Home » » Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang Beserta Kita

Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang Beserta Kita


Pendahuluan

Waktu saya tinggal di Amerika, saya sering menanam sayur-sayuran. Suatu saat, saya melihat bahwa tanaman kol sudah mulai besar dan siap dipetik. Akhirnya saya petik, namun alangkah terkejutnya saya, karena menemukan beberapa ulat di sela-sela kol. Ketika saya melihat kejadian ini, saya membayangkan bagaimana seandainya kalau saya menjadi ulat itu. Karena manusia mempunyai akal budi, derajatnya pasti lebih tinggi daripada ulat tersebut. Tidak ada orang yang mau menjadi ulat, walaupun diberikan harta yang berlimpah atau diberikan segala kuasa di dunia ini, karena ulat mempunyai keterbatasan yang begitu banyak dan harkatnya begitu rendah jika dibandingkan dengan manusia. Jadi, jika seandainya manusia dapat menjadi ulat, itu sama saja dengan ia merendahkan diri serendah-rendahnya. Namun kalau kita renungkan, penjelmaan Tuhan menjadi manusia sebenarnya lebih buruk daripada manusia menjadi ulat. Namun, dalam misteri Inkarnasi, Tuhan rela untuk merendahkan diri-Nya sehabis-habisnya untuk menyelamatkan manusia, mahluk yang dikasihi-Nya, agar manusia dapat bersatu kembali dengan Tuhan dalam Kerajaan Surga.
Kita dapat katakan bahwa Inkarnasi adalah satu misteri terbesar yang dilakukan oleh Tuhan. Misteri ini tidak dapat dipahami hanya dengan pemikiran manusia, karena ini menyangkut pikiran dan tindakan bebas yang dilakukan oleh Tuhan. Pertanyaannya apakah Tuhan menjadi manusia, atau Inkarnasi adalah suatu keharusan untuk menyelamatkan umat manusia? Memang, Inkarnasi bukanlah suatu keharusan yang mutlak, karena Tuhan juga dapat menyelamatkan manusia dengan cara yang lain. Namun, kita dapat mengatakan bahwa Inkarnasi adalah suatu keharusan yang relatif, karena itu adalah cara yang paling layak dan sempurna (the most fitting way and the most perfect) untuk membawa manusia kembali kepada Tuhan dari jurang yang tak terseberangi antara Tuhan dan manusia, yang diakibatkan oleh dosa.

Kenapa orang tidak percaya inkarnasi

Ada banyak orang, aliran kepercayaan, dan agama yang mempertanyakan kenapa Tuhan harus menjelma menjadi manusia. Beberapa keberatan yang diajukan antara lain adalah:
  • Mereka percaya akan Tuhan yang abstrak dan tidak mempunyai kepribadian. Ini merupakan suatu kepercayaan bahwa Tuhan bukanlah suatu pribadi, namun merupakan suatu bentuk “energi”. Kalau ini benar, maka tuhan seperti ini menjadi kurang sempurna dibandingkan dengan milyaran mahluk ciptaannya. Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan mempunyai pribadi, berarti kita mempercayai bahwa Tuhan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, yang melakukan segala sesuatu secara bebas berdasarkan kasih dan kebijaksanaan-Nya.[1] Dengan prinsip “kita tidak dapat memberi sesuatu yang kita tidak punya,” maka kalau Tuhan tidak mempunyai kepribadian – tidak punya akal budi/ pikiran dan keinginan – maka Ia tidak dapat memberikan akal budi kepada manusia. Dan Tuhan yang berkepribadian sebenarnya dapat dibuktikan dengan akal budi, walaupun akal budi tidak dapat mengetahui bahwa ada tiga kepribadian di dalam Tuhan atau yang kita percayai sebagai Tritungal Maha Kudus. Hal ini hanya dapat diketahui melalui wahyu Tuhan di dalam Kitab Suci. Namun demikian, Lima cara pembuktian dari St. Thomas Aquinas, terutama cara yang keempat dapat membuktikan Tuhan yang berkepribadian.
  • Ada yang percaya bahwa menjelmanya Tuhan menjadi manusia adalah merupakan kontradiksi. Sesuatu dikatakan kontradiksi kalau sesuatu “to be and not be at the same way at the same time” atau “ada dan tidak ada dengan cara yang sama dan pada waktu yang sama.” Sebagai contoh, seseorang tidak bisa pergi berenang dan ke gereja pada waktu yang bersamaan dengan cara yang sama. Namun, Inkarnasi tidaklah merupakan kontradiksi. Akan menjadi kontradiksi kalau Tuhan menjadi Tuhan dan berhenti menjadi Tuhan. Namun Gereja Katolik tidak mengajarkan hal demikian tentang doktrin Inkarnasi. Gereja percaya bahwa Tuhan tetap Tuhan, namun mulai ada di dalam sejarah umat manusia, dengan cara menjadi manusia. Tuhan tidak dapat menjadi bukan Tuhan, walaupun Tuhan dapat melakukan segala sesuatu, karena Tuhan tidak dapat mempertentangkan diri-Nya sendiri. Dengan pemikiran ini, maka tidaklah bertentangan jika Tuhan menjelma menjadi manusia, bahkan sifat-sifat Tuhanlah yang menjadikan Inkarnasi sesuatu yang hanya dapat dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan. Kalau kita percaya bahwa Tuhan dapat melakukan segala sesuatu dan kita masih berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan menjadi manusia, maka kita yang sebenarnya mempertentangkan Tuhan.
  • Keberatan yang lain datang dari sebagian orang yang berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan menjadi manusia, karena hal tersebut sama saja dengan merendahkan derajat Tuhan yang maha kuasa dan besar. Namun misteri Inkarnasi membuktikan sebaliknya, bahwa dengan menjadi manusia, Tuhan telah menunjukkan bagaimana Dia mengasihi kita dengan kasih-Nya yang tidak terbatas, sehingga kita seharusnya lebih mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan kita.  Dalam keseharian kita, bukankah dibutuhkan kekuatan dan kebesaran hati bagi seseorang yang ‘dari kalangan atas’ untuk merendahkan diri dan ikut solider dengan orang-orang jelata? Bayangkanlah kebesaran Tuhan Yesus yang dinyatakanNya, dengan menjelma menjadi manusia! Ia yang mengatasi segala waktu, masuk ke dalam waktu, Ia yang luar biasa besar dan tiada terbatas mengosongkan diri hingga menjadi setitik sel (embryo) dalam rahim Bunda Perawan Maria.
    Juga ‘kebesaran’ seseorang yang mengundang rasa kagum, tiada berarti jika tidak diimbangi kasih, bukan?  Dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin kita melihat dengan kagum pada sosok artis atau aktor tertentu. Namun tentu saja kita akan lebih mengasihi orang tua kita dibandingkan dengan para aktor atau artis, bukan karena orang tua kita lebih cakap dari aktor atau artis, namun karena orang tua kita telah mengasihi kita dengan kasihnya yang besar, yang terbukti dengan segala pengorbanan yang dilakukan oleh mereka untuk kebahagiaan kita.

Mengapa inkarnasi? Dengan menggunakan “argument of fittingness” atau argumen kelayakan.

Argument of fittingness adalah suatu metode yang didahului oleh iman. Kita percaya terlebih dahulu, kemudian dengan akal budi kita mencoba untuk menguak misteri iman, sehingga misteri iman tersebut dapat memberikan arti yang lebih dalam. Metode ini adalah “iman yang mencari pengertian atau faith seeking understanding.”
Sebagai contoh, kita dapat melihat dalam kehidupan sehari-hari, pada saat kita dimarahi oleh ayah kita. Yang pertama kita lakukan adalah sikap yang percaya kepada ayah kita, bahwa dia mengasihi kita. Dari situ kita mencoba mencerna, kenapa ia bersikap demikian. Dan kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa ayah kita marah karena untuk melindungi kita dari bahaya, atau karena dia tidak mau kita tersesat, dan seterusnya.
Dengan cara yang sama kita akan mencoba untuk menguak misteri Inkarnasi. Kita akan melihatnya dari dua sisi, yaitu dari sisi manusia dan dari sisi Tuhan, karena memang diperlukan kerjasama antara manusia dan rahmat Tuhan untuk mengembalikan harkat manusia yang hilang karena dosa manusia. Namun tentu saja kita melihat rahmat Tuhan adalah yang paling utama dalam keselamatan manusia.

Tuhan ingin mengkomunikasikan kebaikan-Nya

Kalau kita melihat dari perspektif Tuhan, maka kita akan melihat bahwa Inkarnasi adalah memang sudah layak dan seharusnya karena sifat dari Tuhan sendiri. Kita tahu, secara prinsip segala sesuatu akan bertindak sesuai dengan sifat dan hakekat dari sesuatu itu, sebagai contoh: batu kalau dilepaskan akan jatuh, tanaman kalau diberi air dan sinar secukupnya akan bertumbuh, atau manusia bertindak sesuai dengan akal budi dan keinginan bebasnya. Atau, seorang ibu akan mengasihi anaknya dan akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya.
Nah, di dalam Tuhan, hakekat yang ada bukan hanya menjadi bagian dari Tuhan, namun Tuhan adalah hakekat tersebut, seperti: Tuhan adalah Kebaikan, Kebenaran, Keindahan, dan Kasih. Kita juga dapat menerapkan prinsip penting yang lain, yaitu “bonum diffusivum sui” atau “kebaikan akan menyebar dengan sendirinya“, sama seperti panas yang akan menyebarkan hawa panasnya ke segala arah, atau lilin yang bercahaya dalam kegelapan. Dan kalau Tuhan adalah Kebaikan (dalam pengertian yang absolut dan sempurna), maka kebaikan ini akan tersebar dan mencoba menjangkau setiap orang. Pertanyaannya, bagaimana Tuhan dapat mengkomunikasikan kebaikan ini?
  • Cara yang pertama adalah dengan cara yang sempurna dan absolut, yang hanya ada dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Manusia hanya dapat berpartisipasi di dalamnya, dan partisipasi ini akan mencapai kesempurnaanya pada saat kita berada di surga. (Mengenai Tritunggal Maha Kudus akan ditulis dalam artikel yang terpisah).
  • Kedua, adalah dengan cara yang terbatas, yaitu partisipasi dari semua mahluk ciptaan. Ini adalah pembuktian ke empat dari St. Thomas Aquinas tentang keberadaan Tuhan. Kita melihat adanya keteraturan di alam ini dan keindahan dari alam dan segala isinya.
  • Ketiga, adalah dengan melalui rahmat kekudusan. Ini yang kita dapatkan pada waktu kita dibaptis, dimana hakekat kita diaangkat ke supernatural, yaitu partisipasi di dalam kehidupan Tuhan. Namun cara ini hanya dimungkinkan setelah Tuhan sendiri menjadi manusia, mengambil dosa manusia, dan memberikan jalan untuk bersatu dengan Tuhan kembali.
  • Cara yang ke-empat adalah dengan cara yang yang paling agung dan mulia, yaitu dengan cara mengambil sifat tersebut dan membuatnya menjadi satu kesatuan dengan diri-Nya.
    Inilah yang dilakukan oleh Tuhan dalam misteri Inkarnasi, karena Tuhan sendiri menjadi manusia, sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Dengan cara ini, maka manusia tidak hanya berpartisipasi dalam kehidupan Tuhan, namun Tuhan yang berinkarnasi telah membuat kemanusiaan menjadi satu dengan kepribadian Tuhan. Dengan menjadi manusia, Tuhan tidak hanya menyucikan kemanusiaan Yesus, tetapi seluruh umat manusia, karena sifat ke-Tuhanan yang mengatasi segala sesuatu.
Oleh karena Tuhan adalah baik, dalam pengertian yang sempurna dan absolut, maka Tuhan akan mengambil cara yang paling sempurna dan luhur. Sama seperti hakekat lilin kecil hanya mungkin menerangi satu ruangan kecil, namun sebaliknya matahari mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menerangi seluruh bumi. Dan cara yang yang paling sempurna dan luhur yang dipakai oleh Tuhan adalah melalui misteri Inkarnasi.
Dari sini kita dapat menyimpulkan, karena sifat kebaikan Tuhan yang sempurna dan juga mengkomunikasikannya secara sempurna, maka Inkarnasi adalah cara yang paling agung dan sempurna untuk mengkomunikasikan kebaikan Tuhan.

Kasih, pengampunan, keadilan, dan kebijaksanaan Tuhan adalah penyebab Inkarnasi.

Kita dapat memberikan argumen yang lain tentang kelayakan Inkarnasi, yaitu melalui sifat Tuhan yang lain, yaitu kasih, belas kasihan, maha adil, dan maha bijaksana. Adalah sudah selayaknya bahwa Tuhan yang yang sempurna dan maha mulia mengkomunikasikan segala sifat-sifat-Nya dengan cara yang paling sempurna. Dan misteri Inkarnasi ini memang sesuai dengan cara Tuhan yang sempurna dan menjadi manifestasi dari kesempurnaan sifat Tuhan.
Yesus telah menunjukkan kesempurnaan belas kasihan dan kasih-Nya kepada umat manusia melalui penderitaan-Nya, yang mencapai puncaknya di kayu salib. Dalam kasih-Nya kepada umat manusia, Tuhan telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk keselamatan umat manusia (Yoh 3:16).
Tuhan juga telah menunjukkan keadilan-Nya yang begitu besar dan tak terselami. Karena manusia tidak dapat membayar dan menghapuskan dosa yang telah diperbuatnya, maka Tuhan sendiri, melalui Tuhan yang menjadi manusia, membayar semua dosa yang telah diperbuat manusia.
Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa tidak cukup untuk manusia meminta ampun kepada Tuhan? Kita melihat contoh dalam kehidupan kita, kalau kita membuat kesalahan kepada rekan sekerja, maka kita dapat meminta maaf secara langsung. Namun kalau kita dengan teman-teman kita membuat suatu hal yang begitu konyol, misalkan membakar bendera negara lain, yang menjadi simbol dan harkat dari negara tersebut, maka tidak cukup untuk meminta maaf secara pribadi. Karena yang dirugikan adalah suatu negara, yang harkatnya jauh lebih tinggi dari kita, maka permasalahannya tidak akan selesai kalau pribadi yang bersalah meminta maaf. Namun, kalau seseorang yang mempunyai harkat yang sama dengan negara tersebut, contohnya: menteri luar negeri, duta besar, atau presiden meminta maaf kepada negara yang dirugikan, maka masalahnya akan selesai dan keadilan dapat ditegakkan.
Pada saat manusia berbuat dosa, maka manusia telah melawan Tuhan, suatu martabat yang jauh lebih tinggi dan tak terbatas dibandingkan dengan manusia. Agar keadilan dapat ditegakkan secara sempurna, maka seseorang yang mempunyai harkat yang sama harus mewakili manusia untuk mempersatukan kembali hubungan yang dirusak oleh dosa. Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia mengambil sifat manusia, sehingga Ia dapat mewakili manusia dan sekaligus Tuhan menjadi satu-satunya sosok yang memungkinkan untuk mempersatukan hubungan antara Tuhan dengan manusia.
Tuhan juga dapat mengkomunikasikan kebijaksanaan-Nya dengan cara yang paling sempurna, yaitu dengan mengutarakan-Nya secara langsung kepada manusia, dengan cara dan bahasa yang dimengerti oleh manusia. Kita melihat bagaimana Yesus memberikan kebijaksanaan-Nya dengan perumpamaan dan juga dalam bahasa yang dimengerti manusia.
Dengan Inkarnasi, Tuhan menunjukkan kekuatan-Nya, seperti melakukan banyak mukjijat termasuk adalah membangkitkan orang mati, dan terutama adalah Kebangkitan-Nya semdiri dari kematian.
Jadi kita melihat, bahwa dengan Inkarnasi, Tuhan telah memilih jalan yang paling sempurna untuk menyatakan kebaikan, kasih, belas kasihan, keadilan, dan juga kekuatan-Nya kepada umat manusia. Tuhan telah menawarkan dan memberikan jalan yang terbaik sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, yaitu persatuan kembali dengan Tuhan untuk selamanya.

Manusia mempunyai kesempatan untuk menanggapi rahmat Tuhan yang mengalir dari misteri Inkarnasi.

Sekarang, mari kita melihat “argument of fittingness” dari sisi manusia. Dengan misteri Inkarnasi, maka manusia mempunyai kesempatan untuk menanggapi rahmat Tuhan yang mengalir dari Inkarnasi, terutama dari penderitaan Kristus. St. Thomas membagi argumentasi kelayakan ini menjadi dua, yaitu membebaskan manusia dari dosa dan menegakkan kebaikan.

Inkarnasi untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa.

Tujuan utama dari Inkarnasi adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa, sehingga manusia dapat bersatu kembali dengan Tuhan. Misteri ini, seperti yang telah dipaparkan di atas, membuka suatu misteri kasih Allah yang tak terbatas kepada manusia. Namun misteri ini juga menunjukkan sisi paling gelap dari dosa, dimana kita dapat melihat manifestasinya dari penderitaan Kristus. Jadi penderitaan Kristus di kayu salib menunjukkan akan besarnya kasih Tuhan dan pada saat yang bersamaan menunjukkan kegelapan dan keburukan dosa.
Melihat dua hal tersebut di atas, maka manusia perlu menanggapinya dengan menghindari dosa dengan segala kekuatannya dengan cara bekerjasama dan bergantung kepada rahmat Tuhan yang mengalir dari penderitaan Kristus. Dan ini berlaku bagi masing-masing pribadi dari kita, karena Yesus datang dan berkorban untuk menebus dosa-dosa yang kita buat, sehinggga kita juga memperoleh keselamatan abadi.

Tegaknya kebaikan dan kembalinya harkat dan jati diri manusia sebagai akibat dari Inkarnasi.

Melalui misteri Inkarnasi, maka kebaikan ditegakkan dan juga menunjukkan akan martabat manusia yang begitu tinggi, karena Tuhan sendiri menjadi manusia dan mengambil sifat manusia dalam diri-Nya. Dengan ini, manusia seharusnya melihat Kristus dengan kerendahan hati dan mencoba dengan segenap kekuatan untuk berusaha hidup kudus.
Misteri ini menyadarkan kita, bahwa tanpa Kristus datang ke dunia ini, kita semua akan masuk ke dalam api neraka. Pengertian yang mendalam tentang misteri Inkarnasi akan mencegah manusia untuk melakukan dosa yang sama dengan dosa Adam yaitu dosa kesombongan, yang membawa manusia kepada jurang kehancuran. Sama seperti kegelapan yang dapat ditanggulangi dengan terang, maka kesombongan hanya dapat ditanggulangi dengan kerendahan hari, dimana mencapai puncak kesempurnaannya pada misteri Inkarnasi Tuhan Yesus, karena Seorang Pencipta mengambil sifat dari ciptaannya dan Sang Pencipta merendahkan diri-Nya dalam keterbatasan ciptaan-Nya. Dan yang lebih luar biasa adalah Sang Pencipta menyediakan diri-Nya untuk mati untuk menyelamatkan ciptaan-Nya pada waktu ciptaan-Nya masih berdosa. (Rom 5:8).

Inkarnasi memperkuat iman, pengharapan, dan kasih manusia.

Aspek lain dari Inkarnasi yang berhubungan dengan kebaikan adalah diperkuatnya iman, pengharapan, dan kasih umat manusia. Iman mensyaratkan manusia untuk memberikan dirinya – akal budi: pemikiran dan keinginan – secara bebas kepada kebenaran. Adakah cara yang lebih sempurna untuk memberikan diri kepada kebenaran daripada Kebenaran itu sendiri, yang datang dalam rupa manusia dan berbicara secara langsung kepada umat manusia? Yesus berkata “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 15:6). Apa yang lebih menguatkan manusia kalau dibandingkan dengan kehadiran Yesus, Sang Jalan, Sang Kebenaran, Sang Kehidupan dan Sang Terang, yang berbicara, membimbing, dan memberikan terang sehingga manusia lepas dari belenggu kegelapan?
Karena obyek dari pengharapan adalah kebaikan di masa depan, maka Inkarnasi memberikan keyakinan akan pengharapan yang nyata. Inkarnasi, sebagai manifestasi kasih, memberikan pengharapan yang pasti akan kebahagiaan yang akan dialami oleh manusia, jika manusia bekerja sama dengan rahmat Allah dan pada saat yang bersamaan, Inkarnasi memberikan jalan yang pasti untuk membawa manusia kepada kebaikan di masa depan, yaitu kebahagiaan yang abadi di surga. Rasul Paulus mengatakan “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9).
Hakekat dari kasih adalah bergembira akan sesuatu yang baik yang ada pada diri orang yang dikasihinya dan juga mengharapkan yang baik terjadi pada orang yang dikasihinya. Dari definisi ini, kita dapat melihat bahwa Inkarnasi adalah perwujudan kasih yang sempurna, karena Tuhan masih melihat bahwa ada sesuatu yang baik dari diri manusia, walaupun manusia telah berdosa and Tuhan mengharapkan yang terbaik terjadi pada kita, dengan memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita manusia. Dengan demikian, Inkarnasi memungkinkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Dengan inkarnasi, Tuhan tidak hanya memberikan perintah, namun juga jalan.

Waktu saya mau pergi ke perpustakaan di salah satu pusat kota di Amerika saya tersesat. Kemudian saya berhenti dan bertanya kepada seseorang yang berada di depan salah satu pertokoan. Dan orang tersebut menerangkannya dengan fasih, seperti: dari sini belok ke kiri, kemudian setelah melewati dua lampu merah belok kanan, dan kira-kira 200 meter dari pom bensin belok kanan, dan belokan pertama terus belok kiri, dan kita-kira 200 meter dari situ, letak perpustakaan ada di sebelah kanan. Saya berterimakasih atas kebaikan orang itu, namun saya bingung, karena terlalu banyak belokan dan tanda yang harus saya ingat. Menyadari kebingungan saya dan tahu saya orang asing di situ, maka orang tersebut berkata “Mari, ikuti mobil saya, saya akan tunjukkan jalan untuk ke perpustakaan.” Mendengar perkataan tersebut, saya tersenyum lebar, karena tahu bahwa saya tidak akan tersesat lagi dan pasti akan menememukan perpustakaan yang saya cari.
Itulah yang terjadi dengan Inkarnasi, karena Inkarnasi membuktikan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah-perintah, namun Dia sendiri menjadi contoh untuk semua perintah dan kebajikan Ilahi, seperti: kasih yang sempurna, ketahanan untuk tabah dalam penderitaan, keadilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Dengan menunjukkannya kepada manusia, maka manusia dapat mengikuti teladan-Nya. Dan dengan mengikuti teladan-Nya, maka manusia juga berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, “we are sons in the Son of God,” sebab oleh rahmatNya kita semua menjadi anggota Tubuh Kristus.

Kesimpulan

Kita melihat bahwa sebetulnya Tuhan dapat menyelamatkan manusia yang telah jatuh dalam dosa tanpa melalui Inkarnasi. Namun hakekat Tuhan yang Maha baik, Maha benar, Maha kasih, dan bijaksana membuat Tuhan untuk memilih jalan yang paling sempurna dalam menyatakan sifat-sifat-Nya. Dan Inkarnasilah yang menjadi pilihan Tuhan. Kita tidak dapat membuktikan secara persis alasannya, karena ini adalah misteri Tuhan yang tidak terselami, namun kita dapat menggunakan “argument of fittingness” untuk melihat bahwa memang semuanya itu sudah selayaknya terjadi dan membuat kita terkesima akan keajaiban Tuhan.
Melalui Inkarnasi, kita dapat melihat bahwa Tuhan kita tidak saja Allah yang besar, yang memberikan perintah-perintah untuk keselamatan umat manusia, namun lebih daripada itu, Tuhan kita adalah Allah yang dekat berserta kita (Immanuel), yang menjadi teladan bagi kita semua untuk mengikuti perintah-perintah tersebut, sehingga manusia dapat mengikuti dan menjalankan perintah-perintah Tuhan dengan lebih baik.
Dalam keterbatasan pemikiran manusia, mari kita bersama-sama mensyukuri karya perbuatan Tuhan yang terbesar, yaitu Inkarnasi. Dan dengan hati yang terbuka, marilah kita kembali mengundang Yesus yang telah datang ke dunia untuk juga datang dan meraja di hati kita masing-masing.
Saudaraku, mari kita menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha besar namun juga Immanuel, Allah beserta kita.

CATATAN KAKI:
  1. Lebih tepatnya bukan Tuhan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, namun Tuhan adalah Sang Akal budi dan Kehendak bebas, karena di dalam Tuhan tidak dibedakan “essense” dan “accident“. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat kasih namun Tuhan adalah Kasih. Karakter inilah yang diwahyukan oleh Tuhan kepada nabi Musa, pada waktu Tuhan menyatakan siapa diri-Nya, yaitu “Aku adalah Aku” (Kel 3:14- I am Who I am). []
Ditulis oleh Stefanus Tay pada 17 09 08 Disimpan dalam Artikel, Fundamental Teologi, Kristologi. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

17 komentar untuk “Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang Beserta Kita”

  1. 7
    andryhart says:
    Shallom,
    Yesus memang mengajarkan bahwa apa yang keluar dari mulut kita (kata-kata) jauh lebih berbahaya daripada yang masuk ke dalamnya (makanan) karena Yesus ingin mengatakan bahwa kesehatan jiwa/roh jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani (Mat 15: 11, 18). Namun, Santo Paulus juga mengatakan bahwa sekalipun suatu makanan tidak haram baginya, tetapi jika makanan itu menjadi batu sandungan, dia tidak akan memakannya (dalam I Korintus 8
    8:13, Santo Paulus mengatakan “Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.”) Bukankah batu sandungan ini merupakan ajaran agama Yahudi dari perjanjian lama yang melarang umat Allah makan darah dan lemak? Selanjutnya bukankah Amsal 23:3 juga mengingatkan kita bahwa makanan yang lezat (karena manis, gurih dan asin) hanya merupakan hidangan yang menipu? Karena itu, mungkin kita juga perlu mengajarkan kepada anak-anak kita yang sekarang cenderung menjadi carnivora dengan meninggalkan kebiasaan makan sayur dan buah untuk kembali kepada kodratnya yaitu mengutamakan makan makanan nabati seperti biji-bijian, kacang-kacangan, sayur serta buah dan mengonsumsi makanan hewani seperti ikan, unggas hanya sebagai protein pelengkap.
    Tuhan memberkati,
  2. 6
    andryhart says:
    Saya ingin membuka diskusi dengan topik yang baru yaitu dosa asal yang saya pikir bukan hanya menjadi pangkal kematian roh kita tetapi juga badan kita. Kita lihat dalam Kitab Kejadian bahwa manusia tergoda oleh buah pengetahuan yang ditawarkan ular (setan). Bukankah cerita dalam kitab suci ini juga ingin mengajarkan bahwa manusia sebenarnya tertarik pada buah dan bukan hewan sebagai makanannya? Seorang teman mengatakan jika saja Adam dan Hawa itu bukan seorang vegetarian, maka yang dimakan tentu ularnya dan bukan buahnya.
    Karena manusia melawan kodratnya dengan memakan hewan dan melupakan tumbuhan sebagai sumber pangan utamanya, maka lingkungan hidup manusia telah terancam kerusakan mengerikan seperti global warming. Salah satu penyebab global warming adalah peternakan besar-besaran di mana limbah ternak telah menghasilkan gas metana yang menimbulkan efek rumah kaca. Demikian pula, penangkapan ikan secara besar-besaran termasuk ikan paus dan sardines telah membuat plankton tidak bisa didaur ulang (karena semakin berkurangnya ikan yang memakannya) sehingga ketika mati menghasilkan gas metana. Dengan memperhatikan malapetaka yang ditimbulkan oleh global warming seperti yang di Indonesia dirasakan dalam bentuk banjir di mana-mana (sebagai akibat dari perubahan suhu bumi yang menaikkan level permukaan laut karena lelehan es di kutub dunia), bukankah akan lebih bijaksana jika ajaran Gereja Katolik memperluas perintah “Jangan membunuh” ke dalam makna “Jangan membunuh hewan hanya demi kepentingan komersial (industri).” Memakan banyak produk hewan dengan meninggalkan produk pangan nabati sebagai trend manusia modern sekarang ini telah merusak lingkungan hidup sekaligus kesehatan manusia itu sendiri. Tuhan memberkati.
    • 6.1
      Shalom Andry,
      Terima kasih atas pertanyaan yang cukup unik, yaitu apakah manusia (lewat Adam dan Hawa) sesungguhnya diperintahkan oleh Tuhan untuk menjadi vegetarian, dan karena manusia umumnya tidak demikian, maka terjadilah problem lingkungan hidup seperti yang ada sekarang ini (effek rumah kaca yang menjadikan suhu bumi naik dan banjir di mana-mana). Maka dosa asal (karena memakan buah pohon pengetahuan tersebut) menyebabkan manusia tak saja binasa secara rohani, tetapi juga jasmani, demikian yang dituliskan oleh Andry.
      Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat dari 2 sisi. Yang pertama dari alkitab, dan yang kedua dari fakta.
      A. Dari Alkitab
      Dari referensi buku-buku yang saya baca tentang penjelasan ayat-ayat Alkitab menurut interpretasi dari Gereja Katolik, tidak pernah disebutkan bahwa Adam dan Hawa diperintahkan oleh Tuhan, atau secara kodratnya harus hanya memakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian). Beberapa penjelasan sehubungan dengan hal ini adalah:
      1. Adam dan Hawa jatuh dalam dosa setelah memakan buah pohon pengetahuan yang dilarang oleh Tuhan. Memakan buah pohon pengetahuan di sini maknanya adalah bahwa Adam dan Hawa ingin menentukan sendiri apa yang benar dan salah menurut kehendak sendiri dan bukan mengikuti kehendak Tuhan, atau dengan kata lain mereka ingin menjadi ‘tuhan’. St. Augustinus menghubungkan pohon pengetahuan ini dengan pohon kayu salib. Dari pohon pengetahuan, dihasilkanlah dosa, dari ‘pohon’ kayu salib dimana Yesus disalibkan, dihasilkanlah pengampunan dosa. Maka di sini terdapat makna yang dalam tentang ‘makan buah pohon’ tersebut, dan bukannya ‘makan ular-’nya; terutama karena kaitannya dengan salib Kristus.
      2. Setelah Allah menciptakan manusia, Allah berfirman, "Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1: 28). Ayat ini dapat diartikan bahwa Allah menyerahkan kuasa atas segala mahluk di bawah manusia, agar dikuasai oleh manusia, termasuk di dalamnya sebagai bahan makanannya.
      3. Sesaat sebelum bangsa Israel dibebaskan dari penjajahan bangsa Mesir, Allah mensyaratkan mereka untuk memakan daging anak domba, dan darahnya dibubuhkan pada kedua tiang pintu (Kel 12: 1-28). Maka korban anak domba pada Perjanjian Lama (PL) inilah yang disempurnakan di dalam Perjanjian Baru (PB) melalui korban Kristus, Anak Domba Allah. Pada PL, pembebasan ditujukan untuk membebaskan dari penjajahan fisik, pada PB, pembebasan dari penjajahan spiritual, yaitu pembebasan dari belenggu dosa.
      4. Allah dalam PL memperbolehkan bangsa Israel makan daging binatang dengan beberapa kekecualian/ pantangan (Im 11:1-47).
      5. Pantangan inilah yang diperbaharui dalam PB, karena Yesus berkata, "Dengar dan camkanlah: Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang….Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang." (Mat 15: 11, 18).
      6. Yesus sendiri makan ikan, hal ini kita lihat dari kisah kebangkitan Yesus. Pada saat Ia menampakkan diri, para murid-Nya memberi Dia sepotong ikan goreng, agar mereka dapat yakin yang menampakkan diri itu sungguh-sungguh Yesus yang hidup (Luk 24:42). Pada saat ia menampakkan diri lagi di tepi danau Tiberias, Yesus membuat ikan bakar dan roti untuk dibagikan kepada para murid-Nya (Yoh 21:1-14).
      B. Dari fakta
      Menurut sumber dari Wikipedia, global warming dikarenakan oleh banyak hal, namun yang terutama adalah karena akibat industri besar-besaran yang dimulai dari revolusi industri di abad 17, yang menumbulkan effek rumah kaca (green-house effects). Nah, efek rumah kaca yang dimaksud disebabkan oleh gas-gas rumah kaca yang terdiri dari uap air  (36-70%, tidak remasuk awan), karbondioksida CO2 (9-26 %) dan metana CH4 (4-9%) dan ozone (3-7%).
      Setelah revolusi industri, maka kegiatan manusia berubah, dan yang sangat berperan merusak lingkungan adalah limbah dari bensin, yang menyebabkan 3/4 kenaikan produksi CO2 dalam 20 tahun terakhir ini. Hal lain yang berpengaruh adalah penggudulan hutan (deforestation).
      Jadi dari fakta ini, tidak secara langsung dikatakan bahwa peternakan besar-besaran yang menjadi sebab efek rumah kaca, karena kita mengetahui bahwa industri tidak hanya didominasi oleh peternakan. Dan limbah yang lebih berpengaruh yaitu CO2 juga lebih berkaitan langsung dengan polusi akibat bensin, dari pada dari peternakan.
      Jadi dari uraian di atas, saya rasa kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya makan daging tidak dilarang Allah. Yang lebih penting di sini adalah pengendalian diri agar apa yang keluar dari mulut kita tidak menajiskan kita. Dalam skala pemikiran yang lebih besar, maka manusia juga diperintahkan Tuhan untuk menguasai alam dalam arti tidak merusak alam. Maka fakta bahwa peternakan besar-besaran dapat berakibat buruk terhadap lingkungan, memang dapat saja terjadi, terutama jika itu melibatkan penggundulan hutan (deforestation). Namun hal itu bukan disebabkan karena manusia sesungguhnya tidak boleh membuat peternakan, tetapi karena mereka tidak melakukannya dengan mempertimbangkan bagaimana menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Misalnya setelah menebang pohon, seharusnya mereka juga menanam pohon, atau dengan beberapa cara ilmiah lain untuk mengurangi efek rumah kaca, seperti yang dapat dibaca dalam situs-situs umum tentang ekologi.
      Namun jika seseorang menjadi vegetarian demi kasihnya kepada Allah, tentu hal itu merupakan suatu perbuatan mati raga yang sangat baik untuk melatih pengendalian diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. Meskipun demikian, Alkitab tidak mengharuskan semua orang melakukan demikian.
      Mengenai akibat dari dosa asal, silakan dibaca di sini (silakan klik),

      Memang benar, bahwa dosa menyebabkan kebinasaan baik jasmani dan rohani. Menurut St. Thomas Aquinas, dengan dosa asal manusia kehilangan: 1)Rahmat kekudusan  2) 4-preternatural gifts    yang terdiri dari (a) immortality / tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi) (Lih KGK, 405, 337). Dengan adanya dosa asal, maka manusia tunduk pada kuasa maut, dan kenyataannya di dunia dengan terdapat bermacam bentuk penyakit, yang mungkin saja antara lain disebabkan karena ketidak-seimbangan pola makan/ ataupun tidak makan makanan yang sehat.
      Bahwa dalam ke -10 perintah Allah tidak disebutkan ‘jangan membunuh hewan’, memang harus kita lihat dalam konteksnya, karena Ke-sepuluh Perintah Allah itu sesungguhnya bermaksud mengatur hubungan kasih antara manusia dengan Tuhan (perintah 1-3) dan dengan (perintah 4-10) sesama manusia. Oleh karena itu, Yesus mengatakan bahwa hukum tersebut dapat disarikan menjadi dua perintah utama yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:34-40, Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28). Jika manusia mempunyai kasih kepada Tuhan dan sesama, maka ia akan bertanggung jawab menjaga lingkungan hidup, dan menjaga keseimbangan alam demi kebaikan komunitas dan generasi mendatang.
      Demikian uraian saya, sebagai tanggapan saya terhadap komentar Andry.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati
      • 6.1.1
        Chandra says:
        Shalom Ibu Ingrid,
        Perihal dosa asal yg menyebabkan manusia kehilangan Rahmat kekudusan dan 4-preternatural gift (apa ya terjemahan bahasa Indonesianya), dengan Sakramen Baptis (penebusan Kristus) maka Rahmat kekudusan dipulihkan tetapi 4-preternatural gift tidak sehingga manusia masih berjuang di dunia ini dan mengalami penderitaan akibat dosa. Pertanyaannya adalah 1. mengapa penebusan Kristus (Sakramen Baptis) hanya memulihkan Rahmat kekudusan? Mengapa Tuhan Yesus tidak sekaligus memulihkan semuanya? Apakah itu bagian dari “skenario” penebusan umat manusia oleh Allah dan “skenario” itu belum selesai?
        2. Dosa asal adalah karena Adam dan Hawa tidak taat kepada perintah Allah, apakah Adam dan Hawa merasa orang yang paling bersalah kepada seluruh umat manusia, karena oleh mereka maka semua manusia di dunia ini berdosa. Bagaimana pandangan gereja terhadap Adam dan Hawa dalam hal ini? Dan apakah Adam dan Hawa juga disebut nabi seperti di agama Islam mereka menyebutnya nabi.
        Tuhan memberkati,
        • 6.1.1.1
          Shalom Chandra,
          1. Ya, Pembaptisan ‘hanya’ memulihkan Rahmat pengudusan namun tidak mempertahankan ke-4 preternatural gifts yang dimiliki Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Mohon maaf, terus terang saya tidak tahu terjemahan kata ‘perternatural gifts’ ini dalam bahasa Indonesia. Istilah ini dipakai oleh St. Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologiae, dan saya tidak tahu apakah sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Menurut Fr. John Hardon’s Modern Catholic Dictionary, © Eternal Life, preternatural gifts ini artinya adalah: "rahmat yang diberikan oleh Tuhan di atas dan melampaui segala kuasa/ kekuatan alam yang menerimanya, namun tidak melampaui kemampuan sang ciptaan untuk menerimanya." Dan 4 rahmat supernatural ini adalah (lihat KGK 405): (a) immortality / tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge/ pengetahuan hal-hal ilahi yang ditanamkan langsung oleh Allah, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi).
          Dalam hal ini saya ingin mengutip Katekismus Gereja Katolik:
          KGK 1263     Oleh Pembaptisan diampunilah semua dosa, dosa asal, dan semua dosa pribadi serta siksa-siksa dosa. Di dalam mereka yang dilahirkan kembali, tidak tersisa apa pun yang dapat menghalang-halangi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Baik dosa Adam maupun dosa pribadi demikian pula akibat-akibat dosa, yang terparah darinya adalah pemisahan dari Allah, semuanya tidak ada lagi.
          KGK 1264     Tetapi di dalam orang-orang yang dibaptis tetap ada beberapa akibat sementara dari dosa: penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan (seperti misalnya kelemahan tabiat), serta kecondongan kepada dosa, yang tradisi namakan concupiscentia [keinginan tak teratur] atau, secara kiasan, "dapur dosa" [fomes peccati]. Karena keinginan tak teratur "tertinggal untuk perjuangan, maka ia tidak akan merugikan mereka, yang tidak menyerah kepadanya dan yang dengan bantuan rahmat Yesus Kristus menantangnya dengan perkasa. Malahan lebih dari itu, ’siapa yang berjuang dengan benar, akan menerima mahkota’ (2 Tim 2:5)" (Konsili Trente: DS 1515).
           Jadi, memang setelah Pembaptisan, masih ada bagian yang harus kita lakukan agar kita dapat terus berjuang untuk memperoleh keselamatan kita. Rasul Paulus menyebutkan bahwa kehidupan kita seumpama pertandingan/ ujian, dan kita harus berjuang agar sampai ke garis finish dengan kesetiaan iman agar memperoleh mahkota kehidupan (lihat 1 Kor 9:24-25; Ibr 12:1, Yak 1:12)
          Hal ini tak terlepas dari kebijaksanaan Tuhan yang memang menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya, sehingga Ia tidak pernah memaksa, dan selalu melibatkan kehendak bebas kita dalam rencana keselamatan-Nya. Di samping itu, keadilan Allah menentukan bahwa selalu ada konsekuensi/akibat dari dosa yang kita lakukan. Hal ini dinyatakan dalam banyak contoh tokoh di Alkitab, baik dari Perjanjian Lama ataupun Baru. Keselamatan kita memang diperoleh dari rahmat Allah, namun manusia harus mengambil bagian di dalamnya, sebab manusia bukan hanya sekedar ‘boneka’. St. Agustinus mengatakan demikian, "He who created you without you does not justify you without you" (Ep. 157,2,10). Artinya dalam menciptakan kita, Allah tidak melibatkan kita (kita tidak dapat menentukan sendiri kapan dan oleh siapa kita dilahirkan); namun untuk menyelamatkan kita, Allah melibatkan kita. Dan bagian yang harus kita lakukan adalah perjuangan yang menyangkut konsekuensi hilangnya ke-4 preternatural gifts akibat dosa asal itu, yaitu:
          1) berusaha mempertahankan hidup sebaik mungkin, namun jika saatnya tiba kita menerima maut dengan iman;
          2) dengan tabah menghadapi ujian penderitaan dengan iman dan pengharapan;
          3) berjuang untuk memperoleh pengetahuan akan Allah, melalui doa, merenungkan sabda Tuhan, sakramen, dan pendalaman iman;
          4) berjuang untuk mengalahkan kecenderungan melakukan dosa/ concupiscentia.
          Dengan melibatkan manusia, bukan berarti rencana Allah tidak sempurna, karena dari pihak Allah, Ia telah melakukan segalanya, dengan mengutus Yesus Putera-Nya menjadi manusia demi menyelamatkan kita, dan karya-Nya ini terus berlangsung dalam Gereja-Nya sampai saat ini oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Tinggal sekarang bagaimana kita sebagai manusia menanggapinya. Inilah misteri keselamatan Allah yang didasari oleh Kasih dan Keadilan-Nya yang memang melampaui pemikiran manusia. Jika keadilan manusia saja mengenal adanya konsekuensi suatu perbuatan yang salah, maka keadilan Tuhan yang sempurna-pun menentukan demikian. Walaupun, dalam perwujudannya, Allah melimpahkan kasih-Nya yang tiada terkira yang mampu membebaskan kita dari akibat dosa tersebut, asalkan kita bekerjasama dengan Dia.
          2. Apakah Adam dan Hawa manusia yang paling berdosa karena telah menurunkan dosa asal kepada segenap umat manusia? Memang tak mudah menjawab pertanyaan ini, karena sesungguhnya yang paling dapat dan berhak mengukur dosa manusia adalah Tuhan, dan bukan manusia. Jika kita mengenal diri sendiri dengan cukup baik, maka kita ketahui bahwa dalam satu saat di kehidupan kita, kitapun pernah melakukan dosa yang serupa dengan dosa Adam dan Hawa: Sudah tahu tidak boleh melakukan perbuatan tertentu, namun tetap kita melakukannya. Artinya, jika kita diberi kesempatan hidup sebagai manusia pertama (menjadi Adam atau Hawa), maka kitapun dapat jatuh di dalam dosa seperti mereka. Kesadaran akan hal ini membuka mata kita untuk tidak menghakimi siapapun, baik Adam dan Hawa, ataupun orang lain. Silakan lihat juga jawaban yang berkaitan dengan pertanyaan ini di sini ( silakan klik)
          Setahu saya, Gereja menyebut Adam dan Hawa disebut sebagai manusia pertama, namun bukan nabi. Kata ‘Adam’ sendiri berasal dari bahasa Ibrani, dan artinya adalah ‘debu’, ‘manusia laki-laki’, atau umat manusia. Sedangkan ‘Hawa’ berarti ’seseorang yang hidup’/ ibu dari kehidupan. Pengertian ‘Nabi’ sendiri adalah ditujukan pada orang-orang pilihan Allah yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, terutama dalam hal menyampaikan perintah-perintah Allah, dan menyampaikan nubuat-nubuat. Kedua hal peran utama ini tidak kita jumpai dalam diri Adam dan Hawa. Maka, kita mengetahui pentingnya perbandingan kontras antara Adam yang pertama dan Adam yang kedua (Yesus Kristus). Oleh yang pertama kita memperoleh maut, oleh yang kedua, hidup. Demikian pula oleh ketidaktaatan Hawa yang pertama, manusia jatuh dalam dosa, sedangkan oleh ketaatan Hawa yang kedua, yaitu Bunda Maria, manusia memperoleh Juru Selamatnya, yaitu Kristus.
          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          Ingrid Listiati
  3. 5
    Brigitta taurine says:
    Salam damai untuk semua pembaca artikel khususnya yang beragama katholik dan semua oang yang beriman dalam kristus yesus,
    Dalam hidup ini kita sering berhadapan dengan sesuatu yang sangat sulit kita hindari,apa yang terjadi dalam hidup selalu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan terjadi,,,,,
    namun bila kita sadari bahwa itulah kasih tuhan kepada kita agar kita selalu dekat padanaya dan tak akan pernah meninggalkannya walau dalam keadaan apapun,,,
    Tuhan yesus selalu ada untuk kita kapanpun kita membutuhkan Dia,,,,
    God Bless U always,,,,,
  4. 4
    Gamaliel says:
    Sungguh usaha yang luar biasa dari Saudara Stef & Saudari Ingrid, untuk mengajak belajar bersama tentang iman kita! Semoga karya ini terus diberkati Tuhan dan menjadi sarana berkatNya pula, Amin!
    Perbolehkan saya ikut berkomentar sedikit.
    Saudara Stefanus Tay menulis: “Itulah yang terjadi dengan Inkarnasi, karena Inkarnasi membuktikan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah-perintah, namun Dia sendiri menjadi contoh untuk semua perintah dan kebajikan Ilahi, seperti: kasih yang sempurna, ketahanan untuk tabah dalam penderitaan, keadilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Dengan menunjukkannya kepada manusia, maka manusia dapat mengikuti teladan-Nya. Dan dengan mengikuti teladan-Nya, maka manusia juga berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, “we are sons in the Son of God,” sebab oleh rahmatNya kita semua menjadi anggota Tubuh Kristus.”
    Lebih dahsyat lagi daripada itu, Ia tak hanya memberi perintah, jalan, dan teladan! Dia membawa kita di jalanNya itu. Sebuah penjelasan menarik pernah disampaikan oleh Dr. A. Hari Kustono, Pr (Dosen Kitab Suci Fakultas Teologi USD), untuk menerangkan mengenai apa yang dikatakan Paulus ‘hidup di dalam Kristus’. Paulus mengatakan bukan sekedar ‘mengikuti Kristus’ tetapi ‘di dalam Kristus’: itu seperti seorang anak kecil yang ingin ikut pergi ziarah Bapaknya, jalan ke Sendangsono. Kalau anak itu hanya dibiarkan berjalan mengikuti Bapaknya, dia tidak akan sampai karena capek dan tidak kuat berjalan sejauh itu. Bagaimana agar anak itu bisa sampai tujuan? Ya bukan hanya dibiarkan saja mengikuti tetapi harus digendong! Kira-kira, begitulah hidup di dalam Kristus… bukan hanya mengikuti Kristus tetapi digendong oleh Kristus.
    Salam Kasih, semoga kita dapat saling meneguhkan dalam iman!
    Gayus Gamaliel
    • 4.1
      Shalom Gamaliel,
      Terima kasih atas masukannya. Sungguh menjadi hal yang begitu indah untuk dapat saling memberikan masukan dan kekuatan antara saudara di dalam satu iman untuk bersama-sama melayani Tuhan.
      Saya sangat setuju sekali dengan masukan ini. Memang sungguh tepat apa yang disampaikan oleh Gamaliel, bahwa Kristus bukan hanya memberikan perintah, jalan, dan teladan, namun terlebih Kristus hidup di dalam kita (lih. Rm 6:11), sehingga di dalam Kristus, kita dapat menjadi manusia baru (2 Kor 5:17). Dan inilah yang menjadi inti dari Sakramen Baptis, bahwa kita "bersama", "melalui", dan "di dalam" Kristus. Bahwa "kita di dalam Kristus" dalam Sakramen Baptis, ditegaskan oleh oleh Paus Yohanes Paulus II di Ensiklik Redemptoris Missio, 47.
      Mohon doa dari Gamaliel, agar kami dapat melayani Tuhan dengan baik untuk kemuliaan nama Tuhan.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef
  5. 3
    Chandra says:
    P. Stefanus & I. Ingrid yang terkasih,
    Saya terkesan sekali dengan website ini dan jawaban / penjelasan Bpk/Ibu atas pertanyaan-pertanyaan selalu memberikan kesejukan dan kebenaran. Semoga website ini dapat menjadi berkat dan sarana pencerahan bagi kita semua.
    Saya ada beberapa pertanyaan:
    mohon penjelasan apakah artinya penebusan dosa manusia dengan kedatangan Tuhan ke dunia ini. Apakah dengan penebusan itu berarti manusia setelah kedatangan Yesus 2000 tahun yang lalu sudah tidak mempunyai dosa asal lagi? Apa perbedaan manusia sebelum kedatangan Yesus dengan setelah kedatangan Yesus? Karena manusia sekarang tetap cenderung berbuat dosa, dan penderitaan & kejahatan masih tetap ada di dunia ini bahkan kematian. Apa artinya sudah tertebus? Dan apa maksudnya hukum Taurat telah digenapi?
    Bagaimana menangapi pertanyaan dari saudara kita yang muslim bahwa Allah tidak beranak dan diperanakan? Mohon maaf banyak sekali pertanyaannya. Terima kasih.
    • 3.1
      Shalam Chandra yang dikasihi Tuhan Yesus,
      Terimakasih atas dukungannya terhadap katolisitas.org. Dengan keterbatasan kami, maka kami mencoba untuk menjawab sesuai dengan apa yang diajaran oleh Gereja. Mari kita melihat pertanyaan Chandra yang mungkin tidak dapat dijawab secara detail, karena cukup banyak sisi yang harus dipertimbangkan.
      Penebusan dosa:
      1) Kita tahu bahwa satu-satunya yang memisahkan kita dengan Allah adalah dosa, karena dosa bertolak belakang dengan hakekat Allah yang kudus dan kasih. Dosa membuat jurang yang begitu dalam, yang tak terseberangi, antara Allah dan manusia. Dan manusia dengan kekuatan sendiri tidak dapat menyambung kembali hubungan ini. Dan hubungan ini hanya dapat dijembatani oleh Kristus, Anak Allah yang menjadi manusia, yang mengambil hakekat manusia dan menjadikannya bagian dari hakekat Kristus, sehingga manusia memperoleh kembali hakekatnya yang sejati, yaitu sebagai anak Allah. Dengan kata lain, apa yang diambil oleh Kristus (tubuh manusia, keinginan, pikiran, jiwa, pekerjaan, penderitaan, dll) menjadi sesuatu yang kudus.
      2) Kita juga bisa melihatnya dari definisi dosa, yaitu memisahkan diri dari kasih Allah. Dan untuk mendapatkan kasih itu kembali, manusia tidak dapat memaksakannya, karena kasih hanya dapat diterima. Sama seperti kita tidak dapat memaksakan seseorang untuk mengasihi kita. Dan Kristus menjadi suatu tanda kasih Allah, dimana mencapai puncaknya pada kematiaan-Nya di kayu salib. Kasih yang telah diberikan Allah inilah yang mempunyai kekuatan untuk menghapus dosa.
      Dosa asal:
      1) Dengan penebusan Kristus, maka Kristus telah memberikan jalan menuju keselamatan (Yoh 14:6). Ibaratnya, dengan penebusan Kristus, maka Yesus telah membangun suatu jembatan yang dapat dilewati oleh setiap orang yang mau datang kepada-Nya. Namun ini tidak berarti bahwa dosa asal dihilangkan. Pada saat Adam dan Hawa berdosa, maka manusia telah kehilangan beberapa hal: 1) Rahmat kekudusan, 2) 4-preternatural gifts, yang terdiri dari (a) immortality/ tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi) (Lih KGK, 405, 337).
      2) Sebagai akibat dosa, maka manusia kehilangan semua rahmat di atas. Namun dengan penebusan Kristus, maka Rahmat Kekudusan dipulihkan, yaitu dengan cara menerima Sakramen Baptis. Namun 4-preterntural gifts tidak dipulihkan dan tetap menjadi bagian dari manusia, sehingga manusia selalu berjuang terhadap empat hal: ignorance / ketidaktahuan, kematian, penderitaan, dan concupiscence/ kecenderungan untuk berbuat dosa. KGK 2515 menjelaskan tentang kecenderungan manusia untuk berbuat dosa.
      3) Jadi dosa asal dihapuskan dengan menerima Sakramen Baptis, namun manusia tetap harus berjuang melawan keinginan daging, sehingga pada akhirnya manusia dapat sampai pada Kerajaan Surga. Oleh sebab itu, kita masih melihat banyak penderitaan, perang, kejahatan, dll. Kita harus menjalankan bagian kita masing-masing untuk memancarkan terang Kristus di dunia.
      Perbedaan manusia sebelum kedatangan Yesus dengan manusia setelah kedatangan Yesus:
      1) Pada dasarnya, hukum Taurat telah dituliskan dalam setiap hati nurani manusia (Rom 2:15). Jadi sebelum kedatangan Kristus, manusia hidup berdasarkan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani masing-masing, dan bagi orang Yahudi, secara khusus Allah telah menuliskannya dalam 2 loh batu dan dalam suatu perjanjian (covenant). Hukum 10 perintah Allah dibagi menjadi dua, yaitu kasih terhadap Allah dan kasih terhadap sesama. Jadi manusia yang belum mengenal Kristus, sebenarnya juga telah dibekali dengan hati nurani untuk berbuat kasih. Dan mereka akan dihakimi menurut apa yang mereka ketahui dan sesuai dengan kapasitas mereka (Rom 2:12). Tentu saja takarannnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan orang yang telah tahu, namun tetap melakukan kesalahan.
      2) Dan setelah kedatangan Kristus, Rasul Yohanes mengatakan mengatakan bahwa Taurat diberikan oleh Musa, namun kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus(Jn 1:17) . Dan Rasul Paulus menegaskan bahwa bagi yang telah mengenal Yesus, dia tidak lagi dikuasai oleh dosa, karena tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, namun dibawah kasih karunia (Rom 6:14). Kasih karunia dari Allah inilah yang tercurah pada saat kita diBaptis, dimana rahmat kekudusan menjadikan manusia dapat berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Bagi orang yang melakukan dosa setelah kedatangan Kristus dosanya lebih berat dibandingan sebelum kedatangan Kristus, sama seperti orang yang telah dibaptis namun tetap hidup dalam dosa, maka dosanya akan lebih berat daripada orang yang belum dibaptis, karena kepada mereka yang diberikan banyak, juga dituntut lebih banyak (Luk 12:48).
      Hukum Taurat telah digenapi:
      1) Semua hukum Taurat, apa yang tertulis oleh para nabi dan juga yang tertulis di Mazmur telah digenapi di dalam diri Yesus Kristus (Luk 24:44). Yesus mengatakan hal ini setelah Dia bangkit dari antara orang mati, karena setelah kebangkitan-Nya, maka semua yang dikatakan oleh di Perjanjian Lama telah digenapi oleh Kristus. Lihat artikel: Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi. Dan kebangkitannya telah dinubuatkan di: Hosea 6:1-2, Maz 16:10.
      2) Yang paling utama, hukum Taurat dapat disimpulkan dalam dua hal perintah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan kedua: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:34-40). Yesus telah menggenapinya, dengan menunjukkan bagaimana mengasihi Allah dan sesama yang ditunjukkan-Nya secara sempurna dengan kematiaan-Nya di kayu salib. Dan Yesus menambahkan satu hal yang terpenting, yaitu Diri-Nya sendiri. Melalui Yesus, maka rahmat kekudusan mengalir, sehingga umat Tuhan diberi kekuatan secara supernatural untuk menjalankan hukum kasih ini.
      Allah tidak beranak dan diperanakkan:
      1) Kita harus tahu terlebih dahulu tentang konsep beranak dan diperanakkan menurut agama mereka. Mungkin mereka menganggap bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria dan Allah Bapa, seperti yang ditulis oleh beberapa ahli yang mendalami agama Islam. Kita juga tidak beranggapan seperti itu.
      2) Kemudian dari sini, kita harus menjelaskan kenapa Yesus turun ke dunia sudah menjadi suatu hal yang layak dan keharusan yang relatif yang dibuat berdasarkan kasih dan kebijaksanaan Allah. Untuk jawaban lengkapnya, silakan membaca artikel: Inkarnasi, Tuhan yang beserta kita.
      Semoga uraian singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Chandra.
      Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
      stef
      • 3.1.1
        Chandra says:
        Terima kasih P. Stef atas jawabannya, saya mencoba memahaminya perlahan-lahan. Mungkin karena jawaban tersebut “tidak dapat dijawab secara detail, karena cukup banyak sisi yang harus dipertimbangkan.”, begitu kata bapak, jadi saya merasa agak kurang lengkap penjelasannya (atau karena saya memang masih ‘hijau’ dan banyak belajar ya?). Jika memang pertimbangannya adalah ‘bukan untuk publik’ apakah saya bisa diberi jawaban yang lebih lengkap via pm ke e-mail saya langsung? Terima kasih.
        BTW, kenapa ya website ini akhir-akhir ini susah sekali diakses, apakah terlalu berat karena terlalu banyak gambar/file yang besar (atau problem ada di komputer saya? tapi koq saya akses website lain tidak ada masalah?).
        Thanks & GBU,
        • 3.1.1.1
          Shalom Chandra,
          Saya minta maaf kalau jawabannya kurang dapat dimengerti. Mungkin pertanyaannya satu-satu saja, misalkan: tentang dosa asal, atau penebusan dosa, sehingga jawabannya dapat lebih fokus. Hal ini bukan dikarenakan karena Chandra yang kurang bisa mendalami, namun saya yang masih kurang dapat menjawab dengan jawaban yang mudah dimengerti. Lain kali saya akan mencoba untuk menjawabnya dengan bahasa yang mungkin lebih mudah dimengerti. Kita semua masih perlu belajar. Chandra juga bisa bertanya bagian mana yang kurang jelas dan sulit dimengerti, sehingga saya akan dapat menerangkannya dengan lebih detail. Apa yang di tanyakan di publik, saya juga akan jawab di publik. Jadi saya tidak mempunyai masalah untuk menjawabnya di publik.
          Tentang website, minggu lalu memang ada beberapa kali servernya error dan juga pengunjung website semakin meningkat, sehingga aksesnya jadi tambah lama. Saya sedang memikirkan untuk mengupgrade ke server yang lebih bagus dengan harapan bahwa pengunjung katolisitas dapat mengakses website ini dengan lebih cepat dan tidak banyak errornya. Doakan saja, agar prosesnya dapat berjalan dengan lancar.
          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          stef
          • 3.1.1.1.1
            yohanes says:
            syalom ,
            sebelumnya saya minta maaf , apabila saya salah untuk menanyakan ini .
            ada seoeang teman saya , menanyakan kepada saya mengenai gambar foto Yesus kristus , mereka bertanya : dari mana kamu tahu itu bentuk wajah Tuhan yang kalian sembah ?
            lalu saya menjawab bukan itu yang kami sembah , itu hanya suatu gambaran bagi saya , bahwasannya Ia (yesus)sebagai juruslamatku yang menjelma menjadi manusia , tolong yohanes diminta bantuannya sebagai alasan yang tepat dan apakah saya salah menjawab seperti itu .
  6. 2
    Kusdiyanto says:
    Masing-masing agama punya keyakinan atau iman.Inkarnasi adalah misteri iman Kristen (katolik itu juga Kristen). Sia-sialah bertengkar atas perbedaan ini.Ingat betapapun kita merasa pandai hendaknyalah kita sadar akan batas kemampuan kita.Aku percaya akan Allah Bapa,Putera,dan Roh Kudus.Aku percaya juga bahwa Yesus Kristus adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia.
    • 2.1
      Shalom Kusdiyanto,
      Terimakasih atas pesannya. Kami ingin menjelaskan, bahwa di sini kami tidak bertengkar. Kami hanya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya dipercayai oleh Gereja Katolik dengan kemampuan kami yang terbatas. Kami menganggap bahwa setiap pertanyaan yang masuk adalah suatu bentuk untuk mencari kebenaran, yang memang layak untuk ditanggapi. Tanpa mengaburkan kebenaran akan iman yang dipercayai oleh Gereja Katolik, kami juga menghormati setiap perbedaan yang ada dengan agama lain. Dan kami ingin memberikan pertanggungjawaban akan iman yang kami percayai dengan lemah lembut dan hormat, jika ada yang mempertanyakannya (1 Pet 3:15).
      Mari kita bersama-sama menjadi saksi Kristus yang baik, yang siap sedia mempertanggungjawabkan iman kita baik dengan perbuatan atau dengan kata-kata kalau memang diperlukan.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef & ingrid
  7. 1
    Julius Santoso says:
    Banyak orang Kristen menaksirkan Kitab Suci atas dasar pemikirannya sendiri, sehingga tafsiran tersebut dikutip oleh agama lain untuk menyerang agama Kresten khususnya agama Katolik. Contoh :
    Tanya: Kapan SK yang memutuskan Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan?
    Jawab: Hal itu diputuskan pada konsili di Efesus Juni 431 (400 tahun setelah Yesus tiada) yang disponsori oleh Kaisar Romawi, Theodosius II.
    “We confess therefore our Lord Jesus Christ, the only begotten Son of God to be perfect (100%) God and perfect (100%) man”.
    (Oleh Karena itu kita mengakui bahwa Tuan Yesus Kristus, Anak Tunggal Tuhan, sebagai Tuhan yang sempurna (100%) sekaligus manusia yang sempurna (100%).
    Keputusan ini kemudian diperkuat lagi olah SK yang diterbitkan dalam konsili di Chalcedon, Oktober 451 yang juga disponsori oleh Kaisar Romawi saat itu, Marcion.
    “Followinq the holy fathers we confess with one voice that the one and only Son, our Loard Jesus Christ, is perfect in Godhead and perfect in manhood truly God and truly man…”
    (Sesuai dengan ajaran para pemimpin Gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah Tuhan yang sempurna (100%) dan manusia yang sempurna (100%), Tuhan yang sesungguhnya dan manusia yang sesungguhnya)
    Bagaimana menurut penulis atas pernyataan tersebut dua diatas?.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi