapi langsung naik ke surga (pandangan kaum Muslim) ataukah Yesus mati disalib dan bangkit kembali untuk menebus dosa manusia (pandangan kaum Kristen), biarlah semua ini menjadi iman kepercayaan masing-masing penganut agama. Sebagai orang Kristen Katolik, iman kepercayaan kita tidak perlu goyah karena membaca Injil Barnabas atau Novel Da Vinci (bahkan akhir-akhir ini juga muncul film Mesias versi Iran) karena kita toh tidak hidup di jaman itu sehingga tidak menyaksikan sendiri faktanya.
    Tuhan memberkati.
  9. 5
    setelah melihat beberapa artikel di web ini, banyak hal yang bisa saya pelajari, tentang “KASIH” (dan itu tidak saya dapatkan di forum2 kebanyakan yang mengatasnamakan -dialog Kristen – Islam) sungguh bagi saya akan sangat berarti kontraproduktif jika membanding2kan antara Katholik-Kristen-Ortodok-Islam-dll.. karena yang kita perdebatkan adalah masalah keyakinan, sesuatu yang sangat fundamental. dan akan berguna bukan untuk didebatkan, tapi untuk di sharingkan dalam rangka menemukan sebuah konsensus yang indah..
    bagi saya Agama adalah sarana menuju Keselamatan, dan bukan keselamatan itu sendiri. Bukan berarti ketika saya beragama “A” saya pasti selamat. nope!
    Seringkali saya menyesalkan bagi mereka yang menganggap Tuhan adalah sesbuah sosok, atau kita orang kristiani memandang Yesus sebagai sebuah figur namun tidak memandang Ia sebagai sebuah teladan.. atau memandang Yesus sebagai kata Benda dan Kata Orang namun tidak memandang Yesus sebagai kata sifat.. atau memandang Yesus secara tersurat namun tidak memandang dan menggali yang tersirat..
    hal tersebut diatas membuat diri kita terjebak pada suatu paham Fanatisme yang sempit dan Arogan, menjadi sulit melepaskan akal budi dan pikiran kita tentang bagaimana kita menyikapi lingkungan dengan bijaksana. Menjadikan kita sebagai kaum Eksklusive dibalik dalil baju pertahanan Agama. dan pastinya semua itu akan membawa kita pada pemikiran “KASIH” yang sangat sempit.. bukan seperti “KASIH YESUS”
    KASIH YESUS adalah kasih yang universal, Ia tidak memandang Suku, Ras, Agama, dll..
    dan menurut saya bukan hanya kita (orang Kristiani) yang bisa dan berhak atas Kasih itu saja, namun seluruh umat manusia berhak dan bisa melaksanakan kasih itu.. karena siapapun dia (contoh si “A”), apapun agamanya, ketika si “A” melaksanakan hukum kasih, sebenarnya Yesus tinggal dalam hatinya, yang membedakan antara si A dan kita adalah Si A belum mengenal Yesus sedangkan kita sudah, jadi itulah nilai tambah kita.. hehe..
    Menjadi Pewarta Kabar Gembira, sebenarnya bukan berarti harus dengan melakukan Penginjilan, atau Misionaris masuk ke padalaman menceritakan tentang Injil, dan kemudian mengajak mereka untuk dibabtis. Namun yang jelas kita sebagai orang kristiani harus bisa memposisikan diri kita sebagai Garam dan Terang di lingkungan kita.. ketika orang lain merasakan kebahagiaan, kedamaian, dan kesukaaan besar akan Allah, dan itu karena kita : Maka sebenarnya kita telah mewartakan kabar gembira..
    Yesus pernah bersabda: …Jadikanlah semua bangsa MuridKU”
    inipun jangan kita pandang secara sempit, dan harus bijaksana dalam mensikapinya. sebenarnya bukan harus dengan menjadikan mereka Kristiani untuk jadi Pengikut Kristus, namun dengan mengajarkan nilai “KASIH”. maka ketika kita berhasil mengajak orang untuk berbuat “KASIH” kita telah mendapatkan satu murid untuk ‘YESUS”, syukur2 mau ikut di babtis.. hehe..
    Dengan menjadikan semua orang di Dunia Kristiani, bukan jaminan kedamaian sejati dapat terwujud.. Namun dengan menjadikan seluruh dunia Murid Yesus yang mengerti dan mengaplikasikan hukum KASIH maka saya percaya : Damai Dunia terwujud.. (hehe.. bisa ga ya?..)
    Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan Islam yang kental.
    karena ayah saya dulunya adalah seorang muslim, sehingga semua saudara saya adalah muslim. Namun syukur kepada Allah bahwa mereka baik adanya, selalu toleran dan saling mengasihi.
    Bahkan seringkali ketika hujan, mereka (saudara2 saya yang muslim) mau berepot2 untuk antar jemput saya dan keluarga ketika hendak berangkat ke gereja. ataupun ketika Natal, mereka datang kerumah, membawakan makanan, saling mengucapkan natal, dan bergembira bersama di rumah kami. Begitupun sebaliknya ketika mereka berlebaran..
    hehe.. pokoknya KASIH itu begitu RRRRuuuaaaarrr Biiiaaasssaaa..
    -Damai Kristus Beserta Kita-
    • 5.1
      Shalom Petrus,
      Terima kasih ya, atas sharing anda yang sangat bagus. Ya, memang kita sebagai pengikut Kristus mempunyai tantangan untuk melaksanakan hukum KASIH itu. Nah mengenai hal ini, kita sesungguhnya dapat bersandar pada prinsip yang kita ketahui dari Alkitab, dan pengajaran Gereja, yaitu:
      1) Dasar kita mengasihi sesama adalah karena kita mengasihi Tuhan. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita semua mengasihi Allah dengan segenap hati dan kekuatan kita dan selanjutnya baru mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (lih. Mat 22:34-40; Mrk 12:28-34; Luk10:25-28). Jadi jika kita mengasihi orang lain tanpa pandang bulu, tanpa membedakan agama, budaya, latar belakang sosial, adalah karena/ demi kasih kita kepada Tuhan yang juga mengasihi mereka.
      2) Menerapkan ajaran KASIH bukan berarti toleransi buta yang mengarah pada relativisme, yang berkata, ’semua agama sama saja’. Sebab berdasarkan kebenaran yang kita ketahui dari Alkitab, kita mengetahui bahwa tidak semua agama sama. Alkitab mengatakan bahwa "Allah menginginkan semua orang diselamatkan dan mengetahui pengetahuan akan kebenaran" (1 Tim 2:4). Nah, kebenaran yang dimaksudkan Allah ini adalah Yesus sendiri yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 4:16).
      3) Dengan demikian, sudah menjadi tugas kita, jika kita sungguh mengasihi Tuhan, adalah juga mengasihi sesama, bukan saja dengan dalam hal tolong menolong dalam hal jasmani, tetapi juga jika memungkinkan (kita perlu berdoa untuk hal ini), agar melalui kita mereka sampai pada ‘pengertian akan kebenaran’ yaitu Kristus. Jadi hal pembaptisan adalah sesuatu yang sesungguhnya tidak terpisahkan dari KASIH itu (walaupun kita sama sekali tidak boleh memaksa seseorang agar ia mau dibaptis). Hal ini sesuai dengan perintah Yesus sendiri, yaitu selain ‘Jadikanlah semua bangsa murid-KU’, namun juga, ‘Baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus’. Kitapun diperintahkan olehNya menyampaikan semua ajaran-Nya kepada mereka agar mereka dapat melakukannya (Mat 28: 19-20). Tentu kita sendiri tak terkecuali, kitapun  harus melakukan ajaran Yesus itu.
      4) Jadi, kita perlu menyampaikan kebenaran, yang kepenuhannya dipenuhi di dalam persatuan kita dengan Yesus, yang dimulai dengan Pembaptisan. Tentu diperlukan kebijaksanaan (prudence) untuk menyampaikan hal ini, yang menyangkut bagaimana cara kita menyampaikannya dan pada situasi apa. Dapat saja terjadi, bahwa ini memakan waktu lama, karena memang bisa saja kita, sesuai dengan pertimbangan kita, tidak langsung berbicara tentang Yesus kepada siapa saja dan kapan saja. Namun, Kristus harus hidup di dalam perbuatan kita sehari-hari, sehingga jika tiba waktunya/ ‘pas’ kesempatannya, kita dapat menceriterakan tentang Yesus dan ajaranNya, dan semoga orang dapat melihat bahwa memang apa yang kita bicarakan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Bahwa jika setelah diberitahu akan Kristus dan ajaranNya, orang itu menolak untuk mengikuti Dia dengan dibaptis, ya kita harus menghormati keputusan itu. Sebab, Tuhan sendiri menghormati manusia yang berkehendak bebas, dan Ia tidak pernah memaksa.
      5) Pembaptisan bagi kita adalah ‘rahmat surgawi’ yang jika kita jaga keutuhannya dapat mengantar kita ke surga. Maka, jika kita peduli pada jiwa sesama dan ingin agar mereka-pun menerima rahmat ini, maka sudah sepantasnya jika kita memperkenalkan Yesus kepada mereka (Ibaratnya, kita punya harta yang terbesar, dan jika kita tidak ‘pelit’, tentu kita mau membagikannya, walaupun terserah kepada orang yang kita beri, maukah ia menerima atau tidak). Jadi membagikan ‘kebenaran’ ini, memang bukan sesuatu yang mudah, namun juga bukannya tidak mungkin dan tidak layak dicoba. "Jadilah sempurna" kata Yesus, "seperti Bapamu di sorga yang sempurna" (Mat 5:48). Jadi  Tuhan menginginkan agar kita semua bertumbuh menuju kesempurnaan itu. Kita umat beriman dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih (Lumen Gentium bab V, 40). Nah, kalau kita tahu bahwa kesempurnaan kasih itu dimulai dari Pembaptisan, tentu sangat wajar, jika oleh kasih kita yang tulus kepada mereka, kitapun menginginkan agar mereka sampai pada kesempurnaan kasih itu. Sangatlah wajar, jika kita berdoa bagi mereka setiap hari, agar mereka sampai pada KASIH itu. Dan sangatlah wajar juga, jika kita berjuang agar dapat dipakai oleh Tuhan menjadi alat-Nya untuk menyampaikan KASIH-Nya. Karena, siapa yang dapat menjangkau orang-orang terdekat/ kerabat/ rekan sekerja kita untuk mengenal Yesus, kalau bukan kita?
      6) Kita yang sudah dibaptis secara Katolik seharusnya lebih dapat mengasihi, bukan karena kemampuan pribadi kita sendiri, tetapi terlebih karena rahmat Allah yang secara terus menerus kita terima melalui sakramen- sakramen, terutama sakramen Ekaristi, dan sakramen Tobat. Jadi kasih yang berasal dari Allah inilah yang dapat mengubah dunia, sebab kasih ini bukan menurut standar dunia yang terbatas dan egois, tetapi kasih yang menurut standar Tuhan, yang tidak terbatas, dan tertuju untuk kebaikan semua orang, tanpa mengabaikan martabat masing-masing sebagai manusia.
      Demikian tanggapan saya atas sharing Petrus tentang kasih. Sungguh, jika setiap orang beriman memiliki KASIH seperti yang diterapkan oleh keluarga Petrus, betapa indahnya kehidupan bangsa kita ini. Mari bersama kita berjuang untuk menerapkan ajaran KASIH di manapun kita berada.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati
  10. 4
    Ali says:
    Yesus Kristus cenderung mengajarkan damai ke semua orang.
    Itulah kenapa pada jaman dahulu banyak orang yang tidak setuju dengan cara Yesus bahkan Dia ditolak oleh bangsaNya sendiri.
    sewaktu Yesus disalibkan malah masih mengampuni orang romawi yang menyiksa Dia.
    Adakah nabi atau apapun orang suci yang mampu seperti Dia?.
    kemudian Yesus selalu memberi perumpamaan dan itu kenapa?.
    sampai ribuan tahun perumpamaan tersebut masih berlaku?.
    adalah karena kita manusia tidak bisa menerima KEBENARAN.
    Jujur saja pada diri sendiri.
  11. 3
    Sakerah says:
    Kalau Allah tidak menjadi manusia , aku langsung jadi atheis. Trus Allah hanya bisa dibuktikan di bibir dan cuma di angan-angan saja. Kita berbangga menjadi Kristen Katolik, sebab Allah sendiri yang membuat dan menciptakan Agama Kristen Katolik.
    Kalau ada jalan tol menuju surga, mengapa memeilih lewat jalan tikus ?
  12. 2
    fajar says:
    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, dari Muhammad, Rasulullah, untuk Heraklius, Penguasa Romawi. Salam sejahtera semoga selalu terlimpah kepada orang-orang yang mau mengikuti kebenaran. Sesungguhnya aku bermaksud mengajakmu memeluk Islam. Masuklah Islam, niscaya kamu akan selamat. Masuklah Islam niscaya Allah akan menganugerahimu dua pahala sekaligus. Jika kamu berpaling dari ajakan yang mulia ini, maka kamu akan menanggung dosa seluruh pengikutmu. Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat ketetapan yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka kataka! ! nlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah) (QS Ali Imran : 64).” Diriwayatkan dalam hadist sahih Imam Muslim 3322.
    Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
    Dari Muhammad Rasulullah saw. kepada Najasyi Ash-ham raja Habasyah
    Salam sejahtera bagimu
    Aku memuji engkau kepada Allah Yang Maha Suci lagi Perkasa, dan aku bersaksi bahwa Isa a.s. adalah ruh Allah dan kalimah-Nya yang dicampakkan kepada Mariam seorang perawan suci, bersih, dan terjaga. Mariam mengandung Isa a.s. Kemudian Allah menciptakan Isa a.s. dari ruh-Nya dan ditiupkan-Nya ruh itu (ke dalam jasadnya) sebagaimana Adam a.s. yang diciptakan Allah langsung dengan Tangan-Nya dan ditiupkan-Nya ruh (ke dalam tubuhnya). Kini aku mengajak engkau (untuk menyembah) Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan terus-menerus mentaati-Nya serta mengikuti aku. Juga engkau mempercayaiku dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya padaku bahwa aku adalah utusan-Nya. Aku telah mengutus kepadamu keponakanku yang bernama Ja’far bersama serombongan kaum muslimin. Apabila mereka telah sampai ke hadapanmu, maka layanilah mereka sebaik-baiknya dan tinggalkanlah kesombongan. Aku mengajak engkau dan seluruh tentaramu kepada (agama) Allah. Sungguh telah aku sampaikan risalah dan nasihatku, maka terimalah ajakan dan nasihatku ini!”
    Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah
    * surat Rosulullah SAW. kepada Kisra, melalui jalan Ibnu Ishaq yang
    isinya; Dengan Menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
    Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Kisra Penguasa Persia!
    Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah
    dan Rosul-Nya, bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah semata yang tida
    sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku ajak
    kamu dengan ajakan Allah, aku utusan Allah untuk seluruh manusia,
    supaya aku memberi peringatan orang yang hidup dan berkata benar kepada
    orang-orang kafir. Jika mau masuk Islam kau selamat, dan jika enggan
    maka kau menaggung dosa orang-orang Majusi.
    * Demikian isi surat ini yang dikirim nabi kami kepada raja romawi yang beragama nasrani, raja habasyah yang beragama nasrani, raja persia yang beragama penyembah api. maksud dan
    tujuan kami adalah menyampaikan ilmu, maukah kamu masuk Islam ? semoga kamu mendapat hidayah dan
    petunjuk.
    • 2.1
      Salam damai, Fajar,
      Pertama-tama, Selamat Hari Raya Idul Fitri. Terima kasih anda sudah mengunjungi web-site ini. Memang untuk mengikuti kebenaranlah kita sama-sama berjuang di dalam hidup ini. Bagi kami kaum Nasrani, kami menemukan kebenaran di dalam Yesus Kristus, yang berkata, "Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6).
      Kami meyakini bahwa kami menyembah Allah yang satu dalam Tiga Pribadi, sesuatu yang mungkin dianggap tidak masuk di akal bagi orang-orang yang bukan beragama Kristen,  namun bagi kami, itu justru merupakan misteri Allah yang teragung (silakan baca Trinitas: Allah yang satu dalam tiga Pribadi).
      Pertanyaannya, kenapa kita percaya akan Yesus Kristus, pribadi ke dua dari Trinitas, yang menjelma menjadi manusia? Ada tiga alasan yang dapat kami kemukakan, dimana tiga alasan ini disebut "motive of credibility".
      1) Kedatangan Yesus telah dinubuatkan oleh para nabi. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali dalam kurun waktu 20 generasi. Hal ini membuktikan bahwa Allah mempersiapkan kedatangan-Nya sehingga kalau Dia datang, maka manusia akan mengenalinya. Untuk lengkapnya, silakan membaca artikel: Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Tuhan, dan juga  Yesus yang dinubuatkan oleh para nabi.
      2) Yesus melakukan banyak sekali Mukjijat, yang hanya Tuhan sendiri yang mampu melakukannya.
      Semasa hidup Kristus di dunia, kuasa Allah ditunjukkan di dalamNya dengan Ia melakukan banyak mukjizat-mukjizat, dari meredakan angin ribut, mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, sampai membangkitkan orang mati, termasuk juga kebangkitanNya sendiri dari kematian-Nya (Silakan membaca: Kristus yang kita imani= Yesus yang menurut sejarah).
      3) Yesus mempercayakan umat-Nya kepada Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik.
      Selanjutnya, kami meyakini bahwa Kristus datang untuk mendirikan Gereja yang dibentukNya sendiri untuk terus bertahan sampai akhir jaman, dan itu berada di dalam Gereja Katolik. Paus pemimpin Gereja ini dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Petrus, Rasul Yesus Kristus. Hal ini juga merupakan sesuatu mukjizat tersendiri, sebab jika Gereja hanya ‘organisasi’ manusia, maka sudah sejak lama ia bubar/ tak bertahan. Untuk lengkapnya, silakan membaca: mengapa kita memilih Gereja Katolik.
      Kami menyadari bahwa ada perbedaan-perbedaan antara ajaran agama Katolik dan Islam, walaupun kita sama-sama keturunan Bapa Abraham. Namun mari dengan semangat mencari kebenaran dalam damai, kita berjalan bersama, saling menghormati dan saling menghargai. Pada akhirnya nanti kita semua akan menghadapi pengadilan Allah, dan kebenaran pada saat itu akan sungguh dinyatakan di hadapan kita semua.
      Salam damai dari
      ingrid & stef  – http://www.katolisitas.org
  13. 1
    Veronica says:
    BerimaN berarti kita setuju dan sangat menerima bahwa Ajaran gereja Katolik bahwa Jesus adalh Tuhan dan Juru Selamat yang adalah juga Yesus orang Nasaret itu yang oleh sejarah diceritakan. Jadi rasanya kita tidak perlu lagi berpolemik atau menyangsikan Ketuhanan Jesus itu. Terima Saja, karena Orang yang menentang pun tak dapat membuktikan nya dan apalagi tidak hidup di Zaman Jesus itu.Maka,menurut hemat saya adalah buang2 waktu menentang hal ini. lebih baik berdoa dan Mohon Rahmat Allah agar kita semakin beriman akan Yesus Sang Tokoh sejarah itu adalah TUHAN YESUS KRISTUS, ya dan amin,
    • 1.1
      Shalom Veronica,
      Ya, memang benar kita tidak perlu menyangsikan ke-Tuhanan Yesus. Oleh karena iman kita kepada Yesus Tuhan inilah, kitapun mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskannya jika ada orang yang bertanya kepada kita tentang ke-Tuhanan Yesus itu. Untuk maksud inilah artikel di atas ditulis, mengingat banyaknya informasi yang beredar di sekitar kita, baik dari buku maupun mas media yang mempertanyakan hal itu. Kita sebagai orang Katolik sebaiknya tidak saja mengimani, tetapi juga mengetahui bahwa iman kita sungguh berdasarkan atas apa yang terjadi secara nyata, baik yang dikatakan oleh Yesus sendiri, maupun yang diteruskan oleh para rasulNya. Jadi, saya setuju dengan Veronica, bahwa kita tidak ingin berpolemik sendiri di sini, namun kita memenuhi apa yang diajarkan oleh Rasul Petrus, " …Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat…" (1Pet 3:15).
      Selanjutnya memang, kita perlu terus berdoa, terutama juga mendoakan mereka yang mempertanyakan ataupun yang menyangsikan ke-Tuhanan Yesus itu, agar Tuhan sendirilah yang menyentuh hati mereka dan menuntun mereka kepada kepenuhan kebenaran. Mohon dukungan doa dari Veronica, sehingga bersama-sama kita dapat mewartakan kebenaran Tuhan.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati

      • 1.1.1
        Veronica says:
        Terima kasih Ibu Ingrid, saya sungguh merasa bahwa dari orang yang tidak kita kenal pun kita bisa mendapat peneguhan dan jawaban bagaikan sahabat, nah… bukankah ini juga Karya Roh Kudus? saya menyadari ini adalah kecanggihan teknologi, tapi sarana yang kita bangun dan buat tak akan mamapu direspon dgn baik apabila kita cuek pada orang lain. terutama saudara seiman. Saya bergabung dengan Komunitas Emmaus Journey di paroki kami MBK, dan sungguh saya berani bersaksi bahwa Bwrjalan BersamA Jesus hati kita berkobar kobar.Banyak hal kita bisa belajar melalui pengalaman relasi dengan Jesus. Mengenai Yesus adadlh Tuhan Kristus dan Allah, harus kita imani saja , bukan dicari kebenaran Fakta Historical nya, sebab ini Juga suatu Misteri. Begitupun , belum lama saya mengikuti seminar singkat tentang Injil Barnabas, ah… bagi saya sia sia dan jauh dari jangkauan bahwa saya atau kita Orang Katolik harus cemas dan hati hati dengan kabar ini. Karena apa? alasan saya adalah kita orang katolik selalu hidup dalam komunitas lingkungan, wilayah, paroki. dimana kita terus menerus dapat info tentang kehidupan kekatolikan dan mempunyai satu cara yang sama dan benar dibawah kepemimpinan Sri Paus, maka dari kecil kita sudah ditanamkan Hirakis seperti ini, jadi sepertinya tidak ada waktu lagi mempertanyakan ato menggali sejarah lagi, karena itu sudah dilakukan dan dibenarkan oleh Paus yang adalah Wakil Jesus di bumi. begitu bu, tentu saya akan berdoa buat ibu dan saudara2 yang membaca komentar ini.shalom JBU
  14. 1.1.1
    Manis says:
    Terima kasih Bu, dan aku ingin tanya lagi, Kita sulit untuk menyikapi Yesus sebagai jelmaan Tuhan, Yesus sebagai Anak Tuhan dan Yesus sebagai manusia sebagaimana kita. Apa kira-kira ketika Yesus sebagai jelmaan Tuhan sikapnya seperti orang yang sedang kerasukan begitu ?
  15. 1.1.1.1
    Shalom Manis,
    Sebenarnya kitab Injil adalah sumber yang tepat yang dapat anda baca untuk mengetahui sikap Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Gereja Katolik berdasarkan Alkitab dan pengajaran para Bapa Gereja mengajarkan bahwa selama penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesus Kristus sebagai Putera Allah tidak berhenti menjadi Allah. Maka ketika menjalani hidup-Nya sebagai manusia, Yesus adalah sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah. Oleh sebab itu, kita tidak bisa memisahkan Yesus menurut sejarah (dari segi manusianya) dan Kristus yang kita imani (dari segi ke- Allahan-Nya), seperti yang sudah pernah dituliskan di dalam artikel ini, silakan klik. Prinsipnya, dalam diri Yesus, kedua kodrat ini (Allah dan manusia) bersatu sedemikian rupa, namun tidak tercampur aduk, sehingga masing-masing kodrat tetap dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan sifatnya. Misalnya sebagai manusia Yesus bisa lapar, haus, letih dst, sedangkan sebagai Allah, Ia dapat membuat berbagai mukjizat atas nama-Nya sendiri, mengampuni dosa manusia, dan akhirnya bangkit dari kematian.
    Maka dari sini tidak dapat dikatakan bahwa sikap Yesus ‘kerasukan’, seperti yang anda sebutkan. Saya malah merasa pertanyaan ini berpretensi negatif, seolah-olah anda beranggapan bahwa Yesus bukan Tuhan, sehingga anda dapat mengatakan Ia ‘kerasukan’ Tuhan. Lagipula kata ‘kerasukan’ itu konotasinya negatif, sepertinya dikuasai oleh kuasa jahat di luar diri seseorang. Tentu jika kita membaca Kitab suci, kita melihat tidak demikian halnya dengan Yesus. Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, sehingga ke-Allah-an-Nya tidak mungkin menyebabkan Ia ‘kerasukan’. Tidak ada seorangpun yang ‘kerasukan’ dapat melakukan segala sesuatu seperti yang dilakukan oleh Yesus. Yesus mengajar, membuat mukjizat-mukjizat, memberi teladan kasih, yang semuanya dari Allah karena Ia sendiri adalah Allah.
    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi