Home » » Artikel Peradaban Islam

Artikel Peradaban Islam

Rabu, 08 Juli 2009

Beda Antara Islam dan “Rambo IV”

Oleh: Hasib Amrullah *
Membandingkan Peradaban Islam dan Barat, ibarat “permata” dan “kerikil”. Sayang, masih banyak yang silau dengan “krikil” nya

"Live For Nothing, or die for something."
[Sylvester Stallon, dalam film Rambo IV]

Setiap ucapan biasanya hasil pengaruh dari worldview nya. Bagaimana ia memaknai hidup dan bagiamana ia melihat dunia. Maka tidak ada sebuah pendapat yang bebas nilai. Di belakang apa yang tersurat selalu ada sesuatu yang tersirat. Ada target dan tujuan dari pandangan hidup peradaban tertentu yang terbawa dalam misi sebuah kata.

Amerika, sebagai sebuah negara yang perkembangan teknologinya cukup pesat. Bahkan amat pesat. Menjadi sombong, dan merasa peradabaannya lah yang terbaik. Karena itu harus ditransmisikan bagi pembentukan peradaban dunia. Mereka menyebut orang-orang timur adalah bangsa traditional. Dan menyebut bangsa yang belum mengenal peradaban Barat adalah bangsa bar-bar.

Hal tersebut nampak dalam alur cerita film Rambo ini, dan film film lainnya garapan sutradara Amerika. Dalam film Rambo IV, begitu bengisnya gambaran serdadu Burma memperlakukan manusia. Membunuh dan membombardir penduduk satu desa tanpa keterlibatan perasaan. Memperkosa dan memenggal kepala manusia tanpa melihat kecil besarnya. Semua di habisnya tanpa sisa. Seakan-akan mereka bukan manusia.

Sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan Amerika melalui film ini adalah menunjukan kepada dunia. Betapa bar-barnya mereka yang tidak mengenal hak asasi manusia (HAM). Penonton digiring untuk mengidolakan Amerika sebagai penolong, yang mengangkat harkat kemanusiaan sebuah bangsa. Inilah bangsa yang mempunyai peradaban, kira-kira begitu. Bangsa yang menghargai kehidupan manusia yang lainnya. Karena itu, timur harus menirunya, jika ingin menjadi bangsa yang besar seperti Amerika. Meniru bagaimana mereka memandang kehidupan. Meniru worldview (pandangan hidupnya).

Inilah kenapa gerakan Barat kepada Timur disebut civilization. Sebuah gerakan untuk menjadikan bangsa bar-bar dan traditionalis timur menjadi bangsa yang berperadaban. Peradaban Amerika tentunya.

Secara tidak langsung, Amerika menganggap Peradaban Islam –karena ia lahir di Timur- sebagai peradaban bar-bar juga. Di mana harus dicivilaiz-kan. Agar menjadi bangsa yang berperadaban tinggi seperti mereka.

Sebuah peradaban tidak bisa dilepaskan dari cara pandang hidup masyarakatnya. Dan lahirnya pandangan hidup dalam pikiran kita.

Dr. Hamid Zarkasy dalam jurnal Islamia vol III no 2 mengatakan, ‘pembaratan’ dilakukan melalui kultur, teknologi, pemikiran keilmuan, keagamaan dan spekulasi yang diperoleh dari pendidikan atau upaya sadar dalam mencari ilmu.

Karena itulah, Barat --terutama Amerika-- begitu semangat membiayai gerakan-gerakan LSM di ASIA. Dengan uang yang dimiliki, mereka bersusah-payah. Bukan untuk apa-apa, tujuannya sudah jelas, untuk merubah cara pandang masyarakat (Islam) terhadap hidup dan kehidupan. Agar masyarakat timur (baca Islam) menerima cara pandang mereka (Barat). Dan usaha yang mereka lakukan adalah dengan merubah kultur, teknologi, pemikiran, keagamaan yang ada. Salah satunya dengan membuat tulisan di media masa. Menggiring opini dan pesan-pesan melalui film dan semacamnya.

Maka ungkapan “Live for nothing, or die for something” bukan tanpa makna. Itu sesungguhnya cermin bagaimana sesungguhnya Barat (baca; Amerika) memandang kehidupan ini. Sangat jauh antara langit dan bumi dengan slogan-slogan dan kata-kata berhikmah dari dunia Islam. Baik dari Al-Quran, al-hadist atau atsar para sahabat dan ulama.

Ungkapan “Isy kariman au mut syahiidan” (hidup mulia atau mati syahid di jalanNya) adalah lahir dari cara pandang Islam. Bagi Islam, hidup lebih mulia jika “berjuang” di Jalan Allah disbanding hidup biasa-biasa saja tanpa tujuan dan tanpa makna. Apa yang mampu kita baca, mana yang lebih bersih cara pandangnya?

Yang pertama mencerminkan bahwa hidup adalah urusan masing-masing individu. Orang tidak boleh mengklaim bahwa cara dia mengisi hiduplah yang paling baik. Maka, mabuk adalah hak individu. Selagi orang yang mabuk itu tidak mengganggu hak orang lain, it’s not problem. Ciuman di tempat umum adalah fine. Sebab ia mencium orang yang mau dicium. Ciuman baru menjadi masalah, kalau yang ia cium orang yang tidak dikenal. Karena itu melanggar wilayah private orang lain. Melanggar hak asasi orang lain. Menyalakan motor pagi hari bisa jadi masalah. Kalau suara motor kita mengganggu tetangga sebelah. Ia bisa menelpon kekomisi HAM.. Karena suara motor kita menganggu hak dia untuk istirahat. Dan kita bisa ditahan karena tuduhan melanggar hak orang lain.

Masyarakat Amerika sesungguhnya hatinya kosong, hatinya hampa. Karena tidak ada nilai kebenaran yang absolute yang mereka yakini. Kehampaan hidup itulah yang mereka coba untuk atasi. Karena itulah lahir kata-kata ‘live for nothing’ cermin dari hampanya hidup yang tumbuh dari budaya barat yang kosong nilai moral. Bagi mereka mati untuk sesuatu yang pasti, lebih baik dari pada hidup tanpa arah yang pasti. Seperti apa yang tercermin dalam ungkapan Stallon tersebut. Ungkapan yang ia tujukan untuk membakar tentara bayaran, agar mau melanjutkan misi penyelamatan.

Berbeda dengan ungkapan “Isy kariiman au Mut syahiidan” (Hidup Mulia atau Syahid di JalanNya). Ini adalah ungkapan yang lahir dari rahim peradaban Islam. Ungkapan tersebut mensiratkan adanya nilai hidup yang harus diperjuangkan muslim dengan pengorbanan nyawanya. Bahwa hidup dalam keadaan terhormat atau mati menjadi syahid di jalan Allah.

Cobalah nikmati betapa berbobotnya sabda Rasulullah ini, “Islam adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah jihad.” [H.R.Thabrani].

Hidup yang karim adalah hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang diajarkan Al-Quran. Karena dalam pandangan Islam, manusia adalah hamba. Ia tidak berhak untuk menentukan mana yang mulia mana yang hina. Penetapan kemuliaan dan kehinaan hidup, adalah otoritas Allah sebagai kholiq. Manusia hanya menjalaninya. Pelaksanaan atas perintah dan penghindaran atas larangan itulah yang disebut denga Isy kariiman. Maka bagi muslim pilihannya dua. Hidup terhormat, dengan menjunjung tinggi nilai dan ajaran Tuhannya. Atau kematian yang syahid yang keduanya sama berbobotnya. Bagi muslim, hidup dan mati harus sama-sama bernilai.

Perbedaan Dasar
Barat dan Islam jelas memiliki worldview yang berbeda terhadap kehidupan dunia. Barat memandang kehidupan ini terbatas hanya di dunia. Karena itulah mereka mengeksploitasi kehidupan dunia untuk mencari bahagia. Karena setiap orang memiliki kebahagiaan yang berbeda-beda, maka harus ada aturan untuk menghormati sesama manusia yang sama-sama menghendaki untuk bahagia. Lahirlah apa yang kemudian menjadi spirit sistem hidup mereka, liberte, egalite dan fraternite.

Bahwa manusia sama-sama memiliki kebebasan untuk menentukan kebahagiaan masing-masing. Masing-masing individu tidak boleh mengganggu harus saling menghormati; inilah liberte (kebebasan). Karena sama-sama manusia, satu dan yang lainya harus memiliki hak yang sama pula. Bahwa setiap orang terlahir dengan hak-hak dasar (natural right) yang tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar itu meliputi; hak untuk hidup, hak untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama dan berbicara. John Locke dalam bukunya Two Treatises of Government (1690) menyatakan; “tugas utama pemerintahan adalah menjamin hak-hak dasar tersebut, dan jika ia tidak menjaga hak dasar tersebut, rakyat berhak untuk melakukan revolusi. Inilah yang menjadi cara pandang barat terhadap kehidupan di mana Hak Asasi Manusia menjadi tolak ukurnya.”

Berbeda dengan Islam. Baginya, dunia tidaklah segalanya. Ia adalah kehidupan sementara. Sebagai perantara dan ujian untuk mendapatkan kehidupan selanjutnya. Sebuah kehidupan yang diyakini seorang Muslim lebih panjang dan abadi dari kehidupan dunia. Seperti apa yang disebutkan dalam Al-Quran, “Wa ma hayatu addunya illa la’bun wa lahwun, wala darul akhiroh khoirun lilladzina yattaquun. Afala ta’qilun” (Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya). [al-An’am; 32].

Karena itu seorang Muslim tidak akan pernah memaksakan haknya, apabila itu bertentangan dengan ayat Tuhannya. Muslim akan menghormati saudaranya, dan tidak terlalu rakus untuk mencapai ambisinya, karena di hadapan Allah tidak ada yang mampu ia sembunyikannya.

Alhasil, antara “Live for nothing, or die for something” dan “Isy kariman au mut syahiidan” bagian kecil dari bagaiamana perbedadaan mendasar antara pandangan hidup Islam dan Barat mengenai cita-cita dan worldview. Secara substansial keduanya sungguh sangat berbeda.

Peradaban barat yang dengan “angkuh” adalah peradaban yang lahir dari rahim akal dan bersumber dari manusia (Hak Asasi Manusia). Sementara peradaban Islam berasaskan Al-Quran dan bersumber dari wahyu (langsung dari Allah SWT). Ibarat krikil dan permata, tak sebanding nilainya. Sayang, krikil itulah yang kini sering menjadikan orang silau padanya. Lallahu a’lam.


* Penulis adalah Peserta Kader Ulama (PKU) Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo.

sumber : www.hidayatullah.com

Senin, 20 April 2009

ISLAM DAN AKULTURASI BUDAYA LOKAL

Oleh: Irfan Salim, Lc.

Untuk strategi pengembangan Islam di Indonesia, kita perlu bervisi ke depan. Karena budaya menyentuh seluruh aspek dan dimensi cara pandang, sikap hidup serta aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Selain itu, gerakan kultural lebih integratif. Kita patut mencontoh metodologi Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Sunan Kalijaga begitu melihat proses keruntuhan feodalisme Majapahit, ia mendorong percepatan proses transformasi itu, justeru dengan menggunakan unsur-unsur lokal guna menopang efektifitas segi teknis dan operasionalnya. Salah satu yang ia gunakan adalah wayang.

Muqaddimah

Ketika seorang pakar menyentak kesadaran kita dengan isu mengganti "Assalamu'alaikum" dengan ucapan "Selamat Pagi" sebagai dalih sampel dari pribumisasi Islam, kita pun bertanya; "Apa tujuan di balik pernyataan itu?" Sikap pro dan kontra pun bermunculan. Kemudian pertanyaan tadi bisa dilanjutkan; apakah ada ketegangan antara agama yang cenderung permanen dengan budaya yang dinamis? Bagaimana hubungan ajaran agama yang universal dengan setting budaya lokal yang melingkupinya? Lalu, bagaimana sikap salaf dalam mengakomodasi tradisi dan nilai-nilai Islam. Kemudian apakah syara' menjustifikasi hal itu? Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Universalisme Islam

Universalisme (al-'Alamiyah) Islam adalah salah satu karakteristik Islam yang agung. Islam sebagai agama yang besar berkarakteristikkan: (1) Rabbaniyyah, (2) Insaniyyah (humanistik), (3) Syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme dan menyentuh semua aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan), (4) Wasathiyah (moderat dan seimbang), (5) Waqi'iyah (realitas), (6) Jelas dan gamblang, (7) Integrasi antara al-Tsabat wa al-Murunah (permanen dan elastis).
Universalisme Islam yang dimaksud adalah bahwa risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat. Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu yang beranggapan bahwa dia-lah bangsa yang terpilih, dan karenanya semua manusia harus tunduk kepadanya.
Risalah Islam adalah hidayah Allah untuk segenap manusia dan rahmat-Nya untuk semua hamba-Nya. Manifesto ini termaktub abadi dalam firman-Nya: "Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmah bagi seluruh alam". "Katakanlah (Muhammad) agar ia menjadi juru peringatan bagi seru sekalian alam.4
Ayat-ayat di atas yang nota bene Makkiyah, secara implisit membantah tuduhan sebagian orientalis yang menyatakan bahwa Muhammad Saw tidak memproklamirkan pengutusan dirinya untuk seluruh umat manusia pada awal kerisalahannya, akan tetapi setelah mendapat kemenangan atas bangsa Arab.5
Universalisme Islam menampakkan diri dalam berbagai manifestasi penting, dan yang terbaik adalah dalam ajaran-ajarannya.6 Ajaran-ajaran Islam yang mencakup aspek akidah, syari'ah dan akhlak (yang sering kali disempitkan oleh sebagian masyarakat menjadi hanya kesusilaan dan sikap hidup), menampakkan perhatiannya yang sangat besar terhadap persoalan utama kemanusiaan. Hal ini dapat dilihat dari enam tujuan umum syari'ah yaitu; menjamin keselamatan agama, badan, akal, keturunan, harta dan kehormatan. Selain itu risalah Islam juga menampilkan nilai-nilai kemasyarakatan (social values) yang luhur, yang bisa di katakan sebagai tujuan dasar syari'ah yaitu; keadilan, ukhuwwah, takaful, kebebasan dan kehormatan. 7
Semua ini akhirnya bermuara pada keadilan sosial dalam arti sebenarnya. Dan seperti kita tahu, bahwa pandangan hidup (world view, weltanschaung) yang paling jelas adalah pandangan keadilan sosial.8

Kosmopolitanisme Kebudayaan Islam

Selain merupakan pancaran makna Islam itu sendiri serta pandangan tentang kesatuan kenabian (wahdat al-nabawiyah; the unity of prophet) berdasarkan makna Islam itu, serta konsisten dengan semangat prinsip-prinsip itu semua, kosmopolitanisme budaya Islam juga mendapat pengesahan-pengesahan langsung dari kitab suci seperti suatu pengesahan berdasarkan konsep-konsep kesatuan kemanusiaan (wihdat al-insaniyah; the unity of humanity) yang merupakan kelanjutan konsep kemahaesaan Tuhan (wahdaniyat atau tauhid; the unity of god). Kesatuan asasi ummat manusia dan kemanusiaan itu ditegaskan dalam firman-firman:
"Ummat manusia itu tak lain adalah ummat yang tunggal, tapi kemudian mereka berselisih (sesama mereka) jika seandainya tidak ada keputusan (kalimah) yang telah terdahulu dari Tuhanmu, maka tentulah segala perkara yang mereka perselisihkan itu akan diselesaikan (sekarang juga)".9
"Ummat manusia itu dulunya adalah ummat yang tunggal, kemudian Allah mengutus para nabi untuk membawa kabar gembira dan memberi peringatan dan bersama para nabi itu diturunkannya kitab suci dengan membawa kebenaran, agar kitab suci itu dapat memberi keputusan tentang hal-hal yang mereka perselisihkan..." 10
Para pengikut Nabi Muhammad diingatkan untuk selalu menyadari sepenuhnya kesatuan kemanusiaan itu dan berdasarkan kesadaran itu mereka membentuk pandangan budaya kosmopolit, yaitu sebuah pola budaya yang konsep-konsep dasarnya meliputi, dan diambil dari dari seluruh budaya ummat manusia. 11
Refleksi dan manifestasi kosmopolitanisme Islam bisa dilacak dalam etalase sejarah kebudayaan Islam sejak jaman Rasulullah, baik dalam format non material seperti konsep-konsep pemikiran, maupun yang material seperti seni arsitektur bangunan dan sebagainya. Pada masa awal Islam, Rasulullah Saw berkhutbah hanya dinaungi sebuah pelepah kurma. Kemudian, tatkala kuantitas kaum muslimin mulai bertambah banyak, dipanggillah seorang tukang kayu Romawi. Ia membuatkan untuk Nabi sebuah mimbar dengan tiga tingkatan yang dipakai untuk khutbah Jumat dan munasabah-munasabah lainnya. Kemudian dalam perang Ahzab, Rasul menerima saran Salman al-Farisy untuk membuat parit (khandaq) di sekitar Madinah. Metode ini adalah salah satu metode pertahanan ala Persi. Rasul mengagumi dan melaksanakan saran itu. Beliau tidak mengatakan: "Ini metode Majusi, kita tidak memakainya!". Para sahabat juga meniru manajemen administrasi dan keuangan dari Persi, Romawi dan lainnya. Mereka tidak ! keberatan dengan hal itu selama menciptakan kemashlahatan dan tidak bertentangan dengan nas. Sistem pajak jaman itu diadopsi dari Persi sedang sistem perkantoran (diwan) berasal dari Romawi.12
Pengaruh filsafat Yunani dan budaya Yunani (hellenisme) pada umumnya dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam sudah bukan merupakan hal baru lagi. Seperti halnya budaya Yunani, budaya Persia juga amat besar sahamnya dalam pengembangan budaya Islam. Jika dinasti Umawiyah di Damascus menggunakan sistem administratif dan birokratif Byzantium dalam menjalankan pemerintahannya, dinasti Abbasiyah di Baghdad (dekat Tesiphon, ibu kota dinasti Persi Sasan) meminjam sistem Persia. Dan dalam pemikiran, tidak sedikit pengaruh-pengaruh Persianisme atau Aryanisme (Iranisme) yang masuk ke dalam sistem Islam. Hal ini terpantul dengan jelas dalam buku al-Ghazali (ia sendiri orang Parsi), Nashihat al-Mulk, siyasat namah (pedoman pemerintahan), yang juga banyak menggunakan bahan-bahan pemikiran Persi. 13
Islam, Bias Arabisme dan Akulturasi Timbal Balik dengan Budaya Lokal
Walaupun Islam sebagai agama bersifat universal yang menembus batas-batas bangsa, ras, klan dan peradaban, tak bisa dinapikan bahwa unsur Arab mempunyai beberapa keistimewaan dalam Islam. Ada hubungan kuat yang mengisyaratkan ketiadaan kontradiksi antara Islam sebagai agama dengan unsur Arab. Menurut Dr. Imarah, hal ini bisa dilihat dari beberapa hal :
Pertama, Islam diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah, seorang Arab. Juga, mukjizat terbesar agama ini, al-Quran, didatangkan dengan bahasa Arab yang jelas (al-Mubin), yang dengan ketinggian sastranya dapat mengungguli para sastrawan terkemuka Arab sepanjang sejarah. Sebagaimana memahami dan menguasai al-Quran sangat sulit dengan bahasa apapun selain Arab. Implikasinya, Islam menuntut pemeluknya jika ingin menyelami dan mendalami makna kandungan al-Quran, maka hendaknya mengarabkan diri.
Kedua, dalam menyiarkan dakwah Islam yang universal, bangsa Arab berada di garda depan, dengan pimpinan kearaban Nabi dan al-Quran, kebangkitan realita Arab dari segi "sebab turunnya wahyu" dengan peran sebagai buku catatan interpretatif terhadap al-Qur'an dan lokasi dimulainya dakwah di jazirah Arab sebagai "peleton pertama terdepan" di barisan tentara dakwahnya.
Ketiga, jika agama-agama terdahulu mempunyai karakteristik yang sesuai dengan konsep Islam lokal, kondisional dan temporal, pada saat Islam berkarakteristikkan universal dan mondial, maka posisi mereka sebagai "garda terdepan" agama Islam adalah menembus batas wilayah mereka.14
Walaupun begitu, menurut pengamatan Ibnu Khaldun, seorang sosiolog dan sejarawan muslim terkemuka, bahwa di antara hal aneh tapi nyata bahwa mayoritas ulama dan cendekiawan dalam agama Islam adalah 'ajam (non Arab), baik dalam ilmu-ilmu syari'at maupun ilmu-ilmu akal. Kalau toh diantara mereka orang Arab secara nasab, tetapi mereka 'ajam dalam bahasa, lingkungan pendidikan dan gurunya. 15
Lebih lanjut, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa bersamaan dengan meluasnya daerah Islam, muncullah banyak masalah dan bid'ah, bahasa Arab sudah mulai terpolusikan, maka dibutuhkan kaidah-kaidah Nahwu. Ilmu-ilmu syari'at menjadi keterampilan atau keahlian istinbath, deduktif, teoritisasi dan analogi. Ia membutuhkan ilmu-ilmu pendukung yang menjadi cara-cara dan metode-metode berupa pengetahuan undang-undang bahasa Arab dan aturan-aturan istinbath, qiyas yang diserap dari aqidah-aqidah keimanan berikut dalil-dalilnya, karena saat itu muncul bid'ah-bid'ah dan ilhad (atheisme). Maka jadilah ilmu-ilmu ini semua ilmu-ilmu keterampilan yang membutuhkan pengajaran. Hal ini masuk dalam golongan komoditi industri, dan sebagaimana telah dijelaskan, bahwa komoditi industri adalah peradaban orang kota sedangkan orang Arab adalah sangat jauh dari hal ini.16 Ibnu Khaldun menyebutkan, intelektual-intelektual yang mempunyai kontribusi sangat besar dalam ilmu Nahwu seperti Imam Sibawaih, al-Farisi, dan al-Zujjaj. Mereka semua adalah 'ajam. Begitu juga intelektual-intelektual dalam bidang hadits, ushul fiqih, ilmu kalam dan tafsir. Benarlah sabda Rasulullah; "Jika saja ilmu digantungkan diatas langit, maka akan diraih oleh orang-orang dari Persia".17
Kita lihat juga bahwa budaya Persia; budaya yang pernah jaya dan saat Islam masuk; ia sedang menyusut, adalah memiliki pengaruh yang demikian dalam, luas, dinamis dan kreatif terhadap perkembangan peradaban Islam. Lihat saja al-Ghazali, meskipun ia kebanyakan menulis dalam bahasa Arab sesuai konvesi besar kesarjanaan saat itu, ia juga menulis beberapa buku dalam bahasa Persi. Lebih dari itu, dalam menjabarkan berbagai ide dan argumennya, dalam menandaskan mutlaknya nilai keadilan ditegakkan oleh para penguasa, ia menyebut sebagai contoh pemimpin yang adil itu tidak hanya Nabi saw dan para khalifah bijaksana khususnya Umar bin Khattab, tetapi juga Annushirwan, seorang raja Persia dari dinasti Sasan.18
Menarik untuk diketengahkan juga walaupun saat ini Persia atau Iran menjadikan Syiah sebagai madzhab, namun lima dari penulis kumpulan hadits Sunni dan Kutub as-Sittah berasal dari Persia. Mereka adalah Imam Bukhari, Imam Muslim al-Naisaburi, Imam Abu Dawud al-Sijistani, Imam al Turmudzi dan Imam al-Nasai.
Dari paparan di atas, menunjukkan kepada kita betapa kebudayaan dan peradaban Islam dibangun diatas kombinasi nilai ketaqwaan, persamaan dan kreatifitas dari dalam diri Islam yang universal dengan akulturasi timbal balik dari budaya-budaya lokal luar Arab yang terislamkan. Pun tidak hendak mempertentangkan antara Arab dan non Arab. Semuanya tetap bersatu dalam label "muslim".
"Yang terbaik dan termulia adalah yang paling taqwa".19
"yang paling suci, yang paling banyak dan ikhlas kontribusi amal-nya untuk kemulian Islam".20

Akulturasi Islam dengan Budaya di Indonesia

Seperti di kemukakan di atas, Islam adalah agama yang berkarakteristikkan universal, dengan pandangan hidup (weltanchaung) mengenai persamaan, keadilan, takaful, kebebasan dan kehormatan serta memiliki konsep teosentrisme yang humanistik sebagai nilai inti (core value) dari seluruh ajaran Islam, dan karenanya menjadi tema peradaban Islam.21
Pada saat yang sama, dalam menerjemahkan konsep-konsep langitnya ke bumi, Islam mempunyai karakter dinamis, elastis dan akomodatif dengan budaya lokal, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Permasalahannya terletak pada tata cara dan teknis pelaksanaan. Inilah yang diistilahkan Gus Dur dengan "pribumisasi Islam".
Upaya rekonsiliasi memang wajar antara agama dan budaya di Indonesia dan telah dilakukan sejak lama serta bisa dilacak bukti-buktinya. Masjid Demak adalah contoh konkrit dari upaya rekonsiliasi atau akomodasi itu. Ranggon atau atap yang berlapis pada masa tersebut diambil dari konsep 'Meru' dari masa pra Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari sembilan susun. Sunan Kalijaga memotongnya menjadi tiga susun saja, hal ini melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim; iman, Islam dan ihsan. Pada mulanya, orang baru beriman saja kemudian ia melaksanakan Islam ketika telah menyadari pentingnya syariat. Barulah ia memasuki tingkat yang lebih tinggi lagi (ihsan) dengan jalan mendalami tasawuf, hakikat dan makrifat.22
Hal ini berbeda dengan Kristen yang membuat gereja dengan arsitektur asing, arsitektur Barat. Kasus ini memperlihatkan bahwa Islam lebih toleran terhadap budaya lokal. Budha masuk ke Indonesia dengan membawa stupa, demikian juga Hindu. Islam, sementara itu tidak memindahkan simbol-simbol budaya Islam Timur Tengah ke Indonesia. Hanya akhir-akhir ini saja bentuk kubah disesuaikan. Dengan fakta ini, terbukti bahwa Islam tidak anti budaya. Semua unsur budaya dapat disesuaikan dalam Islam. Pengaruh arsitektur India misalnya, sangat jelas terlihat dalam bangunan-bangunan mesjidnya, demikian juga pengaruh arsitektur khas mediterania. Budaya Islam memiliki begitu banyak varian. 23
Yang patut diamati pula, kebudayaan populer di Indonesia banyak sekali menyerap konsep-konsep dan simbol-simbol Islam, sehingga seringkali tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan yang penting dalam kebudayaan populer di Indonesia.
Kosakata bahasa Jawa maupun Melayu banyak mengadopsi konsep-konsep Islam. Taruhlah, dengan mengabaikan istilah-istilah kata benda yang banyak sekali dipinjam dari bahasa Arab, bahasa Jawa dan Melayu juga menyerap kata-kata atau istilah-istilah yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Istilah-istilah seperti wahyu, ilham atau wali misalnya, adalah istilah-istilah pinjaman untuk mencakup konsep-konsep baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam khazanah budaya populer. 24
Dalam hal penggunaan istilah-istilah yang diadopsi dari Islam, tentunya perlu membedakan mana yang "Arabi-sasi", mana yang "Islamisasi". Penggunaan dan sosialisasi terma-terma Islam sebagai manifestasi simbolik dari Islam tetap penting dan signifikan serta bukan seperti yang dikatakan Gus Dur, menyibukkan dengan masalah-masalah semu atau hanya bersifat pinggiran. 25 Begitu juga penggunaan term shalat sebagai ganti dari sembahyang (berasal dari kata 'nyembah sang Hyang') adalah proses Islamisasi bukannya Arabisasi. Makna substansial dari shalat mencakup dimensi individual-komunal dan dimensi peribumisasi nilai-nilai substansial ini ke alam nyata. Adalah naif juga mengganti salam Islam "Assalamu'alaikum" dengan "Selamat Pagi, Siang, Sore ataupun Malam". Sebab esensi doa dan penghormatan yang terkandung dalam salam tidak terdapat dalam ucapan "Selamat Pagi" yang cenderung basa-basi, selain salam itu sendiri memang dianjurkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya.

'Urf sebagai justifikasi yang dinamis

Dalam syariat Islam yang dinamis dan elastis, terdapat landasan hukum yang dinamakan 'urf. 'Urf adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan dan dijalankan oleh manusia, baik berupa perbuatan yang terlakoni diantara mereka atau lafadz yang biasa mereka ucapkan untuk makna khusus yang tidak dipakai (yang sedang baku). 26
Dari segi shahih tidaknya, 'urf terbagi dua: 'urf shahih dan fasid. Yang pertama adalah adat kebiasaan manusia yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, seperti kebiasaan seorang istri tidak dapat pindah ke rumah suaminya kecuali setelah menerima sebagian dari mahar, karena mahar terbagi dua; ada yang didahulukan dan ada yang diakhirkan. Sedangkan yang diberikan oleh si peminang pada saat tunangan di anggap hadiah bukan bagian dari mahar.27 'Urf Shahih ini wajib diperhatikan dalam proses pembuatan hukum dan pemutusan hukum di pengadilan yang disebabkan adat kebiasaan manusia, kebutuhan dan kemashlahatan mereka. 'Urf Fasid adalah adat kebiasaan manusia menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal seperti kebiasaan makan riba, ikhthilath (campur baur) antara pria dan wanita dalam pesta. 28 'Urf ini tidak boleh digunakan sumber hukum, karena bertentangan dengan syariat.
Validitas 'urf dalam syariah diambil dari ayat; "Berilah permaafan, perintahkan dengan yang makruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh". 29 "Dan dari ucapan Ibnu Mas'ud; "Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka menurut Allah adalah baik. Dan sebaliknya yang dipandang jelek oleh mereka, menurut Allah adalah jelek". 30
Dari dua dalil ini para fuqaha madzahib arba'ah menjadikan 'urf sebagai landasan hukum.
Dalam banyak hal, syara' tidak memberikan batasan-batasan yang kaku, akan tetapi memberikan kelonggaran kepada 'urf untuk menentukan hukumnya. Seperti dalam ayat; "Kewajiban suami memberikan rizki dan pakaian kepada mereka (isteri-isterinya) dengan makruf. 31 "Dan bagi wanita-wanita yang ditalak, (berhak diberi) harta secara makruf". 32
Artinya, 'ufrlah yang menghukumi dan membatasi nafkah kepada istri dan harta mut'ah bagi isteri yang ditalak.
Karenanya, ulama ushul merumuskan sebuah kaidah, "al-'adah muhakkamah". Dan 'urf memiliki i'tibar (pertimbangan) dalam syara'. Imam Malik membangun banyak hukum-hukumnya atas dasar amal penduduk Madinah. Abu Hanifah dan pengikutnya berselisih pendapat dalam beberapa masalah karena menimbang perbedaan 'urf. Al-Syafi'i tatkala tinggal di Mesir merubah sebagian hukum yang ia tetapkan di Bagdhad karena perbedaan 'urf.33 Bahkan, Imam al-Qarafi al-Maliki, menjelaskan dalam kitabnya; "al-Ahkam", bahwa melanggengkan hukum-hukum yang dasarnya 'urf dan adat, sementara adat kebiasaan itu selalu berubah adalah menyalahi ijma' dan tidak mengetahui agama. 34

Khatimah

Jika demikian, jelaslah perjalanan sejarah rekonsiliasi antara Islam sebagai agama dan budaya lokal yang melingkupinya serta adanya landasan hukum legitimatif dari syara' berupa 'urf dan mashlahah. Maka untuk strategi pengembangan budaya Islam di Indonesia, kita perlu bervisi ke depan. Kenapa harus budaya? Karena budaya menyentuh seluruh aspek dan dimensi cara pandang, sikap hidup serta aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Selain itu, gerakan kultural lebih integratif dan massal sifatnya. Sehubungan dengan hal ini, kita patut mencontoh metodologi Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Sunan Kalijaga begitu melihat proses keruntuhan feodalisme Maja pahit dan digantikan oleh egalitarianisme Islam, ia mendorong percepatan proses transformasi itu, justeru dengan menggunakan unsur-unsur lokal guna menopang efektifitas segi teknis dan operasionalnya. Salah satu yang ia gunakan adalah wayang, juga gamelan yang dalam gabungannya dengan unsur-unsur upacara Islam populer adalah menghasilkan tradisi sekatenan di pusat-pusat kekuasaan Islam seperti Cirebon, Demak, Yogyakarta dan Surakarta. Dalam seni musik Islam misalnya, yang mengandung elemen-elemen isi, tujuan, cara penyajian yang islami, kenapa justru alat musiknya seperti rebana yang lebih diperhatikan.35 Alat musik itu, menurut hemat saya, masuk dalam katagori 'urf. Ia bisa berubah sesuai dengan perkembangan jaman. **

Catatan kaki

1. Dr. Yusuf Qardhawi, Al-khashaish al-'aamiyah al-Islam (Beirut cet. VIII, 1993) hal. 3
2. QS. Al-Anbiya: 107
3. QS Al-A'raf : 158
4. QS Al-Furqan: 1
5. Qardhawi, op cit hal. 107-108.
6. Lihat: Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam oleh Abdurrahman Wahid dalam "Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah". Editor: Budhy Munawwar Rahman. (Yayasan Paramadina, cet. I, Mei 1994) hal. 515.
7. Dr. Yusuf Qardhawi, "Madkhal li al-Dirasat al-Islamiyah" (Beirut, cet. I,1993) hal. 61
8. Abdurrahman Wahid, "Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia, Menatap Masa Depan" (Jakarta, cet. I, 1989) hal. 442
9. QS. Yunus: 19
10. QS Al-Baqarah: 213
11. Dr. Nurkholis Madjid, "Islam, Doktrin dan Peradaban", (Jakarta, cet. II, 1992) hal. 442
12. Qardhawi, Khashais, op cit,hal. 253
13. Madjid, op cit,, hal. 444
14. Dr. Muhammad Imarah, "Al-Islam wa al-'Arubah (al-Haiahal-Mashriyah al-'Ammah li al-Kitab, 1996) hal. 11-12
15. Ibnu Khaldun, "Muqaddimah Ibnu Khaldun" (Beirut, cet. VII, 1989) hal. 543
16. Ibid hal 544
17. Ibid hal 544
18. Madjid, op cit, hal. 547-548
19. QS. Al-Hujurat: 13
20. QS. Al-Mulk: 2
21. Dr. Kuntowijoyo, "Paridigma Islam" (Mizan, cet. III, 1991)hal. 229
22.Abdurrahman Wahid, "Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia, Menatap Masa Depan" (P3M, Jakarta cet. I, 1989) hal. 92
23. Kuntowijoyo, op cit hal. 92
24. Ibid, hal. 235
25. Wahid, op cit hal. 92
26.QS Al-'Ankabut:
27. Dr. Wahbah Zuhaili, "Ushul Fiqh al-Islami" (Beirut, cet.I,1986) jilid II, hal. 833
28. Ibid hal. 830
29. Ibid hal. 30
30. QS. Al- A'raf: 199
31.Terhadap al-hadits ini, al-Zaira'i berkata; ghaarib marfu'. Yang benar, al-hadit ini mauquf kepada Ibnu Mas'ud. Lih. "Nashbu al Rayah" IV: 133. (Diriwayatkan oleh Ahmad al-Bazzar dan al-Thabrani dalam kitab "al-Kabir" dari Ibnu Mas'ud, rijal- nya tsiqat (Majma' al-Zawai I:178)
32. QS Al-Baqarah : 223
33. Dr. Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Kairo, hal. 90
34. Qardhawi, dalam kisah "Khashaish", op cit hal. 246
35.Seperti yang dipahami oleh kalangan tekstualis yang lebih ekstrim.

Irfan Salim Zubeir, Lahir di Jakarta, 21 Juli 1973. Ia adalah mahasiswa program S.2. Fak. Dirasah Islamiyah, Universitas Al-Azhar. Tulisan ini diangkat dari diskusi mingguan yang diadakan oleh LESPISI (lembaga Studi Pemikiran dan Shahwah Islamiyah) Cairo.
sumber : media.isnet.org

Kamis, 15 Januari 2009

Pendahuluan Kuliah Tauhid

1. Pendahuluan

Tawhid, sebagai ilmu, sebetulnya belum ada di zaman Rasulullah SAW, walaupun seluruh 'ulama sependapat, bahwa TAWHID adalah dasar yang paling pokok dalam ajaran Islam.
Sebagai 'ilmu, TAWHID tumbuh, lama sesudah Rasulullah wafat. Semasa hidup Rasulullah SAW, beliau mendidikkan sikap dan watak bertawhid ini dengan memberikan contoh teladan kepada para sahabat-sahabat beliau di dalam kehidupan sehari-hari.
Pribadi Muhammad sebagai Rasulullah memanglah pribadi manusia yang sempurna (insan kamiil), dengan kata lain, beliau adalah manusia bertawhid secara istiqamah (consistent) dan paripurna, karena itu sikap, watak, ucapan dan tindak-tanduk beliau sebagai Rasulullah, terutama di biang 'ibadah merupakan rujukan bagi setiap mu'min.
Sebagaimana yang difirmankan Allah sendiri di dalam kitab-Nya: "Sesungguhnya kamu dapati pada diri Rasulullah itu teladan yang terpuji bagi mereka, yang menaruh harapan kepada Allah, dan yakin akan hari akhirat, dan senantiasa terkenang akan Allah." (QS 33:21).
Karena itu pulalah beberapa tahun sesudah Rasulullah wafat, ketika Siti 'Aisyah RA ditanyai orang tentang akhlaq Rasulullah, Siti 'Aisyah bertanya kembali dan menegaskan: "Tidakkah kau baca Al-Qur'an? Itulah gambaran akhlaq (budipekerti) Rasulullah!" Jadi tepatlah kalau ada yang mengatakan Rasulullah itu "Qur'an yang hidup".
Sesudah Islam berkembang ke segala penjuru, dan ummat Islam telah mampu menaklukkan para maharaja (super power) ketika itu, seperti Parsi di Timur dan Romawi di Barat, maka ummat Islam mendapat kesempatan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Memang menuntut ilmu ini diwajibkan oleh Allah bagi setiap Muslim, maka sangatlah digalakkan oleh Rasulullah SAW bagi setiap laki-laki maupun perempuan dari buaian sampai ke liang lahad, bahkan kalau perlu dengan pergi merantau sejauh-jauhnya ke negeri Cina sekalipun.
Maka, semua buku-buku yang mereka jumpai di dalam setiap perpustakaan lama di negri-negeri Parsi, Yunani dan lain-lain mereka suruh terjemahkan dan isi buku-buku itu mereka mamah selahap-lahapnya. Pikiran-pikiran ahli falsafah kuno seperti Socrates, Aristoteles, Plato, Pythagoras dan lain-lain semuanya dipelajari mereka dengan bergairah.
Tentu ilmu-ilmu baru ini turut merangsang pengembangan daya pikir mereka sedemikian rupa, sehingga mereka pun menjadi pemikir-pemikir baru yang mampu melahirkan idea-idea baru pula. Namun tidak semua ilmu-ilmu baru ini bersifat positif. Di antaranya ada pula yang bisa menyesatkan, namun dengan semangat kebebasan berfikir yang telah diajarkan oleh Rasul Allah, para intelektual Muslim ketika itu terus maju dan meruak pemikiran-pemikiran baru yang orisinal dan cemerlang.
Tawhid, yang merupakan inti sari ajaran Islam, kemudian menjadi pembahasan di kalangan cendekiawan Muslim, sehingga berkembang menjadi suatu ilmu yang menerangkan bagaimana seharusnya seorang Muslim meng-Esa-kan Tuhannya.
Semangat mencari ilmu yang diwajibkan oleh Allah dan digalakkan oleh Rasulullah ini telah melahirkan banyak pemikir-pemikir Muslim, yang sampai sekarang pun masih dikagumi orang akan mutu intelektualitas mereka. Sayang, kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan ini tidak selalu dibarengi oleh sarana penunjang yang paling pokok, yaitu perkembangan politik yang sehat dan Islami.
Perkembangan ilmu yang tidak boleh tidak menghendaki adanya sarana utama berupa kemerdekaan berfikir dan bergerak sudah tidak dapat dinikmati oleh ummat sejak berubahnya sistem ketatanegaraan yang Islami di masa pemerintahan khalifah-khalifah yang bijaksana (Khulafa-ul Rasyidin) menjadi sistem dinasti yang feodalistis, yang memang sudah lama merupakan darah dagingnya masyarakat Arab Jahiliyah.
Perubahan sistim ketatanegaraan yang berawal dari perbedaan pendapat, dan berkembang menjadi pertentangan faham tentang konsep kepemimpinan ini, merupakan pokok pangkal perpecahan di kalangan para pemimpin, yang akhirnya meledak menjadi perang saudara. Pada mulanya perang saudara ini hanya melibatkan daerah dan jumlah ummat yang terbatas dan mudah diredakan oleh tekanan pengaruh para shahabat Rasul Allah yang masih sangat tinggi derajat iman dan tawhid mereka.
Namun, sesudah generasi para shahabat seluruhnya wafat, perang saudara yang kembali meledak telah memecah kesatuan ummat dan merombak citra masyarakat yang telah susah payah dibina oleh Rasulullah SAW. Sistem ketatanegaraan yang feodalistis telah terbukti tidak mampu menciptakan suatu mekanisme pengaman yang ampuh untuk mengawal perkembangan daya kritis para cendekiawan Muslim, yang dibarengi oleh melebarnya territorial dan membengkaknya kuantitas ummat yang seolah-olah meledak, karena cepatnya.
Perbedaan pendapat yang seyogyanya lumrah di kalangan pemikir-prmikir Islam selalu disalah-gunakan oleh pemimpin-pemimpin politik kelas dua dan tiga demi kepentingan politik mereka. Akibatnya, keretakan yang pada mulanya adalah sekadar perbedaan pendapat dan interpretasi tentang masalah pemimpin dan kepemimpinan berubah atau berkembang di kalangan ummat menjadi perpecahan di bidang pemahaman dan penalaran aqidah dan nilai-nilai syari'ah. Mulailah pengikut-pengikut tokoh ilmuwan yang satu menyalahkan pengikut-pengikut tokoh ilmuwan yang lain.


Pada puncaknya, murid Abu-al-Hasan 'Ali bin Isma'il al Asy'ari (wafat 300 H), umpamanya, mulai mengkafirkan murid Al-Hambali dan sebaliknya. Ummat yang 'awam tentu semakin bingung, walaupun kecintaan dan kemesraan mereka kepada Islam terus saja berkembang. Prasangka, rasa curiga, bahkan rasa benci satu kelompok terhadap kelompok yang lain dengan sendirinya berkembang terus di kalangan ummat, yang akhirnya menyebakan ummat semakin hari semakin terpecah-belah. Perpecahan ini dengan sendirinya membuat ummat bertambah lemah.
Perkembangan sesuatu penafsiran tidak lagi tergantung kepada kebenaran objektif dari penafsiran tersebut, tetapi lebih banyak tergantung kepada kedudukan politis dari penafsir. Penanding sesuatu pendapat yang tidak beruntung dalam mendapatkan dukungan politik dari penguasa yang sudah tidak Islami akan menanggung resiko yang sangat mengerikan. Banyak di antara 'ilmuwan yang berani istiqamah (consistent) dengan pendapat mereka terpaksa mengalami penyiksaan yang luar biasa, seperti Abu Hanifah sendiri, misalnya, harus mengalami penjara selama sembilan tahun dan setiap harinya menderita sepuluh kali cambukan. Sebahagian dari 'ilmuwan Muslim, yang dikhawatirkan pengaruhnya oleh penguasa yang zhalim, sampai dicabut hak menyatakan pendapat mereka secara tidak berprikemanusiaan.
Banyak pula yang sampai kehilangan nyawa baik dibunuh langsung atau menemui maut ditekan penderitaan di dalam penjara seperti Taqiyy al-Din Ahmad Ibnu Taymiyyah (661 H./1263 M. - 726 H./1328 M). Sebelum wafatnya, Ibnu Taymiyyah ini mengalami penjara sebanyak tiga kali. Karena beliau terus saja menuliskan pendapat-pendapat dan penafsiran beliau untuk dibaca dan dipelajari oleh para pengikut beliau yang setia, walaupun sedang di dalam penjara, maka di dalam penjara yang ketiga kalinya beliau telah dipisahkan dari tinta dan kertas, sehingga beliau tidak dapat lagi menyatakan idea beliau yang sangat bernilai itu. Siksaan terberat bagi setiap pendekar 'ilmu, yaitu pencabutan hak menyatakan pendapat ini, telah menyebabkan beliau akhirnya menghembuskan nafas beliau yang terakhir di dalam penjara ini.
Ketika ummat Islam mencapai titik kelemahan mereka yang terendah akibat perpecahan dan perang saudara yang berkepanjangan, maka mulailah satu persatu negeri dan ummat jatuh ke bawah kekuasaan penjajahan negeri-negeri Kristen dan Barat. Dominasi dari luar yang tidak mungkin tertahankan lagi ini tidak hanya menghisap kehidupan materiel ummat, tetapi lebih parah lagi, karena ia sekaligus bercorak penjajahan mental dan moral. Akibat penjjahan ini terhadap mental dan moral ummat sedemikian parahnya, sehingga mayoritas ummat kehilangan harga diri dan kepercayaan akan diri sendiri.
Ummat yang semula berwatak pemimpin kemanusiaan, khalifah Allah, yang berwibawa serta kreatif, sehingga dijuluki Allah sebagai "Ummat terbaik di tengah-tengah kemanusiaan" (Khaira ummatin ukhrijat linnasi, Q. 3:110) telah berubah menjadi manusia-manusia berwatak hamba yang hina dina (asfala sa-fili-na, Q. 95:5), karena ruh Tawhid telah sirna dari kalbu-kalbu mereka.
Dengan sendirinya, pendidikan Islam tidak lagi terarah kepada penghayatan dan penalaran akan nilai-nilai Islam, yang sebenarnya penuh dinamika, melainkan telah berubah menjadi sekadar formalitas atau pengulangan-pengulangan formal akan nilai-nilai penurunan (derivated values), yang sudah membaku dan kaku.
Alhamdulillah, masa menurunnya kwalitas ummat ini telah mencapai titiknya yang terendah menjelang pertengahan abad ke-14 Hijriyah yang lalu. Menjelang akhir abad itu dan seterusnya di abad ke-15 ini, ummat Islam hampir di setiap penjuru dunia telah bergerak kembali ke arah pendakian mutu dalam menghayati ajaran-ajaran agama mereka. Pada mulanya, kelihatan gerakan ini sangat lamban dan tersendat-sendat. Kadang-kadang gerakan ini merupakan kejutan-kejutan, karena dihasilkan oleh kebangkitan kesadaran yang meledak (explosive), sebagai reaksi terhadap tekanan luar yang sudah melampaui batas daya tahan kemanusiaan. Di dalam dunia intelektual gerakan-gerakan reaktif ini mula-mula berupa tangkisan-tangkisan apologetik, namun sedikit demi sedikit akhir-akhir ini telah meningkat menjadi bahasan 'ilmiah yang mematang.
Tuntutan ummat akan pendidikan Islam yang bermutu mulai meningkat dari hari demi hari. Kebutuhan akan buku-buku Islam terus meningkat, terutama buku-buku yang menguraikan masalah pokok dan dasar dengan pendekatan yang sesuai dengan pemikiran zamannya.
Hampir di setiap kampus perguruan tinggi di seluruh negeri-negeri, yang didiami ummat Islam, muncul gerakan-gerakan spontan untuk mempelajari kembali nilai-nilai ajaran Islam. Bahkan di negeri-negen Barat sendiri di kampus-kampus universitas di mana berkumpul mahasiswa-mahasiswa Islam bermunculan perkumpulan mahasiswa Islam dengan tujuan mempelajari agama mereka dengan sungguh-sungguh.
Di USA, misalnya, telah berdiri Muslim Student Association (MSA) of US and Canada sejak tahun 1963 dan penulis sempat ambil bahagian dalam mendirikan cabang-cabangnya di Ames, Iowa (1963), dan kemudian di Chicago, Illinois (1965). Di negeri Inggris berdiri Federation of Students Islamic Society (FOSIS). Di Australia berdiri AFMSA (Australian Federation of Muslim Students Association). Penulis merasa bersyukur dan berbahagia, karena sempat mendapat kehormatan sebagai pelatih kader-kader untuk kedua organisasi yang terakhir ini antara tahun 1975-1978, di dalam jabatannya sebagai assistant secretary general (1975-1977) dan secretary general (1977-1980) dari IIFSO (International Islamic Federation of Student Organizations), yang bermarkas pusat di Kuwait.
Di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) telah muncul panitia Masjid Salman ITB, yang mendirikan shalat Jum'at pertama sejak tahun 1958 dengan meminjam salah satu ruangan dan aula besar kampus itu. Walaupun shalat Jum'at pertama ini dihadiri oleh hanya 18 orang, ternyata jumlah ini segera membengkak, sehingga meluap ke luar aula besar itu, menutupi seluruh tempat parkir di timur aula tersebut. Shalat Id yang pertama dimulai pada tahun itu di lapangan di dalam kampus ITB ini. Panitia masjid ITB ini kemudian meningkat menjadi sebuah badan hukum berbentuk yayasan yang bernama Yayasan Pembina Masjid ITB pada bulan Mei, 1963. Sesudah mendapat restu, dan diberi nama sesuai dengan nama seorang shahabat Rasul, Salman Al-Farisi, yang dianggap sebagai teknolog Muslim pertama oleh almarhum Presiden Sukarno pada tahun 1964, maka yayasan ini berubah nama menjadi "Yayasan Pembina Masjid SALMAN ITB".
Tuntutan mahasiswa Islam di ITB yang terus meningkat menyebabkan pimpinan Yayasan ini kemudian mengadakan kuliah-kuliah yang periodik tentang Islam sebagai pelengkap kuliah-kuliah agama, yang secara resmi telah diwajibkan sejak tahun akademis 1962/63. Bulan Ramadhan selalu dimanfaatkan untuk meningkatkan penghayatan Islam secara intensif dengan mengadakan jama'ah tarawih yang didahului suatu ceramah pendek sesudah 'Isya. Namun kehausan mahasiswa serta masyarakat sekitar kampus akan pelajaran agama menyebabkan yayasan mengadakan lagi kuliah shubuh setiap hari selama bulan Ramadhan itu sesudah shalat Shubuh. Buku kecil yang anda baca ini merupakan inti sari kuliah-kuliah Tawhid yang penulis sampaikan selesai shalat Shubuh selama bulan-bulan Ramadhan (1394-1397 H) di masjid Salman ITB itu.
Adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim untuk mensyukuri ni'mat yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadanya. Maka di dalam rangka mensyukuri ni'mat Allah yang berupa hidayah yang telah membangkitkan nilai-nilai agama inilah buku ini dipersembahkan demi menambah perbendaharaan pustaka Islam yang memang perlu senantiasa diperkaya. Semoga "Kuliah Tawhid", yang berisikan pokok dan dasar ajaran Islam ini akan bermanfaat bagi menumbuhkan kembali penghayatan nilai-nilai utama Islam pada generasi Muslim sekarang ini dan nanti. Semoga kebangkitan kembali Ummat Islam dalam abad ke-15 H ini benar-benar akan merupakan kenyataan yang diridhai Allah SWT. Amiin, ya Rabbal 'aalamiin ...!

2. Kepercayaan kepada Tuhan dan Mentawhidkan Tuhan

Sekadar percaya akan wujudnya Tuhan belumlah cukup untuk menjadikan seseorang Islam, karena kepercayaan akan wujudnya Tuhan bukan merupakan suatu prestasi. Lagi pula, kepercayaan ini sudah ada dengan sendirinya tertanam di dalam hati sanubari setiap manusia sejak lahir. Walaupun, kadang-kadang kepercayaan ini seolah-olah tertutupi dan tidak ternyatakan, namun dalam keadaan tertentu ia muncul dengan tiba-tiba. Misalnya, di dalam keadaan gembira ria orang sering melupakan Tuhan, bahkan sebagian orang dengan sombong berani mengatakan: "tidak ada Tuhan", namun dalam keadaan yang kritis, ketika sedang diancam bahaya maut, atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai dan topan orang ini dengan khusyu'nya lantas berdo'a memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Watak manusia seperti ini pun digambarkan di dalam Al-Quran di dalam beberapa surat. Misalnya:
Dialah Yang memungkinkan kamu berjalan di darat dan berlayar di laut, sampai ketika kamu berada di kapal. Ketika kapal ini meluncur dengan angin baik mereka bergembira karenanya. Tiba-tiba mereka dipukul angin topan dengan gelombang yang datang dari segala penjuru sehingga mereka merasa seperti terkepung, maka merekapun berdo'a kepada Allah dengan janji ikhlash akan ta'at semata kepada-Nya: 'Jika Kau selamatkan kami tentulah kami akan bersyukur'. Tetapi setelah Ia menyelamatkan mereka, mereka bertindak melanggar yang hak di bumi. Wahai manusia! Keingkaranmu akan kebenaran itu hanya merugikan dirimu sendiri. Kegembiraan di dunia ini hanyalah sementara, kemudian kamu akan kembali kepada Kami, maka akan Kami beritahukan pada kamu apa-apa yang telah kamu lakukan itu." (Q. 10:22-23).
Di dalam surat lain Allah berfirman: "Tiadakah kau lihat, bahwa kapal-kapal berlayar di lautan dengan karunia Allah, agar Ia dapat memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya? Sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi setiap orang yang selalu shabar dan banyak bersyukur. Bila ombak melingkupi mereka seperti atap, mereka menyeru Allah, ikhlash ta'at kepada-Nya dalam agama. Tapi setelah Ia selamatkan mereka ke daratan, hanya sebahagian di antara mereka yang memilih jalan yang benar. Namun tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali mereka yang berkhianat dan tidak tahu berterima kasih." (Q. 31:31-32).
Ayat-ayat seperti ini ada kira-kira sepuluh kali diulang di dalam al-Qur'an dengan redaksi yang berbeda-beda (lihat: Q. 6: 63- 64; 16:53-54; 17: 67; 29: 65; 30: 33; 39: 8, 49; 41: 51). Bahkan di dalam ayat-ayat yang lain al-Quran menyatakan dengan lebih tegas, bahwa manusia itu dengan sendirinya memang sudah mcngakui akan wujud dan kekuasaan Allah SWT, misalnya:
"Kalau kamu tanya manusia, siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, mereka menjawab: 'Allah'." (Q. 29: 61)
Ayat yang seperti ini maksudnya juga berulang kali difirmankan Allah di dalam kitab-Nya (lihat: Q. 29: 63; 10: 31; 23: 84-89; 31: 25; 43: 9, 87; 39: 38). Jadi kepercayaan akan wujudnya Allah, Maha Pencipta segala, sudah sebadi dengan manusia, karena sudah ditanamkan Allah sebelum kita dilahirkan ke muka bumi ini.
Mungkin tanggapan tentang Tuhan itu berbeda bagi manusia yang satu dibandingkan dengan manusia yang lain. Manusia yang masih sederhana pikirannya tentu sederhana pula tanggapannya. Tanggapan manusia primitif, misalnya, masih bersifat dan berhubungan dengan tahayul, kelenik, dan sihir. Tuhan bagi mereka ialah sesuatu yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka. Cara mereka menyatakan kepercayaan itupun sangat sederhana. Mereka manifestasikan kepercayaan ini dengan menyembah sesuatu yang dirasakan besar, hebat dan tangguh seperti gunung berapi, batu besar, pohon besar dan rindang seperti pohon beringin dan sebagainya. Gunung berapi, umpamanya, disangka mereka "mampu " memberikan kesuburan bagi tanah pertanian, namun sekali-sekali bisa juga "murka " dengan mendatangkan bencana, jika mereka telah banyak berbuat dosa. Contohnya ialah bangsa Yunani purba yang percaya, bahwa Tuhan Zeos tinggal di puncak gunung Olympus. Demi mempersenang hati Zeos ini mereka mengadakan permainan/pesta secara periodik yang dinamakan "Olympiade", yang sekarang telah.menjadi tradisi dunia dengan pesta olah raga Olympic.
Kalau sudah agak meningkat kebudayaan mereka, maka Tuhan mereka gambarkan menyerupai manusia atau binatang dan sebagainya. Ketika manusia sudah mulai hidup berkelompok, maka Tuhan mungkin merupakan pemimpin yang berpengaruh karena jasanya atau keberaniannya mengusir binatang buas atau gangguan kelompok manusia lain. Mungkin pemimpin ini punya karisma, karena pidatonya hebat, serta mudah difahami, walaupun oleh rakyat yang sederhana pendidikannya, sehingga ia sangat dicintai dan dihormati, bahkan dipuja-puja dan disembah dan dinobatkan menjadi raja diraja yang tak mungkin berbuat salah (The king can do no wrong), atau pemimpin seumur hidup. Gelar-gelar yang muluk pun dipersembahkan kepada pemimpin yang dianggap berjasa ini, seperti Juru Selamat, Pemimpin Besar Revolusi, Bapak Kemerdekaan, Bapak Pembangunan dan sebagainya. Bahkah di antara para Nabi pun ada yang diangkat menjadi Tuhan atau anak Tuhan, seperti Nabi Isa AS.
Ketika akhirnya pemimpin inipun mati juga, maka dibuatkan patungnya, kemudian disembah dan dipuja, atau kuburannya dimuliakan (dikeramatkan), dibuatkan tugu dan sebagainya. Maka mulailah manusia menyembah patung atau berhala. Pada mulanya mungkin sekedar untuk dapat lebih mudah menkonsentrasikan pikiran di dalam mengingat jasa-jasa sang pemimpin pujaan itu, namun akhirnya patung-patung itu menjadi substitusi Tuhan sama sekali.
Rakyat Rusia, umpamanya, membalsem mayat pemimpin-pemimpin mereka seperti Lenin, Stalin dan lain-lain. Pada hari-hari tertentu mereka berkunjung ke tempat mayat ini disimpan dan dipajangkan untuk menunjukkan rasa hormat mereka. Walaupun rakyat Rusia resminya tidak mengakui adanya Tuhan, namun dalam acara-acara yang penting mereka melakukan pemujaan terhadap pemimpin yang sudah berupa mayat-mayat ini. Lihat umpamanya cosmonaut mereka sebelum dan sesudah melakukan penerbangan ke angkasa luar, mereka menziarahi mayat-mayat pemimpin ini secara ritualistik sekali, tiada bedanya dengan orang-orang beragama yang bersembahyang atau berdo'a terhadap Tuhan mereka.
Jadi kepercayaan akan adanya Tuhan dan kebutuhan menyembah-Nya (beribadah atau berdo'a) sudah ada dengan sendirinya di dalam hati sanubari setiap manusia. Oleh karena itu, tepat apa yang difirmankan Allah di dalam al-Qur'an: "Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi kepadaku ". (Q. 51:56).
Maka watak pengabdi atau penyembah itu sudah sebadan (inherent) dengan setiap diri manusia. Hanyalah pengungkapannya yang mungkin berbeda di antara manusia yang satu dengan yang lain, tergantung kepada tingkat kwalitas pribadi manusia itu masing-masing. Manusia yang canggih (sophisticated) tentu pengungkapannya canggih pula. Yang aneh dan terasa lucu sekali ialah kalau manusia terpelajar yang canggih lagi modern mempunyai cara pengungkapan pengabdian kepada Tuhan yang primitive, konon pula bila diiringi atau berdasarkan kepercayaan yang tidak masuk 'akal, seperti klenik dan tahayul. Sayangnya, manusia-manusia seperti ini masih banyak sekali di zaman yang dikatakan modern ini. Ini, antara lain, disebabkan oleh kurang mampunya ummat Islam menerangkan nilai-nilai Islam kepada dunia. Ditambah pula oleh karena pemahaman dan penghayatan tawhid di kalangan ummat Islam sendiri masih belum sebagaimana mestinya.
Seperti telah ditegaskan di atas, maka sekadar percaya akan wujudnya Tuhan tidaklah membuat seseorang menjadi seorang Islam (Muslim), karena orang yang dikatakan kafir pun percaya akan wujudnya Tuhan Maha Pencipta 'alam. Al-Qur'an sendiri, dalam hal ini, menceritakan kenyataan ini di dalam peristiwa kejadian manusia dan syaithan dengan jelas sekali. Di dalam surat Al-Baqarah 30-34 bisa kita fahami peristiwa ini.
"Tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Aku hendak jadikan khalifah di muka bumi". "Mereka berkata: 'Masakan Engkau akan menjadikan orang yang kerjanya akan membuat kerusakan serta berselisih satu sama lain sampai menumpahkan darah; Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mengkuduskan asma-Mu'. "
"Tuhan menjawab: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'."
"Selanjutnya, Allah mengajari Adam tentang asma (attribute = ciri-ciri) 'alam sekitarnya. Sesudah itu Allah menghadapkan Adam dengan para malaikat semuanya seraya bersabda kepada malaikat: 'Sebutkan kepada-Ku ciri-ciri semua itu, jika kamu memang benar'."
"Mereka menjawab: 'Mahasuci Engkau! Tiada kami mengetahui, selain yang telah Kau ajarkan kepada kami, Kaulah Yang Mahatahu dan Mahabijaksana'. "
"Allah berfirman: 'Hai Adam, sebutkan bagi mereka akan ciri-ciri semuanya'. Maka setelah ia menyebutkan ciri-ciri semua itu, Allah berfirman: 'Bukankah telah Ku-katakan kepada kalian, bahwa Aku mengetahui yang ghaib di langit dan di bumi, bahkan Aku tahu apa yang kalian nyatakan dan sembunyikan."
Maka ketika Kami perintahkan kepada para malaikat: Sujudlah kamu sekalian kepada Adam, merekapun sujud, kecuali iblis, ia enggan dan menyombongkan diri, maka termasuklah ia ke dalam golongan pengingkar"
Dalam surat Al-A'raf ayat 12-18, Allah menceritakan kembali kejadian pengingkaran iblis ini sebagai berikut: "(Allah) bertanya: 'Apakah gerangan yang menghalangimu bersujud, padahal telah Kuperintahkan kepadamu?' Iblis menjawab: 'Bukankah aku lebih baik daripadanya, Kau telah ciptakan aku dari api, sedangkan ia hanyalah dari tanah'."
"(Allah) berfirman: 'Enyahlah kau dari sini! Tak pantas kau menyombongkan diri disini. Keluarlah! Sungguh, kamu tergolong orang yang hina'." "(Iblis) berkata: 'Berilah aku kesempatan sampai hari neraka kelak dibangkitkan'."
"(Allah) berfirman: '(Baiklah), kau diberi penangguhan waktu'."
"(Iblis) berkata: 'Karena Engkau telah mengusir (dan menghukum) aku, maka aku akan menggoda mereka di jalan-Mu yang lurus'."
'Maka akan kudatangi mereka dari depan dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri, sehingga akan Kau dapati, bahwa kebanyakan mereka tiada 'kan bersyukur.
"(Allah) berfirman: 'Keluarlah kamu dari sini, dibenci dan terusir. Barang siapa di antara mereka mengikutimu, akan Kuisi jahanam dengan kamu sekalian'."
Dari peristiwa yang diceritakan Allah dalam Al-Qur'an ini dapatlah kita ambil kesimpulan, bahwa iblis pun percaya dengan yakin akan wujud Allah. Ternyata iblis telah mengadakan tawar menawar dengan Allah, minta agar hukuman kepadanya ditangguhkan sampai hari ketika manusia, keturunan Adam, dibangkitkan kelak. Selain nabi Muhammad SAW, bukankah hanya iblis yang mendapat kesempatan bisa berdialog langsung berhadapan dengan Allah. Nabi-nabi lain, yang pemah memohon agar diberi kesempatan melihat Tuhan tidak ada yang berhasil, termasuk Nabi Musa AS. Dalam hal ini iblis rupanya telah mendapat kesempatan melebihi Musa AS. Sementara itu iblis pun telah bertekad akan menggoda manusia dari segala arah, sehingga kebanyakan manusia akan menjadi temannya nanti di neraka jahannam.
Kesimpulannya ialah, bahwa kesalahan iblis bukanlah "tidak percaya akan wujud Allah". Kesalahan Iblis yang sangat fatal ialah, bahwa ia telah menyombongkan diri dengan membanggakan asal-usul (keturunan)-nya yang telah diciptakan Allah dari api, sedang manusia hanyalah dari tanah. Kesombongannya itu telah menumbuhkan rasa iri hati kepada manusia yang ternyata lebih cerdas didalam memahamkan sifat-sifat alam, sehingga ia enggan mematuhi perintah Allah agar menghormati Adam.
Membesarkan diri (sombong) adalah penyakit yang paling dibenci oleh Allah, sehingga Rasul-Allah pernah mcngatakan: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada rasa kibir (sombong) walaupun sebesar zarrah," (Muslim dan Tirmidzi)
Kita dapat menyimpulkan, bahwa rasa kibir (membesarkan diri) ini adalah penyakit jiwa yang sengaja ditularkan iblis kepada manusia sesuai dengan tekadnya yang disebutkannya di hadapan Allah ketika ia akan meninggalkan hadhirat Allah dalam peristiwa tersebut di atas. Bukankah banyak di antara manusia yang merasa diri mereka lebih hebat dari orang lain hanya karena keturunan mereka?
Gelar-gelar kebangsawanan seperti Raden (di Jawa), Tengku (di Sumatera/Malaysia), bahkan Sayid (yang mengaku keturunan Nabi, walaupun Rasul Allah tak sempat punya anak lelaki) tetap saja dipentingkan sebahagian manusia yang sempat kejangkitan penyakit iblis ini. Segala macam alasan dicarikan dan diciptakan demi mempertahankan status kebangsawanan ini, apalagi jika status ini erat hubungannya dengan keuntungan-keuntungan politis dan ekonomis. Mereka yang kebetulan bisa meyakinkan masyarakat, bahwa mereka berdarah bangsawan akan menuntut kepada masyarakat tersebut, agar mereka diperlakukan istimewa serta menuntut hak-hak yang lebih dari manusia lain.
Jika masyarakat kebetulan berjiwa budak atau berwatak "nrimo", maka mereka yang berstatus bangsawan ini akhirnya akan lebih mengukuhkan hak-hak istimewa mereka dengan berbagai cara. Biasanya dengan menciptakan apa yang selalu dinamakan "tradisi" atau "adat isti'adat nenek moyang" atau "nilai-nilai leluhur" dan sebagainya. Sejarah kemanusiaan penuh dengan peristiwa-peristiwa seperti ini, baik di Timur maupun di Barat. Karena itu sikap "nrimo'' juga termasuk watak tercela dalam Islam. Ayat-ayat al-Qur'an sangat tajam mengkritik watak "nrimo" atau sikap kurang kritis ini.
"Janganlah ikuti apa yang tiada kamu ketahui. Sungguh, pendengaran, penglihatan, dan perasaan hati, masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban. (Q. 17:96)
Sikap mengagung-angungkan nilai-nilai atau ajaran-ajaran nenek moyang tanpa kritis pun sangat dicela oleh Allah di dalam al-Qur'an:
"Apabila dikatahan kepada mereka: 'Marilah turuti apa yang diturunkan Allah dan yang telah diikuti Rasul.' Mereka menjawab: 'Cukuplah bagi kami apa yang telah diajarkan oleh leluhur kami. 'Sekalipun leluhur mereka itu tiada mengetahui sesuatu dan tiada mendapat petunjuk." (Q. 5:104)
Ayat-ayat seperti ini ada beberapa kali diulang Allah di dalam kitab-Nya, misalnya; Q. 7:28; 26:75 dan 31:22.
Di masa hidup Rasul-Allah-pun para shahabat yang sudah terbiasa hidup dan dibesarkan di zaman feodal jahiliah pernah mengagungkan Rasul sedemikian rupa, sehingga Rasul terpaksa melarang dengan tegas. Ketika beberapa orang shahabat sedang duduk-duduk berdiskusi tiba-tiba Rasul masuk ke dalam majelis mereka. Demi hormat mereka kepada Rasul, maka mereka serentak berdiri menyambut Rasul, namun Rasul bersabda:
"Duduklah, jangan kalian perlakukan (hormati) aku seperti orang-orang musyrik memperlakukan kaisar mereka atau ummat Nasrani menghormati Isa Al-Masih."
Di dalam kesempatan lain ketika Rasul-Allah mendengar ada di antara shahabat yang menyebut nama beliau didahului dengan perkataan "Saidina", beliau menegur dan mclarang shahabat ini. Pernah seorang lelaki kampung datang menjumpai beliau. Oleh karena wibawa beliau yang demikian agungnya, lelaki ini gemetar seperti ketakutan, schingga akhirnya ia jatuh dan bersujud di kaki beliau, maka Rasul-Allah langsung menegur:
"Janganlah begitu. Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa, anak seorang perempuan 'Arab yang biasa makan dendeng". (H.R. Muslim)
Sikap sombong telah menyebabkan iblis ingkar (kufur) kepada Allah. Iblis enggan mematuhi perintah Allah, agar memberi hormat kepada Adam, yang telah dibuktikan Allah mampu menguasai 'ilmu pengetahuan tentang 'alam sekitarnya (science), yang tak dapat difahami iblis. Kesombongan iblis ini ternyata hanyalah sekadar kompensasi terhadap ketidak-mampuannya berfikir scientific (memahami attribute 'alam). Inilah barangkali sebabnya mengapa orang-orang yang mampu berfikir scientific dan betul-betul menguasai science tidak ada yang percaya kepada tahayul dan klenik, karena klenik dan tahayul tiada lain hanyalah 'ilmu iblis.
Tetapi, yang paling menarik dalam peristiwa ini ialah sekadar percaya akan wujud Allah tidaklah cukup. Yang paling utama di dalam hubungan makhluk dengan Allah ialah kepatuhan yang bulat hanya kepada-Nya. Inilah intisari sesungguhnya dari ajaran Islam, yaitu mentawhidkan atau mengesakan Allah, yang berarti meletakkan Allah dan semua perintah-perintah-Nya di atas segala-galanya, terutama di atas kepentingan dan keinginan pribadi. Oleh karena itu mentawhidkan Allah jauh lebih sukar dari sekadar mempercayai akan wujud Allah. Mentawhidkan Allah membutuhkan suatu perjuangan berat, dan kemampuan menghayati sikap bertawhid secara tetap (consistent) merupakan suatu prestasi yang paling mulia, karena itu pula pantas mendapat ganjaran yang paling tinggi.
Mentawhidkan Allah pada hakekatnya merupakan kebutuhan manusia di dalam menjalani hidupnya di dunia ini, baik secara pribadi maupun demi kebahagiaan hidup manusia di dalam hubungannya dengan manusia yang lain. Namun, sebelum kita dapat menghayati tawhid perlulah kita memahaminya dengan tepat lebih dahulu. Inilah, insya Allah, yang akan kita bahas di dalam buku kecil ini

Kuliah Tauhid
Ir. Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim M.Sc.
Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB
Bandung, 1400H, 1980
Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980
(Muhammad 'Imaduddin 'AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)

TAWHID dan KEMERDEKAAN

Mentawhidkan Allah adalah ajaran pokok yang disampaikan oleh setiap Nabi dan Rasul, yang diutus oleh Allah sejak awal sejarah kemanusiaan. Namun sejarah kemanusiaan penuh dengan kegagalan-kegagalan manusia dalam menghayati ajaran tawhid ini, sehingga setiap kali ajaran yang murni dan exact ini perlu diperbaharui atau dikoreksi oleh Rasul-rasil berikutnya sesudah mengalami beberapa distorsi yang membahayakan nilai-nilai kemanusiaan.
Nilai kemanusiaan yang paling utama ialah kemerdekaan. Kemerdekaanlah satu-satunya nilai yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Tanpa kemerdekaan manusia sebenarnya tidak mungkin menjalani hidupnya sebagai manusia. Dengan perkataan lain, tanpa kemerdekaan pada hakikatnya manusia berhenti jadi manusia atau tidak lagi berfungsi sebagai manusia. Oleh karena itu, harga diri setiap manusia justru diukur dengan derajat kemerdekaan yang bisa dihayati dan dipertahankan manusia itu.
Secara individu setiap manusia dilahirkan merdeka. Namun dalam mempertahankan hidupnya manusia pada tingkat awal dari kehidupannya itu terpaksa tergantung kepada manusia lain, yaitu ibunya. Akan tetapi, setiap ibu telah dianugerahi Allah SWT suatu rasa kasih sayang kepada anak yang dilahirkannya sedemikian sempurnanya, sehingga setingkat hanya di bawah sifat Rahman (kasih sayang) daripada Allah sendiri.
Oleh karena kasih sayang ibu yang ditujukan kepada anak-anaknya ini demikian murninya (ikhlash) dan tanpa pamrih sama sekali, maka nilai kemerdekaan si anak tidak akan tercemar oleh sifat ketergantungannya kepada kasih sayang ibu pada awal hidupnya itu. Kasih sayang ibu ini ditopang pula oleh kasih sayang ayah yang tingkat kesempurnaannya setingkat di bawah kasih sayang ibu.
Dengan landasan kasih sayang yang tulus antara sesama anggota keluarga ini, seorang anak akan mulai menjalani hidupnya di tengah-tengah pergaulan sesama manusia. Oleh karena itu pula maka durhaka kepada ibu adalah merupakan dosa yang terberat sesudah syirik, dan tak akan diampunkan Allah selama ibu sendiri tidak mengampunkannya.
Oleh karena kehidupan antar sesama manusia ini senantiasa merupakan proses memberi-dan-menerima (give-and-take) secara terus menerus (langgeng), kehidupan di tengah-tengah keluarga haruslah bisa merupakan persiapan yang cukup untuk menghantarkan seseorang agar dapat hidup ke tengah pergaulan masyarakat dalam proses memberi-dan-menerima secara seimbang.
Apabila ketidak-seimbangan terjadi --ia lebih banyak menerima atau lebih banyak memberi-- maka dengan sendirinya ia dihadapkan dengan suatu tantangan yang menentukan nilai kemerdekaannya, yang akan sebanding dengan nilai dirinya. Kalau ia memberikan response terhadap ketidak-seimbangan ini sedemikian, sehingga ia mengorbankan nilai kemerdekaannya, misalnya menjadi tergantung kepada pihak yang telah terlalu banyak memberi kepadanya, maka harga dirinya sebagai manusia dengan sendirinya jatuh atau sedikitnya menurun. Seberapa jauh jatuhnya ini sebanding dengan seberapa jauh nilai kemerdekaan yang telah dikorbankannya.
Sebaliknya jika dalam memberikan response tadi ia sampai merugikan orang lain berarti ia telah merampas nilai kemanusiaan (kemerdekaan) orang itu, sehingga ia dengan sendirinya telah menobatkan dirinya menjadi penindas hak orang lain itu. Kedua hal yang tak seimbang ini dikutuk oleh Allah, karena berarti manusia yang bersangkutan telah tidak mensyukuri nikmat Allah yang paling utama, yaitu kemerdekaan yang wajib dipertahankan dengan segala pengorbanan yang perlu untuk itu. Oleh karena itu, pergaulan hidup yang seimbang (harmoni) senantiasa menjadi dambaan setiap manusia yang Islam.
Namun dalam kenyataannya, lebih sering terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini, proses pergaulan yang tidak seimbang, sehingga sejak dahulu telah tercipta dalam sejarah kemanusiaan kehidupan masyarakat yang tindas menindas, hisap menghisap, peras memeras dengan segala taktik dan tehnik yang bersangkutan dengan itu. Semua ini merupakan bentuk-bentuk dari proses memberi-dan-menerima yang tak seimbang.
Dapat dipastikan pula, bahwa terjadinya kelas-kelas dan tingkat-tingkat kebangsawanan di dalam masyarakat manusia senantiasa disebabkan oleh mengalahnya kemanusiaan terhadap rencana iblis yang suka menganggap dirinya lebih baik dan lebih mulia dari yang lain, sebagaimana dijelaskan di atas.
Mungkin mengalahnya kebanyakan manusia, anggota sesuatu masyarakat, terhadap tuntutan sebahagian kecil dari anggotanya akan hak-hak istimewa ini pada mulanya disebabkan oleh rasa takut kepada kelompok yang menuntut, karena kegagahan atau kekuasaan para penuntut ini.
Mungkin pula oleh karena kekaguman masyarakat yang agak berlebih-lebihan kepada kelompok penuntut ini disebabkan jasa-jasa mereka dalam menyelamatkan bangsa atau tanah air ketika berada dalam keadaan bahaya, dan sebagainya. Bukankah yang menjadi idola setiap bangsa di dunia ini biasanya para pahlawan bagi bangsa yang bersangkutan, baik pahlawan di medan perang atau pahlawan di bidang-bidang lain, yang disangka sangat menentukan nasib dan "nama baik" bangsa tersebut?
Iblis, dalam hal ini, hanya tinggal memperbesar saja rasa kekaguman dan penghormatan ini sedemikian, sehingga menjadi "penyembahan". Penulis sengaja memberi tanda kutip pada kata penyembahan di sini, karena ma'na "penyembahan" di sini tidaklah mesti harfiah: rasa hormat dan kagum, yang diiringi sikap patuh-tanpa-tanya, misalnya, termasuk juga dalam arti "penyembahan" ini. Sikap patuh karena kelebihan rasa takut, bahkan rasa ketergantungan kepada sesuatu atau seseorang pun tercakup dalam pengertian "penyembahan" ini.
Oleh karena mudahnya manusia terseleweng ke arah pemujaan akan tokoh-tokoh yang sangat berjasa dan dikagumi serta dihormati inilah maka sejak dahulu Rasul Allah sangat berhati-hati di dalam mendidikkan sikap tawhid ini kepada para shahabat beliau.
Beliau sampai menolak dan melarang para shahabat memanggil beliau dengan "Saidina" yang artinya "Tuan Kami" (Our Master) demi untuk mencegah pengkultusan pribadi beliau. Walaupun demikian, kita bisa membaca di dalam sejarah, bahwa di antara shahabat ada juga yang hampir tergelincir, maka segera dikoreksi yang lain dengan tegas dan tepat. Salah satu kejadian kiranya perlu dikemukakan sebagai contoh akan betapa halus dan dalamnya sikap tawhid ini tertanam di hati sanubari para shahabat terdekat beliau.
Di akhir hayat Rasulullah, sesudah turunnya ayat terakhir dari al-Qur'an, beliau menyusun suatu barisan yang akan dikirim ke Utara demi mengamankan daerah itu dari incaran dan gangguan tentara Romawi Timur. Namun sebelum barisan ini terkirim beliau jatuh sakit, sehingga pengiriman ini terpaksa ditunda sampai beliau sembuh. Tapi taqdir Allah SWT telah menentukan bahwa beliau tidak sembuh lagi. Setelah beberapa hari sakit, beliau wafat.
Kebetulan ketika itu shahabat terdekat Abubakar Shiddiq sedang keluar kota Madinah mencari nafkah, sehingga Siti 'Aisyah menyampaikan berita wafatnya Rasul itu hanya kepada orang yang kebetulan ada di dekat masjid Rasul itu. Ketika usaha orang ini menyiarkan berita duka ini kepada yang lain terdengar oleh 'Umar, maka 'Umar sebagai orang yang berdarah militer, yang senantiasa berfikir dalam rangka keamanan dan ketertiban segera memberikan reaksi yang agak berlebihan.
"Barangsiapa yang mengatakan Muhammad wafat akan kupenggal lehernya", katanya sambil menghunus dan mengacungkan pedang dengan mata yang galak, karena 'Umar menyangka, bahwa berita buruk seperti itu di saat Rasul sedang berusaha menyusun barisan untuk menyerang Romawi Timur, mesti datang dari agen-agen subversive. Karena semua orang mengenal 'Umar sebagai pahlawan, yang tak kenal mundur berhadapan dengan siapapun, maka tidak ada yang berani meneruskan penyebaran berita wafatnya RasuluLlah itu.
Seorang yang hadir di tempat itu akhirnya mendapat akal dan segera menyelinap meninggalkan suasana tegang yang dibuat oleh 'Umar itu untuk menemui Abubakar. Ketika Abubakar datang beliau segera bisa melihat suasana tegang di sekitar masjid Rasul, dan setelah melihat 'Umar dengan mata yang galak mengacungkan pedang itu, maka beliau segera faham kira-kira apa yang telah terjadi. Beliau segera masuk ke kamar Siti 'Aisyah untuk melayat Rasulullah, yang sudah ditutupi oleh 'Aisyah.
Beliau membuka penutup wajah Rasul, menciumnya dan berdo'a. Setelah menutup kembali wajah Rasul, maka beliau ke luar dan masih mendapati suasana tegang oleh sikap 'Umar yang masih berdiri dengan pedang terhunus dan diacungkan tinggi. Maka Abubakar berbicara dimulai dengan membaca ayat Ali 'Imran 144: "Muhammad itu hanya seorang Rasul; Sebelumnya telah berlalu Rasul-rasul. Apabila ia wafat atau terbunuh, apakah kamu berbalik menjadi murtad? Tapi barangsiapa berbalik menjadi murtad, sedikit pun tiada ia merugikan Allah. Allah memberi pahala kepada orang yang bersyukur."
Setelah membacakan ayat ini beliau lantas mengatakan dengan suara lantang: "Barangsiapa menyembah Muhammad, ketahuilah, bahwa Muhammad telah wafat, tetapi barangsiapa menyembah Allah, ketahuilah Allah hidup selama-lamanya."
Mendengar ayat dan pidato yang tepat dan tajam ini tangan 'Umar menjadi lemas, pedang dan tangannya jatuh ke bawah dan sambil mengucap istighfar pedang itu segera disarungkannya kembali. Walaupun ayat yang dibaca Abubakar itu telah lama dihafalnya di dalam kepalanya, ketika itu seolah-olah ia baru mendengarnya kali itu.
Kalau pribadi seperti 'Umar bisa tersilap dalam keadaan genting, konon pula kita yang beriman tipis ini. Ini membuktikan bahwa bertawhid secara konsisten itu memang tidak mudah. Ia memerlukan latihan berat dengan disiplin pribadi yang ketat.
(sebelum, sesudah)

1. Peranan Akal dan Rasa

Rasa takut maupun rasa hormat dan kagum serta rasa ketergantungan yang berlebih-lebihan ini akan mudah dikontrol, bahkan bisa dicegah, jika manusia mau dan mampu memanfa'atkan dua fasilitas lain yang hanya dikaruniakan oleh Allah sebagai ni'mat-Nya yang tertinggi kepada manusia. Oleh karena itu kedua fasilitas ini sangatlah penting artinya bagi manusia. Keduanya dikaruniakan Allah kepada manusia dengan percuma, justru sebagai penunjang karunia-Nya yang berupa kemerdekaan tadi.
Kedua fasililas ini ialah 'akal dan rasa. Dengan 'akal ini manusia bisa menimbang, menganalisa, memahami, dan akhirnya membuat atau menentukan pilihan yang paling baik untuknya. Sedangkan dengan fasilitas rasa, manusia akan mampu meresapkan dan/atau menciptakan keindahan, menghayati dan/atau menggubah kesenian. Dengan mengembangkan ni'mat rasa, manusia akhirnya bisa menjadi pencinta kebenaran, keindahan atau kesucian, dan keadilan; bukan sekedar menjadi penuntut kebenaran (hak) dan ke'adilan.
Ni'mat rasa, jika berkembang subur, juga akan menjadikan manusia mampu menghargai (appreciate) keseimbangan dan keharmonian, bahkan akan meningkatkan watak manusia yang sungguh-sungguh mengembangkannya (baca: mensyukurinya) menjadi manusia pengasih, penyayang, pencinta yang senantiasa rindu dan terikat (committed) kepada kebenaran, keseimbangan, keserasian dan ke'adilan. Kerinduan dan keterikatan (commitment) kepada kebenaran dan ke'adilan ini bisa sedemikian rupa kuatnya, sehingga ia siap berkorban, kalau perlu, untuk memperjuangkan dan mempertahankannya. Inilah pula landasan daripada iman, serta penyebab utama tumbuhnya watak khusyu' atau 'asyik (rindu) akan "Kebenaran Mutlak" (Al-Haq).
Oleh karena itu, kedua ni'mat Allah yang paling penting ini wajib disyukuri manusia. Cara mensyukuri keduanya ialah dengan mempergunakan dan mengembangkan kemampuan (potensi) keduanya secara maksimal dan seimbang, dengan mengasah keduanya sampai menjadi alat yang paling ampuh di dalam mempertahankan kemerdekaan tadi. Manusia yang ber'akal cerdas dan sarat 'ilmu serta berwatak cinta akan ke'adilan dan kebenaran (Ulul 'ilmi Qaaiman bil-Qisthi, Q.3:18), pasti akan menolak mentah-mentah setiap macam bentuk perbudakan dan penindasan, walaupun bagaimana halusnya bentuk perbudakan itu, karena ia hanya kenal tunduk kepada Yang Mutlak.
Mensyukuri ni'mat 'akal berarti mengasahnya atau melatihnya untuk memecahkan masalah-masalah 'ilmu pengetahuan semahir-mahirnya. Mengasah rasa ialah dengan melatihnya menghadapi tantangan-tantangan hidup, mendidiknya menjadi cinta, bahkan rindu akan kebenaran dan ke'adilan, sehingga ia berani dan siap berkorban, jika perlu, apabila ia dihadapkan kepada kenyataan, bahwa kebenaran dan ke'adilan itu sedang terancam atau diperkosa oleh siapapun. Masyarakat yang anggota-anggotanya cerdas, ber'ilmu dan terdidik cinta akan kebenaran dan ke'adilan tidak akan pernah bersikap "nrimo ". Di kalangan masyarakat yang ber'ilmu dan berpendidikan tinggi, manusia-manusia yang kejangkitan penyakit iblis --yang berwatak "kibir" atau sombong-tadi biasanya tidak mendapat pasaran.
Kepada manusia yang berkwalitas cerdas, ber'ilmu dan terdidik cinta dan merasa terikat (committed) akan kebenaran dan ke'adilan inilah, ni'mat Allah yang tertinggi, yakni hidayah iman akan dianugerahkan. Memang, ni'mat hidayah iman, dalam arti kata yang sesungguhnya akan diberikan hanya kepada manusia yang berkwalitas tersebut. Tanpa kwalitas seperti itu Allah tidak pernah menjamin akan mengkaruniakannya. Sedangkan seorang jauhari tidak akan memasangkan intan di atas cincin tembaga, konon pula Allah Yang Maha 'Arif. Inilah yang dimaksud dengan firman-Nya: "Barang siapa ditunjuki Allah, ia mendapat petunjuk (hidayah); barangsiapa yang sesat mereka menderita kerugian." (Q. 7:178).
Ayat ini membuktikan, bahwa nikmat hidayah (iman dan 'ilmu) tidak pernah diberikan Allah secara percuma (gratis). Perbedaan nikmat iman dan 'ilmu dengan nikmat kehidupan dan kemerdekaan, justru dalam hal ini. Nikmat kehidupan dan kemerdekaan diberikan percuma oleh Allah kepada setiap orang, bahkan prasarana dan alat bantu untuk mempertahankan dan memperkembangkannya diberikan Allah dengan percuma pula. Prasarana untuk menunjang kehidupan ini ialah instinct dan nafsu. Tanpa kedua penunjang ini manusia tidak akan dapat mempertahankan hidupnya, oleh karena itu nikmat instinct dan nafsu diberikan Allah gratis dan keduanya berkembang bersama dan sebanding dengan tingkat kehidupan itu.
Nikmat kemerdekaan, sebagaimana yang telah ditrangkan di atas, ditunjang oleh nikmat akal dan rasa, yang juga dikaruniakan Allah gratis. Namun, jika nikmat akal dan rasa ini dikembangkan (disyukuri) secara sungguh-sungguh dan maksimal, maka keduanya akan bisa menjadi sebab datangnya anugerah Allah yang paling tinggi itu, yang hanya dikaruniakan Allah kepada manusia-manusia terpilih, yaitu orang-orang yang berjuang (berjihad) memanfaatkan keduanya secara optimal, itulah yang dimaksud dengan firman Allah: "Mereka yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami pasti akan Kami tunjuki (beri hidayah) jalan-jalan Kami; Sungguh, Allah bersama orang yang berbuat baik." (Q. 29:69)
Jadi untuk mendapatkan petunjuk Allah yang berupa iman dan 'ilmu secara pasti, manusia perlu berjuang (berjihad), dan karena itu pula perjuangan untuk mencari hidayah ('iman dan 'ilmu), yang jika telah diperoleh akan mampu mempertahankan dan meningkatkan nilai kehidupan dan kemerdekaan, adalah bentuk perjuangan yang dinilai paling tinggi oleh Allah, sehingga orang yang sampai gugur dalam perjuangan ini akan diangkat langsung ke dalam surga Jannatunna'im. Perjuangan seperti ini dinamakan perjuangan menempuh jalan Allah (sabili-Llah) dan mereka yang gugur tidak boleh disebutkan mati, karena pada hakikatnya mereka itu tetap hidup sebagai saksi-saksi kemanusiaan (syuhada). Bukanlah nilai kemanusiaan itu tidak akan pernah mati.
Bagi mereka yang enggan berjuang, Allah tidak pernah menjamin akan menganugerahi mereka hidayah iman dan 'ilmu. Yang dimaksud dengan: "barangsiapa yang sesat" di dalam ayat (Q.7:178) di atas, tiada lain ialah mereka yang tidak dengan sungguh-sungguh mensyukuri (baca: mengembangkan secara maksimal) potensi akal dan rasa mereka. Padahal anugerah yang lain, yang lebih rendah nilainya, misalnya rezeki, tetap dijamin Allah bagi setiap makhluk-Nya yang sudah diberinya kehidupan, bahkan binatang sekalipun. Inilah yang dimaksudkan-Nya dengan ayat-Nya:
"Betapa banyaknya binatang yang tiada membawa bekal, namun Allah menjamin rezeki mereka serta rezeki kamu. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (Q.29:60)
Ayat yang hampir sama maksudnya ialah (Q. 11:6), juga menjamin disediakannya rezeki bagi setiap yang diberi-Nya kehidupan.
"Tiada yang melata di muka bumi, melainkan tanggungan Allah rezekinya."
Oleh karena itu, orang yang beriman akan ayat-ayat ini pasti akan menjadi manusia yang berwatak optimis di dalam menghadapi kebutuhan materielnya; ia tidak akan pernah terlalu risau akan rezeki, yang diyakininya pasti akan diperolehnya selama hayat dikandung badan. Yang menjadi fokus perhatiannya di dalam menjalani hidup di dunia ini, ialah bagaimana mempertahankan kemerdekaannya sebagai manusia yang punya harga diri serta bagaimana mempertebal imannya, sehingga betul-betul menjadi manusia bertaqwa yang diredhai Allah Maha Pencipta yang dikasihinya.
Ia merasa tidak perlu menuntut hak-hak istimewa terhadap masyarakat sekitarnya, karena ia yakin bahwa manusia ini sama dan semuanya hamba Allah, dan ia merasa tidak perlu berendah diri terhadap orang lain, karena perbedaan derajat antara manusia di sisi Allah hanyalah diukur oleh mutu ketaqwaan seseorang terhadap Allah SWT. Oleh karena itu pula manusia yang berwatak begini tidak akan pernah bersemangat "nrimo" seperti diterangkan di atas, konon pula berwatak budak terhadap orang lain.
Sebaliknya, manusia seperti ini dalam kesempatan yang bagaimanapun tidak akan menjadi seorang yang otoriter, konon pula seorang tiran, karena ia yakin, bahwa tirani berarti memperkosa hak asasi manusia lain sesama hamba Allah SWT. Dengan kata lain ia yakin, bahwa otoriterisme dan tirani bertentangan dengan kemanusiaan yang 'adil dan beradab.

2. Definisi Tuhan

Demi untuk memudahkan kaji, sebaiknya kita mulai dengan memberikan definisi tuhan, supaya pengertian kita sama. Tentu definisi yang paling tepat ialah yang diambil dari pemahaman akan pengertian tuhan menurut yang dijabarkan di dalam al-Qur'an. Untuk itu, perlu kita sadari dua kenyataan terpenting, yang pasti akan kita peroleh apabila kita kaji dengan sungguh-sungguh kandungan al-Qur'an.
Kenyataan pertama ialah, di dalam al-Qur'an kita tidak pernah menemukan suatu ayat pun yang membicarakan atheist atau atheisme. Suatu hal yang kiranya sangat penting kita fikirkan mengingat kenyataan di zaman modern ini jutaan manusia telah menyatakan diri mereka sebagai "atheist" atau "orang yang tidak bertuhan". Setiap orang yang berideologi komunis mengaku, bahwa mereka tidak bertuhan (atheist). Mendiang Chou Eng Lai, perdana menteri RRC, pernah berpidato di alun-alun Bandung, ketika ia berkunjung ke sana semasa konperensi Asia-Afrika dahulu (1955) dengan bangga mengatakan, bahwa mereka sebagai komunis dengan sendirinya tidak bertuhan. Kalau kita jumlahkan rakyat RRC dengan Rusia ditambah dengan semua negara satelit-satelitnya yang menganut faham komunis, maka kira-kira sepertiga penduduk dunia sekarang ini adalah atheist, jika yang dikatakan bekas perdana menteri Cina itu benar.
Sungguh suatu tanda tanya besar bagi setiap Muslim, yang yakin akan kesempurnaan kitab sucinya. Mungkinkah Allah telah "lupa" menyebutkan kenyataan ini, sehingga al-Qur'an tidak menyebut sama sekali akan atheist dan atheisme ini. Akibatnya, ialah kamus bahasa 'Arab sama sekali tidak mengenal istilah atheist itu. Memang, orang-orang 'Arab modern sekarang ini mempergunakan perkataan "mulhid" untuk "atheist", dan "ilhad" untuk atheisme, namun kalau kita selidiki di dalam al-Qur'an perkataan "mulhid dan ilhad" artinya sangat jauh dari "atheist dan atheisme". Perkataan "ilhad" berasal dari kata "lahada" yang artinya "menggali lobang atau terjerumus ke dalam lobang galian". Ingat, dalam bahasa Indonesia pun kita mengenal "liang lahad", yang berasal dari kata Arab "lahada" ini. "Mulhid" dalam al-Qur'an artinya kira-kira "orang yang terjerumus di dalam kesesatan", jadi tidak ada hubungannya dengan arti harfiah dari atheist.
Kenyataan kedua ialah, perkataan "ilah", yang selalu diterjemahkan "tuhan". Di dalam al-Qur'an dipakai untuk menyatakan berbagai objek, yang dibesarkan atau dipentingkan manusia. Misalnya, di dalam ayat Q. 45:23 dan Q.25:43.
"Tidakkah kamu perhatikan betapa manusia meng-ilahkan keinginan-keinginan pribadi mereka .?"
Dalam ayat Q. 28:38, perkataan "ilah" dipakai olch Fir'aun untuk dirinya sendiri:
"Dan Fir'aun berkata: 'Wahai para pembesar, aku tidak menyangka, bahwa kalian masih punya ilah selain diriku'."
Dari contoh ayat-ayat tersebut di atas, ternyata perkataan "ilah" bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) maupun benda nyata (Fir'aun atau raja, atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Dari dua kenyataan di atas dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut: Tidak adanya perkataan atheist dan atheisme di dalam al-Qur'an membuktikan, bahwa tidak mungkin manusia itu tidak bertuhan.
Faham atheisme adalah omong kosong, tidak logis, dan tidak masuk 'akal. Menurut logika al-Qur'an: setiap orang mesti bertuhan. Alternatip yang mungkin ialah bertuhan satu (monotheist) atau bertuhan banyak (polytheist = bcrluhan lebih dari satu). Oleh karena itu, perkataan "ilah" di dalam al-Qur'an juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (muthanna: ilaahaini), dan banyak (jama': aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan tuntas akan masalah ini dapatlah kita buat definisi "tuhan" atau "ilah" yang tepat, berdasarkan logika al-Qur'an sebagai berikut:
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai (didominir) olehnya (sesuatu itu).
Perkataan "dipentingkan" hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi al ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo'a dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (Dr. Yusuf Qardawi: "Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan, (Haqiqat Al-Tauhid) terjemahan H. Abd. Rahim Haris, Pustaka Darul Hikmah, Bima, hal. 26 - 27).
Berdasarkan definisi ini dapatlah difahami, bahwa tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheist, tidak mungkin tidak bertuhan. Berdasarkan logika al-Qur'an bagi setiap manusia mesti ada sesuatu yang dipcrtuhankannya. Dengan demikian, maka orang-orang komunis itu pun pada hakikatnya bertuhan juga. Adapun tuhan mereka ialah ideology atau angan-angan (Utopia) mereka, yaitu terciptanya "masyarakat komunis, di mana setiap orang boleh bekerja menurut kemampuan masing-masing dan mendapatkan penghasilan sesuai dengan kebutuhan masing-masing", sebagai yang dirumuskan dengan jelas oleh pemimpin mereka, Lenin, di dalam manifesto communisme-nya: "From everyone according to his ability, and for everyone according to his need." Ungkapan inilah yang diterjemahkan oleh para pemimpin mendiang PKI (Partai Komunis Indonesia) dahulu dengan slogan: "sama rata sama rasa". Orang komunis sebenarnya memimpikan terciptanya suatu masyarakat bertata ekononii yang "adil sempurna".
Impian seperti ini tiada bedanya dengan impian setiap orang Kristen yang taat akan apa yang mereka namakan "Kerajaan Allah" atau "Kingdom of God". Oleh karena itu, Toynbee pernah mengatakan, bahwa komunisme itu tiada lain melainkan kekristenan yang dipalsukan, suatu lembaran sobekan Bible, yang diperlakukan seolah-olah seluruh kitab suci itu, yang kemudian dijadikan senjata untuk menembaki kebudayaan Kristen (Barat). Dalam bahasa Toynbee sendiri:
"You may equally well call Marxism a Christian heresy, a leaf torn out of the book of Christianity and treated as if it were the whole Gospel. The Russians have taken up this western heretical religion, transformed it into something of their own, and are now shooting at us. This is the first shot in the anti-Western counter-offensive ". (Civilization on Trial, p. 221 )
Sebahagian orang ada yang menganggap dirinya sedemikiran pintarnya, sehingga ia merasa tak perlu bcrtuhan. Mereka mengatakan, bahwa mereka tidak perlu kepada sesuatu yang tak dapat dibuktikan. Merekapun menolak jika dikatakan atheist. Mereka menamakan diri mereka agnostic. Salah seorang tokoh orang-orang agnostic ini yang terkemuka ialah mendiang Bertrand Russel, ahli falsafah dari Inggris, yang pernah diundang dengan hormatnya untuk memberikan kuliah pada beberapa universitas di Amerika Serikat di awal tahun empat-puluhan. Kuliah-kuliah yang disampaikannya telah sempat menimbulkan kemarahan tokoh-tokoh Kristen Amerika, terutama Bishop Manning dari Gereja Episcopal, karena dianggap "sangat bertentangan dengan agama dan nilai-nilai moral". Memang Russel berpendirian, bahwa "semua agama yang ada didunia ini Budha, Hindu, Kristen, Islam, dan Komunisme " adalah palsu dan berbahaya" ("I think all the great religions of the world --Buddhism, Hinduism, Christianity, Islam, and Communism-- both untrue and harmfull"), karena itu ia menentang semua agama.
Sangat menarik perhatian kita ialah, sama dengan Toynbee, Russel pun menganggap komunisme sebagai agama. Kalau kita baca bukunya yang terkenal: "Why I Am Not a Christian" (Mengapa Saya Bukan Seorang Kristen), maka dapat kita simpulkan, bahwa ia tokh bertuhan juga. Russel, pada hakikatnya, telah mempertuhankan 'aqalnya. Selama ia bisa konsisten, sebenarnya masih lumayan, terutama jika dibandingkan dengan orang yang bertuhankan hawa nafsunya. Tetapi, mungkinkah seseorang senantiasa consistent .?
Berdasarkan pengertian "ilah" atau tuhan yang telah diberikan definisinya di atas, maka dapat pula secara logika dibuktikan, bahwa tidak ada manusia yang mampu berfikir logis, yang tidak punya tuhan. Bahkan bisa dibuktikan, bahwa tidak mungkin bagi manusia tidak punya sesuatu kepercayaan. Apabila seseorang mengatakan: "saya tidak percaya kepada sesuatu apa pun," maka ia akan dihadapkan kepada suatu kontradiksi, karena pernyataan tersebut mengandung pembatalan diri. Jika benar ia tak pcrcaya kepada sesuatu apapun, maka kalimat itupun ia harus sangkal kebenarannya. Jika tidak, maka terbukti ia tokh masih punya satu kepercayaan, yaitu kebenaran pernyataan tersebut, maka sikap itu bertentangan pula dengan arti kalimat itu. Jadi kalimat itu tidak logis, dan tidak mungkin terucapkan oleh seseorang yang mampu dan mau berfikir logis.


Kuliah Tauhid
Ir. Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim M.Sc.
Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB
Bandung, 1400H, 1980
Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980
(Muhammad 'Imaduddin 'AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Belajar Kristology & Perbandingan Agama - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi